Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 245 ~ Memindahkan seluruh barang


__ADS_3

Farhan tak ingin jika Ayu terkena masalah lagi, sebisa mungkin dia melindunginya. "Apa kalian tidak malu? Mengungkit kebenaran yang tidak pasti, bukankah sudah aku katakan sebelumnya. Lebih baik kalian tidak mengacaukan dengan pertanyaan yang membuat dia risih." Jelas nya, menatap satu persatu para reporter dengan tajam. Dia tidak menyukai akan kehadiran awak media yang selalu saja meliput demi kepuasan sendiri. 


"Jangan menghalangi kamu, Tuan. Sudah seharusnya semua orang tahu mengenai kebenarannya." Ucapan salah satu reporter yang mewakili yang lainnya.


"Dengan mengganggu privasi seseorang? Apa itu yang bisa kalian lakukan? Pergilah, sebelum masalah ini semakin berkembang."


"Kami tidak akan pergi sebelum meliput sebuah berita yang akan menjadi trending topik." Keukeuh para reporter.


"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Jangan salahkan saya menghubungi polisi, dan kalian bisa dipidanakan. Aku tidak main-main dengan ucapanku," ancamnya dengan raut wajah dingin.


Para reporter tak bisa berbuat apapun lagi, mereka terpaksa memundurkan langkah dan berhenti untuk meliput. Tak ingin jika berurusan dengan Farhan Hendrawan yang bisa berakibat buruk dengan karir mereka. 


Farhan segera menarik tangan Ayu, menjauh dari semua orang. Membawanya tanpa mengatakan sepatah katapun, untung saja tidak ada penolakan dan juga pemberontakan dari wanita itu. Hingga dia lebih leluasa. 


Sementara Gabriel terdiam beberapa saat, dan menyadari jika Ayu telah di bawa oleh pria lain dan hal itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Mencoba untuk mengejar, tapi terlambat saat mobil yang ditumpangi oleh wanita pujaan sudah pergi. "Argh, sial!" umpatnya yang sangat kesal, mengingat dirinya kalah dari pria yang menjadi rivalnya. Dia mengacak-ngacak rambutnya yang frustasi, mengingat dirinya kalah cepat. 


Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menikmati perjalanan mereka yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Menyunggingkan senyuman dengan kelakuan baik dari Ayu, wanita yang tidak membantah nya. 


"Ini bukan menuju apartemen ku, kemana kau akan mengajakku?" ucap Ayu sembari menoleh, dia tak tahu kemana pria tampan di sebelah membawanya. 


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat."


"Kemana?" Ayu mengerutkan kening karena tak tahu rute mereka. 


Farhan tak menjawab, dia hanya tersenyum sembari fokus ke jalanan. Suasana sepi dan juga sunyi, menciptakan keromantisan mereka. Hingga sampai ke tujuan, yaitu Villa miliknya.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, sekarang turunlah!" 


Ayu segera turun dari mobilnya, melihat Villa milik Farhan yang sangat indah dan juga memanjakan mata. "Villa milikmu? Mengapa kamu membawaku kesini?" menatap pria tampan di sebelahnya, tak mengerti maksud dan tujuan apa. 


"Hem, mulai sekarang kamu akan tinggal disini." Putus Farhan yang belum di setujui oleh Ayu, dia ingin dekat dengan mantan calon tunangannya dan hanya mempunyai cara itu. 


"Oh halo, kau pikir kau ini siapa? Memutuskan sesuatu tanpa mendiskusikan ini lebih dulu. Ayo, bawa aku pulang!" tolak Ayu yang tak ingin tinggal di Villa milik Farhan.


"Itu sudah menjadi keputusanku," tegas Farhan dengan angkuh, menyulut emosi Ayu yang selalu saja sial jika berdekatan dengan pria di hadapannya. 


"Kau tidak punya hak untuk mengatur dimana aku harus tinggal, itu tidak akan terjadi."


"Terima atau tidak, kau akan tetap tinggal di sini."


"Bagaimana seorang pria angkuh sepertimu tetap hidup?" cetus Ayu yang melirik dengan sinis, tidak menyukai jika ada orang lain yang mengusik kehidupan pribadinya. 


"Ya, agar kesombongan dan juga keangkuhan mu itu hilang di telan bumi. Antar aku pulang atau aku nekat kabur dari sini, tentukan pilihanmu sekarang juga." Ayu mencoba memberikan isyarat agar bisa terbebas dari bosnya yang gila.


Tanpa menunggu waktu, Farhan segera menggendong tubuh mungil di sebelahnya bagai sekarung beras. Tidak peduli seberapa besar Ayu memberontak agar terlepas darinya, segera masuk ke dalam Villa yang terlihat sangat terawat dan juga bersih. Dia segera menurunkan wanita itu dan mendudukkannya di sofa empuk.


Ayu menatap dengan tajam ke arah pria yang berani menggendongnya layaknya sekarung beras, bertolak pinggang dan menyipitkan kedua mata yang begitu jengkel. "Apa hakmu yang menggendongku masuk ke dalam? Jika sekali lagi kau melakukannya, jangan salahkan aku jika wajah tampanmu itu akan terkikis."


"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, aku hanya ingin membawamu untuk tinggal di sini."


"Halo, Tuan. Aku bukanlah tawananmu dan begitulah sebaliknya, jangan memaksakan kehendak, pulangkan aku!" 

__ADS_1


"Bisa dikatakan begitu, mulai sekarang aku ingin kau tinggal di sini, karena kita sudah bertunangan." Farhan menunjuk cincin yang tersemat di jari manis Ayu, dia telah meresmikan hubungan mereka di saat berada di kapal pesiar di acara makan malam romantis. Walaupun tidak ada jawaban, tapi dia sudah menganggap jika mereka adalah sepasang kekasih dan ingin tinggal bersama.


Ayu mengacak rambutnya dengan frustasi menghadapi sifat dari pria yang seenaknya memberikan perintah, karena dia tidak ingin tinggal di tempat orang lain. Apalagi dia sudah mempunyai dan memiliki apartemen sendiri, tak ingin merepotkan orang lain yang hanya akan menimbulkan permasalahan baru.


Ayu segera berjalan keluar dari tempat itu, namun tangannya ditarik hingga dia tak sengaja menabrak pada bidang. Dia sangat terkejut sembari mengerlingkan mata dengan suasana yang begitu ambigu. Dengan cepat dia kembali berdiri dengan benar, dan menunjuk Farhan sebagai biang keladi yang membuatnya hampir saja terjatuh. 


Farhan menyunggingkan senyuman, membuat Ayu menautkan kedua alis, karena penasaran dengan niat yang sudah direncanakan oleh pria sekaligus bosnya di kantor. "Apa yang kau sembunyikan? Mengapa kau tersenyum? Sangatlah mencurigakan."


"Kau tidak bisa pergi kemanapun."


"Memangnya kenapa?" tanya Ayu begitu penasaran. 


"Karena di apartemen mu sudah kosong, aku memindahkan semua barang-barang dan juga keperluanmu ke sini. Jadi, tidak ada tempatmu untuk pulang ke apartemen yang sangat kecil itu." Farhan begitu menyombongkan dirinya, mengingat Ayu yang masih berada di tempat sederhana dan dia tidak ingin jika wanita itu dalam kesulitan nantinya.


"APA?" Ayu sangat shock dengan tindakan nekat dari Farhan, apalagi memindahkan barang tanpa seizinnya merupakan suatu kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. "Sepertinya tidak ada rasa bersalah di wajahmu itu," Cibirnya.


"Terserah, kau tinggal memilih saja, di apartemen itu sudah kosong. Aku membawa seluruhnya ke sini, agar kau merasa nyaman. Bagaimana dengan ideku itu?" Farhan tersenyum dengan kepintarannya.


"Kau merasa dirimu pintar 'bukan? Tapi aku merasa kau bodoh. Mengapa kau lakukan ini, hah?" pekik Ayu yang tak terima, menghentakkan kedua kaki dengan kesal. Farhan hanya cengengesan dan terkekeh melihat raut wajah yang tampak menggemaskan.


****


Jenni memberitahu Vanya apa yang terjadi semalam, dan memberikan foto Ayu dan Gabriel yang disimpan oleh reporter. 


Vanya semakin membenci Ayu, dan ingin mengajak Yuna untuk bekerja sama dan ingin menemuinya, memberikan foto-foto itu dan berpura-pura baik demi menjalankan misinya. 

__ADS_1


 


__ADS_2