
Ucapan dari Farhan membuat semua orang melongo, karena apa yang dikatakan membuat Jenni, Vanya, dan Yuna berkeringat dingin. Sementara Ayu menatap Farhan dengan tidak yakin, apalagi tidak ada bukti yang berpihak padanya.
"Hah, aku tidak yakin jika dia punya bukti." Batin Ayu yang tak ingin bantuan dari pria itu.
Semua para reporter berlomba-lomba untuk menanyakan dari perkataan pria itu, karena kejadian yang belum lama sangat mustahil mempunyai bukti lain selain rekaman Cctv. "Apa anda yakin dengan perkataan yang baru saja diucapkan?"
"Ya, aku mempercayai Ayu." Jawab Farhan dingin.
"Jangan bercanda Tuan, kau baru saja datang dan mempunyai bukti? Itu sangat mustahil terjadi, rekaman Cctv juga tidak menangkap kejadian itu."
"Itu memang benar, bukan berarti bukti bisa hilang dengan mudah karena kendala tidak menangkap kejadian beberapa menit." Jelas Farhan yang memberikan Ayu sedikit celah, mempunyai pemikiran yang sama.
"Hem, Cctv memang tak menangkap, tapi aku sangat yakin jika kejadiannya masih tersimpan. Sengaja di hapus atau terjadi masalah, hanya dua pilihan saat ini. Aku ingin buktikan kesalahpahaman dan tuduhan dengan melihat ulang Cctv." Sambung Ayu yang melirik wanita yang membenci keberadaannya.
Jenni menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan. Dia juga tak bisa melakukan apapun, selain menyudutkan wanita yang paling dibenci. "Bagaimana jika kebohonganku terbongkar? Tapi itu tidak akan terjadi, dia telah merusak Cctv." Batinnya yang mencoba untuk berpikir positif mengenai nasibnya. "Semua orang sudah tahu, jika kau melakukan ini hanya untuk melindungi dirimu sendiri." Tuduhnya.
"Kau menuduhku tanpa alasan, apa salahnya aku memeriksa Cctv itu. Apa kau takut?" ucap Ayu yang tersenyum tipis, karena dia sudah tahu jika hal ini akan terjadi.
"Jangan memperbesarkan masalah ini, aku bisa menjamin Ayu." Ucap Farhan yang membela.
"Dimana bukti yang Tuan ingin tunjukkan?" tanya salah satu reporter, menatap Farhan dengan serius, tak lupa mengarahkan alat perekam suara.
"Memeriksa Cctv secara ulang."
__ADS_1
"Jangan memaksa Tuan, Cctv bermasalah saat itu. Apa dua orang saksi belum bisa dikatakan sebagai saksi?" sela Jenni yang tersenyum puas.
"Kau banyak bicara sekali, tunjukkan saja Cctvnya. Tidak perlu memikirkan masalah yang terjadi dengan rekamannya, hanya menunjukkannya saja. Apa ada masalah dengan itu?" Ayu menatap Jenni dengan tatapan menyelidik, dan sesekali melirik Vanya dan juga Yuna yang ikut terlibat dan bersekongkol.
"Tidak ada gunanya untuk melihat rekaman Cctv." Sarkas Jenni yang tetap mempertahankan kebohongannya.
Ayu berjalan mendekati Jenni dan memegang pergelangan tangan wanita itu, mencengkramnya hingga meninggalkan jejak memerah.
"Lepaskan aku, kau kasar sekali."
Ayu tersenyum dan mengabulkan perkataan Jenni, kembali tersenyum tipis untuk membuat lawan gentar. "Tidak perlu mengajariku, karena di matamu aku akan tetap salah. Kalian sama saja, rasanya kurang lengkap jika belum mencari masalah denganku."
Vanya maju kedepan dan mendorong tubuh Ayu, Farhan ingin menolong tetapi dicegah untuk tidak ikut campur dan akan menyelesaikan sendiri.
"Ya, apa yang dikatakan oleh Vanya benar. Permasalahan ini akan selesai jika kau bersedia meminta maaf dan berlutut di hadapanku, dan aku anggap impas." Sambung Jenni dengan enteng.
"Berlutut padamu? Lupakan itu, lebih baik kau tunjukkan saja rekaman Cctv." Sahut Ayu yang sudah muak dengan permainan kata-kata. Vanya, Kira,dan Yuna tersenyum tipis mengetahui jika musuh mereka dalam keadaan kesulitan.
Farhan ingin membantu mantan calon tunangannya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, tapi wanita itu tidak menginginkan bantuan karena terlanjur kecewa saat kedatangan Kira. Dia terpaksa menyaksikan ketidakadilan yang membuatnya begitu tak berdaya. "Jika saja dia tidak melarangku, sudah aku selesaikan ini dengan mudah." Batin nya yang begitu geram.
"Ayolah, permasalahan akan cepat selesai jika kau menjadi wanita penurut." Bujuk Yuna.
"Diamlah! Aku sangat yakin jika Cctvnya telah di edit, itu sebabnya kau belum juga menunjukkan rekamannya." Balik Ayu yang menuduh Jenni, tak ingin mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya. "Pantang bagiku meminta maaf dengan apa yang tidak aku lakukan, jika terbukti aku bersalah? Kalian akan tahu konsekuensinya." Tekan Ayu dengan nada ancaman. Dia mengalihkan pandangan pada sang manajer butik, menadahkan tangan dengan tatapan penyelidikan. "Berikan aku rekamannya!"
__ADS_1
"Baiklah." Manajer butik menyerahkan rekaman Cctv dan melihat raut wajah Jenni yang tampak khawatir, keringat di dahi diartikan dengan sebuah kecemasan mendalam.
"Apa yang ingin dia lakukan?" itulah yang dipikirkan oleh keempat wanita yang membenci Ayu.
"Ayu terlihat sangat yakin, apa jangan-jangan dia bisa memulihkan rekaman yang sudah di hapus?" batin Farhan yang terkesima dengan cara wanita itu duduk sembari melihat rekaman Cctv di laptop.
Ayu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, membuktikan diri merupakan harga diri yang akan dipertahankan. Semua orang melihatnya yang begitu tenang, mereka mulai meremehkan kemampuan yang dia miliki. "Aku harus membuktikan diriku, aku akan membalikkan keadaannya!" gumamnya dengan semangat menggebu-gebu.
Dia mengutak atik laptop dengan gerakan jari yang sangat cepat, memasukkan beberapa kode rahasia untuk memulihkan data yang telah di hapus. Tatapan fokus ke depan, hingga dua sudut bibir mengembang ke atas. "Selesai!" Ayu memperlihatkan Cctv yang sudah di pulihkan sepenuhnya. "Rekamannya masih ada, ada yang sengaja menyabotase semuanya. Kalian bisa melihat rekamannya!" dia melirik Jenni ketiga wanita yang menuduhnya dan membalas dengan tersenyum puas.
Semua orang berbondong-bondong untuk melihat rekaman Cctv, dan ternyata pengakuan Ayu memang benar sedangkan pernyataan Jenni dan dua orang lainnya suatu kebohongan yang telah terungkap di hadapan semua orang, bahkan para reporter juga meliput kejadian itu.
Semua orang terpukau dengan kehebatan Ayu yang juga bisa IT, bahkan Farhan juga tak menyangka karena sekretarisnya itu menguasai dan mempunyai semua kemampuan lengkap.
"Karena kalian telah menuduhku, aku hanya ingin perkataan maaf untuk menyelesaikan permasalah ini." Ucap Ayu melirik satu persatu wanita yang ingin mengerjainya.
Ayu berjalan mendekati Jenni, menatap mata wanita itu dingin. Sementara ketiga wanita yang telah menuduhnya berkeringat dingin, karena situasi sudah berbalik kepada sang empunya. Dengan sengaja dia menyeka keringat di dahi Jenni dan melihat tetesan dari ibu jarinya, tersenyum melihat kecemasan. "Kau berkeringat, pasti merasakan kecemasan. Aku sudah memperingati mu untuk tidak bermain-main denganku."
Ayu melirik Vanya sekilas dan memusatkan perhatiannya pada Yuna sang pianis terkenal. "Apa masalahmu sebenarnya? Aku mengenalmu berkat talenta dan bakat yang kau miliki, mengapa kau memusuhi ku dengan berpihak pada jalan yang salah?"
Yuna hanya melemparkan tatapan sinis dan enggan mengatakan masalahnya, dia juga sangat malu karena bukti sudah ada di depan mata. Ayu kembali tersenyum, dan bergantian menatap Jenni. "Apa aku harus berlutut dan meminta maaf pada diriku sendiri?" sindirnya.
__ADS_1