
Kira kembali merasakan rasa sakit hati akibat Farhan yang bergegas pergi meninggalkannya, ada guratan kebencian mengenai apa yang terjadi. Tak sengaja dia mendengar percakapan itu, membuatnya perasaannya hancur. Ingin meluapkan segala emosi yang tercipta di benak juga di pikirannya.
"Berani sekali sang manager itu menelepon Farhan, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin ada orang lain dan berusaha untuk menyatukan mereka. Bagaimanapun caranya aku harus bisa memisahkan mereka!" batinnya yang penuh dengan tekad.
Karena tidak ingin rencananya yang disusun dengan sedemikian rupa, dia segera menyusul pria tampan itu yang sudah meninggalkan rumah kumuh miliknya. Guratan kebencian di hati, saat pria itu lebih memilih Ayu dibandingkan dirinya.
Farhan segera membuka pintu mobil ingin masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh seseorang yang tak lain adalah Kira. Menatap wanita itu sambil mengerutkan kening, tidak menyukai jika ada orang lain yang mengganggu jalannya. "Kenapa kau mencekal tanganku?"
"Kau mau kemana? Pergi dengan begitu tergesa-gesa bahkan tidak mengatakannya kepada aku." Ucap kira dengan manja, bergelayutan di tangan kekar milik pria di sebelahnya.
"Bukan urusanmu, aku harus pergi karena ada hal yang penting untuk diurus."
"Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sangat cemas, apa aku boleh mengetahuinya?" kira Farhan dengan wajahnya yang lugu, bermain cantik untuk mendapatkan perhatian.
Farhan mendelik kesal sembari melirik jam di tangan, dan tidak ingin terlambat. Khawatir yang dia rasakan sangatlah dalam bahkan dia merasa tidak tenang. "Jangan menghentikan langkahku!"
"Aku tidak akan menghalangi jalanmu, apa aku boleh ikut?"
"Kenapa kau tiba-tiba ingin ikut, jangan katakan jika kau mendengar percakapan telepon tadi."
"Hem, itu memang benar. Aku mendengar seluruh percakapan itu cukup disayangkan jika ini terjadi kepada Ayu, aku sangat bersimpati dan berdoa agar wanita itu baik-baik saja." Farhan dengan tatapan sendu, ekspresi lugu yang biasa digunakan olehnya tentu saja membuat pria itu merasa peduli.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi, ayo kau masuklah ke dalam mobil!" Farhan bergegas membuka pintu, berharap jika dia tidak terlambat sedikitpun.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Kira mencoba untuk mencairkan suasana yang menjadi jarak antara keduanya begitu hening seperti tak berpenghuni. dia menoleh ke samping, berharap jika Farhan membatalkan pencariannya kepada Ayu. Namun hal itu tidak bisa dia tunjukkan, selain berkata manis dan juga lemah lembut, tutur kata dan bahasa yang sangat sopan. "Kenapa Ayu Begitu bodoh, nekat pergi ke hutan sendirian. Apa dia tidak takut dengan nyawanya sendiri? Bisa saja longsor menguburnya hidup-hidup sungguh wanita yang sangat malang."
Farhan terus menatap lurus dengan fokus menyetir, tapi telinganya mendengar perkataan dari wanita itu hingga menghentikan laju kendaraan membuat kening kiri Kira terbentur. "Auh…Kenapa kau mengerem mendadak karena ulahmu membuat kepalaku sedikit bengkak." rengeknya seraya mengusap kening yang ada benjolan kecil.
"jika kau masih berceloteh non berfaedah, kau boleh keluar dari mobil. Aku tidak ingin membuang waktuku hanya mendengar ocehanmu yang membuat telinga ku sedikit tuli."
Kira menelan saliva dengan susah payah, melihat tatapan tajam dan juga dingin tersirat mengarah ke arahnya. seakan memberi isyarat agar dia tidak mengatakan apapun lagi, ada perasaan yang takut melihat ekspresi dari pria itu. "Baiklah…tolong maafkan! Aku tidak akan katakan apapun yang membuatmu tersinggung."
"Bagus jika kau mengerti."
Farhan segera mengeluarkan ponselnya menghubungi sang asisten untuk menyiapkan keberangkatannya menuju lokasi penginapan di desa.
"Halo."
"Iya tuan, ada yang bisa di bantu?"
"Darurat? Apa yang sebenarnya terjadi, tuan?"
"Ayu tengah mencari keberadaan dokter Zaki berada di hutan yang tak jauh dari pedesaan, namun perjalanan sedikit terhambat akibat hujan yang sangat deras sehingga jalanan menjadi licin bahkan menyebabkan longsor. Jangan memperlambat gerakan ku dengan pertanyaan bodohmu, cepat lakukan apa yang Aku perintahkan!"
"Baik, tuan. Akan saya laksanakan dengan secepat kilat!"
"Hem."
__ADS_1
Farhan segera memutus sambungan telepon karena tak ingin terlalu lama menghabiskan waktu, sedangkan Kira hanya duduk terdiam tanpa berani mengeluarkan kata, tidak ingin jika pria itu menyemprot dengan perkataan pedasnya. "Apa yang begitu penting baginya, sehingga mendesak semua orang. Apa yang membuat Ayu begitu istimewa di hatinya, walau aku sedikit berhasil memisahkan mereka dengan merusak hubungan itu. Sangat menyebalkan!" gumamnya di dalam hati.
Farhan sangat puas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh asisten nya, Heri. Menyiapkan segala keberangkatannya menggunakan pesawat, segera berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun kepada sang asisten untuk memberikan penghargaan. Kira mengikuti pria tampan dengan aura yang sangat kental dalam kepemimpinan, menempel bagaikan seekor cicak.
"Farhan, tunggu aku!" pekik Kira yang mengejar langkah kaki pria itu.
Sedangkan asisten Heri hanya berdiam diri sambil menatap keadaan yang terjadi di hadapannya, tak ingin ikut campur dalam urusan sang majikan. Tapi dia tidak terima jika atasannya lebih mengutamakan cinta masa lalu dibandingkan Ayu, dan tidak menyukai keberadaan Kira. "Aku sangat tidak menyukai wanita itu, bahkan dia menempel bagai permen karet. semoga saja di kehidupan berikutnya aku tidak bertemu dengan ulat keket."
****
Akhirnya mereka sampai di kota, dan segera menuju lokasi yang sudah dikirim oleh sang manajer. Tak butuh waktu yang lama, untuk dia menemukan tempat di pedesaan yang tak jauh dari hutan.
"syukurlah, jika Tuan sampai disini."
"Di mana lokasi hutan yang terjadi longsor?"
"Mari, akan saya tunjukkan jalannya."
"Hem."
Sesampainya di lokasi tanah longsor, beberapa tim yang sudah dikerahkan sebelumnya, juga melakukan pencarian setelah hujan reda. Farhan ingin terjun langsung untuk mencari keberadaan Ayu. Namun hal itu terus saja dihalangi oleh Kira, tak ingin jika keduanya semakin dekat dengan cinta yang semakin besar. "Ini tidak bisa dibiarkan, kemanapun Farhan pergi aku harus mengikutinya. Aku tidak ingin posisi ku semakin terancam." Gumamnya di dalam hati. "Aku juga ingin mencari Ayu!" ucapnya dengan penuh antusias.
"Kau hanya akan mengganggu penyelidikan dan pencarian saja, sebaiknya kau disini!" cetus sang manajer dengan melempar tatapan sinisnya.
__ADS_1
Farhan menanyakan kabar terkini dari para tim peneliti, namun mereka telah mencari selama beberapa jam tetapi tidak ada hasilnya, membuatnya ingin mencari sendiri. Sedangkan Kira memaksakan dirinya untuk mengikuti dia itu.
Jangan tanyakan bagaimana ekspresi sang manajer yang sangat tidak menyukai keberadaan Kira. "Ck, sepertinya aku tahu kenapa dia memaksakan dirinya untuk ikut dalam pencarian, tak ingin jika Ayu dan tuan Farhan bersatu, dia hanyalah duri. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepadanya, sedikit mengerjai nya tidak masalah 'bukan." Batinnya yang tersenyum smirk.