
Sang manajer memikirkan rencana untuk membuat Kira sedikit jera akibat keputusan yang telah diambil, sedikit membuat ketakutan menurutnya tidak terlalu bermasalah. "Wanita ini selalu saja membuatku geram, menempel bagaikan sebuah lem. Tapi tenang saja, aku ada disini dan membantu Ayu. "Bagaimana jika nona Kira hanya akan mengganggu perjalananmu, Tuan. Apa itu tidak akan mempersulit keadaan?"
"Aku tidak butuh izin darimu, Farhan memperbolehkan ku untuk ikut bersama kalian. Lalu apa masalahmu denganku?" ucap kira yang menyipitkan kedua matanya, menatap wanita pembela rivalnya.
"Biarkan saja dia ikut," sela Farhan yang tidak ingin adanya pertengkaran.
Seketika senyum kemenangan di wajah Kira terlihat begitu jelas mengejek sang manajer yang tersenyum masam. "Heh, kali ini kau boleh menang tapi tidak nantinya!" batin sang manajer yang berpura-pura tersenyum.
"Siapa wanita itu? Berani sekali dia melarangku, dia sama saja dengan Ayu. Mereka wanita yang sangat bodoh, nasibku begitu mujur karena Farhan ada di kendali ku saat ini." gumam Kira yang mengulas senyuman tipis.
Farhan segera berlalu pergi menghampiri salah satu polisi. "Bagaimana sudah ada tanda-tanda?"
"Maafkan kami tuan, karena medan yang cukup sulit untuk kita lewati akibat hujan deras yang terjadi semalam. Jalanan yang begitu terjal, membuat tim tidak sanggup untuk mencari hingga ke dasar jurang."
"Apakah tidak ada cara yang lain lagi, yang bisa kalian lakukan?" puncak Farhan seakan ingin menyindir akreditasi para tim.
"Sudah kami usahakan dengan semaksimal mungkin, bahkan pencarian berjam-jam juga tidak menemukan tanda-tanda adanya kehidupan, kecil kemungkinan untuk bisa menemukan nona Ayu."
"Usaha kalian masih kurang, aku akan membayar berkali-kali lipat. segera kembali lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan membuatku kecewa!" titah Farhan sedikit meninggikan suaranya.
"Ini bukan masalah uang, kami tidak bisa membahayakan nyawa para tim hanya untuk menolong satu orang saja."
"Apa kau bilang?" Farhan sangat emosi mendengar perkataan dari salah satu polisi, dia memegang kerah leher pria itu dan menariknya dengan erat. "Jika sampai kau mengatakan hal ini lagi? Maka jangan salahkan aku dengan seragam yang kau banggakan itu akan copot." Ancamnya sembari melepaskan cengkraman di kerah leher polisi itu, menatap mereka satu persatu dengan tajam.
Dengan segera, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menghubungi seseorang yang sangat membantunya dan juga berguna di kala membutuhkan bantuan, mencari nomor kontak yang tertera di ponselnya yaitu sang asisten bodoh.
"Halo."
"Iya, tuan. Ada saya bantu?"
"Apa kau menyusulku?"
"Tentu saja! Kemanapun atasannya pergi, pasti sang asisten selalu berada di samping."
"Berhentilah bersikap sok bijak, dimana lokasimu sekarang."
__ADS_1
"aku tepat berada di belakangmu, tuan."
Farhan sedikit terkejut, segera menoleh kebelakang dan benar saja jika sang asisten hari sudah berdiri beberapa meter darinya seraya melambaikan tangan ke arahnya. "Apa aku sudah terlihat tuan?" goda asisten hari lewat telepon.
Sambungan telepon terputus, menatap mata sang asisten yang berjalan menghampirinya. "Kapan kau sampai?" yang mengerutkan kening.
"Sepertinya Tuan lupa? Aku juga di penerbangan yang sama."
"Benarkah? Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin pikiran Tuan terlalu terbebani membuat tidak bisa berkonsentrasi."
Asisten Heri tersenyum karena atasan tidak menemukan celah untuk memarahinya, senyuman itu pudar saat melihat seorang wanita yang bergelayutan manja seperti monyet berada di samping tuannya. "Mataku menjadi sakit melihat hal ini! Apa ini termasuk tipe wanita idaman tuan Farhan? Bahkan, jika diberikan kepadaku secara gratis, aku akan berpikir seribu kali." Batinnya yang mencibir keberadaan dari Kira.
Sang manajer memperhatikan gerak-gerik dari asisten Heri, tersenyum smirk melihat raut wajah dari pria itu. "Wah, sepertinya asisten itu juga tidak menyukai keberadaan Mak Lampir. Ini sangat seru, menambah satu orang untuk menjadikan sekutu." Batinnya, dan segera mendekati sang asisten. "Tolong bantu aku, temukan nona Ayu. Aku percayakan kepada kalian."
Asisten Heri melihat gerakan bahasa isyarat yang digunakan oleh sang manajer, menangkap sinyal seraya menganggukkan kepala dengan pelan.
"Heri!" panggil Farhan.
"Iya, tuan."
"Jangan meragukanku masalah pekerjaan, semuanya telah aku persiapkan, Tuan hanya tinggal duduk diam dan menggunakan nya saja."
"Hem, pencarian yang cukup sulit mengharuskan kita menggunakan helikopter, minta orang bawahanmu, sekarang!"
"Laksanakan." Asisten harus segera menghubungi bawahannya untuk membawakan helikopter yang menuju lokasi.
Mencoba untuk mencari di sekitaran itu, dia menjauh dari semua orang dan memeriksa jurang yang sangat dalam dari atas.
"Farhan, tunggu Aku!" pekik Kira yang berlari untuk menyusul, karena bersemangat tak sengaja dia terjatuh hingga wajah dan seluruh tubuhnya nya mendarat di atas lumpur.
Semua orang menatap tontonan gratis dan menertawakan nasib sial wanita cantik yang tengah merutuki nasibnya sendiri, hal itu dilakukan atas campur tangan dari sang manajer yang sengaja membuat nya terpeleset.
"Ternyata lemparan ku masih sama, dia pantas menerimanya." Gumam yang tersenyum tipis.
__ADS_1
Salah satu polisi segera membantu Kira dengan memberikan segelas air mineral untuk membersihkan tubuh, pakaian yang sedikit kotor tak sempat diganti saat melihat helikopter yang menghampiri.
Tanpa menunggu waktu lagi, Farhan, sang manajer, asisten Heri dan Kira masuk ke dalam helikopter. Helikopter mulai bergerak ke atas dan terbang, cukup lama dengan beberapa putaran dan mencari keberadaan Ayu, tapi hasilnya nihil.
Farhan mengusap wajahnya karena tak berhasil menemukan keberadaan Ayu dan memutuskan untuk melakukan terjun payung. "Aku akan terjun payung!"
"Aku tidak setuju, itu sangat berbahaya." Sela Kira.
"Dan aku tidak peduli!" sahut Farhan.
"Aku akan ikut bersamamu, Tuan." Celetuk sang manager.
Farhan, asisten Heri, dan Kira sangat terkejut mereka tidak menyangka jika sang manajer yang terlihat seperti wanita biasa mampu melakukan terjun payung.
"Jangan bercanda, kau hanya akan menyusahkan Farhan saja." Cetus Kira dengan sinis.
"Tidak perlu mencemaskan diriku."
Farhan sangat yakin jika sang manajer mempunyai keahlian terjun payung, menganggukkan kepala. "Asisten Heri!"
"iya, Tuan."
"Siapkan dua parasut, aku dan manajer akan terjun payung!"
"Baik, Tuan." Asisten Heri meninggalkan tempat itu.
"Jangan bertindak nekat, Farhan." Ucap Kira yang meyakinkan pria itu.
"Aku akan tetap mencari Ayu, minggir!"
Farhan dan sang manajer memasang peralatan terjun payung dan bersiap-siap untuk melompat, keduanya saling melirik seraya menganggukkan kepala. Mereka melompat dari ketinggian seribu dua ratus meter.
Hal itu membuat Farhan sedikit kebingungan mengenai identitas asli dari Ayu yang dikelilingi oleh orang yang tidak biasa. "Bahkan sang manajer begitu lihai menggunakan parasut," batinnya.
****
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Ayu sedang menunggu di dalam gua yang sangat gelap, bahkan mencoba untuk menghubungi kontak yang ada di ponselnya, tetapi tidak ada sinyal membuatnya kehilangan semangat. "Disini tidak ada sinyal, nasibku paket komplit!" gerutunya. Tiba-tiba terlintas ucapan dari Farhan, jika pria itu akan menyelamatkan dan juga melindunginya, dan merasa sangat sedih.