
Ayu semakin terpuruk dengan serentetan pertanyaan yang terus menghakiminya, dia sudah jenuh dengan semua orang dan kembali pada masa sebelumnya yang juga diperlakukan hal yang sama. "Sepertinya kaulah yang merusak gaun itu dan robek, tapi seperti sebelumnya. Kalian hanya menjebakku, untuk apa mengundang wartawan dengan masalah sekecil ini?"
"Diam kau, tutup mulutmu itu atau aku akan menamparmu!" Jenni sangat marah dan juga kesal, menunjuk wajah Ayu dengan tatapan sarkas penuh kebencian.
"Jangan menunjukku seperti itu, dan aku tidak takut dengan ancaman murahanmu." Balas Ayu yang sudah muak dengan tuduhan demi tuduhan.
"Lancang sekali kau!" sela Vanya yang membela sahabatnya.
"Oho, aku mengerti sekarang. Kau mengundang wartawan ini dan mengintrogasi ku layaknya seorang yang bersalah, kau ingin menjebakku?" Ayu menatap Vanya dan Jenni secara bergantian, sorot mata tajam tak ingin terus disalahkan dengan apa yang tidak diperbuat.
Para reporter dan wartawan melihat kejadian yang sangat menarik, pertikaian antara Ayu dan dua orang wanita akan menjadi trending topik. Mereka terus mengarahkan kamera, mengambil gambar dengan titik yang tepat, berusaha untuk mendapat hasil maksimal mungkin. Salah satu wartawan mendekatkan perekam suara ke arah ketika wanita yang menjadi topik. "Apa ini jebakan seperti yang telah lalu?"
"Ya, aku bahkan tidak menyentuh gaun itu. Tapi mereka selalu saja mencari celah mencari masalah denganku."
"Aku melihatnya sendiri, jika kau dengan sengaja merusak gaun mahal milih Jenni."
"Heh, kalian berdua hanya sekongkol dan aku tahu akan hal itu."
"Kalian lihat! Wanita ini sudah bersalah, tapi masih tetap angkuh untuk tidak mengakui kesalahannya."
"Bukankah sudah aku katakan, kita lihat Cctv kejadiannya akan terlihat jelas di sana." Ayu tahu jika kedua wanita itu hanya ingin menjebak seperti sebelumnya, dia tidak ingin citranya rusak di hadapan semua orang.
Tak jauh dari kejadian, seorang pria tengah menikmati makanan yang tersuguh di hadapannya, ingin menikmati di kala perut yang sudah keroncongan. "Ini surgaku, mengisi perut yang mulai berdemo." Gumamnya yang ingin menyuapi mulutnya, tapi terhenti saat melihat begitu banyak orang di dalam butik. "Mengapa butik itu ramai dengan wartawan?" monolognya yang penasaran.
Asisten Heri mengerutkan keningnya, memanggil salah satu karyawan dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi. "Mengapa di butik itu sangat ramai? Apa ada seorang artis atau model terkenal?"
Pelayan itu sekilas melihat dari balik dinding kaca yang tembus pandang, mengulas senyum. "Bukan Tuan, ada seorang wanita yang dituduh telah merusak gaun mahal milik wanita lain."
"Siapa namanya?" tanya asisten Heri yang jiwa penasaran meronta sembari menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring.
Sang karyawan itu tampak berpikir, berusaha untuk mengingat nama. "Kalau tidak salah, wanita yang dituduh itu bernama A-Ayu, dan pemilik gaunnya bernama Jenni."
__ADS_1
Asisten Heri menganggukkan kepala dengan pelan, ber "oh" ria. Beberapa detik kemudian, dia membelalakkan kedua matanya yang mengenal siapa wanita tertuduh. "Ayu?"
"Iya, Tuan."
Asisten Heri menggebrak meja seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya, aksinya itu membuat karyawan terkejut. "Ini tidak bisa dibiarkan," ucapnya dengan penuh gejolak, segera mengeluarkan beberapa lembar uang dan pergi dari tempat itu setelah meneguk segelas air putih. "Ambil saja kembaliannya!"
Karyawan itu segera mengambil uang di atas meja, menghitung nominal yang membuatnya tersenyum masam. "Uangnya pas, Tuan. Tidak ada kembalian!"
"Benarkah? Hah, aku lupa jika sedang berhemat." Jawabnya santai dan berlalu pergi menuju lokasi kejadian.
"Dasar pria sinting, berlagak kaya dan juga pelit." Umpat karyawan yang melihat kepergian asisten Heri dengan sekilas.
Asisten Heri segera menghampiri semua orang dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan benar saja jika terjadi pertikaian ketiga wanita yang dia kenal. "Ternyata benar dugaanku, aku harus melapor pada tuan Farhan." Dia menjauh dari kerumunan dan mengeluarkan ponsel dari saku jas, mencari nomor kontak atasannya yang diberi nama Bos Gila.
"Halo, tuan."
"Ya, ada apa?"
"Ck, bicaralah dengan jelas."
"Nona Ayu dituduh merusak gaun mahal yang baru saja dibeli oleh nona Jenni, ada nona Vanya yang juga menyudutkan wanita malang itu."
"Apa? Katakan lokasimu sekarang."
"Aku ada di butik ternama, tak jauh dari restoran di jalan A."
"Baiklah, aku akan datang."
Asisten Heri segera menutup telepon, sedikit menghela nafas karena bisa menyelamatkan Ayu dari tuduhan Jenni dan Vanya. "Semoga tuan Farhan dengan cepat, dan bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi ini." Gumamnya yang kembali melangkahkan kaki menuju kerumunan untuk menghandle sebelum bosnya datang.
"Tidak, sebaiknya aku menonton saja. Ini terlihat seru, biarkan tuan Farhan menyelesaikan permasalahan wanita yang menyukainya. Aku begitu baik, memberikan kesempatan atasan laknat itu untuk menyelesaikannya." Batin asisten Heri yang melupakan niat awal.
__ADS_1
Farhan sangat cemas dengan apa yang terjadi, selalu saja tuduhan palsu mengarah kepada mantan calon tunangannya. "Mereka keterlaluan, menuduh Ayu tanpa bukti." Gumamnya yang segera beranjak dari tempat itu. Terlihat wajah penuh kekhawatiran, tak menghiraukan orang di sekitar menuju tempat lokasi yang disebutkan oleh asistennya.
Kira yang baru saja ingin menghampiri bosnya, terhenti karena tak sengaja mendengar Farhan menyebut nama Ayu. Dia terdiam beberapa saat dengan tangan yang menenteng makanan untuk pria yang baru saja pergi, tapi niat awalnya berubah haluan saat nama sang rival memanas di telinganya. "Aku harus mengikutinya!" batinnya yang sangat penasaran apa sebenarnya terjadi, berharap jika rivalnya mengalami masalah berat.
Kira segera masuk ke dalam mobil dan mengikuti kemana perginya Farhan, tak ingin ketinggalan jejak.
Di sisi lain, Ayu masih terjerat dengan dua orang wanita yang begitu membencinya, selalu saja mencari permasalahan.
Vanya menggerakkan tangannya pada salah satu karyawan di butik. "Kemari!" titahnya berhasil membawa karyawan segera menghampirinya.
"Iya, Nona. Ada yang perlu saya bantu?"
"Panggil manajer mu, masalah ini harus ada titik terangnya."
"Baik."
Tak lama, datanglah seorang wanita yang berjalan mendekat. "Apa yang terjadi disini?"
"Kau manajernya?" Vanya melirik penampilan wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahunan.
"Ya, saya manajernya. Ada yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya wanita itu menatap orang-orang.
"Wanita ini merusak gaunku, dan dia ingin melihat rekaman Cctv yang terjadi beberapa menit lalu." Jawab Jenni.
Manager butik segera memperlihatkan rekaman Cctv untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, Ayu sangat berharap jika hal itu bisa membuktikan dirinya tidak bersalah. Tapi, hal yang diharapkan tidak terjadi, saat tidak menemukan Cctvnya kebetulan tidak menangkap rekaman yang menjadi permasalahannya. "Tidak ada apapun di sini, rekaman Cctvnya tidak menangkap kejadian beberapa menit lalu."
"Mana? tidak ada rekaman Cctv, jadi kau bersalah karena telah merusak gaunku."
"Eh, Cctv yang tidak bisa menangkap kejadiannya, bukan berarti akulah yang merusak gaun itu. Jangan memfitnahku berlebihan," protes Ayu.
Tiba-tiba sebuah suara muncul dan berkata bahwa dia bisa membuktikannya. "Aku bisa membuktikan siapa yang bersalah," ucap orang itu yang menarik perhatian semua orang.
__ADS_1