
Kira tersenyum bahagia, dan mencoba untuk merayu pria di bawah tubuhnya. "Apa kau melupakan janjimu?" ucapnya menggunakan kata andalan di masa lalu dari pria itu. Tangannya terus membelai tubuh kekar yang masih dibalut jas, melepas satu persatu kancing yang menjadi penghalang.
"Aku tidak menduga, jika kau wanita seperti ini. Menyingkirlah dari atas tubuhku!" ucap Farhan yang mencoba untuk memperingati wanita berwajah lugu itu.
"Aku tidak peduli, inilah saatnya kau menepati janjimu."
Farhan mendelik kesal, karena janji di masa lalu membuatnya begitu tersudutkan. Nama Kira di hati tak bertahan lama, saat Ayu berhasil menyentuh hati dan juga cintanya. Sebuah keputusan di masa lalu, terikat di lehernya bagai tali. "Jangan mengancamku dengan janji."
"Ayolah, Farhan. Bukankah kau selama ini mencariku? Dan sekarang kita hanya berdua di tempat ini, kita nikmati kebersamaan tanpa diganggu siapapun." Bujuk Kira dengan nada suara manja dan genit, merayu pria itu agar menghabiskan waktu.
Farhan terdiam, dia sangat menyesal membuat janji yang memikat lehernya. Dia mencintai Ayu dengan sangat tulus, tapi perjanjian di masa lalu membuatnya tak berkutik. "Menyingkirlah sebelum aku bertindak kasar padamu!" titahnya dengan suara tegas.
Kira tersenyum dan membiarkan pria itu berdiri, karena dia sangat yakin jika Farhan tengah mencerna perkataannya yang selalu disangkut pautkan dengan janji di masa kecil. Dia segera beranjak dari ranjang, menghampiri pria yang masih utuh dengan setelan jas.
"Apa yang kau pikirkan? Bukankah ini yang kita inginkan?"
"Kenapa kau bertindak nekat?"
"Aku takut…aku sangat takut dan tidak bisa memikirkan cara apapun lagi, kau berubah." Ungkap Kira dengan raut wajah sedih dan segera menutupi tubuhnya dengan handuk.
Farhan menoleh ke arah wanita, dia kembali melihat tetesan air mata yang mengalir begitu deras di pipi mulus.
"Aku tidak mempunyai siapapun lagi, hanya nenekku dan juga dirimu. Tapi, kau melupakan aku saat Ayu hadir di tengah-tengah kita. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" Kira menangis dan meninggikan suara, menjadi wanita tak berdaya juga teraniaya.
__ADS_1
Farhan mengingat kenangannya di masa kecil dengan Kira, gadis penyelamat yang rela berkorban demi dirinya. Di bibirnya sudah terucap sebuah janji masa lalu yang harus dipenuhi, karena dia tak pernah bisa mengingkari janji membuatnya dalam dilema besar. Di hatinya saat ini hanya milik Ayu, sedangkan wanita di sebelahnya hanya cinta di masa kecil dan obsesi.
"Apa sekarang kau meragukan cinta kita? Kau sendirilah yang mengatakan ingin menikahiku di saat kita dewasa, tapi sepertinya kau ingkar janji. Lalu, apa yang aku dapatkan selain meminta hakku?" Ujar Kira yang menangis, sorot mata yang sendu menatap pria di sebelahnya.
"Caramu ini salah, tidak seharusnya kau bertindak seperti tadi."
"Aku tak punya pilihan lain, aku sangat mencintaimu. Kau tahu, selama ini aku selalu mendambakan akan hidup bersama dengan pria yang aku cintai. Mengapa waktu itu kau memberiku sebuah harapan untuk hidup sebagai sepasang suami istri? Hal itu sangat menyakitiku, kau mengingkari semua janji yang pernah kau ucapkan."
Farhan terdiam, karena apa yang dikatakan oleh wanita di sebelahnya memang benar. Di sini dialah yang salah, dan terjebak dengan perkataan di masa kecil, ingin menikahi gadis penyelamatnya, Kira. Kebimbangan yang menyelimuti pikiran, membuat kepalanya sangat pusing. Di satu sisi, dia menyukai Ayu dan di sisi lain ada wanita masa lalu yang menagih janji. Pantang baginya mengingkari sebuah janji, namun hal itu malah membuatnya tak bisa mengambil keputusan.
"Jangan memberatkan bebanku! Aku tahu, jika aku telah berjanji di masa kecil. Sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan, aku mencintai Ayu." Ungkap Farhan yang bermaksud untuk membuat Kira memahami perasaannya.
"Lalu, bagaimana dengan ku?"
"Cinta tidak bisa dipaksakan, ku harap kau mengerti."
"Ya, aku memang salah. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaanku, aku mencintai Ayu dan akan tetap begitu." Tolak Farhan yang mengakui perasaannya, dia sangat tertekan dan masih bersikap baik dengan Kira.
Kira tak bisa melakukan apapun lagi, dia terpaksa mengalah untuk maju menyerang dua langkah ke depan. Melihat Farhan yang tengah mengancingkan jas dan berlalu pergi dari tempat itu, meninggalkannya seorang diri.
"Sial, kenapa sangat sulit mendapatkan pria itu. Tapi aku sedikit bahagia, setidaknya Farhan terus terbebani dengan pikirannya akan janji di masa lalu," batinnya tersenyum licik. Dia masih mempunyai sedikit peluang untuk menjalankan rencana berikutnya. "Aku harus memantau dan mengawasinya, menguntit salah satu jalan terbaik yang harus aku tempuh." Gumamnya terlintas ide untuk menguntit yang akan menjadi jalan kontraproduktif baginya.
"Sekarang aku akan membiarkanmu melakukan apapun, tapi kau masih berada di genggamanku. Tak apa mengalah untuk sementara waktu."
__ADS_1
****
Keesokan harinya di perusahaan, Ayu terpaksa melangkahkan kaki menuju ruangan presdir untuk menemui pria itu. Tapi sangat terkejut saat melihat Farhan bersama dengan Kira, melihat kebersamaan mereka yang terlihat intim dimata membuatnya kembali salah menafsirkan.
Pemandangan yang menorehkan luka, saat Kira dengan sengaja bersandar di bahu Farhan tepat di hadapannya. Tapi dengan terburu-buru pria itu menjauhkan diri, tapi terlambat.
"Apa mereka menghabiskan malam bersama?" batinnya yang merasakan hati terluka. "Tapi sepertinya begitu, melihat dari kedekatan mereka." Dia segera keluar dari ruangan itu, Farhan ingin mengejar, tapi tangannya di cekal.
"Ingat janjimu," ucap Kira yang membuat Farhan tak bergeming. Dia segera keluar dari ruangan menuju tempat kerja, sangat menyukai kondisinya sekarang.
Ayu kembali terluka, tapi tak ingin menangis untuk hal yang dianggap percuma. Menghirup nafas segar sebelum melakukan pekerjaan, terpaksa menyelesaikan berkas yang tertunda.
Betapa terkejutnya Ayu saat tiba di meja kerja, seorang wanita yang duduk di kursinya. Dia segera menghampiri dan menatapnya tak suka. "Mengapa kau duduk di kursiku?"
"Apa? Aku pikir kau sudah mengundurkan diri, mengapa masih disini?" cibir Kira.
"Ya, tadinya aku ingin mengundurkan diri. Tapi aku sudah berubah pikiran, apa ada masalah dengan itu?"
Kira tersenyum saat melihat rivalnya dengan penuh prihatin, memainkan kursi bagai seorang anak kecil. Hal itu semakin menyulut emosi Ayu, untung saja dia bisa mengendalikan emosinya.
"Itu kursiku."
"Benarkah? Ini kursi yang sangat nyaman, dan aku menyukainya."
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Aku masih bekerja disini dan juga kursi itu milikku." Tegas Ayu yang tak ingin mengalah dengan mudah.
"Jika aku tak ingin beranjak dari kursi ini, apa yang akan kau lakukan?" tantang Kira yang tersenyum mengejek.