
Aluna menatap Ruo dengan meminta simpati, dia tidak menyetujui perjodohan yang sangatlah konyol itu, apalagi pria yang akan dijodohkan dengannya adalah kekasih sewaan. "Aku tidak bisa menikahi Mars, jangan langgar kesepakatan yang telah kita buat, Bi. Aku telah membawa pria yang akan menjadi calon suamiku, dan aku sangat mencintai Leon." Ucapnya yang berterus terang, memupuskan harapan pria pilihan bibinya untuk tidak mengharapkan hubungan.
"Tidak bisa, pria playboy itu hanya akan menyakitimu saja. Sebaiknya kau menikah dengan Mars, dia pria dan juga suami yang sempurna untukmu. Bibi sudah lama mengenalnya, jadi percaya jika kalian menikah pasti sangat bahagia."
"Yang menikah itu aku, Bi. Jadi biarkan aku yang memilih jalan hidupku sendiri, dan aku akan menanggung semua konsekuensinya." Perkataan Aluna yang sangat yakin dengan pilihannya sendiri, dia tidak ingin menikahi pria lain.
"Beri aku waktu untuk membuktikan diriku, aku sangat mencintai Aluna. Aku akui jika masa laluku sangatlah buruk, tapi perasaan cintaku sangat tulus. Bisa kita bicara empat mata? Aku tidak ingin Bibi salah paham lagi denganku."
Ruo menghela nafas dan mengangguk, bisa melihat kesungguhan di hati Leon. "Baiklah." Mereka pergi meninggalkan Aluna dan Mars yang masih terdiam.
Aluna memainkan ponselnya dan membalas pesan dari temannya, tidak merasa perlu untuk mengobrol dengan pria yang sedari tadi memperhatikannya. "Apa kurangnya aku?" tanya Mars yang membuka suara.
Aluna menarik perhatiannya ke sumber suara. "Karena aku mencintai Leon, cinta kamu murni dan tidak bisa dipaksakan. Masih banyak wanita lain di luar sana, jadi lupakan perjodohan itu."
Mars merasa patah hati mendengarkan perkataan dari Aluna, dia tidak bisa mendengar kata penolakan yang artinya sama saja menginjak-injak harga diri yang di bangun selama ini. "Aku bahkan lebih baik darinya, apa yang kau harapkan dari Leon?"
Aluna kesal dan meletakkan ponselnya ke atas meja, menatap pria itu dengan tajam. "Aku mencintainya, jangan mencoba untuk membandingkan dirimu dengan Leon."
Tak lama, Ruo dan Leon kembali bergabung dengan dua orang yang terdiam saat melihat mereka.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Leon yang menunjuk Mars, dengan cepat Aluna menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mars yang sangat penasaran, dia menatap wanita paruh baya untuk meminta penjelasan.
"Jadi keputusanku sudah final, aku memberi Aluna dan Leon restu untuk menikah."
Betapa terkejutnya Mars yang merasa dirinya dipermainkan oleh mereka, rahang yang mengeras dan sorot mata bak elang menerkam mangsa. Kali pertama mendapatkan penghinaan yang begitu besar, dari wanita paruh baya beralih simpang. "Lalu, bagaimana denganku?"
Ruo mendekati Mars, dia tidak bisa menolak Leon setelah berbicara empat mata. "Aku tahu kau kecewa dengan hasil keputusanku, tapi inilah yang terbaik. Aku ingin kau berbesar hati menerima segalanya," bujuknya.
"Apa ini semua candaan? Kau telah mempermainkanku dan kalian semua sudah menginjak harga diriku." Wajah merah padam, marah dengan keputusan Ruo yang hanya menjadikannya boneka dan memberikan harapan palsu.
"Aku ingin kau tidak salah mengartikan ucapanku, kau dan Aluna tidak sejalan."
"Tidak sejalan? Wah Bibi, kau merubah keputusanmu dalam beberapa menit saja. Mempermainkan aku dan juga mengkhianatiku." Tukas Mars yang sudah tidak tahan lagi, amarah yang hendak meluap tak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Sebelum melangkah pergi dari tempat yang tidak menerimanya, dia menatap wajah Aluna lekat dan pergi tanpa berpamitan.
Wajahnya begitu dingin, pergi dari tempat itu dengan perasaan yang penuh amarah. "Ini sebuah penghinaan yang tidak bisa aku abaikan saja, lihat apa yang akan aku lakukan." Batinnya yang menarik kedua sudut bibir ke atas.
Sementara ketiganya terdiam melihat kepergian Mars yang menghilang dari pandangan. "Aku sangat yakin, dia pasti merencanakan sesuatu." Gumam Leon yang terdengar oleh dua wanita di sebelahnya.
"Kenapa Bibi tiba-tiba saja menerima hubungan kami dan merestuinya? Bukankah sebelumnya menolak?" Aluna ingin meminta penjelasan dari wanita paruh baya yang tersenyum ke arahnya.
"Karena tidak ada yang bisa memilikimu selain aku, dan juga tidak ada pria yang cocok denganmu selain aku." Sela Ruo yang tersenyum.
"Bisakah kalian mengatakannya padaku?" Aluna masih bingung, situasi yang berbanding terbalik berputar begitu cepat.
"Aku salah mengenali Mars, ternyata dia adalah mafia berdarah dingin. Bibi tidak ingin jika kau menikahi seorang penjahat sepertinya." Jelas Ruo yang sangat takut, untung saja Leon mempunyai bukti mengenai identitas pria itu.
__ADS_1
"Ma-mafia? Bagaimana jika dia membalas rasa sakit hatinya itu?" Aluna menelan saliva dengan susah payah, mengingat dirinya dalam bahaya besar.
"Kau tenang saja, dia tidak akan berani mengganggumu. Ada aku yang selalu berada di sisimu," Leon tersenyum dan sangat gemas melihat ekspresi ketakutan dari Aluna tapi dia juga tidak bisa mengabaikan dengan balas dendam Mars yang sebentar lagi akan dimainkan. "Aku harus meminta bantuan Farhan, cukup sulit menangani pria itu sendirian." Ucapnya di dalam hati.
Ketiganya memutuskan untuk melupakan hal yang menegangkan dan mulai membicarakan lamaran untuk keduanya bersatu. "Jadi, kapan kau akan mengundang keluargamu untuk melamar keponakan yang sudah aku anggap seperti putriku sendiri?"
"Besok pagi aku akan membawa keluargaku untuk melamar, mengenai Mars tidak perlu dicemaskan aku yang akan menyelesaikan permasalahan itu hingga ke akarnya." Sahut Leon yang bisa merasakan kekhawatiran dari dua orang wanita yang tak jauh darinya. "Aku akan mengerahkan beberapa pengawal untuk berjaga tempat ini, aku pastikan pria itu tidak bisa menerobos keamanan."
"Baiklah, aku percaya." Ruo tersenyum senang, tugasnya sebentar lagi akan selesai. Hutang kepada mendiang kakaknya hampir menyelesaikannya. "Aku mengharapkan kebahagiaan Aluna sesuai dengan amanat dari kakak, merawat putrimu dan mengantarkannya perjanjian pernikahan." batinnya segera menyeka air mata, hampir saja diketahui orang lain. Dia terlihat tegas di luar, tapi sangat rapuh di dalam. Kepergian kakak dan kakak iparnya saat kecelakaan pesawat dan suami juga pergi meninggalkannya akibat gagal jantung. Hidup yang begitu kesepian, keluarga yang di miliki saat ini hanyalah keponakannya.
"Aku harus pergi untuk mengabarkan hal yang membahagiakan ini kepada keluargaku, aku pamit dulu!"
"Hem, hati-hati."
"Jaga dirimu baik-baik! Bi, aku titip calon istriku. Jangan sampai dia keluyuran," kekeh Leon yang pergi meninggalkan tempat itu.
"Akan aku usahakan," jawab Ruo yang menganggukkan kepala, tersenyum saat pria itu hendak pergi.
Di sepanjang perjalanan, senyum di wajah Leon tak pernah pudar sedikitpun, memikirkan dirinya yang akan melepas masa lajang dengan wanita pilihan ternyata pilihan dari kakeknya itu sangat tepat. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan menghubungi Farhan untuk menceritakan kebahagiaannya.
"Halo."
"Iya, ada apa?"
"Aku sangat senang hari ini."
"Lalu? Apa hubungannya denganku?"
"Ya, baiklah."
"Aluna dan bibinya telah menerima lamaranku, dan aku ingin kalian datang ke rumah mereka untuk membicarakan pernikahan."
"Wah, akhirnya kau sudah sadar sekarang? Itu bagus, aku akan mengatakannya pada kakek Tirta, dialah yang mendambakan hubungan itu."
"Aku hanya menyuruhmu untuk mendengarkan saja. Jangan melakukan apapun, akulah yang akan mengatakannya kepada kakek."
"Yayaya…aku akan menutup mulutku."
"Itu bagus."
Sambungan telepon terputus secara sepihak, Farhan melihat layar ponselnya dan kembali meletakkannya di atas meja. "Dasar pria aneh," gumamnya yang kembali berkutat dengan laptop.
Sesampainya di Mansion Hendrawan, dia bergegas masuk ke dalam dan berteriak memanggil nama kakeknya. Dia tahu jika sang kakek sedang bermain catur bersama Hendrawan, mereka menyerahkan seluruh pekerjaan kepadanya dan juga Farhan.
"Kakek," pekik Leon yang berteriak.
"Apa kau pikir aku ini tuli? Ada apa berteriak? Kau merusak konsentrasiku. Akibat suara keledai mu itu membuatku kehilangan kuda poni." Tirta sangat kesal melihat senyum kemenangan dari sahabatnya.
__ADS_1
"Tanpa berteriak pun kuda mu akan dimakan oleh sang ratu." Cibir Hendrawan.
"Ck, jika saja Leon tidak berteriak. Aku tidak akan kalah darimu," sombong Tirta yang mengajukan kedatangan dari cucunya.
"Kau bahkan kalah dua kali."
"Ronde ketiga akan menjadi milikku dan mengalahkanmu."
"Berhentilah bermain catur, ada hal yang lebih penting dari itu." Leon menghela nafas dengan jengah, bagai dirinya tak terlihat dan mencoba untuk menampilkannya dengan sebuah berita yang sangat penting.
"Apa yang lebih penting dari catur?" Tirta menganggap remeh ucapan dari cucunya, apalagi Leon hanya membahas masalah pekerjaan kantor yang begitu membosankan.
"Ini bukan masalah lah pekerjaan, tapi masalah hubungan seumur hidup." seakan kalian mengerti dengan jalan pikir kakeknya menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan juga tidak ingin berlama-lama. Dengan sengaja dia menutup papan catur untuk menarik perhatian.
"Ada apa denganmu?" keluh Hendrawan.
"Aku ingin kalian semua mengunjungi kediaman bibirmu untuk melamar Aluna menjadi istriku, besok pagi."
"Apa kau bercanda?" Tirta tidak bisa menutupi dirinya begitu bahagia akhirnya cucu pertamanya akan menikah, dua sorot mata yang menatap dengan nanar, begitu harapan dikabulkan menjadi kenyataan sangatlah membahagiakan.
"Tidak, tapi ada satu masalah."
"Masalah apa?" tanya Hendrawan dan juga Tirta, takut terkena jebakan Batman dari Leon.
"Bukan hanya aku, ada pria lain yang juga menginginkan calon istriku itu. Dia seorang mafia berdarah dingin yang tidak kenal ampun, aku sangat yakin jika Mars akan menuntut balas dengan apa yang terjadi padanya. Aku ingin jika dua kekuasaan dari kakek Hendrawan dan juga kakek Tirta menolongku untuk mengatasi hal ini." Kata Leon yang begitu dalam memperjuangkan cinta.
"Tidak masalah, kita akan mengatur strategi dalam memperkuat sistem keamanan."
"Itu pasti, Kek."
Setelah pembicaraan selesai, Leon memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan memeriksa keponakan kembar tiga yang menjadi semangat dan pengobat rasa lelah setelah bekerja, memanggil mereka dengan iming-iming sebuah hadiah. Seketika dia melihat dua anak laki-laki yang tengah bersembunyi di balik pintu, berpura-pura tidak tahu dan mengagetkannya. namun hal itu di luar dugaannya di saat menarik pintu tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya hingga wajahnya dipenuhi oleh tepung, dia sudah menduga jika pelakunya adalah Abi dan juga Adit. "Jangan lari kalian!" perginya yang melihat dua burung kecil yang berlari menjauh serta mendengar suara cekikikan.
"Sial, aku dikerjai oleh dua bocah ubur-ubur." demamnya yang segera membersihkan jas dan juga rambut yang dipenuhi tepung.
"Aargh…setan." Pekik Flo yang tak sengaja melihat wajah Leon yang dipenuhi tepung. Dia segera berlari dan berteriak memenuhi ruangan, sehingga suasana menjadi heboh.
****
Mars memukul samsak dengan sekuat tenaganya, bertujuan meluapkan emosinya. Dia teringat dengan ucapan Ruo yang berkhianat, selama ini tidak pernah bisa menerima kekalahan walau sekecil apapun
Hati yang diselimuti oleh rasa dendam dan kobaran api pembalasan.
"Aku ingin kalian melakukan tugas dengan sangat baik, bawa Aluna padaku!"
"Baik Tuan, kami akan segera melaksanakan perintah."
Mars segera menghentikan aktivitasnya dan mengambil handuk kecil mengelap keringat yang membasahi tubuhnya. mengambil sebotol air mineral dan meneguknya, senyuman di wajah terlihat jelas oleh beberapa pria berbadan kekar yang mengenakan setelan jas hitam. bisa dipastikan jika beberapa orang yang berdiri tak jauh darinya merupakan pengawal setia dan juga pasukan elit dari aliansi mafia.
__ADS_1
"Jika Aluna tidak bisa menjadi milikku, maka pria lain juga tidak bisa memilikinya." Gumamnya yang tersenyum licik, telah merencanakan sesuatu hal yang luar biasa.
Dia berjalan menuju cermin besar dan menatap dirinya, sangat membanggakan diri dan meremehkan kemampuan dari lawan.