Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 234 ~ Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Ayu sangat khawatir dengan ulah dari pria itu, wajah yang cemberut dan juga kesal. Tadinya dia panik dan segera memeriksa pria itu, sedikit memahami ilmu medis memudahkan segalanya. Terutama saat ini, mengecek denyut nadi stabil dan melirik pria itu dengan raut wajah yang mencurigakan. "Oho, jadi kau mempermainkan aku!" ketusnya yang menjauh dari pria itu, mendorong tubuh Farhan agar menjauh darinya. 


"Aku tidak berbohong, coba kau periksa sekali lagi! Mungkin kau masih keliru dengan hasilnya." Ucap Farhan yang sangat serius, menempelkan dirinya bermaksud untuk memberi wanita itu ruang.


Ayu menganggukkan kepala, tahu jika pria itu hanya mengerjainya. "Jadi, kau pikir aku ini berbohong? Jangan mempermainkan aku atau aku akan menendang bokongmu!" ancamnya yang tampak sangat menggemaskan dikala memarahi pria itu.


"Aargh…aku sakit, ini sangat sakit sekali." Pekik Farhan kembali memegang dadanya, menempel kepada mantan calon tunangannya, dan bergelayutan di tangan mungil yang membuatnya harus membungkuk. Tak kehabisan akal, dia juga dengan sengaja menyandarkan kepala di bahu wanita sebelahnya.


Ayu menatap pria di sebelahnya dengan jengah, karena sudah mengetahui pria itu hanyalah berbohong. "Berhentilah berakting! Apa wajah tampanmu itu ingin aku pukul?" 


"Mengapa kau kasar sekali, aku pria yang sangat malang. Aku sedang sakit hati, tolong jangan mempermainkan aku!" jawab Farhan yang berusaha untuk memainkan suatu peran, bahagia di saat cinta dari saingannya di tolak. Dia bertindak dengan sangat cepat, tak ingin jika wanita dicintainya direbut darinya. "Mengapa kau diam saja? Cepat obati aku!".


Ayu sebenarnya sangat enggan untuk melakukannya, tapi kembali memeriksa pria itu dan hasilnya masih normal.  "Aku sudah memeriksa dan hasilnya normal, apa kau puas? Berhentilah menempel bagai permen karet, aku yakin jika otakmu lah yang salah. Kesimpulannya, kau tidak sakit!"


"Kau tidak akan mengerti, tidak ada dokter yang memahami rasa sakit di hatiku ini. Hanya kau saja yang bisa menyembuhkan aku," tutur Farhan yang meyakinkam.


"Entahlah, aku tidak memahamimu. Apa tadinya kepalamu terbentur atau ada arwah penasaran yang membuatmu begini?" ujar Ayu yang menatap pria di sebelahnya dengan menyipitkan kedua matanya menyelidik.


Pletak


Farhan tak tahan dengan wajah menggemaskan di sebelahnya, tapi masih bersikeras untuk diperiksa ulang. "Jangan menatapku seperti itu!" 


"Sudah lama kau tidak menjitak kepala ku, dan sekarang kau melakukannya? Apa yang kau inginkan?"


"Aku sudah tidak kuat, tolong bawa aku masuk ke dalam. Hatiku sakit!"


"Hentikan drama mu itu, jangan mencoba untuk menipuku. Apa kau ingin aku suntik mati?" 


Farhan dengan cepat menutup mulut wanita yang terasa begitu cerewet, menggunakan kesempatan di dalam kesempitan dan merengkuh tubuh mungil itu. "Kau terlalu gegabah, buka saja pintunya! Apa kau ingin aku tiada di sini, dan kau menjadi tersangka. Jangan banyak berpikir, buka saja pintunya!"


Ayu mendelik kesal, segera membukakan pintu sesuai perkataan pria di sebelahnya. Dia masuk dan memilih duduk di atas sofa, memikirkan untuk menghentikan tujuan pria itu. "Sekarang apa?" kesalnya.


Farhan segera mengambil kesempatan dengan sengaja berbaring di atas paha wanita itu, dan mulai berkata jujur. "Aku sakit hati, itu artinya cinta dan harusnya aku menginap satu malam disini!" ucapnya tanpa beban.

__ADS_1


"Hei, hentikan lelucon itu."


"Aku serius, bahkan obat medis mu tidak akan bekerja. Aku sudah memberikan obatnya dan terserah padamu untuk kelanjutannya."


"Astaga, kau ini__."


"Ya, aku tahu jika aku pria yang tampan, dan tidak perlu menatapku seperti itu."


"Darimana kau belajar semua ini, Farhan?" 


"Ini alamiah, seseorang yang merasakan hal yang sama dengan ku pasti paham." Farhan segera beranjak dari tidurnya, menyeret tangan Ayu dan membawanya menuju ranjang. Dia juga menarik tubuh mungil itu dan memeluknya bagai bantal guling. "Hah, ini baru benar." gumamnya yang masih terdengar di telinga wanita dalam dekapannya.


Ayu hanya terdiam, dan tidak bisa melakukan apapun saat tidak mempunyai alasan sedikitpun. Farhan menutup aksesnya dengan dekapan yang sangat erat, memeluknya sedikit membuat nya merasa risih. 


"Farhan, apakah kau butuh sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Tidak, berhentilah mencari alasan." Farhan masih bertahan dengan posisinya, menikmati aroma tubuh yang sangat dia rindukan selama ini. 


"Hem, baiklah. Tapi, berapa lama aku akan berada di posisi seperti ini? Ini tidaklah bagus, membuatku sangat risih dan tidak nyaman." Ayu berkata dengan jujur, wajah yang saling berhadapan.


"A-apa yang kau lakukan? Menyingkirlah dari atas tubuhku!" Ayu sangat gugup, apalagi tatapan pria itu tanpa berkedip menatapnya. Cengengesan melihat sikap Farhan yang begitu agresif, ingin memberontak tetapi tidak bisa, karena dia dalam keadaan yang terjepit. "Ayolah, jangan mudah tersinggung dengan ucapanku."


Farhan belum merespon, masih menatap Ayu yang berada di bawahnya. Dia tidak peduli dengan ucapan yang diucapkan wanita itu, mendekatkan wajahnya hendak mencium. Suasana hening dan sunyi membuatnya ingin merasa terkesan, sangat merindukan ciuman dan juga bibir merah di hadapannya.


Keduanya mulai hanyut dalam perasaan masing-masing, tinggal satu sentimeter saja dan bibir mereka akan menyatu. Suasana pas, tidak ingin disia-siakan. Tapi, hal itu terhenti saat mendengar suara dering ponsel yang berasal dari saku celana milik Farhan. "Ponselmu!" ucap Ayu memperingatkan.


Farhan segera duduk di pinggir ranjang, segera mengangkat telepon walau sedikit kesal dengan sang penelpon. 


"Hem."


"Farhan, aku sangat takut di rumah sakit. Temani aku!" rengek seseorang dari seberang sana.


Ayu mendengar jelas, mengenal suara siapa itu. Memasang telinga ingin mendengarkan obrolan Kira dan juga Farhan.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa."


"Tapi, Farhan…aku hanya seorang diri saja, temani aku sebentar saja."


"Farhan, sudah aku bilang untuk tidak mengangkat teleponnya. Lihatlah perbuatanmu! Kita belum menyelesaikannya, cepat lakukan dan menggunakan tempo yang cepat." Ayu dengan sengaja mengatakan hal itu, bermaksud untuk membuat Kira terbakar api cemburu.


"Maaf, aku sedang sibuk." bFarhan memutuskan sambungan sepihak, menatap Ayu dengan menyelidik. "Suaramu sangat seksi, ayo kita lakukan."


"Apa?" 


"Menggunakan tempo yang cepat," bisiknya yang menggoda wanita di sebelahnya, memeluk erat agar Ayu tidak bisa melarikan diri.


"Lepaskan aku, janji tidak akan kabur."


"Hem, baiklah."


"Oh ya, apa kau masih percaya dengan Kira? Maksudku, apa kau percaya jika dia adalah penyelamat mu? Apakah kau pernah mencurigainya?" tanya Ayu pelan, berusaha untuk tidak membuat pria itu tersinggung.


"Bahu kirinya Kira memiliki tanda lahir yang sama dengan penyelamatku," jawab Farhan.


"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu!" Ayu segera melepaskan diri dari pria itu, mencari sebuah bukti dan memperlihatkannya kepada Farhan. 


"Apa ini?" 


"Itu hubungan antara Kira dan juga Leon."


"Aku akan mengeceknya."


Ayu menghela nafas, saat pria itu tidak menghiraukan bukti yang cukup bersusah payah mendapatnya. Dia segera beranjak dari sana dan mengambil bantal, ingin pergi mengungsi. 


"Kau mau kemana?" 


"Aku tidak ingin tidur berdua denganmu," jawab Ayu segera tidur di sofa, tak ingin satu ranjang yang sama dengan Farhan yang bisa saja mengambil kesempatan darinya.

__ADS_1


 


__ADS_2