Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 255 ~ Jangan memeluk adikku!


__ADS_3

Leon tersentak kaget saat berhadapan langsung dengan kakeknya, dia tak menyangka jika pria tua itu akan menghadiri acara ini menurut informasi yang diterima olehnya. "Kakek?" 


"Ck, aku bahkan tak sudi jika kau memanggilku dengan sebutan itu." Sahut Tirta yang tidak menyukainya. 


Ada yang berdenyut di hatinya, rasa sakit saat kakeknya sendiri tidak pernah menyayanginya. Bahkan dirinya hidup tanpa kasih sayang siapapun semenjak kematian dari ibunya, Tirta sangat membenci dirinya. Leon hanya tersenyum getir, dia bahkan tersenyum dengan keadaan yang begitu miris. 


Ayu melihat segalanya, dia merasa simpati dengan kakak tirinya itu. "Aku harus menyelesaikan ini," gumamnya yang dengan cepat berlari menghampiri mereka, Farhan segera mengejar calon istrinya. 


"Karena dirimu selalu saja membuat kesialan dimanapun berada, berhentilah mengganggu Ayu. Apa kau dengar?"


Leon sangat kesal, dia membenci dunia yang seakan kejam padanya. Hanya ada kebencian di hati, selalu terpuruk di hati dengan kata anak pembawa sial. "Ya, aku memang anak pembawa sial. Lalu, apa masalahmu?" teriaknya yang tidak menghiraukan orang lain ataupun citra yang buruk. "Kau selalu menyalahkan aku atas kematian ibuku sendiri, apa yang diketahui oleh anak berusia lima tahun? Kau pria tua yang sangat egois, karena selalu menyalahkan aku dan tidak menganggapku ada. Bukan hanya kau, bahkan ayahku, maksudku…bajingan itu juga menyalahkan aku."


Plak


Tirta menampar keras cucunya, dia tidak bisa menerima penghinaan yang lebih besar lagi. 


"Kek, apa yang Kakek lakukan?" lirih Ayu yang mulai memahami segalanya.


"Akhirnya, cucu kesayangan mu datang." Cibir Leon yang tersenyum getir, sembari memegang pipi bekas tamparan Tirta.


"Cukup, jangan katakan satu kata lagi. Sudah cukup kau menghina diriku!" Tirta menunjuk wajah Leon dengan tatapan sarkasnya. 


"Apa kau takut bagaimana sikapmu pada cucu sulung mu, hah? Tapi itulah yang aku inginkan, kau pria tua yang sangat egois. Setelah kematian ibuku, aku sangat membutuhkan kasih sayang. Tapi, kau dan juga anakmu itu bahkan tidak peduli lagi denganku. Ya, aku memang anak pembawa sial, apa masalahmu sebenarnya, hah? Aku salah…aku yang salah?" pekik Leon yang sudah tidak tahan lagi, menyebabkan dia begitu iri dengan Ayu yang mendapatkan seluruh kasih sayang dan juga harta warisan, seakan dirinya tidak ada.

__ADS_1


Ayu menatap Tirta dengan tatapan terkejut, dia tak mengira jika nasib Leon sangatlah malang, itu lah alasan mengapa pria itu selalu membuatnya kesulitan. "Apa yang dikatakan dia itu benar, Kek?" ucapnya pelan. 


Tirta hanya terdiam, seakan lidahnya kaku tak dapat mengatakan kesalahannya di masa lalu. Sementara Leon hanya tersenyum getir, dia tidak peduli lagi dengan harta atau apapun lagi. Kematian ibunya bukanlah kesalahannya, itu karena kasih sayang sang ibu yang menyelamatkannya di waktu dia berusia lima tahun. 


"Dia tidak akan bisa menjawabnya, pria tua yang selalu kau banggakan itu bukanlah Dewa ataupun Tuhan. Dia berpikir jika aku akan mengambil hartanya, aku memiliki harta, uang, dan bahkan jabatan hasil kerja kerasku selama ini. Sedangkan dia? Apa yang bisa dia berikan padaku? Hanya sebuah penghinaan dan juga kebencian." 


Tak terasa air mata Tirta menetes dengan sendirinya, ungkapan dari Leon benar-benar masuk dalam hatinya. Dia selalu menegakkan kepala di hadapan semua orang, sekarang menundukkan kepala dengan linangan air mata, kesalahan dimasa lalu sangat mempengaruhi di masa depan. 


Ayu memundurkan langkahnya, dia begitu kecewa dengan kakeknya. Ditambah lagi dengan pernyataan Leon, kehilangan sebagian memori di masa lalu membuatnya tidak berdaya. Farhan segera memegang calon istrinya yang jatuh pingsan, saat kepalanya bekerja lebih keras mengingat masa lalu. Dimana dirinya pernah bermain dengan Leon dan berbuat kesalahan, tapi yang mendapatkan hukuman adalah kakak tirinya. Bagai kaset rusak yang berputar dengan cepat, perlahan dia mulai mengingatnya.


"Ayu." Farhan tersentak kaget dan segera membawanya ke ruangan istirahat, meninggalkan acara sakral mereka dan menundanya beberapa menit.


Tirta dan Leon sangat terkejut dengan kondisi Ayu, mereka mengikuti Farhan dari belakang. 


Leon hanya diam membisu, jujur saja dia sangat mengkhawatirkan adik tiri bagai adik kandungnya sendiri. Namun, kebenciannya akan Tirta dan ayah mereka membuat hatinya masih sekeras batu. "Ya, aku bahkan ingin melenyapkanmu." Jawabnya yang memalingkan wajahnya. 


"Baiklah, jika Kakak membenciku. Tatap mataku sekarang juga, ayo tatap mataku!" 


"Itu tidak perlu," sahut cepat Leon yang pertahanannya sedikit runtuh.


"Maafkan aku yang tidak mengingatmu akibat aku pernah masuk ke jurang, bukankah Kakak ingin melenyapkanku? Bunuh aku sekarang juga!" 


"Apa yang kau lakukan?" Farhan sangat panik, namun aksinya malah dihentikan oleh Ayu yang ingin menyelesaikan permasalahan dengan kakaknya.

__ADS_1


"Bukankah Kakak membenciku? Sekarang bunuhlah aku, dan aku tidak akan melawan. Kakak menginginkan itu 'kan? Apalagi kasih sayang kakek lebih condong kepadaku, lakukan kepuasan hatimu." Jelas Ayu yang meneteskan air mata dengan pasrah. 


Leon mendekat dan mencengkram leher Ayu dengan erat, membuat semua orang shock dan ingin membantu. Tapi, hal itu dilarang oleh wanita malang itu. "Ini masalahku dengan Kakakku, jangan ada yang ikut campur!" dia menatap lekat mata pria yang sangat membencinya.


"Jangan bertindak gila," kesal Farhan yang mencoba untuk melepaskan tangan pria di leher pengantinnya. Tatapan dari Ayu berhasil melunturkan keinginannya yang hanya pasrah.


Leon terus melakukan aksinya dengan tatapan kemarahan, namun netra mata indah di hadapannya seketika memusnahkan kebencian. Air matanya menetes akibat Ayu yang sangat keras kepala, sifat yang juga dia miliki. Dia segera menyingkirkan tangannya dan memeluk tubuh adiknya dengan erat, dan menangis. "Maafkan aku, Kira. Tolong maafkan aku yang khilaf." 


"Kak, aku juga minta maaf. Jika kehadiran ku hanyalah penghalang kebahagiaanmu, mohon maafkan aku!" Ayu membalas pelukan itu dengan erat. 


"Aku tidak bisa melenyapkanmu dengan tanganku ini, jangan keras kepala. Kau tidak pernah berubah, Kira." 


Suasana yang membuat siapa saja sedih dan terharu, jika permasalahan mereka sudah tuntas dan tersisa ialah rasa kebahagiaan. 


"Kakek juga meminta maaf, Kakek salah dan harus di hukum." Celetak Tirta yang menundukkan kepala.


"Apa yang Kakek lakukan, jangan menundukkan kepala padaku. Aku sudah memaafkan, Kakek." Leon bergantian memeluk Tirta, keluarga yang terpecah belah akhirnya bersatu. 


"Kira? Ayu? Jadi selama ini__."


"Kau pikir apa, bodoh. Ayu adalah Kira, yang kau temui itu hanyalah wanita suruhan saja." Sela Leon yang melepaskan pelukan itu.


Farhan sangat terkejut, dan ingin memeluk Ayu. Dia tidak menduga, jika cinta dimasa kecil menjadi jodohnya. Tapi, Leon lebih dulu menahan tubuhnya yang hampir memeluk calon istrinya.

__ADS_1


"Hei, jangan memeluk adikku. Kalian belum sah!" tegas Leon membuat suasana mencair, mereka tertawa geli melihat Farhan yang tersenyum masam.


__ADS_2