Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 214 ~ Bisakah kembali seperti dulu?


__ADS_3

Ayu mendelik kesal dengan pertanyaan yang diberikan oleh Farhan kepadanya, dia tidak tahu mengapa tiba-tiba pria itu seakan posesif padanya, cemburu yang tidak beralasan. Tak bisa menjawab, bukan berarti dia mempunyai hubungan dengan Gabriel yang sudah di anggap sahabatnya. 


Farhan masih saja menunggu jawaban akan dikatakan oleh wanita di sebelahnya, kedua manik mata yang berharap akan jawaban yang dia inginkan. Pertanyaan belum juga dijawab, membuatnya sangat jenuh juga kecewa secara bersamaan. "Kau dia berarti iya?" ucapnya dengan penuh hati-hati.


"Terserah, jika menyimpulkannya itu padaku."


Farhan menahan tangan Ayu, keduanya saling bertatapan yang bertolak belakang. "Aku ingin mendengarnya langsung darimu, hubunganmu dengan Gabriel dan juga perasaanmu yang sebenarnya."


"Gabriel hanya sahabatku, tidak lebih dan tidak kurang. Walaupun dia telah menyatakan perasaannya berkali-kali padaku, aku menghargainya sebagai seorang teman."


"Bohong, kau bohong."


"Ck, aku mengatakan yang sebenarnya, tapi kau malah mengatakan aku berbohong. Aku sudah menjelaskannya, jika kau tidak percaya? Itu bukanlah urusanku." Ayu mencoba untuk menghempaskan tangan yang memegang tangannya. Dia sangat kesal dan memutuskan untuk pergi, seharusnya dialah yang bertanya hubungan pria itu dengan Kira, tapi yang terjadi saat ini salah. 


Untuk menghindari Farhan, Ayu masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong membuatnya senang akan privasi yang terjaga. Baru saja pintu tertutup, tapi seseorang malah menerobos masuk. "Untung aku datang tepat waktu," gumamnya yang berdiam di dalam lift.


Ayu memundurkan langkahnya, menyandarkan punggung di belakang, sambil menunggu pintu lift terbuka. Dia memainkan ponselnya untuk meredakan hatinya, bermain teka teki silang sudah mengurangi sedikit bebannya. Farhan segera memundurkan langkah, saat dia melirik wanita di belakangnya yang selalu tersenyum saat menatap layar ponsel. "Aku pikir dia sedang berkirim pesan pada Gabriel, ternyata bermain game." Batinnya yang menganggukkan kepala.


Ayu menyadari, jika ada seseorang yang meliriknya. "Kau sangat cocok menjadi jerapah, mengintip menggunakan leher panjang mu," cibir nya yang mengejek.


Farhan gelagapan karena sudah ketahuan, memijat pelipisnya yang tidak merasa sakit, dia sedikit malu jika wanita yang tak berada jauh darinya mengetahui gerak-geriknya. "A-aku tidak melihat apapun," elaknya.


"Dan aku tidak percaya," sahut Ayu yang menyipitkan kedua matanya menatap pria di sebelahnya, berjalan mendekati juga menelisik. 


"Kau terlihat seperti detektif saja," ujar Farhan yang sedikit gugup.

__ADS_1


"Sepertinya kau berbohong, katakan saja kau penasaran mengenai ponselku." 


"Ti-tidak, leherku sakit dan mencoba menggerakkan-gerakannya agar lebih rileks." Farhan langsung memperagakan lehernya yang sedikit sakit, dalam artian sakit karena melihat apa yang terjadi di ponsel milik mantan calon tunangannya.


Ayu mendekatkan wajahnya, mereka sangat dekat. Gerakan jantung yang memompa lebih cepat, serta keduanya saling bertatap mata. Tiba-tiba terjadi guncangan yang menyebabkan lift mati dan tidak berjalan, macet dalam ruangan. Farhan segera menahan tubuh sekretarisnya dengan cepat, memeluk wanita itu yang sekarang dalam dekapannya. 


Ayu sangat takut dengan lift yang tiba-tiba mati, kadar oksigen seakan terputus di saat lampu tiba-tiba mati. Ketakutannya bertambah kali lipat saat melawan phobia akan kegelapan, pikirannya tidak bisa berpikir jernih jika berhadapan dengan kegelapan. "Astaga…mengapa ini terjadi?" gumamnya yang terdengar oleh Farhan.


Farhan memeluk Ayu dengan sangat erat, memberikan rasa nyaman di hati wanita itu. "Tenanglah, aku masih ada di sini." Ucapnya sembari membelai rambut panjang yang terurai.


Ayu merasakan dadanya sesak, seakan di ruangan sempit tidak ada pasokan udara. Jantung berdetak lebih cepat, dan keringat dingin di dahinya, juga wajah yang mulai pucat. Tubuh yang bergetar hebat dapat dirasakan oleh Farhan yang mencoba untuk menenangkannya. Mencoba untuk mengecek kondisi lift yang mati secara tiba-tiba. "Sedikit terjadi masalah, sebentar lagi lift berjalan dengan normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" jelasnya.


Dengan peristiwa seperti ini, mengingatkan Ayu akan kejadian lalu yang juga membuatnya sangat takut. Seakan kejadian itu masih saja menjadi momok menakutkan, dimana lampu di kantor mati membuatnya tak bisa berkutik saat ponsel juga kehabisan daya. Farhan mengingat bagaimana raut wajah dari sekretarisnya di saat itu dan pasti saat ini juga merasakan hal yang sama. 


Kedekatan mereka membuat Farhan berharap lebih, mengenai hubungan mereka yang semakin menjauh. Dia menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, bertanya mengenai mereka berdua. "Apa kau boleh kembali seperti dulu? Maksudku kau dan aku." Ucapnya dengan penuh harap, dia mencintai Ayu dan ingin memperbaiki hubungan keduanya. 


"Bagaimana? Apa kau setuju?" seru Farhan dengan mata berbinar.


"Jangan mengatakan kata tabu itu, apa kau juga mengatakan cinta pada Kira? Jangan menjadi egois dengan rakus memiliki keduanya." Ayu menjelaskan jika pria itu juga menyukai Kira dan curiga jika Farhan ingin menjadi playboy. 


Farhan ingin menjelaskan, tapi lift kembali bergerak normal dan berhenti di lantai bawah. Ayu segera keluar dari tempat itu, bernafas lega karena list membaik, dia pergi meninggalkan atasan nya yang masih berada di dalam. 


Ayu berjalan dengan tergesa-gesa, tatapannya tak sengaja melihat pria tampan yang tengah menunggunya. "Apa kau baik-baik saja?" 


"Aku baik."

__ADS_1


"Masuklah kedalam mobil!" Gabriel membukakan pintu, membantu wanita itu untuk masuk. Ayu menganggukkan kepala dan masuk tanpa menoleh ke belakang. 


Adi menemukan Laras yang tengah menatap interaksi Farhan kepada rivalnya, dia sangat kesal karena wanita itu selalu saja maju satu langkah kedepan. Hatinya bergemuruh, terasa panas dengan kedekatan keduanya. "Apa kelebihan wanita kampung itu? Dia tidak lebih hanyalah sampah!" gumamnya yang meremas jari-jarinya.


"Aku bisa membantumu menyelesaikan wanita itu," tuturnya membuat Laras menoleh.


"Paman? Sejak kapan berdiri di belakangku?" jawabnya penasaran.


"Sejak kau memperhatikan Farhan dan wanita itu."


"Hem."


"Wanita itu sangat mengganggu 'bukan? Dia adalah penghalang antara kau dan Farhan, sebaiknya kau menyingkirkan benalu itu." Adi mencuci otak Laras dengan kelicikannya, dia tahu jika Laras menyukai Farhan udah lama.


"Entahlah, seluruh rencanaku selalu saja gagal dan malah berbalik," sahut Laras yang tak yakin dengan pembalasan apa yang cocok untuk rivalnya. 


"Itu sangat mudah, dan aku bisa membantumu untuk menyingkirkan wanita itu." 


Laras sangat tertarik dan menoleh dengan mata yang penuh semangat. "Paman yakin ingin melakukan ini untukku?" 


"Tentu saja, tapi harus ada timbal baliknya."


"Aku tidak mengerti," Laras tampak berpikir karena tidak memahami maksud dari Adi, anak angkat kakek Hendrawan.


Adi tersenyum. "Bekerja sama denganku!"

__ADS_1


"Baiklah, aku menerima kerjasama itu." Sambar Laras tersenyum tipis.


__ADS_2