Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Aku menginginkanmu


__ADS_3

Ayu menatap Gabriel dengan lekat, dia tidak tahu maksud dan tujuan dari sahabatnya itu yang datang menemuinya setelah sekian tahun. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya pria itu tidak lagi menatapnya dengan penuh cinta seperti dulu. 


"Bagaimana kabarmu?" ulang Gabriel sekali lagi, dia sedikit gugup jika harus bertemu dengan cinta pertamanya.


"Aku baik, kenapa kau begitu gugup menemuiku?" tanya Ayu yang masih mengamati sahabatnya.


"Karena selama bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu dan aku merasa kita seperti asing," jelas Gabriel yang membenarkan posisi duduknya.


"Hem, aku mengerti. Setelah aku menikah, kau menghilang seperti debu dan juga hengkang dari dunia entertainment."


"Hem, itu benar. Aku hanya fokus menjalani bisnis saja."


Ayu menganggukkan kepala, dia tahu jika Gabriel merasa kurang nyaman bertemu dengannya. Tapi, dia sangat penasaran mengenai hal itu. "Sepertinya kau risih menemuiku?" 


"Itu benar, jangan mengatakan apapun lagi. Aku ingin memberikanmu ini," Gabriel menyerahkan sebuah undangan yang sangat mewah, tersenyum saat melihat ukiran namanya dan juga cinta kedua. 


Ayu segera mengambil dan melihatnya, dua sudut bibir yang tersenyum saat tahu jika sahabatnya itu telah menemukan tambatan hati. Paling tidak rasa bersalah dihatinya sudah menghilang sekian lama terpendam cukup lama di hati, apalagi tidak menemukan pria itu usai menika. "Kau akan menikah?" dia sedikit terkejut dengan sekian lama tak pernah bertemu, dan tiba-tiba mendengar kabar membahagiakan dari sahabat lamanya.


"Hem, aku mengundangmu dan juga Farhan."


Tuturnya yang tersenyum menutupi rasa canggung mereka.


"Tentu, aku akan datang. Dimana calonmu?" Ayu celingukan mencari seseorang yang menjadi mempelai wanita.


"Diana, masuklah!" ucap Gabriel lembut yang menoleh ke arah pintu. 


Terlihat seorang wanita yang berpenampilan biasa, melukiskan senyum indah di wajahnya. Dia berjalan dengan canggung, mengingat dirinya hanyalah wanita kampung. "Saya Diana, kau pasti Ayu." Tuturnya yang menyodorkan tangan hendak berkenalan, sangat sopan. 


"Hai, kau sepertinya mengenalku." Sambut Ayu yang menyambut tangan wanita itu. 


"Gabriel sudah menceritakan segalanya mengenai masa lalunya."


"Sudahlah, yang penting masa depan. Jangan berdiri saja, duduklah!" ucap Ayu yang mempersilahkan. 


"Hem," Diana menarik kursi dan duduk. "Ternyata kau lebih cantik dengan gambaran yang selalu diceritakan oleh Gabriel."


"Jangan memujiku, Gabriel beruntung memilikimu. Kau sangat cantik," balas Ayu memuji.

__ADS_1


"Dia calon istriku, kau menjadi tamu khusus di acara pernikahan kami." 


"Pasti aku akan datang, bersama Farhan dan juga anak-anakku."


"Anak-anakmu?" sambut Gabriel yang penasaran. 


"Iya, kembar tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan," jelas Ayu yang sangat antusias.


"Wah, sepertinya selama aku menghilang banyak yang berubah." Ujar Gabriel yang mencoba untuk mencairkan suasana canggung.


"Tentu saja, kau menghilang cukup lama di dunia entertainment." 


"Aku dan Reymond memutuskan untuk tinggal di desa dan memulai kerjasama dalam bisnis, sekaligus mencari tambatan hati. Hah, sangat lucu jika mengenang masa lalu. Kami menjadi pria patah hati, dan menemukan cinta baru," jelas Gabriel yang menggenggam tangan calon istrinya, melirik wajah cantik di sebelahnya dengan penuh cinta.


"Hah, kau membuatku merasa bersalah." Dengus kesal Ayu yang menatapnya dengan jengkel.


"Aku hanya mengatakan fakta, dari para pria patah hati saat kau menyatakan perasaan kepada pria sialan itu." Gurau Gabriel.


"Huss, jangan katakan hal yang buruk padanya. Kau tidak tahu, dinding pun bisa mendengarnya." Ayu mencoba untuk memberi peringatan. Baru saja dia memperingatkan pria yang menjadi sahabatnya itu, terdengar suara dering ponsel. 


"Astaga…dari dulu sampai sekarang dia masih sangat menyebalkan." Gumam Gabriel yang segera mendapat cubitan cinta dari calon istrinya, Diana. 


"Sayang, jangan bicara seperti itu."


"Maaf," Gabriel merasa bersalah, dan meminta maaf. 


Ayu tak ingin menunggu lama, hal itu bisa berbuntut panjang dan berakhir di ranjang.


"Halo, Sayang."


"Apa perlu waktu lama untuk mengangkat video call dariku?" 


"Astaga, ingatlah umurmu. Jangan bersikap seperti Abi, dan juga Adit."


"Bawahanku mengatakan jika ada tamu, dimana pria sialan itu?"


Gabriel mendengus kesal, dan segera mengambil ponsel milik Ayu, menatap layar di benda pipih itu dengan tajam. "Bagaimana kabarmu, wahai sahabat kecilku." Dia sengaja menggoda Farhan karena tak pernah bertemu.

__ADS_1


"Sial, mengapa kau bisa berada di butik. Apa yang kau lakukan disana?" 


"Tentu saja menemui sahabatku, ada kejutan lain dan pastinya kau tidak akan waspada kepadaku." Gabriel segera merangkul Diana dengan begitu romantis, karena dirinya sudah melupakan masa lalu. 


"Siapa dia?" 


"Calon istriku."


"Hah, syukurlah…aku bisa tidur dengan nyenyak. Kapan kau akan menikah?" 


"Tidak lama lagi dalam waktu seminggu, aku akan segera menikah." 


"Baiklah, akhirnya kau sadar diri."


"Dasar pria arogan, sial!" 


Tiba-tiba panggilan video call terputus secara sepihak, hal itu membuat Gabriel menggelengkan kepala mengingat tingkah Farhan yang tidak berubah sedari dulu. "Apa dia bertingkah seperti ini di dekatmu?" ucapnya yang mengerutkan kening, seraya menyerahkan ponsel milik Ayu.


"Mau bagaimana lagi? Dia tidak akan berubah dengan cepat, tapi tidak pernah melakukan melakukan itu padaku."


"Sudah kuduga." Gabriel menarik perhatiannya ke bawah saat melihat kode Diana agar mereka segera pergi dari sana. "Oh ya, kami tidak bisa berlama-lama, masih banyak undangan khusus yang harus kami sebar." Ucapnya yang beranjak dari kursi, diikuti oleh wanita di sebelahnya.


Ayu hanya tersenyum sembari melihat punggung keduanya yang menghilang di balik pintu. "Aku berdoa untuk kebahagiaan kalian dengan memulai awal yang baru." Gumamnya kembali melanjutkan rutinitas yang terhenti sejenak.


Di siang hari, Ayu sudah sampai di depan gedung pencakar langit milik suaminya. Dia berjalan dengan anggun dan sedikit sambutan dilakukan oleh para staf dan juga karyawan, mereka sangat menghargainya yang begitu baik. 


Ayu berjalan masuk ke dalam ruangan CEO, mengetuk pintu sebanyak lima kali sebagai kode jika dirinyalah yang datang. Dia sangat terkejut, tiba-tiba tangannya ditarik dan menabrak dada bidang yang membuatnya tersipu malu. "Kau mengagetkan aku!" kesalnya dan seketika tersenyum.


"Aku sempat khawatir dengan kedatangan Gabriel, tapi merasa lega saat dia sebentar lagi akan menikah."


"Itulah gunanya untuk tidak menyimpulkan sesuatu dengan cepat, kau sendirilah yang merasa malu."


"Mau bagaimana lagi? Aku takut kehilanganmu," ucap Farhan yang mencium bibir istrinya dengan lembut, semakin lama kian menuntut. Sebelah tangannya mulai menjelajah menyusuri dua pengunungan kembar yang begitu dia sukai, sengaja melakukan itu untuk membuat sang istri agar tidak menolak kemauannya. 


"Ini sudah jam makan siang," cetus Ayu yang berhasil melepaskan ciuman gairah dari suaminya. 


"Aku menginginkanmu," bisik Farhan yang kembali mencium bibir Ayu dengan rakus.

__ADS_1


__ADS_2