Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 147 ~ Bantuan kakek


__ADS_3

Ayu sangat panik karena tidak melihat Farhan, dan memikirkan hal yang tidak-tidak. " Tadi aku meninggalkannya di sini, tapi dimana dia?" monolognya seraya mencari keberadaan calon tunangannya. 


"Farhan…Farhan, kau dimana?" teriak Ayu yang menyusuri tempat itu, baru saja dia ingin mencari ke dalam hutan. Tapi, melihat seorang pria tampan yang berjalan ke arahnya. Perasaan penuh kecemasan menghilang dalam segenap, tersenyum lega jika keadaan calon tunangannya baik-baik saja. 


"Aku di sini!" sahut Farhan yang tersenyum, membawa dua ekor burung di tangannya. 


"Kau darimana saja?" 


"Aku hanya menangkap dua ekor burung kecil untuk menjadi santapan malam ini."


"Kau? Bukankah aku katakan untuk tidak pergi kemanapun, tapi kau malah berburu." Ayu bertolak pinggang, sorot matanya tak lepas menatap pria yang menghampirinya. 


Farhan terkekeh saat melihat ekspresi sekretarisnya yang sangat panik saat dia pergi sebentar untuk berburu, memperlihatkan dua burung kecil karena berhasil menangkapnya. "Berhentilah memarahiku, setidaknya malam ini kita tidak kelaparan." Berlalu pergi mencari ranting pohon yang sudah kering, mengumpulkannya untuk membuat api. 


"Kau sedang apa?" tanya Ayu yang melihat Farhan tengah menggesekkan dua batu dan mengambil percikan api. 


"Aku menggunakan metode lama untuk menghidupkan api, apa yang kau temukan di dalam hutan?"


"Aku mendapatkan buah-buahan liar yang aman dikonsumsi dan juga menemukan sebuah sumur tua. Jika kekurangan air, kita bisa kembali mengambilnya lagi." Jelas Ayu yang antusias. 


"Itu bagus."


"Bukankah tanganmu masih sakit? Kenapa kau nekat menangkap burung?" 


"Aku tidak ingin jika kau kelaparan," jawab Farhan yang membuat hati Ayu ikut terhanyut, tersentuh dengan pengorbanan juga tanggung jawab dari atasan sekaligus calon tunangannya. 


Farhan membersihkan hasil tangkapannya dan membakarnya menggunakan alat seadanya. Setelah beberapa saat, mereka melahap makanan dan memakan buah-buahan. Menikmati panorama malam yang sangat indah, suara ombak gemericik air bagai alunan musik indah dari alam. 


Tatapan mata yang saling bertemu, dan senyum manis mengukir indah di wajah. Jauh dari orang-orang, menikmati kebersamaan yang membuat mereka saling dekat. 


"Aku tak menyangka jika ini akan terjadi," celetuk Ayu yang menghela nafas, terlintas di benaknya mengenai kejadian sial yang menimpanya. 


"Kita tidak tahu jika ini akan terjadi, nikmati saja. Ambil sisi positifnya!" sahut Farhan yang menoleh ke samping. 


"Apa masih ada sisi positifnya? Sekarang kita terdampar di pulau kecil, tidak tahu kapan bala bantuan akan datang." 


"Tentu saja ada hikmah dari kejadian ini, kau bahkan mengakui perasaanmu padaku."


Seketika kedua pipi Ayu memerah seperti udang rebus. "Hampir saja aku melupakan bagian itu," batinnya yang memalingkan wajah, tak ingin jika pria di sebelah mengetahuinya. 


Farhan tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan dari calon tunangannya, memandang ke arah langit yang tidak ada satupun bintang. "Sepertinya akan turun hujan, sebaiknya kita mencari tempat berteduh."


"Kita mau kemana? Ini sudah gelap, tidak ada penerang."


"Kau tenang saja, aku sudah mengantisipasinya saat kau pergi mencari air bersih. Aku sudah membuat obor seadanya," ujar Farhan yang sedikit ragu, apalagi obor yang dibuatnya tidak akan bertahan lama karena tidak menggunakan minyak tanah sebagai komponen utama. 

__ADS_1


"Wah, aku tidak tahu jika kau sangat kreatif."


"Ini sangat diperlukan, apalagi dalam keadaan terdesak. Sebaiknya kita berkemas dan mencari tempat berteduh!"


"Baiklah."


Sepasang manusia itu segera berjalan dengan tergesa-gesa, karena obor tak akan bertahan lebih lama lagi. Menyusuri hutan yang sangat gelap gulita, Ayu semakin mengeratkan pegangannya di tangan milik Farhan. "Kau tidak perlu khawatir, aku ada disini!" 


"Tempat ini sangat gelap sekali," ujar Ayu yang sedikit takut. 


Farhan tak menjawab, menghentikan langkahnya dan tersenyum cerah. "Kita akan bermalam di sana." Menunjuk sebuah gua yang berada di hadapan mereka. 


"Astaga, tempatnya sangat menakutkan." Ayu menelan saliva dengan susah payah, berdiri di mulut goa saja membuatnya merinding. 


"Aku ada disini!" 


Dengan terpaksa Ayu masuk ke dalam, apalagi hujannya mulai membasahi tubuh mereka. Farhan mencari ranting atau apapun yang bisa dibakar dan mengumpulkannya untuk dijadikan api unggun ukuran sedang. 


Tidak ada obrolan diantara keduanya yang sibuk mengeringkan pakaian basah, menghangatkan tubuh masing-masing. Ayu melihat luka di tangan Farhan yang masih dibalut. "Hujannya sudah reda, aku ingin keluar. Kau tunggu di sini dan jangan kemana-mana," ucapnya tegas. 


"Bukankah kau sangat takut kegelapan? Apa kau yakin pergi sendiri atau aku temani?" tawar Farhan. 


"Tidak, aku sendiri saja."


"Ya."


Ayu melawan phobianya, luka di tangan Farhan harus segera diatasi secepatnya. Melangkahkan kaki keluar dari goa untuk mencari tanaman herbal disekitar. Beberapa saat kemudian, dia kembali masuk setelah menemukan dedaunan untuk mengobati luka akibat sayatan pisau tajam. Matanya menangkap pria yang tengah membuka balutan kain menutup luka. 


"Apa yang kau cari di luar?" ucap Farhan tanpa menoleh. 


"Hanya dedaunan herbal untuk menyembuhkan luka mu." Ayu segera menumbuk beberapa tanaman menjadi satu dan mengolesnya. "Sedikit perih, kau tahan sedikit." 


Farhan tersenyum memandangi wajah wanita yang peduli padanya. "Kau sangat cocok menjadi calon istriku!"


"Tidak perlu berlebihan," Ayu melirik pria itu dengan sekilas dan tersenyum jahil, menekan sedikit luka membuat sang empunya meringis. 


"Kau calon istri yang sangat kejam!" 


"Secepat itu kau mengubah pendapatmu?" Ayu tersenyum seraya melihat wajah tampan di dekatnya. 


"Lupakan itu, hari semakin malam. Sebaiknya kau tidur, dan aku akan berjaga."


"Baiklah."


Farhan menepuk pahanya, meminta agar calon tunangannya tidur di pangkuannya. Ayu mengangguk setuju, dia merasa sangat lelah langsung tertidur pulas. 

__ADS_1


"Kau wanita yang sangat mengagumkan," gumam Farhan yang menyentuh pipi sembari mengelus rambut panjang dari wanita yang tertidur. 


Pagi harinya, Farhan terbangun dari tidurnya. Luka yang disebabkan saat bertarung dengan Hiu di tubuh telah sembuh sepenuhnya. Kagum dengan ketelatenan sang sekretaris yang menguasai ilmu pengobatan dari tanaman herbal. 


Tak terasa, sudah beberapa hari mereka menghabiskan waktu bersama di pulau kecil itu. Tidak ada bantuan membuat mereka hampir berputus asa, namun keduanya merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dalam beberapa hari terakhir. 


"Aku lebih nyaman tinggal di sini," celetuk Farhan yang selonjoran di atas pasir putih. 


"Pasti mereka sangat mencemaskanmu, kita harus kembali!"


"Di sini kita hanya berdua saja, kau dan aku menghabiskan waktu bersama. Hanya saja__."


"Apa?"


"Hanya saja kita belum menghabiskan malam yang sangat panas."


Seketika Ayu mengerucutkan bibirnya, tahu kemana arah pembicaraan itu. "Dasar mesum!"


"Aku hanya bercanda, apa kau yakin jika kita kecelakaan pesawat?" 


"Hem, ini sangat mencurigakan. Aku merasa ini rencana seseorang yang ingin menghabisi salah satu dari kita," ujar Ayu berpendapat. 


"Aku sangat yakin jika kecelakaan pesawat di rencanakan oleh musuh, dan kematian ayah itu juga bukanlah kecelakaan murni melainkan di sengaja." Gumamnya di dalam hati. 


"Kita harus pulang dan mengungkap siapa dalangnya, jangan biarkan musuh itu merasa menang." 


"Kau benar." 


Ayu berlari ke bibir pantai dan membawa ranting pohon, menggambar huruf SOS di atas pasir putih dengan tulisan yang sangat besar. 


"Kau menggunakan cara itu?" ujar Farhan yang tak jauh. 


"Aku ingin pulang, walau tidak ada harapan." Ayu sangat kecewa, karena sudah beberapa hari mereka terdampar di pulau dan belum melihat satu kapal yang lewat. 


Di saat kekecewaan melanda, terlihat kapal persiar milik sang kakek menuju ke arah mereka. Betapa bahagianya Farhan dan Ayu hingga mereka saling memeluk sepersekian detik. 


Tirta tersenyum saat melihat cucunya, menerima sebuah sinyal bantuan dari kalung yang pernah dia berikan kepada Ayu.


"Ayo, naiklah!" 


Keduanya segera naik ke kapal pesiar dan tersenyum bahagia, Ayu segera menghampiri sang kakek dan memeluknya. "Aku sangat merindukanmu, Kek!"


"Aku juga." Tirta membalas pelukan itu dan bergantian memeluk calon cucu menantunya. Tersenyum saat melihat kemajuan hubungan cucunya dengan cucu sahabatnya, mengerti akan kedekatan Farhan dan Ayu. 


    

__ADS_1


__ADS_2