Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 119 ~ Farhan mengusir Vanya


__ADS_3

Vanya tetap berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak terpancing emosi, dia dangat tahu jika Ayu sengaja Memanasinya dengan berbagai intrik. Sebenarnya dia sangat iri sekaligus cemburu, menginginkan posisi Ayu yang sekarang berada dalam pelukan pria disukainya. 


"Kenapa kau datang tanpa mengetuk pintu?" tanya Ayu yang memecahkan lamunannya, berusaha untuk tersenyum walau terlihat kaku. 


"Maaf, jika kedatanganmu membuat kalian berdua terganggu, aku mendengar berita tentang perusahaan milik Farhan yang cukup prihatinkan." 


"Alasan yang logis, hanya saja kau tidak sopan. Masuk tanpa mengetuk pintu!" Ayu menyindir Vanya dengan cara elegan, tersenyum tanpa raut wajah marah. 


Vanya melirik rivalnya dengan sinis, mengalihkan perhatiannya kepada Farhan dengan tersenyum mengembang. "Aku bisa membantu perusahaan mu."


Farhan mendelik dan membuang muka. " Aku tidak memerlukan bantuanmu!" 


"Aku tahu jika perusahaanmu terkena dampak dari perhiasan yang dirancang oleh Ayu, seharusnya kau tidak menutup matamu dengan kejadian ini," bujuk Vanya yang bersimpati. 


"Keluarlah! Aku tidak memerlukan bantuan darimu." Usir Farhan tanpa menoleh. 


"Biarkan aku membantumu!" desak Vanya yang ingin menolong. 


"Security!" panggil Farhan dengan berteriak, kesal karena wanita itu tak beranjak dari ruangannya. 


"Iya, Tuan." Sahut salah satu security yang masuk ke dalam ruangan CEO, menundukkan kepala saat berhadapan majikannya. 


"Usir wanita itu!" titah Farhan yang melirik sahabat masa kecilnya dingin. Dua security memegang pergelangan tangan Vanya kiri dan kanan, membawa wanita itu agar tak mengganggu bos besarnya. 


"Farhan…kau tidak bisa mengusirku seperti ini," teriak Vanya yang sangat marah mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari pria yang disukainya. Dia terus berteriak, tapi tak di hiraukan oleh Farhan yang lebih disibukkan dengan memeluk tubuh calon tunangannya. 


"Lepaskan pelukanmu," pinta Ayu yang berusaha melepaskan diri. 


"Tidak, kau sendirilah yang merayuku."


"Tapi aku tidak merasa seperti itu," jawab Ayu yang pura-pura tak tahu.


"Benarkah?" ucap Farhan yang menggoda wanita itu.


"Sebaiknya kau lepaskan pelukanmu dan kejarlah Vanya." Ayu memalingkan wajahnya, tak ingin menatap wajah Farhan. 

__ADS_1


"Tadi kau mencoba merayuku di hadapan Vanya, dan sekarang kau memintaku untuk mengejarnya, ada apa denganmu? Oho, aku tahu sekarang," ujar Farhan yang sangat bersemangat, mengetahui alasan kenapa wanita dalam dekapannya seperti memusuhi Vanya


"Kau tidak tahu apapun," seloroh Ayu menutupi wajahnya yang gugup, menutupi segalanya agar pria itu tak mengetahui apapun.


Farhan tersenyum samar, segera berdiri seolah-olah ingin mengejar sahabat masa kecilnya. Terlihat raut wajah sedih dan kecewa yang terpancar di wajah cantik milik sekretarisnya. "Kau baik-baik saja?" tanya nya mengetahui jika Ayu cemburu. 


"Aku baik, pergilah!" lirih pelan Ayu. 


"Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja."


"Aku baik, apa yang kau tunggu? Vanya pasti menunggumu," ucap Ayu pelan, seakan tenggorokannya mempunyai sekat. 


Farhan tersenyum senang, kecemburuan Ayu yang menjadi patokan, jika wanita itu juga memiliki perasaan khusus padanya. Segera menghampiri dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. "Aku tahu kau cemburu dengan Vanya, saat itu situasinya berbeda. Aku hanya ingin melihat apa kau menyukaiku atau tidak, dan ternyata kau cemburu hingga berdampak seperti ini." Jelasnya yang memahami kenapa Ayu seperti memusuhi Vanya, melepaskan pelukannya dan melihat rona merah di kedua pipi wanita itu. 


Ayu sangat terharu dan salah paham dengan Farhan, ternyata tindakan itu hanya untuk membuatnya cemburu saja. "Aku sangat malu, ternyata dia hanya berniat membuatku cemburu saat mereka berdansa. Aku juga tak menyukai wanita manapun mendekatinya, lalu bagaimana dengan Kira? Oh ya tuhan…dilema ini sangat membingungkan," batinnya. 


"Kau kenapa? Jangan menyimpannya sendiri yang hanya membuat kesalahpahaman," tanya Farhan yang sedari tadi memperhatikan wanita itu, mengerutkan kening karena penasaran. 


"Bukan apa-apa."


"Tidak."


Farhan menghela nafas, tak memahami arti perkataan yang seperti kode dari seorang wanita. 


"Kau ingin melanjutkan hubungan ini, mau kau apakan dewi penolongmu itu," sindir Ayu yang mengeluarkan rasa di hatinya. 


"Apa yang kau maksud Kira?" tebak Farhan yang mulai memahaminya. 


"Tentu saja, kau pikir siapa lagi?" kesal Ayu dengan wajah yang cemberut membuat Farhan terdiam tanpa menjawab pertanyaan itu. 


"Aku sangat yakin jika Kira adalah kau," gumam Farhan di dalam hati. 


Seketika Ayu menyadari kesalahannya, dengan mengatakan hal itu sama saja dia cemburu. Merutuki kebodohannya, dia menertawakan dirinya sendiri. "Kau sangat bodoh, kenapa aku mengatakan hal itu padanya? Dia pasti mencari celah untuk meledek ku," batinnya, dan tersenyum kikuk.


Ayu mengalihkan situasi itu dengan kembali memperlihatkan dokumen. "Jika kau sudah membacanya, aku ingin ke meja kerjaku!" ucapnya dengan lembut. 

__ADS_1


"Aku sudah melihatnya, kau boleh pergi." 


Ayu bergegas pergi karena saat ini dia tak ingin membahas masalah tadi, keluar dari ruangan menuju departemen sekretaris. 


****


Di siang hari, konferensi pers di mulai tepat waktu, satu persatu mereka menatap Farhan dan mulai mempertanyakan perihal perhiasan dan nama perusahaan yang tercemar. 


"Andalah yang meminta kami untuk datang kesini dan melakukan klarifikasi, apakah itu benar?" tanya salah satu reporter. 


"Benar sekali."


"Apa anda ingin membela diri?" 


"Tidak, hanya klarifikasi mengenai petunjuk yang di temukan."


"Petunjuk?" 


"Hem, sebuah bukti jika perhiasan yang di produksi di daerah setempat tidak mengandung zat radioaktif, semuanya mengandung syarat edar yang aman dipakai oleh pembeli." Terang Farhan. 


"Apa ada bukti untuk membenarkan perkataan anda?"


Farhan melirik asisten Heri di sampingnya, mengerti dengan isyarat dari bosnya. Dengan cepat asisten Heri memberikan sebuah laporan mengenai hasil produksi di daerah setempat. "Kalian bisa melihat dengan jelas hasil uji dari perhiasan yang ada di daerah setempat, masih aman untuk pembeli." Terang asisten Heri dengan antusias. 


"Semua yang tidak memenuhi syarat berasal dari produksi pabrik di Perancis, dan para staf juga meminta maaf kepada korban mengenai kelalaian kami," sambung Farhan, sedangkan Ayu hanya terdiam di pojok tanpa berniat memperkeruh suasana.


"Adakah pihak yang terkait mengenai kejadian ini?" tanya sang reporter. 


"Untuk saat ini masih diselidiki dan kami akan melakukan hal yang terbaik untuk meninjau dalang sebenarnya," sela asisten Heri. 


Farhan melirik sekretaris, mengedipkan kedua matanya dengan pelan agar Ayu tidak mengatakan sesuatu yang hanya menambah kemarahan semua orang. "Saya selaku pemilik perusahaan ini meminta maaf pada semua orang yang menjadi korban."


"Bagaimana dengan produksi di Perancis?" tanya salah satu reporter yang menatap Fathan dengan seksama. 


"Saya akan menyelidiki segalanya dan akan pergi ke Perancis mencari akar permasalahannya," jawab Farhan dengan penuh keyakinan, memberikan jawaban pada semua orang. Konferensi pers kali ini sangat sukses dan berhasil membuat saham perusahaan kembali naik.

__ADS_1


__ADS_2