
Keringat bercucuran di dahinya, perasaan cemas karena percakapan terbongkar. Untung saja itu hanyalah suara dan bukan video yang merekam tindakannya. Semua mata menatap dengan Kenan dengan tajam, memfitnah orang lain demi keuntungan pribadi.
"Itu bukanlah rekamanku, kau wanita yang sangat licik." Tukas Kenan, Ayu sangat jenuh dengan situasi saat itu, pria yang selalu mengelak dan mengelak menghindari fakta kenyataannya.
Suasana terasa sangat sesak dan riuh, di tambah dengan beberapa para reporter yang berdesakan memberi pertanyaan menyudutkan kedua belah pihak. Ayu menghela nafas panjang, mengatur emosi agar tak terpancing. Bagai air tenang yang penuh bahaya, tidak bisa diremehkan. "Jelas-jelas itu suaramu sendiri, masih ingin mengelak? Aku pikir kau adalah pria baik, tapi tanggapan dan pikiranku salah. Aku berdiri di sini mempunyai kartu-kartu tinggi yang bisa mengalahkanmu dengan sangat mudah." Batah Ayu menyerang balik.
"Tidak ada untungnya aku melakukan itu," sanggah Kenan.
"Terus mengelak lah, karena bukti yang aku miliki bisa membuat topengmu terlepas dengan sangat mudah, dan masalah keuntungan? Tentu saja berkaitan erat."
Para reporter menyoraki Kenan yang terus mengelak, sedangkan Ayu celingukan mencari Farhan yang sedari tadi dia tunggu. "Kemana dia? Apa aku harus berjuang sendirian?" batinnya yang gusar.
Terdengar suara tapak sepatu menuju ke arah kerumunan orang banyak, suasana hening seketika dan mengalihkan perhatian semua orang. Dua orang pria tampan, namun hanya satu yang mempunyai aura kepemimpinan, yaitu Farhan. Berjalan semakin dekat, membuat Kenan membelalakkan kedua matanya, hampir terlepas dari tempatnya. Kedua tangannya mengepal erat, kemarahan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, sekaligus kaget bagaimana pria itu masih selamat. "Bagaimana ini mungkin? Padahal aku sudah merencanakannya dengan sangat matang, kenapa dia masih selamat?" begitulah yang dia pikirkan di dalam hati.
Semua kamera menyoroti Farhan dan asistennya Heri, dua pria dengan setelan jas terlihat jelas. Tatapan tajam yang dipasang oleh Farhan tak membuat Kenan gentar. "Bukankah dia masih belum siuman? Tapi kenapa dia ada di sini, seperti sudah terencanakan," gumam Kenan di dalam hati, terus memandangi bosnya itu sambil menautkan kedua alisnya, tidak mengetahui jika dia telah masuk jebakan.
"Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Farhan menyerngitkan dahi dan berpura-pura tak tahu, menggunakan wajah polosnya. Berjalan ke samping calon tunangannya, dan memberikan isyarat dengan anggukan kepala pelan. Semua orang tampak terkejut dengan kehadiran Farhan, karena baru saja sekretaris dari perusahaan HR Grup memperlihatkan bukti medis jika mereka dirawat dirumah sakit akibat ledakan yang terjadi di gudang.
__ADS_1
Farhan dengan begitu posesif melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu, kedekatan keduanya di perlihat tanpa ada rasa sungkan. Membuktikan jika Ayu adalah wanita miliknya, tidak ada yang bisa menyakiti walaupun hanya segores luka. Konferensi pers mengarahkan kamera merasa dua objek yang ada di hadapan mereka sangat spesial dan menarik untuk diberitakan.
"Oho, aku tahu sekarang. Jika kedua orang itu merencanakan ini untuk menyerangku, bangsat! Aku tak akan kalah, demi dia aku mempertaruhkan segalanya," racau Kenan di dalam hati.
"Bukankah anda memberikan bukti medis? Lalu, apakah ini semacam kebohongan?"
"Jangan diam saja, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kalian bisa menilai, bahkan bukti laporan yang di tunjukkan oleh sekretaris itu palsu. Buktinya, mereka baik-baik saja dan melakukan sandiwara." Tatapan tajam dan membunuh, tidak menyukai kedua targetnya.
Ayu memijat pelipis, berharap jika rasa sakit kepala segera lenyap. Kembali mendongakkan kepala dengan tegak, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Itu semua tidaklah benar, dan kah berhentilah berpura-pura baik pada semua orang!" tukasnya yang menarik perhatian semua orang, harapan saat ini sangatlah besar dengan pukul telak kepada Kenan memfitnah perusahaan yang melakukan kecurangan, dan terus menuduhnya.
Asisten Heri dengan sigap mengambilkan sebuah bukti yang menguatkan posisi mereka dari tuduhan dan berita miring perusahaan yang semakin anjlok dalam perkembangan saham turun drastis. Semua orang mulai menunggu kedatangan, penasaran mengenai bukti yang ditunjukkan.
"Bagaimana kau bisa selamat?" tanya Kenan yang dingin.
"Kau tidak akan mengetahuinya, pria seperti mu tidak akan lolos dari kecerdasanku." Farhan tersenyum tipis, menyadari hal itu membuat Kenan semakin membenci pria itu.
__ADS_1
Asisten Heri memberikan sebuah video rekaman tak akan bisa Kenan mengelak lagi. Dia menyuruh sang asisten memperlihatkan video lewat infocus yang ada di depan layar.
Kenan semakin yakin jika dia telah dipermainkan dengan dua dua langkah di belakang musuh. "Ck, dia sengaja berpura-pura sakit agar membuatku lengah."
Semua orang melihat video itu, terlihat dengan jelas Kenan yang bersama dengan perancang desain perusahaan Malhotra sedang berduaan layaknya seorang kekasih. Mereka tengah berada di dalam kamar hotel, untuk melakukan kesepakatan.
"Aku ingin kau menghancurkan perusahaan HR Grup, karena merekalah membuat aku seperti sekarang." Perintah Tiara yang merengek dengan manja, memegang lengan pria itu serta mengayunkan m, tak ketinggalan puppy eyes.
Kenan tersenyum puas, menatap Tiara dari ujung rambut hingga di ujung kaki, menelisik dengan pikiran kotornya. Membayangi jika wanita itu tanpa sebenang pun yang melekat di tubuh. "Tentu saja, sebagai imbalannya kau menikah denganku." Tawarnya dengan sangat yakin, pikiran yang kurang iman semakin mempererat hubungan mereka.
Semua orang sangat syok dan kembali menonton kelanjutan video itu, satu persatu bingkai yang di sembunyikan oleh Kenan terbuka satu per satu.
"Tidak masalah, dengan syarat jika kau harus berhasil dan aku menerima tawaranmu," jawab Tiara seraya mengecup bibir pria itu untuk memancing hasrat. Melakukan segala upaya membalas dendam atas keadaannya sekarang, dia di permalukan dengan sangat buruk akibat hasil desain jiplakan karya orang lain.
"Deal, hanya saja aku ingin DP nya terlebih dulu." Kenan mulai meraba kedua bahu dan tangannya menyusuri ke dalam baju dan melepaskan penghalang dari dua benda kenyal memabukkan.
Tiara tersenyum nakal, menggoda Kenan dengan melakukan aksi liarnya, memegang tongkat sakti dan memainkan dengan begitu lihai. Permainan yang di lakukan pria itu mampu membuat Tiara terus bergetar hebat, seakan ada sesuatu yang keluar. Hal itu semakin membuat Kenan bersemangat, hingga keduanya bergelumul di dalam selimut. Malam yang panjang kian memanas membuat semua orang kembali terkejut, terutama Ayu yang melihat video di hadapannya.
__ADS_1
"Rekaman Video itu sangat jelas, tidak ada celah untuk kau menghindar." Celetuk Farhan tengan tegas, tersenyum tipis jika masalah mendapatkan titik terang.