
Akhirnya Farhan berhasil membersihkan semua pasukan Mafia dibantu oleh orang-orang yang ahli dalam ilmu bela diri yang mumpuni, begitu banyak mayat yang bersimbah darah. Percikan darah yang mengenai jas nya, dia segera melepaskannya dan melemparkan sembarang arah. Sangat jijik melihat noda darah yang menempel, apalagi itu adalah darah musuh.
Dia mengatur pernapasan dan segera masuk ke sumber suara tembakan, dia sangat takut dengan apa yang terjadi. Mengingat pertarungan pimpinan mafia dan juga Leon sangatlah berbahaya, harus ada korban.
"Aku harus segera kesana, Leon pasti dalam bahaya." Monolognya seraya berlari.
Tanpa menunggu lama, Farhan berlari dan memeriksa setiap ruangan. Sedikit menyulitkannya, tapi terus berusaha memeriksa setiap ruangan yang tak jauh dari asal tembakan. Hingga kedua pupilnya membesar saat melihat dua orang pria yang terkapar dengan simbahan darah. Berlari dan memangku kepala kakak ipar dan memberi arahan pertolongan pertama.
"Leon…Leon, bertahanlah." Suasana yang begitu mencekam, darah terus saja mengalir dari perut pria malang itu tanpa berhenti. Tidak ada cara lain selain menutupi dengan kain untuk penanganan pertama. "Pegang kain ini, jangan sampai darahmu keluar lebih banyak lagi." Titahnya yang sangat panik.
"Aku menang," lirih Leon yang tertawa pelan, menunjuk Mars yang sudah mati di tangannya. "Apa kau lihat tadi? Aku berhasil mengusir pria gila itu dalam waktu singkat. Apa aksiku itu keren atau sangat keren?
"Tutup mulutmu, kau berbicara tak melihat situasi. Lihatlah kondisimu yang juga sekarat, berdoalah agar malaikat pencabut nyawa sedang bercuti." Ucap Farhan dengan penuh keyakinan.
"Sial, aku tidak akan mati dengan cara seperti ini." Tekad Leon yang masih ingin tetap hidup dan bisa menikahi Aluna.
Farhan tersenyum beberapa detik, dia menyeret tubuh kakak ipar dan membawanya keluar dari tempat itu. Perlahan tapi pasti, dan beberapa anak buah mendatanginya ikut serta mengangkat tubuh lemah itu. "Jalankan mobilnya, kita akan kerumah sakit!"
"Baik, Tuan." Sang supir segera menambah kecepatan laju kendaraan mobil, menyalip beberapa kendaraan yang di rasa menjadi pengganggu.
Farhan mulai menelepon dokter Reffan, teman yang akan membantunya dalam mengurus kondisi Leon yang sangat kritis banyak kehilangan darah. "Aku harus menelepon keluargaku, mereka tidak akan tenang sebelum mendapatkan kabar."
"Halo."
"Ada apa? Mengala suaramu terdengar serak? Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa meneleponmu lama, tapi kau harus mengatakan hal ini pada semua orang mengenai kondisi Leon."
"Ada apa dengan Leon? Apa yang terjadi?"
"Pertarungan besar itu melukai perutnya yang ditikam sebanyak tiga kali oleh Mars."
"Apa?"
Farhan melihat layar ponselnya yang tidak bisa mendengar suara sang istri, dia kembali menelepon tapi tidak tersambung. "Aku sangat mencemaskan Ayu, tapi Leon juga membutuhkanku. Ini antara hidup dan mati," gumamnya.
Mobil berhenti di rumah sakit, beberapa perawat dan seorang dokter telah menunggu kedatangan mereka dan segera mendorong brankar menuju ruang gawat darurat. Farhan tidak bisa berbuat banyak, memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sembari meremas rambutnya dengan kasar.
"Walaupun aku sering bertengkar dengannya, tapi melihat apa yang dilewati oleh Leon sangatlah menyakitkan, hanya doa yang bisa aku berikan padanya lewat perantara dari sang dokter." Batinnya yang berusaha menerima kenyataan.
Mendengar suara telapak kaki yang menuju ke arahnya, Farhan mendongakkan kepala. Terlihat semua keluarganya yang hadir, tak terkecuali Ruo dan Aluna yang menangis.
"Ada apa dengan kakak?" sambung Ayu yang sangat sedih, duduk di lantai dan melihat wajah sang suami yang juga ikut bersedih.
"Mars menikam perut Leon beberapa kali dan mengeluarkan banyak darah, pertarungan hanya untuk membuktikan sendiri jika dia pantas di samping Aluna." Jawabnya membuat semua orang tertegun, terutama wanita yang menjadi kekasih pria malang di dalam ruangan.
"Apa?" Aluna berdiri dan memundurkan langkahnya, sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Bulir cairan bening kembali keluar membasahi pipi. "Sebesar itukah dia mempertahankan ku? Dan bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri?" batinnya sedikit tersenyum dan kembali menangis. Dia tidak menyangka jika kesabarannya dalam mendapatkan pria itu berbuah dengan sangat manis, berdoa kepada Tuhan agar kesehatan Leon membaik.
Dokter Reffan melakukan segala upaya untuk menyelamatkan Leon dari ambang kematian, begitu banyak darah yang keluar. "Apa ada persediaan darah sesuai dengan golongan pasien?"
"Masih banyak persediaan darah dan cukup untuk menyelamatkan nyawanya." sahut sang suster.
__ADS_1
Begitu lama dokter keluar dari dalam ruangan membuat semua orang yang berada di luar ruangan menjadi gelisah, perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, mereka bahkan tidak menyadari sudah berapa lama berdiri di depan bangsal.
Aluna terus saja mondar-mandir seperti setrikaan, dia tidak peduli lagi apa tanggapan orang-orang karena di saat ini pikirannya hanya fokus kepada Leon untuk terus berada di sisinya. Jika keinginan berbanding terbalik, dia sendirilah yang tidak bisa memaafkan kesalahan dan mulai mengalahkan dirinya. "Ini semua kesalahanku, kalau saja aku tidak bertemu dengan Leon dan juga Mars, mereka tidak akan saling menyerang demi dendam pribadi." Gumamnya yang masih saja menganggap dirinya sebagai tersangka utama.
Beberapa menit kemudian, terdengar pintu yang terbuka. Semua orang bergegas mengelilingi sang dokter untuk menanyai kabar dari pasien yang masih terbaring tak berdaya. "Bagaimana kondisi Leon, Dok?" tanya Tirta dengan dua mata yang menyirat, berharap jika cucunya selamat dan diberikan kesempatan kedua.
Dokter Reffan menghela nafas dan tersenyum. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pasien selamat. Tapi, membutuhkan waktu pemulihan bekas tikaman senjata tajam di perut. Usahakan pasien tidak membiarkan melakukan gerakan ekstrim yang bisa berakibat jahitan terlepas atau terjadi iritasi. Saya permisi dulu," jelaskan dokter yang pergi meninggalkan tempat itu dia tersenyum karena berhasil menyelamatkan nyawa pasien yang diambang kematian. Semua orang memperhatikannya takjub dengan kemampuan yang dimilikinya oleh pria berjas putih.
Hendrawan memeluk Tirta dengan sangat erat, rasa ketegangan dan juga khawatir seketika menghilang hanya memikirkan pemulihan dari pria yang masih terbaring di atas brankar. "Selamat untukmu, Leon berhasil melewati ujiannya."
"Terima kasih."
Beberapa perawat mendorong brankar, membuat para anggota keluarga bingung. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Farhan yang mengkhawatirkan kakak iparnya itu.
"Kondisi pasien sudah membaik, kami hanya memindahkan pasien ke ruang rawat inap." Sahut salah satu suster.
"Oh, baiklah."
Kini mereka semua berada dalam satu ruangan khusus keluarga, cukup luas untuk menampung mereka semua. Farhan melirik kedua kakeknya yang tampak sangat lelah, dia segera menghampiri untuk menyelesaikan misi. "Kek, sebaiknya kalian pulang saja. Biarkan kami yang menjaganya disini."
"Apa kau yakin?" tanya Tirta dengan penuh penyelidikan.
"Aku sangat yakin."
"Baiklah, sekarang giliran mu." Farhan menunjuk Aluna, karena dia sudah memutuskan untuk menjaga kakak iparnya di rumah sakit bersama sang istri.
__ADS_1
"Tidak, biarkan aku tetap disini. Kalian pergi saja," sahut Aluna yang bersikukuh. Awalnya Farhan tidak setuju jika sang kakak ipar akan dijaga oleh orang asing, untung saja Ayu membujuk suaminya itu dan mengalah.
Tinggallah Aluna seorang diri, menarik kursi seraya menggenggam tangan Leon. Dia mengecup nya dengan sangat lembut. "Begitu besarnya kau mencintaiku?" lirihnya pelan. Pandangan yang tidak terlepas dari pria di hadapannya, hingga kedua mata mulai terpejam.