
Semua orang kembali menjalankan pekerjaan masing-masing setelah Farhan menutup pintu, mereka kembali melanjutkan syuting iklan untuk proyek kerjasama dengan perusahaan milik Raymond.
"Apa semua sudah siap?" Tanya Ayu kepada semua orang, terutama Raina dan juga Gabriel yang akan menjadi brand ambassador kali ini.
"Siap," sahut mereka kompak dan mengacungkan jari.
Ayu menjadi penanggung jawab audisi, memastikan semuanya terlaksana dengan baik. Saat ini, dia fokus dengan audisi yang di perankan oleh Raina dan juga Gabriel.
"Cut." Teriak Ayu yang menghentikan proses audisi itu. Dia berjalan menuju Raina, semua orang menyorotnya dengan penasaran.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Ucap Raina yang tak suka.
"Apa kau bisa menjelaskan tema iklan ini?" Tanya Ayu dengan tegas dan sorot mata yang tajam.
"Seperti kau lihat, itulah tema nya!" Jawab Raina dengan asal.
"Ini tidak bisa dikatakan tema iklan, bukankah kau adalah aktris terbaik. Keluarkan seluruh kemampuan yang kau miliki." Ayu mulai kesal dengan tingkah Raina yang tidak merasa bersalah.
"Kau itu sangat cerewet sekali! Aku sudah melakukan yang terbaik," Tutur Raina.
"Yang terbaik? Aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana aktingmu yang kurang memuaskan. Emosi dan karaktermu di sini kurang membulat, belum sesuai porsinya." Kritik Ayu yang mengatakan segalanya dengan jujur.
"Jangan mengomentari akting ku, kau bahkan tidak mengetahui apapun selain mengomentari orang lain." Raina melipat kedua tangan di depan dadanya dengan sombong, dia tidak suka jika orang rendahan seperti Ayu meremehkan kemampuannya.
Ayu meletakkan tangan di kepala, menghirup nafas dalam agar tidak emosi saat mendengar perkataan sombong dari Raina. "Aku penanggung jawab untuk iklan ini, dan sudah tugasku untuk melakukannya." Cetusnya.
"Honey, kau lihat sekretaris ini? Dia mengomentari akting ku yang luar biasa itu." Raina menatap kekasihnya dengan manja, berharap pria tampan itu membelanya.
"Apa yang dikatakan oleh Ayu, itu benar. Emosi dan karaktermu saat audisi tidak memuaskan, aku setuju dengan pendapat Ayu!" Sahut Raymond jujur, membuat Raina membelalakkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Honey, kau membela wanita itu?" Tunjuk Raina dengan raut wajah cemberut dan juga kesal.
"Aku mengatakan yang sebenarnya!" Sahut Raymond dengan enteng, karena dia juga tak puas dengan Raina untuk menggambarkan emosi diminta oleh Ayu.
"Kau menyebalkan!" Umpat Raina yang menghentakkan kedua kakinya seraya melirik Ayu dengan sinis.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Gabriel.
"Aku akan memperagakannya, dan lihat baik-baik." Ayu berdiri di samping Gabriel dan mulai melakukan syuting iklan.
Proses audisi yang di perankan oleh Ayu membuat semua orang kagum, kecuali Farhan yang melihat kemesraan demonstrasi di antara Ayu dan juga Gabriel. Mengepalkan kedua tangannya dengan erat, kedua mata yang tidak berkedip saat menyaksikan itu secara langsung, walau itu hanyalah untuk urusan pekerjaan dan profesionalitas saja.
Gabriel sangat menyukai keberadaan Ayu di sampingnya, mengambil kesempatan didalam kesempitan. Gabriel menarik Ayu mendekat ke dekapannya, membuat sang empunya sangat terkejut dengan reaksi tak terduga.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ayu kaget.
"Sebentar saja!" Ujar Gabriel yang memelas.
Ayu melihat secara bergantian ke arah Gabriel dan Raina yang masih berdiri tak jauh darinya, tampak wajah Raina yang terlihat gelap, memendam emosi yang hampir keluar.
"Wanita ini membuat aku jengkel, aku butuh seseorang untuk membimbingku melakukan audisi iklan ini, bukan menggantikan posisiku!" Umpat Raina di dalam hati. "Aku masih ada di sini, jika kau di sana! Lalu? Untuk apa aku di sini?" Cetus Raina.
"Aku hanya memperagakannya! Dan kau, lepaskan tanganmu dari pinggangku?!" Ucap Ayu yang menatap Raina, dan melirik Gabriel dengan jengkel.
"Baiklah, aku lepaskan." Gabriel mengangkat kedua tangannya, dan memasang senyum andalannya.
"Sial, dia mengambil kesempatan itu." Umpat Farhan yang masih berdiri tak jauh dari sana dan memantau proses audisi iklan berlangsung.
"Semua bersiap untuk pengambilan gambar berikutnya!" Perintah Ayu yang membuat semua orang mematuhinya. "Dan kau, kembali keposisi!" Aturnya yang menatap Raina.
__ADS_1
"Baiklah." Sahut Raina yang tersenyum.
Ayu yang melihat dari atas panggung, semua orang bersiap membuatnya untuk kembali ketempat. Ketika dia melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung, tiba-tiba lampu yang menggantung di atas terjatuh.
"Awas!!" Pekik Farhan, Gabriel, dan Raymond bersamaan saat menyadari lampu yang hendak menimpa tubuh Ayu.
Farhan berlari dengan cepat, tak memikirkan apapun lagi selain keselamatan Ayu. Dengan cepat dia menarik tubuh wanita itu yang hampir tertimpa lampu gantung dan melindungi tubuh Ayu dengan memeluknya agar tidak mengenai serpihan kaca lampu. Suasana mencekam dapat dirasakan oleh semua orang yang khawatir dengan kondisi Ayu, untung saja ada Farhan yang datang tepat pada waktunya dan semua orang bisa bernafas dengan lega.
Ayu sangat terkejut, hingga kedua matanya tidak berkedip. Hampir saja nyawanya melayang, jika Farhan terlambat sedikit saja. Farhan melepaskan pelukannya dan mulai memeriksa tubuh Ayu dan sangat mencemaskannya. "Apa kau tidak apa-apa?"
"A-aku baik, terima kasih sudah menolongku!" Lirih Ayu.
"Hem." Tak sengaja Farhan melihat kaki Ayu yang terkena goresan kaca lampu, dia sangat khawatir langsung menggendong tubuh wanita itu.
"Turunkan aku!"
"Diamlah, kakimu terluka." Farhan bergegas pergi dari ruangan itu tanpa memikirkan orang lain yang menatap kepergian mereka.
Saat melewati pintu gerbang studio, mereka berpapasan dengan Vanya yang masih setia menunggu.
"Kenapa Farhan menggendong wanita kampung itu?" Gumam Vanya yang sangat penasaran, hingga kedua matanya melihat kaki Ayu yang terluka dan meneteskan darah. "Pantas saja, tapi aku sangat menyukai pemandangan ini. Semoga kakinya terluka dengan sangat parah." Vanya tersenyum kemenangan saat melihat rivalnya yang cedera. Seketika senyum itu pudar, saat menyadari jika Farhan menggendong Ayu, dia meremas jari-jarinya karena kesal melihat pemandangan itu yang mulai menjauh.
"Wanita kampung itu mencari celah agar bisa dekat dengan Farhan, aku sangat membencinya. Semoga kakinya terluka sangat parah dan membusuk!" Batin Vanya yang mengutuk Ayu.
Ayu melihat wajah Farhan yang sangat mengkhawatirkan keadaannya, hingga langkah Farhan terhenti saat membuka pintu mobil. Membantu Ayu untuk masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
"Jangan banyak bergerak, aku akan membawamu ke rumah sakit!" Ucap Farhan tegas.
"Baiklah," Sahut Ayu dengan patuh.
__ADS_1
Farhan mulai menyetir mobil dengan kecepatan sedang dan menuju ke rumah sakit, dia sangat khawatir dengan insiden yang hampir saja menghilangkan nyawa Ayu.