
Perasaan Gabriel kecewa melihat kedekatan Ayu yang sangat serasi, memutuskan pergi dari tempat itu dengan hati yang hancur.
Laras hanya terdiam melihat situasinya saat ini, apalagi dia ikut andil dalam menuduh Ayu sebagai seorang pembunuh. Memundurkan kakinya beberapa, wajah yang ketakutan dan kegelisahan terlihat sangat jelas.
"Berhenti!" ucap Farhan yang meninggikan suara, membuat Laras terdiam. Berjalan ke arah adik sepupunya dengan tatapan tajam dan aura yang mencekam.
"Habislah aku!" batin Laras yang berkeringat, menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan. Memberanikan diri untuk memundurkan kakinya, mengingat wajah sang kakak sepupu yang tak bisa diajak kompromi.
"Berhenti di sana!" ucap Farhan tegas. Kali ini laras sangat ketakutan, dan terdiam layaknya sebuah patung.
"Kakak," sapanya yang tersenyum paksa.
"Kau sangat keterlaluan, dan aku cukup kecewa." Tegas Farhan.
"A-apa yang kakak maksud? A-aku tidak mengerti?" sanggah Larah dengan polos.
"Benarkah kau tak mengerti?"
"Te-tentu saja."
Farhan mendelik kesal, memalingkan wajah dinginnya. "Heri!" panggilnya setengah berteriak.
"Iya, Tuan." Sahut asisten Heri yang menghampiri tuannya.
"Cepat berikan!" titahnya yang membuka tangan ke arah asisten Heri tanpa menoleh.
"Baik, Tuan." Asisten Heri menyerahkan sebuah bukti kebohongan Laras di tangan atasannya.
"Kau tahu apa ini?" Farhan memperlihatkan ponsel milik asistennya.
"I-itu ponsel kak."
"Ck, aku tahu itu! Aku mengetahui semua keterlibatan mu dengan rencana ini."
"Aku tidak mengerti," elak laras semakin membuat Farhan geram. Hingga melayangkan sebuah tamparan keras mengenai wajah wanita malang itu.
"Jika sekali lagi kau berniat mencelakai Ayu, kau akan dihukum jauh lebih berat daripada ini." Ancam Farhan dingin, menunjuk wajah adik sepupunya yang tertunduk kepala. Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dengan semua kekecewaan yang dilakukan oleh laras.
Ayu berjalan mendekati Laras, dia tersenyum tipis dengan keadaan yang membalik. "Aku turut bersedih untukmu, sayang sekali bukan aku yang menemukan bukti kebohongan mu.
Tapi, bagus! Setidaknya kau bisa merenungi semua kesalahan mu. Semoga Farhan bisa memaafkan semua kesalahanmu," ucapnya yang menakuti Laras dan pergi meninggalkan tempat itu.
Laras sangat ketakutan akibat terpengaruh dengan ucapan Ayu, memikirkan kemarahan sang kakak sepupu. "Aku harus membujuk kak Farhan," gumamnya penuh tekad. Berlari sangat cepat dan memohon untuk mendapatkan ampunan.
"Kak…aku mohon maaf, aku khilaf!" Laras mencegat Farhan dan memegang pergelangan tangan pria itu.
Farhan menghempaskan tangan Laras dengan kasar, dia langsung menarik tangan Ayu meninggalkan tempat itu, untuk memuji kecerdasan sekretaris sekaligus salon tunangannya. Raut kesedihan terpampang jelas, melihat dua orang yang tampak serasi.
"Kenapa harus Ayu?" lirih Laras kecewa.
****
"Kenapa kau menarik tangan ku?" tanya Ayu menatap Farhan.
__ADS_1
"Tidak ada."
"Aku pikir kau akan memarahiku," senyum Ayu.
"Kau selalu berpikir negatif, cobalah berpikir positif padaku. Aku sangat terkesan dengan caramu mengungkap segalanya," puji Farhan yang tersenyum tipis.
"Dan aku sangat berterima kasih padamu, membantuku mengungkapkan segalanya, sekarang namaku sudah bersih." Ucap Ayu tulus, dia terharu dengan video penting keburukan Maudi dan kebohongan Laras.
"Itu sudak kewajibanku untuk melindungimu," ungkap Farhan.
Pintu lift terbuka, melangkahkan kaki masuk ke dalam. "Ayo," ujar Ayu yang tersenyum, di ikuti oleh Farhan.
Di dalam lift, mereka saling menatap satu sama lain, menciptakan momen romantis membuat hati keduanya berdebar. Tak ingin melewatkan kesempatan, Farhan mendekatkan dirinya. Melirik bibir indah yang membuatnya kecanduan untuk mencobanya lagi, memegang tengkuk leher Ayu. Namun, belum sampai bibirnya menyatu, terdengar suara dering ponsel milik Ayu.
"Ck, ini sangat menyebalkan." Batin Farhan yang mengumpat kesal. Ayu mengangkat telepon yang ternyata adalah kakaknya, Tirta. Dia melirik Farhan yang memberikan isyarat untuk membesarkan volume telepon, supaya mendengar percakapan dengan sangat jelas.
"Halo, kek."
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, ada apa menelponku?"
"Aku melihat berita hari ini dan sangat luar biasa, bagaimana pendapatmu mengenai Farhan?"
"Kenapa kakek menanyakan itu?"
"Tentu saja, melihat pembelaannya membuat aku terkesan. Walaupun dia agak terlambat, bukankah pahlawan datangnya paling akhir?"
"Hah, kakek menelpon ku hanya memuji Farhan saja?"
"Apa ada lagi?"
"Apa maksudmu mengatakan itu?"
"Aku sedikit sibuk, ada begitu banyak pekerjaan kantor yang harus di selesaikan. Apa kakek marah?"
"Ya sudah, terserah kau saja. Aku tidak akan marah pada cucuku, Jaga dirimu baik-baik!"
"Baik kek, jaga diri kakek juga."
Ayu menghela nafas lega, tak ingin berlama-lama menelepon kakeknya yang sekedar memuji Farhan. Sementara yang di puji semakin tersenyum sombong.
"Kenapa kau menutup ponsel itu tiba-tiba?"
"Memangnya kenapa? Ini ponselku." Cetus Ayu. Hingga pintu lift terbuka, mereka melangkahkan kaki keluar dari tempat itu.
"Bagaimana pendapatmu mengenai aku?" Farhan tersenyum bangga mengenai prestasinya dalam membela Ayu.
"Ck, berhentilah bersikap narsis."
"Katakan saja jika kau iri mendengar kakekmu memujiku, tapi mau bagaimana lagi?" sahut Farhan enteng. Dia tersenyum melihat wajah kesal Ayu yang terlihat menggemaskan, ingin membujuk. Tapi lagi dan lagi suara dering ponsel mengurungkan niatnya, dan yang menelepon adalah Hendrawan, kakeknya.
"Halo, kek."
__ADS_1
"Hem. Apa kau bersama Ayu sekarang?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengundang kalian untuk makan malam."
Farhan menjauhkan ponsel dari telinganya, "Kakek meneleponku, dan mengajak kita makan malam. Apa kau setuju?" tanya Farhan.
"Baiklah, aku setuju," sahut Ayu yang mengangguk.
"Dia sudah setuju." Sambung Farhan di dalam telepon.
"Bagus, jaga calon cucu menantuku dengan baik."
"Baiklah."
****
Di meja kerja, seorang sekretaris lain datang menghampiri Ayu. "Apa kau tahu berita terkini?" gosipnya.
"Aku tidak mengerti," jawab Ayu pongah.
"Berita hangat, semua orang membahas hubunganmu dengan tuan Farhan di internet."
"Benarkah?" ujar Ayu memiringkan wajahnya.
"Hah, kau ini sangat ketinggalan berita. Sebaiknya kau melihatnya sendiri di internet," seloroh sekretaris itu.
Dengan cepat, Ayu mencari kebenaran itu di ponselnya. Membelalakkan kedua mata saat melihat beritanya menjadi viral di jejaring internet, sebuah berita Farhan yang mengklaimnya sebagai calon istri.
"Sebaiknya aku pergi, setidak kau sudah mengetahuinya sekarang." Pamit sekretaris itu.
"Hah, semua komentar mendoakan hubungan ku dan Farhan berjalan lancar, aku harus mengatasi ini." Gumamnya yang ingin menghubungi seorang hacker.
"Halo."
"Hem, lihatlah berita sekarang juga!"
"Baiklah."
"Bagaimana?"
"Aku melihat berita mu dan juga Farhan."
"Hapus semuanya hingga tak meninggalkan jejak."
"Tapi kenapa? Bukankah itu berita bagus?"
"Jangan tanya alasan, lakukan saja sesuai perkataanku."
"Akan aku lakukan, dan jangan lupa bayaranku."
"Tidak masalah."
__ADS_1
Sementara, Farhan tersenyum senang dengan berita itu. Kedekatannya dengan Ayu diketahui oleh semua orang, namun beberapa menit kemudian senyum itu pudar, mengetahui berita menghilang begitu saja.