
Suasana sangat mencekam, para reporter bahagia dan segera meliput apa yang terjadi dihadapan mata. Mereka menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan. Melihat kedatang seorang pria yang berpengaruh dikota sedang melempar tatapan dingin juga tajam. Menahan tangan wanita itu yang hampir mengenai pipi mulus mantan calon tunangannya, guratan kemarahan terlihat dengan sangat jelas.
Yuna mencoba untuk melawan, mengarahkan seluruh kemampuannya agar bisa mendarat di pipi mulus dari rival nya. Membalas pelototan mata dengan sengit, tidak ada rasa takut yang menyelinap di pikirannya disaat memperjuangkan cintanya. Tapi usahanya sia-sia pria itu bukanlah tandingannya ninggal mengalahkan dan dia tak bisa menyentuh pipi mulus di hadapannya. Perasaan yang sangat kesal juga ingin marah menatap sang penghalang.
Sebenarnya aku ingin membalas perbuatan dari sang pianis, tetapi langkah itu telah diambil lebih dulu oleh farhan. Dia menjadi kesal, sangat marah dan ingin membalas perbuatan wanita itu, tetapi tetap bersabar di hadapan semua orang karena tidak ingin merusak citra indah nama baiknya. " Huff…aku harus memperbanyak stok kesabaran untuk menghadapi orang orang sepertinya," gumamnya di dalam hati, seraya mengelus dada.
"Berani kau menampar Ayu, maka aku tidak akan mengampunimu. Apa kau mengerti!" Farhan memberikan ancaman, berharap wanita itu sadar akan perbuatannya. Dia mencengkeram tangan wanita itu dengan erat dan menghempaskan nya sangat kasar. "Aku tidak akan main-main dalam perkataan yang baru saja terucap."
"Jangan menghalangi langkahku, dia pantas menerimanya karena sudah merebut Gabriel. Katakan pada wanita itu agar tidak menjadi pelakor, dan aku tidak akan diam jika dia berani mendekati tunanganku." Tegas Yuna tak terima, menunjuk sang rival dengan tatapan sinis dan juga tajam.
Ayu menatap wanita di hadapannya dengan teliti, menyusuri pandangan dari atas hingga bawah. "Bersyukurlah jika Farhan menahanmu, atau aku akan membalasnya tiga kali tamparan. Pelakor? Bahkan Gabriel tidak mengakuimu sebagai tunangannya, apa gelar itu masih bisa dilekatkan padaku?" ucapannya yang memukul telak, langsung menyentak lawan dengan kepiawaian dalam membalikkan keadaan. Hal itu malah berhasil membuat Yuna sangat kesal, geram dan marah bercampur menjadi satu, seakan ingin merobek-robek musuhnya.
"Kau!" Tatapan penuh kebencian dan amarah yang ingin meluap meninju wajah wanita di hadapannya.
"Turunkan jarimu di hadapanku, atau aku akan mematahkannya." Sentak Ayu yang menatap tajam, dia tidak ingin di tindas dan lebih baik untuk membalas.
Yuna sangat marah, ingin menjambak rambut dari rivalnya. Tapi, aksinya tidak bisa terlaksanakan saat Farhan melindungi Ayu. Pria itu tak terima dengan perlakuan kasar yang menghampiri sekretaris dan melindunginya. "Apa kau tidak bisa berbahasa indonesia dengan baik? Atau kau memerlukan bahasa binatang?"
__ADS_1
Lagi dan lagi Yuna tidak bisa berkutik, pembelaan dari farhan tidak bisa membuatnya menang.
"Jangan diam saja, bawa wanita itu pergi dari sini!" Farhan melirik Gabriel dengan tajam, dia tak ingin jika sang pianis itu menyakiti mantan calon tunangannya.
Yuna masih saja memberontak, dengan cepat Gabriel menghentikannya. "Apa maksudmu dengan semua ini, hah? Datang dan melabrak Ayu. Apa kau tidak mempunyai rasa malu sedikitpun? Membawa para reporter seolah kau yang menjadi korban. Oh ya, jangan lupakan ini, jika kau bukan tunanganku. Berhentilah mengklaim aku adalah milikmu, aku bisa saja menuntut ucapanmu yang sangat meresahkan." Gabriel memperlihatkan posisi wanita itu di hatinya, berharap tidak akan terulang kembali.
Perkataan monohok yang menyakitkan hati, rasa kecewa yang berujung pada amarah hampir meledak. Gabriel yang melindungi Ayu membuatnya semakin marah, dua orang yang berpengaruh melindungi satu orang wanita yang sama. "Tapi, dulu kita pernah bertunangan. Kau dan aku hampir saja melakukan kontrak pernikahan, jangan lupakan kenangan manis antar kita berdua."
Yuna sangat menyukai Gabriel sejak kecil, bahkan mereka hampir saja menikah. Dia sangat mencintai pria itu, hanya saja semenjak mendengar kabar kebangkrutan dari keluarga sang kekasih membuatnya tak rela hidup miskin. Bahkan keluarganya juga melarang keras berhubungan dengan sang kekasih, kakaknya memaksa perhi keluar negeri. Perasaan yang sangat bimbang, harus memilih cinta atau hidup mewah, memilih dalam keadaan terpaksa. "Apa kau melupakan kenangan kita bersama dulu?" ucapnya melembut.
"Baru sekarang kau mengatakan itu padaku? Kemana saja di saat aku dalam keadaan terpuruk," ungkap Gabriel yang menatap mantan tunangannya, dia tidak bisa melupakan kejadian masa lalu, walau dia tidak bisa mencintai wanita itu sepenuhnya.
"Jangan berharap apapun padaku, kita tidak akan bersama seperti dulu."
"Ta-tapi__."
"Tidak ada tapi-tapian," sela Gabriel yang menyela pembicaraan.
__ADS_1
Yuna menghentakkan kedua kakinya kesal, malu karena penolakan mentah-mentah dari Gabriel yang di sorot kamera. Berita yang menjadi trending topik utama, berharap dengan reting tinggi. "Kalian jangan diam saja, cepat bantu aku!" titahnya yang melirik dua orang pengawal berbadan kekar, memberikan perintah agar memukul Ayu di depan semua orang. Nama baiknya sudah tercemar, maka dia tak mempermasalahkan hal itu.
Gabriel dan Farhan melawan dua pengawal untuk melindungi Ayu, rasa cinta keduanya menjadi sorotan publik. Pertarungan yang hanya di jadikan tontonan penghibur di kala lelah bekerja.
Yuna menyunggingkan senyum liciknya, melihat situasi yang berpihak. "Sepertinya alam sedang mendukungku," gumamnya sembari berjalan mendekati sang rival. Melirik kolam yang tak jauh dari lokasi, mengambil kesempatan di kala semua orang fokus dengan pertarungan itu.
"Lepaskan aku!" Ayu berusaha terlepas, tapi rasa amarah di hati Yuna memberinya kekuatan lebih dan menjadi kuat. "Tidak akan," tolaknya yang menarik dan mendorong tubuh sang rival ke kolam hingga twrdengar suara ceburan air.
Semua perhatian semua orang teralihkan, mereka fokus ke sumber suara. Gabriel ingin menolong, tetapi tangannya ditahan oleh pengawal hingga dia tidak bisa berbuat apapun. "Brengsek, lepaskan aku!" ucapnya yang meninggikan suara satu oktaf.
Tidak ada satupun orang yang ingin menolong Ayu yang tercebur ke dalam kolam, mereka hanya menonton dan meliput untuk mendapatkan berita yang sangat menarik, yang pastinya menjadi trending topik terkini. Yuna mengulas senyum tipis di wajahnya, menyukai jika wanita itu tersiksa berharap tidak ada yang membantu.
Terdengar suara gamercik air di sisi lain, kembali menjadi sorotan semua orang di sana. Farhan terjun dan masuk ke dalam kolam, membantu mantan calon tunangannya agar tidak tenggelam.
Aksi heroik yang dilakukan Farhan membuat ayu terdiam. "Ada apa dengannya? Mengapa dia ikut melompat ke dalam kolam?" begitulah yang dipikirkan olehnya, mengerutkan kening karena tak mengerti.
Ayu tetap tenang karena dia bisa berenang, tetapi sikap Farhan yang terlihat sangat berlebihan, bak pahlawan kesiangan.
__ADS_1