
Farhan sudah tidak sabar mengetahui kondisi sang kakek, berharap semuanya baik-baik saja. "Kenapa kau diam saja? Katakan bagaimana kondisi kakek!" desaknya.
Sang dokter menghela nafas, menepuk bahu Farhan. "Kondisi pasien kritis, dan segera dialihkan ke ruangan gawat darurat."
"A-apa maksudmu?"
"Jangan khawatir, saya akan berusaha dan melakukan dengan sangat baik."
Seketika kedua tungkai terasa lemas, mendengar kabar sang kakek yang kritis. "Itu tidak mungkin, coba kau periksa sekali lagi!" pinta Farhan yang tidak bisa mempercayainya.
"Berdoa lah agar pasien segera sembuh." Tutur sang dokter yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Farhan melangkah mundur, menjadikan dinding sebagai sandaran untuk punggungnya. Mengusap wajah dengan kasar, sangat terpukul mengenai kondisi sang kakek. Laras tersenyum saat mendapatkan kesempatan untuk mendekati sang pujaan hati, melangkahkan kaki menghampiri pria tampan yang terlihat patah hati.
"Jangan bersedih, kakek pasti baik-baik saja." Laras berpura-pura simpati, mengusap bahu pria itu dengan sangat lembut. Tapi, Farhan segera menepis tangannya dengan kasar, seluruh perhatiannya fokus akan kondisi sang kakek.
Dia terus berusaha untuk mendekati walau ditolak beberapa kali. "Aku tidak menduga, jika kondisi kakek separah ini. Jika saja Ayu tidak membatalkan pertunangan, mungkin sekarang kakek baik-baik saja."
"Sudah cukup!" sentak Farhan yang menatap Laras dengan tajam, dia tak ingin menambah beban lagi.
"Tapi, Kak. Aku hanya__."
"Diam!"
****
Keesokan harinya, Ayu terbangun dari tidurnya. Menghela nafas saat mengingat kejadian kemarin yang membuatnya sangat sakit hati, perkataan yang sangat tajam masih terngiang di telinganya. "Apa aku begitu buruk? Apa kecemburuanku tidak lagi berarti? Apa aku hanya sekedar pengganti dan dibuang setelah menemukan cinta pertamanya? Kenapa ini begitu sakit…sangat sakit." Monolognya dengan raut wajah yang sedih, kecewa dengan Farhan yang melupakan nya dengan sangat mudah, berubah saat bertemu dengan Kira.
Pikirannya buyar saat pintu terbuka lebar, terlihat seorang pria tampan yang membawa segelas air di atas nampan. Tersenyum khas menatapnya yang sudah bangun dari tidur. "Selamat pagi!" sapanya lembut seraya duduk di sisi ranjang dan menyodorkan segelas air mineral.
"Gabriel, kau disini?" Ayu menautkan kedua alisnya karena heran.
"Apa kau lupa? Ini rumahku!" Ungkap Gabriel tersenyum hangat. Ayu segera meneguk segelas air dan mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. "Mengapa aku bisa sampai ke sini?" tanyanya seraya menyusuri pemandangan dalam ruangan itu.
"Aku menemukanmu tergeletak pingsan seorang diri, untung saja kau baik-baik saja. Aku sangat mencemaskan dirimu." Jelas Gabriel.
"Apa aku terlihat separah itu!"
__ADS_1
"Aku sangat prihatin dengan apa yang terjadi."
"Terima kasih," sahut Ayu yang tersenyum sekilas.
"Jangan mengucapkan terima kasih, aku melakukannya tanpa pamrih."
"Tapi tetap saja, kau telah menyelamatkanku. Jika kau tidak ada, entah apa yang terjadi padaku!" ucap pelan Ayu sembari menundukkan kepala.
Gabriel menarik dagu Ayu dengan lembut, dan menatap manik mata indah. "Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padamu, aku selalu berada di sampingmu." Ucapnya meyakinkan.
Suasana menjadi hening beberapa saat, Gabriel sangat bersimpati dan prihatin melihat kondisi Ayu. Dia tidak tega, jika wanita yang dicintainya diperlakukan tidak adil oleh orang lain, kepedulian dan rasa cinta tak pernah berubah.
"Ya tuhan…bahkan perasaan ku kepada Ayu tak pernah berubah, tapi kenapa engkau tidak menakdirkannya untukku? Hatiku sakit melihatnya sangat menderita dengan perjodohan ini. Kenapa harus Farhan yang dia cintai, mengapa tidak aku saja!" batinnya yang berdoa dan berharap lebih. Namun itu tidak akan mungkin, mengingat di hati wanita itu hanya Farhan seorang.
"Gabriel sangat baik, tapi aku tidak bisa mencintainya layaknya sepasang kekasih. Cukup banyak orang yang terluka karena aku!" gumam Ayu di dalam hati.
Suasana hening segera dihentikan oleh Ayu, menatap mata pria di dekatnya dengan penuh harap. "Gabriel!" panggilnya yang membuat sang empunya menoleh.
"Iya, apa kau butuh sesuatu?"
"Aku masih sangat mengkhawatirkannya kondisi kakek, akulah penyebab kakek Hendrawan masuk ke rumah sakit. Bawa aku kesana!" pintanya dengan nada merengek.
"Hem, aku sangat yakin."
"Jika kau sangat yakin, aku bisa apa? Baiklah, tapi sebelum itu kita akan sarapan terlebih dulu."
"Aku setuju, kebetulan perutku sangat lapar."
"Ayo, sarapan sudah siap! Makan sebelum makanan menjadi dingin."
"Baiklah."
Ayu mengikuti langkah kaki Gabriel dari belakang, menatap punggung pria yang sudah menolongnya. Menuruni tangga menuju meja makan.
"Silahkan duduklah!" ucap Gabriel yang mempersilahkan wanita itu untuk duduk setelah menarik kursi.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Ck, jangan mengucapkan kata-kata itu lagi!" gerutu Gabriel yang pura-puta kesal.
"Apa dayaku yang sudah terbiasa," sahut Ayu dengan enteng dan tersenyum.
"Hah, akhirnya aku bisa melihat senyum itu terbit di pagi hari. Bahkan kilauan sinarnya melebihi matahari!" goda Gabriel yang tersenyum.
"Kau ini, tidak pernah berubah!"
"Bahkan cintaku juga tidak berubah, walau aku berusaha dengan semaksimal mungkin," gumam Gabriel yang menarik kursi untuk dirinya.
"Kau mengatakan sesuatu?" ucap Ayu yang hanya mendengar samar.
"Aku sedang menghafalkan lirik lagu."
"Hem."
****
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ayu membaca berita seperti biasa lewat ponselnya. Semua berita berita pembatalan pertunangannya dengan Farhan, begitu banyak komentar pedas yang ditujukan padanya, sebuah berita tersebar luas di internet. Dia juga sedih saat menemukan berita lain, yaitu kembalinya cinta pertama Farhan yang bernama Kira, beserta tertera foto wanita itu.
Hatinya kembali terluka dengan berita itu, begitu banyak netizen yang mengumpatnya, dan semua itu dari fans Kira yang lebih mendukung hubungan itu.
Gabriel segera merampas ponsel milik Ayu dan menyimpannya. "Kau akan terluka jika melihat berita tak berguna itu!" cetusnya sembari fokus ke jalanan.
Ayu terdiam dan tidak ingin melawan, membuka jendela mobil dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Hingga tak menyadari jika mereka sudah sampai ke rumah sakit.
"Kita sudah sampai!"
Ayu segera menoleh, membuka pintu mobil dan segera turun, melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, begitu banyak cibiran dan sindiran keras padanya. Gabriel sangat geram dan memarahi mereka yang berani menghina wanita yang dicintainya. "Ingin sekali aku menjahit mulut mereka!" umpatnya kesal.
"Jangan hiraukan mereka, karena aku juga tidak peduli! Yang terpenting adalah kakek." Cekal Ayu.
"Hah, jika kau mengatakan seperti itu. Aku bisa apa?" pasrah Gabriel yang membuat Ayu terkekeh.
Ayu langsung pergi ke bangsal kakek Hendrawan dirawat, tapi melihat beberapa orang yang menjaga tempat itu. Dia tak menghiraukan dan mempermasalahkan, karena saat ini dia bisa melihat kondisi Hendrawan.
Usaha cukup keras baginya untuk bisa sampai di depan pintu, baru saja ingin membuka pintu, tangganya di cekal oleh dua orang wanita.
__ADS_1
"Kau tidak boleh masuk!" ketus Laras, sedangkan Wina tersenyum miring.