
Semua orang yang berada di sana memperhatikan Ayu yang sedang fokus bekerja, tatapan sinis seraya berbisik-bisik. Kabar mengenai insiden Maudi membuat kontroversi di sebagian orang. Kabar percobaan pembunuhan mantan ketua sekretaris menyebar di jejaring internet. Bukan hanya itu saja, bahkan video tersebar saat Ayu mendorong Lina, ibunya Maudi hingga terjatuh ke tanah.
"Kau lihat! Dia seorang tersangka, video penganiayaan kepada ibunya ketua sekretaris dan mencoba untuk membunuh. Dari ekspresinya tidak terlihat wajah bersalah," bisik salah satu karyawan yang terus melirik Ayu sinis.
"Sangat menjijikkan, kenapa dia masih disini dan bukannya mendekam di penjara. Wanita sepertinya memang pantas menerima ganjarannya." Sahut karyawan lainnya yang sengaja mengeraskan suara.
"Kau benar! Bagaimanapun juga, yang salah tetap salah. Seharusnya dia tidak di sini, tempat ini tidak cocok dengan wanita kampung dan juga seorang pembunuh."
"Semoga saja wanita itu di pecat dari perusahaan ini!"
"Bagaimana mungkin? Wanita kampung itu adalah calon dari tuan Farhan."
"Tuan Farhan yang malang, dia sangat sempurna untuk mendapatkan wanita seperti Ayu."
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali bekerja, atau kita bisa kehilangan pekerjaan."
"Kau benar."
Ayu menghentikan pekerjaannya sejenak saat mendengar kedua karyawan yang membicarakan dirinya, bahkan terang-terangan mengomentari hidupnya. "Darimana mereka tahu dengan insiden itu. Sepertinya ada yang sengaja menyebar berita itu untuk menjebakku!" batinnya yang tampak berpikir. Kembali menatap layar laptop dan memeriksa kabar di internet, betapa terkejutnya Ayu melihat berita yang membuatnya sebagai tersangka. Kasus Maudi, dan memukul keluarga korban mencuat di internet membuatnya sangat marah.
"Ck, mereka hanya bisa menyebar berita hoax untuk mendapatkan keuntungan pribadi, sangat menjijikkan." Gumamnya yang sangat geram. Menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan, tampak semua orang yang menyorotnya dengan tatapan sinis dan tajam.
"Dasar wanita miskin dan juga rendahan, kau tidak punya hati. Percobaan membunuh mantan ketua sekretaris dan mendorong ibunya." Ucap salah seorang yang memberanikan diri.
"Kau wanita yang sangat rendah!"
"Tempatmu bukan di sini, tapi di penjara."
"Apa kalian adalah tuhan? Mengetahui hanya dengan melihat berita di internet?" Ucap Ayu yang membungkam mulut para karyawan itu.
Dia berusaha sabar dan tidak ingin emosinya terpancing, menarik nafas dalam. Melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan karena tak ingin menambah masalah lagi. "Sepertinya ada orang yang ingin mencelakaiku dengan cara menjebakku!" gumamnya. Suara ponselnya berdering sedikit membuatnya terkejut, melihat siapa yang meneleponnya. Tanpa menunggu lama lagi, Ayu mengangkatnya telepon karena sangat yakin ada hal yang sangat penting.
"Halo, Nona."
"Iya, ada apa kau meneleponku?"
__ADS_1
"Aku berusaha menyusut kasus itu, dan ada orang yang berniat mencelakai mu."
"Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama."
"Apa kau mencurigai seseorang?"
"Terlalu banyak musuh yg ingin mencelakaiku. Tapi, aku ingin kau menyelidiki Maudi."
"Baiklah, jangan lupa transferan nya."
"Apa kau meragukan aku?"
"Aku hanya meyakinkan diri saja."
"Itu sama saja kau meragukanku. Aku akan mentransfer nya segera, lakukan pekerjaanmu dengan baik."
"Baiklah."
Ayu memutuskan sambungan telepon dan sedikit bernafas lega, seraya menggenggam ponselnya dengan erat. "Aku bersumpah akan membuat orang yang ingin mencelakaiku membayar lunas semuanya." Tekadnya yang tidak akan tinggal diam.
Setelah sampai, Ayu mengambil cangkir dan mulai membuat kopi, menyeduhnya dengan pikiran yang melayang. Beberapa orang yang berada di sana melirik Ayu dengan sinis.
"Sebaiknya kau menjauhi wanita itu, dia sangat berbahaya juga kasar." Bisik salah satu karyawan yang berada di pantry.
"Memangnya ada apa?"
"Oh ya tuhan…apakah kau tidak melihat berita di internet? Wanita di sebelahmu itu adalah seorang pembunuh." Jelas karyawan itu yang memperingatkan temannya.
"Benarkah?" wanita itu sangat terkejut dan mengambil langkah untuk menjauh dari Ayu.
Walaupun mereka berbisik, Ayu masih mendengar dengan jelas. Orang-orang yang masih saja menyudutkannya, dengan berita hoax.
Seseorang masuk ke dalam pantry, membuat beberapa karyawan tersentak kaget. "Tu-tuan Farhan!" ucap para karyawan itu gugup.
"Apa kalian ingin di pecat?"
__ADS_1
"Ti-tidak Tuan."
"Kalau begitu pergilah dari sini!" usir Farhan yang menatap tajam beberapa karyawan yang menggosip.
"Ba-baiklah, kami permisi dulu Tuan!"
"Hem."
Farhan melangkahkan kakinya menghampiri Ayu yang sedari tadi hanya terdiam. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Ayu pelan.
"Aku hanya ingin menemuimu saja!" sahutnya dengan enteng. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia datang untuk menghibur wanita di hadapannya, berpikir jika Ayu akan bersedih dengan melihat videonya ada di internet.
"Aku tidak yakin, katakan saja sebenarnya. Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" tanya Ayu.
"Hah, aku datang hanya untuk memastikan keadaanmu. Mengenai berita yang meluas dengan sangat cepat," ungkap Farhan yang berkata jujur.
"Aku baik-baik saja!" lirih Ayu.
"Apa kau yakin?" tanya Farhan dengan sangat lembut, menatap wanita di hadapannya dengan penuh cinta. Menggenggam kedua tangan Ayu berusaha untuk meyakinkannya.
"Aku sangat baik, jangan cemaskan aku."
"Tapi wajahmu tidak terlihat begitu?"
Farhan sangat mengkhawatirkan Ayu, membuat hati wanita itu menjadi hangat. Dengan cepat Ayu menyentak kedua tangannya dengan kasar, pikirannya kembali berputar saat di hati Farhan hanya ada nama Kira. "Tidak! Aku tidak boleh terperangkap dengan perhatian yang diberikan Farhan, di hatinya hanya ada Kira seorang." Batinnya yang memalingkan wajah, tak ingin menatap wajah tampan dari atasannya itu.
"Ada apa?" ucap Farhan yang menatap Ayu dengan bingung.
"Sebaiknya kau jaga batasanmu!" cetus Ayu yang memalingkan wajah semakin membuat Farhan penasaran dengan sikap wanita di hadapannya berubah dengan sangat cepat.
"Apa maksudmu mengatakan itu?"
"Aku mengingatkanmu dengan kontrak perjodohan itu, sebaiknya kau tidak bersikap baik dan berhentilah pura-pura seakan kau peduli padaku," cetus Ayu yang ingin pergi dari tempat itu. Dengan cepat Farhan menarik tangan Ayu kuat, dan membuat wanita itu terjatuh dalam pelukannya. Telinganya seakan bosan mendengar perkataan yang selalu terucap di bibir indah dari Ayu.
Ayu sangat terkejut, mendongakkan kepala dan menatap netra mata tajam milik pria tampan itu. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, menikmati suasana romantis membuat mereka lupa. Farhan terus memandangi wajah dari sekretarisnya itu. Wajah cantik dan mempunyai beberapa kelebihan yang membuatnya sangat kagum dan tertarik.
__ADS_1