
Seketika dia menjadi terkejut mendengar perkataan dari pria itu, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi semalam. "Mungkin saja yang dikatakan Farhan itu benar, karena obat membuatku kehilangan kendali dan merayunya. Ini sangat horor," batinnya yang gelisah, menutup kedua mata menggunakan tangannya.
"Kenapa kau menutupi wajahmu?" tanya Farhan yang mengerutkan kening.
Ayu tak mengindahkan ucapan Farhan, masih memikirkan apakah dia telah melakukan hal yang lebih pada pria itu. Dengan cepat, dia mengecek tubuhnya di balik selimut. "Syukurlah ternyata masih aman," gumamnya dan menatap pria di sebelahnya tajam.
"Apa aku tampan?" Farhan menyunggingkan senyuman indah dan penuh percaya diri.
"Kau menipuku, kita tidak melakukan apapun semalam." Ketus Ayu yang kesal.
"Kau terlihat sangat yakin."
"Tentu saja, karena pakaianku masih utuh."
"Ya, itu benar. Hanya saja kau memanfaatkan kepolosanku," ucap Farhan yang menjadi korban tersakiti.
"Hentikan ini, kau tidak perlu berpura-pura, wajahmu tidak cocok dengan ekspresi itu."
"Setelah kau kembali menodai ku?" goda Farhan seraya berpura-pura sedih.
"Menodaimu? Kita bahkan tidak melakukannya." Kesal Ayu yang cemberut.
"Apa ingin diperjelas? Bagaimana kau terus menggodaku, mencium bibirku yang seksi, membelai dada bidang dan bahkan…bahkan__" jelas Farhan, menatap wanita cantik di sebelahnya.
"Bicaralah dengan benar?" pekik Ayu.
"Bahkan kau menggigit leherku layaknya vampir."
"Apa ada bukti untuk itu?" tukas Ayu yang menyipitkan kedua matanya dengan penuh penyelidikan.
Farhan semakin dekat, memperlihatkan lehernya yang terdapat beberapa bekas memerah. Kedua pupil Ayu membesar, menutup mulutnya menggunakan tangan. Kaget melihat bekas memerah di kulit putih milik calon tunangannya.
"Apa itu ulahku?" lirih pelan Ayu yang berusaha meyakinkan dirinya.
"Itulah akibatnya jika kau pergi tanpa memberitahukan aku."
__ADS_1
"Maaf," Ayu menundukkan kepala, merasa menyesal dan bersyukur jika Farhan menyelamatkannya.
"Hem, aku tidak menyentuhmu sama sekali. Jika kau mau, maka dengan senang hati aku lakukan."
Ayu tersenyum mendengar pengakuan Farhan, obat perangsang dengan dosis tinggi membuatnya hampir hilang akal. Untung saja pria itu tidak melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan. "Farhan pria yang sangat baik, jika orang lain di posisinya, bisa saja aku akan terjebak." Batinnya.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan aku."
"Sama-sama, bersiaplah karena sebentar lagi kita akan sarapan." Kata Farhan yang segera beranjak dari tempat tidur.
"Baiklah." Ayu turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. "Aku sangat beruntung saat Farhan menemukanku, karena kelengahanku dimanfaatkan oleh dua preman itu." Monolognya.
Setelah selesai mandi, Ayu bersiap-siap menuruni tangga menuju dapur setelah mengenakan pakaian formal. "Pagi!" sapanya menatap pria tampan yang sedang menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring.
Farhan mendongakkan kepala, mengalihkan perhatiannya ke asal suara. "Pagi, duduk di sebelahku!" dia menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Hem." Ayu mengangguk, berjalan mendekat dan menarik kursi.
Kedua makan makan sarapan dengan khidmat, keadaan sunyi di Mansion membuat rasa tenang, aman, damai, dan tentram. Farhan dengan cekatan mengambilkan sarapan untuk calon tunangannya, perhatian yang di perlihatkan hanya kepada Ayu.
"Aku sangat yakin jika ini ulah Farhan," gumamnya di dalam hati. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, kedua preman itu tertangkap karena ulahmu." Tutur Ayu di sertai senyuman indah terukir di wajahnya yang cantik. "Kau selalu melindungiku, kenapa kau melakukan itu?"
"Hem, itu akibatnya jika ada orang yang menindas wanita milikku," ucap Farhan tegas, memberikan pelajaran setipal pada kedua preman itu.
Seketika hati Ayu tersenyum hangat, berusaha menutupi rona di kedua pipinya menggunakan rambut, kembali melanjutkan sarapan dan menghabiskan makanannya.
"Kita akan berangkat ke kantor bersama, aku tak ingin jika kau kembali melakukan tindakan ceroboh." Titah Farhan yang melirik wanita di sampingnya.
"Jangan mengungkitnya, kau malah mengingatkan aku dengan kejadian semalam."
Selesai sarapan, mereka masuk ke dalam mobil dan menuju kantor. Terdiam karena tidak ada obrolan yang ingin di bagi, perjalanan di kota sangatlah padat akan kendaraan membuat jalanan menjadi sedikit macet.
Tiba-tiba terdengar suara bersin. "Sepertinya kau flu, sebaiknya kita membeli obat mu di apotik terdekat." Ayu sangat perhatian dengan kondisi Farhan yang terserang flu, memikirkan apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Tidak, ini hanya flu biasa." Tolaknya du sela-sela bersinnya.
__ADS_1
"Jangan keras kepala, arahkan mobilnya ke apotik terkenal!" titah Ayu lirih sang supir sepersekian detik, perhatiannya tertuju kepada Farhan.
"Baik."
Setelah membeli obat, mereka langsung pergi menuju kantor dan berjalan keruangan masing-masing.
Di dalam ruangan CEO, Farhan memfokuskan pikirannya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Tapi konsentrasinya buyar saat asisten Hari masuk tanpa mengetuk pintu, membuatnya kesal. "Ketuk pintunya terlebih dulu, jika kau melakukannya lagi, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan pekerjaan." Tekannya dengan sorot mata tajam.
"Maafkan tindakan ceroboh saya, Tuan. Hanya saja, saya menemukan petunjuk lain mengenai kasus lalu."
"Hem, lanjutkan perkataanmu."
"Transfer uang untuk penanggung jawab lampu yang hampir menimpa nona Ayu berasal dari perusahaan tas kulit dan tidak ada petunjuk lainnya.
"Bagus! Lanjutkan penyelidikan mu."
"Baik, Tuan." Sahut asisten Heri tegas. "Saya pamit undur diri dulu." Segera berlalu pergi meninggalkan ruangan bos, tak sengaja dia berselisih dengan Ayu di depan pintu, saling sapa dengan tersenyum.
Ayu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri pria tampan dengan setelan jas hitam yang tampak berpikir. "Kenapa kau melamun?" tanyanya yang penasaran.
"Asistenku menemukan bukti mengenai insiden lampu gantung, menemukan bukti transfer uang berasal dari perusahaan tas kulit." Jelas Farhan.
"Apa asisten Heri menemukan bukti lain?"
"Tidak ada petunjuk apapun, dan masih dalam penyelidikan."
Ayu terdiam, tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Insiden lampu gantung yang hampir saja membuatnya bisa kehilangan nyawa, jika Farhan terlambat sedetik saja. "Obat flu milikmu ada padaku, ini minumlah agar kau segera pulih!" menyerahkan obat flu dan meletakkannya di atas meja kerja.
"Sebelum minum obat dianjurkan untuk makan terlebih dulu, dan saat ini aku tidak lapar." Tolak Farhan yang berniat untuk bermanja dengan calon tunangannya.
"Aku sudah tahu ini pasti terjadi, aku telah membawakanmu bubur dan juga obat. Setidaknya minum obat ini agar kau sembuh!" pinta Ayu sedikit memaksa.
"Baiklah, tapi suapi aku!" Farhan membuka mulutnya dengan lebar.
Ayu menghela nafas saat merasa tak tega dengan pria itu, menyetujui permintaan Farhan yang ingin di suapi olehnya. Suapan demi suapan di rasakan oleh Farhan, tak ingin melewatkan momen indah bersama wanita miliknya. Suasana di antara keduanya sangatlah dekat dan juga romantis, hingga Farhan tak sadar telah menghabiskan makanannya.
__ADS_1