
Ayu menatap Farhan dengan melongo, dia tak terima dengan perkataan Farhan yang menginginkannya untuk kerja lembur.
"Apa kau gila?"
"Aku tidak akan mengulangi perkataan ku," cetus Farhan.
"Aku menolak untuk lembur." Tolak Ayu mentah-mentah.
"Setuju atau tidak setuju kau harus melakukan perkataan ku, karena di sini aku lah bosnya."
"Ck, kau selalu saja mengatakan itu, sangat menyebalkan?!" Ayu mengerucutkan bibirnya dan membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"Cepat hubungi pria itu dan katakan jika kau menolak untuk menerima ajakannya."
"Dia memanfaatkan jabatannya itu, benar-benar menyebalkan!" umpat Ayu yang cemberut sembari mengirimkan pesan singkat kepada Gabriel dan mengatakan jika dia sedang sibuk dan menolak ajakan dari selebriti terkenal. "Apa kau sudah puas sekarang?" Ketusnya dengan sorot mata yang tajam.
"Sangat puas."
"Aku permisi." Ayu pergi meninggalkan ruangan bosnya dengan sumpah serapah mengumpati bosnya yang menyusahkan. Farhan menatap punggung Ayu yang menghilang dari balik pintu dan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Aku memang jenius," gumam Farhan yang memuji dirinya.
Ayu kembali menuju departemen sekretaris dan menyelesaikan pekerjaannya, segera menyingkirkan rasa kesal dan melupakan kejadian yang baru saja dialami. Melihat layar laptop dengan fokus dan juga teliti, jari-jari yang terus menekan tombol keyboard.
Tak lama, asisten Heri datang untuk menyampaikan mandat dari atasannya, menghampiri Ayu yang terlihat bekerja keras. "Bos memanggilmu."
"Katakan saja kepadanya, jika aku sedang sibuk." Sahut Ayu dengan acuh.
"Ayolah, jangan mempersulit pekerjaanku." Tutur asisten Heri yang menghela nafas seraya mengusap wajahnya dengan kasar, menghadapi sikap Ayu yang keras kepala membuatnya bisa kehilangan pekerjaan.
Ayu mendengus kesal dan menatap asisten Heri dengan jengah. "Kenapa dia memanggilku lagi?" Cetusnya yang menatap asisten Heri dengan cemberut.
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya Nona hadapi saja tuan Farhan dan aku hanya menjalankan tugas darinya.
__ADS_1
" Baiklah, katakan kepadanya aku akan kesana."
"Hah, itu bagus. Akan aku katakan!" asisten Heri berlalu pergi, sementara Ayu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setengah jam kemudian, Ayu meregangkan otot tangannya yang kaku. Berdiri dari kursi setelah menyelesaikan pekerjaannya, berjalan menuju ruangan CEO, tak lupa dia mengetuk pintu. "Masuk." Jawab seseorang dari dalam ruangan. Setelah bosnya mempersilahkan untuk masuk, Ayu membuka pintu dan terlihat dengan jelas bahwa Farhan menunggunya. Tatapan pria itu menatapnya sangat tajam, membuatnya berpikir kenapa pria itu selalu saja membuatnya kesal.
"Kau membuat aku menunggu selama setengah jam." Ucap Farhan mendelik kesal sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, dia sangat jenuh menunggu kedatangan Ayu yang sangat lama.
"Maaf, aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu, ada apa?" Celetuk Ayu.
"Benarkah? Aku tidak melihat pekerjaan yang kau kerjakan itu." Seloroh Farhan dengan tatapan intimidasi.
"Aku sedang mengerjakannya, tapi kau memanggilku lagi untuk datang kesini!" Keluh Ayu jujur.
"Ck, jangan banyak alasan. Selesaikan pekerjaanmu dan serahkan kepadaku!" Tutur Farhan yang arogan.
"Iya, aku tahu dan akan menyelesaikannya." Ayu tersenyum, jauh di lubuk hatinya yang mengumpati Farhan. "Ingin sekali aku memukul kepalanya dengan keras, agar otaknya berjalan dengan normal," batinnya. "Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Sahutan Ayu yang tersenyum masam.
"Baiklah, selesaikan dengan benar, aku akan memantau pekerjaanmu dan melihat hasilnya."
Ayu yang belum menyelesaikan semua pekerjaannya, terpaksa menyerahkan beberapa dokumen kepada Farhan, dengan cepat pria itu mengambil dokumen dan melihat hasil kerja dari sekretaris nya. "Aku menyukai dokumen itu dari kesimpulan rapat tempo dulu, tapi aku butuh kau melaporkan dokumennya."
Ayu menghela nafas dengan kasar, menurutnya itu sangat tidak perlu di lakukan, tapi bosnya meminta untuk melaporkan kesimpulan rapat dengan perusahaan milik Raymond. Meskipun Ayu tahu bahwa Farhan sengaja mempersulit, tapi dia tetap menjelaskan hasil rapat dengan kesabaran penuh.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Farhan di sela-sela sekretaris nya yang menjelaskan hasil rapat.
Ayu menatap Farhan sepersekian detik. "Belum," jawabnya singkat, Ayu berkata jujur karena sedari tadi dia belum makan apapun karena sibuk bekerja.
"Ini sudah waktunya makan malam! Kau ikut denganku." Ajak Farhan yang melihat jam di tangannya. Ayu mengangguk kecil, karena perutnya yang keroncong.
Mereka pergi ke restoran kalangan orang kaya, manajer restoran dengan semangat menyapa Farhan yang menjadi pelanggan setianya. "Selamat datang Tuan, seperti biasa aku akan melayani dengan sangat baik." Ucap sang manajer dengan ramah, dia kaget untuk pertama kalinya melihat Farhan yang datang bersama dengan seorang wanita.
"Hem." Farhan tidak menghiraukan ucapan dari sang manajer, dia menarik tangan Ayu dan membawanya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Ayu yang jalan keluar tak sengaja melihat Gabriel, sang selebriti terkenal, sekaligus pria yang selalu mengharapkan cintanya. Ayu sangat terkejut, terlihat jelas di matanya, tetapi dengan cepat mengendalikan dirinya untuk tenang.
"Ya tuhan…ternyata dia ada di sini juga." Batin Ayu.
Tatapan Farhan dan Gabriel bertemu, pertemuan yang sangat mengejutkan bagi keduanya. Bagaimana tidak? Jika kedua pria itu dulunya adalah tetangga, hubungan mereka cukup dekat dan terlihat seperti sahabat.
"Gabriel?"
"Farhan?"
"Ya tuhan, ternyata itu kau?!" Gabriel tersenyum senang, memeluk sahabatnya, Farhan membalas pelukan dan melepaskannya. Sedangkan Ayu berusaha untuk menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya dan bersembunyi di belakang Farhan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gabriel dengan antusias.
"Aku baik, wajahmu tetap sama seperti terakhir kali kita bertemu."
"Kau juga, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Sangat baik," ujar Farhan yang tersenyum.
Gabriel melihat seorang wanita yang berada di sebelah sahabatnya, dan ini baru pertama kalinya dia melihat Farhan membawa seorang wanita. "Wanita itu sepertinya tidak asing," gumam Gabriel.
"Astaga…bagaimana ini?" Batin Ayu yang terjebak di antara kedua pria tampan itu.
"Jangan menatapnya begitu!" Cetus Farhan yang tidak menyukainya.
"Ck, kau ini. Aku hanya penasaran saja, karena sepertinya aku mengenal wanita di sampingmu."
"Mati aku, penyebab ini semua adalah Farhan." Umpat Ayu di dalam hatinya. Akar masalah itu adalah Farhan yang menggunakan jabatannya untuk kepuasannya sendiri.
"Dia adalah Ayu dan juga tunanganku," ucap Farhan yang memperkenalkan wanita di sampingnya. Dengan terpaksa Ayu keluar dari persembunyian nya, dan tersenyum kaku saat melihat Gabriel. Ayu tak menduga, jika Farhan dan Gabriel adalah sahabat.
"Ayu? Tunangan Farhan?" Batin Gabriel yang sangat terkejut jika wanita yang sangat dia cintai adalah tunangan dari sahabatnya.
__ADS_1
"Hai, aku Ayu Kirana." Ayu mengulurkan tangannya dan tersenyum manis, berpura-pura tidak mengenal Gabriel.