
Vanya tersenyum saat melihat rencana yang sangat matang berjalan dengan sempurna, dengan cepat menunjuk cincin yang baru saja terjatuh dari tas milik Ayu.
"Lihat dengan jelas, kalian bisa melihat siapa pelakunya, dan kau terbukti yang telah mengambil cincin itu. Apa masih ingin mengelak?" Tuduh Vanya yang menunjuk Ayu.
Tidak ada ekspresi ketakutan apapun di wajah Ayu, hanya terlihat raut wajah yang datar tanpa ekspresi karena dia mengharapkan hal ini.
"Pramusaji itu ikut terlibat, dia punya banyak keberanian untuk menjebakku," batin Ayu yang tersenyum samar. Dia ingin mengidentifikasi sang pramusaji dan harus membuktikan bahwa cincin itu ada di tasnya, mendekati pramusaji dengan menatapnya tajam.
"Apa kau yakin jika aku yang mencurinya?"
"Be-benar Nona, saya melihatnya sendiri." Pramusaji sedikit gugup dengan situasinya saat ini, berusaha untuk menetralkan kegelisahannya.
"Kenapa kau gugup? Dan banyak keringat di dahi mu ini?!" Ayu menyentuh dahi yang berkeringat itu dengan senyum mengejek.
"Karena pekerjaan membuat saya berkeringat Nona," sahut sang pramusaji.
"Hem, alasan yang logis."
"Ck, kegugupannya terlihat dengan jelas," batin Ayu yang menatap pramusaji, Kemudian dia melirik Vanya sekilas karena sudah menjebaknya.
"Apakah kau bisa menjelaskan secara detail saat aku mengambil cincinnya itu?" Tanya Ayu menginterogasi pramusaji layaknya seorang polisi.
"Di saat itu saya sedang bekerja dan tidak melihat dengan jelas," sahut pramusaji yang menundukkan kepalanya untuk kesopanan, tapi sebenarnya sedang menutup kegugupannya saat menatap mata Ayu.
"Sangat mencurigakan, bagaimana kau menghakimiku saat dirimu saja tidak melihatnya dengan jelas. Terjadi konspirasi disini!" ujar Ayu melirik Vanya, Jenni, dan Clara.
"Kau menatap kami seakan ingin menantang," celetuk Jenni yang meletakkan kedua tangan di depan dadanya.
__ADS_1
"Kalian sangat berlebihan," sahut Ayu.
Vanya melihat Farhan berjalan ke arah Ayu, seketika membuatnya tiba-tiba menjadi lembut dan juga elegan, untuk memberi kesan baik di mata Farhan. "Aku harus menjadi wanita yang diinginkan oleh Farhan dan ini adalah kesempatanku," batin Vanya yang merubah sikap dan bertekad untuk berbeda dari penampilan arogan dan mendominasi.
"Jangan mengelak lagi, itu sudah terbukti dengan jelas di hadapan semua orang," tutur Vanya dengan lembut.
"Eh, kenapa ketua ubur-ubur ini tiba-tiba berubah lembut? Sangat mencurigakan," batin Ayu yang menautkan kedua alisnya. "Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, jika aku tidak mengetahui mengenai cincinmu itu, dan aku juga tidak mengetahui bagaimana cincin itu bisa sampai di dalam tas ku."
"Apakah cincin itu memiliki kaki yang bisa berpindah tempat?!" sela Wina yang kembali bersemangat menuduh Ayu.
"Lebih baik kita laporkan dia ke polisi, dia tidak akan mengaku di sini!" sambung Laras yang tersenyum miring.
"Kamu benar, jangan menunggu waktu lagi!" celetuk Wina.
"Kalian sangat berlebihan sekali, kurangilah akting di dalam drama itu. Sangat kaku dan kurang menjiwai," celetuk Ayu yang menatap Wina dan juga Laras dengan jengah.
"Aku juga tidak memahami hal ini, tetapi Vanya terus saja menuduhku mencuri cincin limited edition nya. Sungguh, aku tidak tahu apapun mengenai cincin itu, aku sudah mengatakan sejujurnya kepada semua orang yang ada di sini, dan hasilnya percuma saja karena semua orang tidak mempercayai ku. Lalu untuk apa aku berusaha untuk itu, tidak ada yang percaya," jawab Ayu dengan jujur tanpa ada dia tutupi.
"Sorot mata Ayu mengatakan kebenarannya, aku bisa melihatnya. Ini sedikit sulit, apalagi cincin itu ditemukan di dalam tasnya," gumam Farhan di dalam hati.
"Ini kesempatan ku," lirih Vanya dengan pelan, berjalan menuju ke sang pujaan hati dengan akting yang akan membuatnya mendapat simpati dari semua orang terutama Farhan.
"Farhan, dialah pelakunya. Bukti sudah terlihat dengan jelas, keadaannya sekarang sedang terpojokan dan tidak bisa membela dirinya sendiri." Vanya menatap Ayu dengan sangat tajam, seakan ingin mencabik-cabik rivalnya.
Farhan menatap Vanya dengan sekilas dan kembali mengalihkan perhatiannya kepada gadis cantik dengan penampilan yang sederhana. "Apakah kau mencurinya?"
"Jika aku mengatakan tidak, apakah kau percaya?" Jawab Ayu yang membalas pertanyaan pria tampan di hadapannya dengan pertanyaan, tatapan Ayu menatap Farhan seakan ingin menentangnya.
__ADS_1
"Aku percaya," sahut Farhan tanpa pertimbangan sedikitpun. Ayu sontak kaget mendengar perkataan pria tampan itu, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ayu sangat tersentuh, karena semua orang menuduhnya mencuri cincin itu, sedangkan Farhan memilih untuk percaya kepadanya.
"Farhan benar-benar membelaku? Astaga, aku tidak percaya dengan ini. Apa aku sedang bermimpi?" batin Ayu tanpa berkedip.
"Tapi, bagaimana bisa kau melakukan hal itu? Buktinya sudah ada di hadapanmu, bahkan semua orang melihatnya dengan sangat jelas?!" seloroh Vanya yang tak percaya dengan pembelaan Farhan terhadap rivalnya.
"Ayu tidak akan berbohong, bisa saja ada orang yang tidak menyukainya," jawab Farhan enteng.
"Oh ya? Jadi kamu lebih memihak si pencuri itu?"
"Ya begitulah, apa ada yang keberatan?" Lantang Farhan yang meninggikan suaranya sembari menyusuri pandangan di seluruh ruangan, menatap satu persatu para tamu dengan tajam. Suasana yang sedikit kisruh tiba-tiba terdiam saat mendengar suara menggema.
Ayu tersenyum tipis saat masih ada orang yang membelanya, dia tidak menyangka jika orang itu adalah calon tunangannya sendiri. Pemikiran kembali berubah mengenai Farhan, menambah nilai plus di matanya. Kepercayaan diri Ayu semakin meningkat membuat Vanya grogi.
"Semoga saja rencana ini berhasil atau aku terkena masalah besar," lirih Vanya sangat pelan.
"Periksa CCTV sekarang juga," titah Farhan dengan lantang, dia ingin mencari kebenaran agar Ayu tidak disalahkan mengenai kejadian ini. Beberapa orang membawa laptop dan memperlihatkan hasil rekaman CCTV kepada Farhan, tatapan tajam yang dia miliki tidak berkedip sedikitpun dalam pemeriksaan.
Mereka mengeceknya satu persatu, tidak ditemukannya kejadian di saat itu. "Bagaimana ini bisa terjadi? Sepertinya ada yang mengekspos CCTV," gumam Farhan yang mengeraskan rahangnya dengan kedua tangan di kepal dengan erat.
"Tidak akan ada bukti dalam CCTV itu, dan sekarang tidak ada yang bisa kau lakukan gadis kampung," batin Vanya yang tersenyum licik, rencana yang sangat sempurna dengan cara merusak CCTV itu untuk menghilangkan bukti.
"Kau tidak akan bisa membela dirimu sendiri, bukti dan juga saksi mata tertuju kepadamu," gumam Wina yang menyunggingkan senyum kemenangan, begitupun dengan Laras yang sangat menyukai pertunjukan di hadapannya.
"Sangat menarik!" Lirih pelan Laras.
Lamunan mereka terhenti saat melihat beberapa polisi datang ke pesta itu, Laras semakin tersenyum mengembang karena berhasil menghubungi polisi dan menambah suasana yang semakin memanas.
__ADS_1