Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 98 ~ Terjebak di dalam lift


__ADS_3

Ayu menatap dalam wajah pria itu, seketika hatinya merasa hangat dengan perlakuan manis Farhan. "Kau yang membuat makanan ini?" tanyanya untuk meyakinkan diri. 


"Tentu saja, memangnya kau pikir siapa lagi?" ucap Farhan. 


"Terima kasih, kau sudah membawakan makanan ini untukku." Ungkap Ayu dengan tulus, sorot matanya berbinar melihat kotak makanan di hadapannya. 


"Kau tidak akan kenyang dengan mengucapkan terima kasih saja, bukalah kotak makanan itu dan makanlah!" ujar Farhan yang masih berdiri. 


"Apa kau hanya berdiri saja? Duduklah." Ayu mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan dari Farhan. Dengan cepat, Farhan menarik kursi dan mendudukkan dirinya. Tersenyum tipis saat melihat sorot mata Ayu yang sangat berbinar ingin merasakan masakannya. 


"Wow, bahkan aromanya membuat perutku semakin lapar." 


"Jangan banyak berbicara, makan saja dan katakan bagaimana rasa masakanku." Ucap Farhan yang membanggakan dirinya. 


"Hah, kau selalu saja memuji diri sendiri." Ayu cemberut beberapa detik, namun berubah saat ingin menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya. Suara dering ponsel membuatnya terpaksa menunda makan sementara waktu, memeriksa siapa yang menghubunginya di malam hari. 


"Siapa yang meneleponmu?" tanya Farhan yang penasaran. 


"Gabriel."


"Oh," singkat Farhan dengan wajah murungnya. 


"Halo."


"Kenapa kau sangat lama mengangkat telepon dariku?"


"Tadi aku tidak mendengar dering ponselnya."


"Ya baiklah, lupakan itu. Aku melihat kabar mengenai perusahaan lain yang mengadakan konferensi pers, memperlihatkan hasil desain perhiasan."


"Begitulah."


"Hasil desain itu cukup familiar, bukankah desain itu adalah rencana mu?" 


"Itu memang rancanganku, dan sekarang aku dituduh sebagai plagiat."


"Kau tenang saja, aku akan memberikan kesaksian. Jika kau tidak melakukan tindak plagiat siapapun dan aku sangat mempercayai mu."


"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu, aku sangat berterima kasih."


"Aku akan melindungimu dan bahkan menjadi saksi untuk melawan semua tuduhan itu."

__ADS_1


"Aku sangat yakin, kau pasti bisa!"


"Terima kasih dukungan dan kepercayaanmu padaku, tapi aku masih penasaran dengan mata-mata yang menyabotase semua ini."


"Aku sangat yakin, jika ini tindakan dari orang dalam."


"Kau benar, aku akan memikirkan cara untuk menyerang balik."


"Itu bagus."


Farhan semakin geram dengan percakapan Ayu dan Gabriel yang sangat lama, dengan cepat dia merebut ponsel itu di tangan wanita yang sedang asik menelepon. 


"Hai, apa yang kau lakukan?" protes Ayu kesal. 


"Diamlah!" titahnya seraya mendekatkan ponsel itu ke telinga. 


"Sebaiknya telepon ini di sudahi saja!"


"Farhan? Kau?"


"Yah, ini aku. Ayu belum makan apapun dari tadi siang, dan kau malah mengganggu dengan menelepon sangat lama."


"Eh, benarkah?"


"Hem."


Ayu yang kesal tidak menjawab apapun, memegang perutnya karena sangat lapar. Memegang sendok dan garpu, menyuapi mulutnya dengan masakan yang dibuat oleh bosnya. 


"Bagaimana rasanya?" desak Farhan dengan penuh harap. 


"Masakanmu luar biasa, bahkan masakanku kalah jauh darimu," puji Ayu dengan penuh semangat, membuat Farhan juga merasa bahagia. 


"Bagus jika kau menyukai masakanku, habiskan!"


"Buka mulutmu!" ucap Ayu yang memperagakan mulutnya terbuka lebar, Farhan mengikuti perkataannya. Dengan cepat dia menyuapi mulut pria itu dan tersenyum. "Bagaimana rasanya?" godanya. 


"Sangat lezat," ungkap Farhan, yang memajukan tubuhnya ke depan semakin membuat Ayu deg-degan. 


"Astaga…apa dia akan menciumku?" batin Ayu dengan praduganya.


Farhan mengusap bibir Ayu dengan sangat lembut. "Ada sisa makanan di bibirmu," ujarnya dan kembali duduk. 

__ADS_1


"Wah, ternyata aku salah menduga." Batin Ayu yang sangat malu. "Terima kasih!" lirihnya pelan seraya menundukkan kepala, berusaha menutupi kedua pipinya yang merona.


"Sama-sama, aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki masalah plagiat." Sambung Farhan.


"Terima kasih, kau bersusah payah membantuku."


"Tidak masalah."


Setelah makan malam selesai, Ayu ingin melanjutkan pekerjaannya kembali. Sedangkan Farhan menggelengkan kepala  melihat kegigihan dan keuletan wanita itu. "Apa kau tidak merasa lelah? Berhentilah bekerja!" titahnya dengan tegas. 


"Tidak, masih ada sedikit lagi pekerjaan yang harus aku selesaikan." Tolak Ayu keukeuh. 


"Di sini akulah bosnya, ayo ikut pulang bersamaku!" ucap Farhan tanpa bantahan, membuat Ayu menghela nafas dengan berat. Terpaksa menghentikan pekerjaannya akibat ucapan dari bos sekaligus calon tunangannya. 


"Baiklah, Tuan Farhan Hendrawan!" tekan Ayu tersenyum paksa. 


"Bagus, jika kau mengerti itu." 


"Hem." Ayu membereskan meja kerjanya, mengambil tas kecil dan memasukkan ponsel ke dalamnya. "Aku sudah selesai, ayo!"


Keduanya berjalan menuju lift dan masuk ke dalam, Farhan menekan tombol menuju lantai dasar. Lift berjalan dengan baik, tapi di beberapa detik kemudian, tiba-tiba lift berhenti dan lampu penerang juga mati. 


Ayu membesarkan pupil matanya, tubuh mulai berkeringat ketakutan. Memundurkan langkahnya hingga menyandarkan punggungnya di lift. "Aku sangat takut kegelapan…aku sangat takut." Lirihnya dengan bibir yang bergetar hebat. Farhan yang menyadari hal itu, langsung memeluk dan mendekap wanita itu, berusaha memberikan rasa aman dan nyaman. 


"Tenanglah…aku ada bersama mu." Ucap Farhan yang semakin mengeratkan pelukannya. 


"Farhan…a-aku sangat takut." Lirih Ayu pelan. 


"Aku ada di sini, jangan takut." Farhan mengusap rambut sekretarisnya dengan sangat lembut. Perlakuannya membuat Ayu merasa sangat tenang berada di sisi pria itu, dan semakin merengkuhnya. Melihat kondisi Ayu yang terlihat ketakutan, rasa kasihan menyelimuti pikirannya saat ini. Memanfaatkan kesempatan itu dengan mencium aroma tubuh wanita di dekapannya sama persis dengan Kira. "Tidak salah lagi, jika Kira dan Ayu adalah orang yang sama." Batinnya. 


"Farhan, kau memelukku sangat erat." Ujar Ayu dengan pelan, karena dia merasa sesak nafas. Melirik pria itu yang baru selesai menelepon seseorang untuk memperbaiki lift yang rusak, dan perlahan ketakutan itu sedikit berkurang karena Farhan ada bersama dengannya. 


"Maafkan aku, Kira." Jawab Farhan yang keceplosan memanggil sekretaris dengan nama yang salah, seketika senyum Ayu berubah datar saat mendengarnya. "Maksudnya, maafkan aku Ayu! Oh ya, aku sudah menyuruh orang untuk memperbaiki lift, kau tidak perlu cemas," ralatnya yang melamun mengenai Kira, sang dewi penolongnya dulu. 


"Baiklah, itu berita yang sangat bagus." Ucap Ayu tanpa berniat melepaskan pelukan itu. Lift akhirnya sudah selesai di perbaiki, lampu kembali menyala membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Mengingat keduanya saling berpelukan erat, menciptakan suasana ambigu saat pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang melihat hal itu. 


"Maafkan aku!" ucap Ayu yang melirik Farhan dengan sekilas dan melepaskan pelukan itu. 


Mereka keluar dari lift, melangkahkan kaki untuk keluar dari tempat itu. Ayu mencekal tangan Farhan dan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi. "Aku ucapkan terima kasih, aku tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa kau di sana."


"Berhentilah mengucapkan terima kasih, Kira." Tukas Farhan yang kembali menyebut nama yang salah. 

__ADS_1


"Sepertinya Farhan menyamakan aku dengan Kira," batinnya yang kecewa. 


__ADS_2