
Perasaan yang kalut saat tidak ada sambungan telepon, sangat khawatir dan juga panik. Ayu terus mencoba untuk menghubungi Farhan, tapi hasilnya tetap nihil. "Apa dia sibuk? Dan kenapa dia sengaja mematikan ponselnya? Apa yang terjadi?" monolognya yang sangat ketakutan.
Hati yang diselimuti rasa kegelisahan tampak jelas terlihat dari raut wajahnya, bahkan sedari tadi sang manajer memperhatikan nya. "Ada apa?" celetuknya yang sangat penasaran.
Ayu menghela nafas panjang, menatap wanita yang berada tak jauh darinya, tatapan berbinar cemas. "Farhan mematikan ponselnya!" ketusnya yang berusaha menutupi perasaannya.
"Wah…wah, baru saja kalian berpisah dan kau sudah merindukannya?" goda sang manajer.
"Kau salah paham denganku, aku sangat mencemaskan dirinya. Perasaanku sedikit khawatir dan bayangan Farhan terus melintasi pikiranku." Jelas Ayu.
"Benarkan? Apa cinta mu sudah berkembang sangat besar?"
"Sepertinya begitu, aku sangat khawatir padanya. Ini tidak seperti biasanya dia mematikan ponsel."
"Kau tenang saja, siapa tahu dia mempunyai urusan lain yang tidak bisa di tinggal."
"Dengan sengaja mematikan ponselnya?" cetus Ayu yang sangat kesal di posisi itu.
"Sudahlah! Kau tidak perlu khawatir. Berpikirlah positif dan tetap optimis, percayakan ini semua kepada yang di atas." Sang manajer mencoba menenangkan bosnya.
"Kau benar, semoga dia baik-baik saja."
"Itu bagus."
Ayu menatap ponselnya seraya terduduk di sebuah sofa yang sudah tersedia di sana, berharap jika Farhan menghubunginya. Cukup lama dia berada di sana, bahkan kedua mata terus berharap. "Kenapa dia belum menghubungiku? Pekerjaan apa yang membuatnya sangat sibuk dan tidak sempat menelepon." Batinnya seraya menghela nafas.
Ayu kembali berpikir dan merasa ada yang aneh, karena Farhan tidak pernah melakukan itu sebelumnya. "Tidak seperti biasanya dia seperti ini, sebaiknya aku menghubungi asisten Heri." Monolognya seraya menghubungi sang asisten calon tunangannya sangat antusias.
"Halo!"
"Halo, ada apa nona menghubungiku? Ada yang bisa dibantu?"
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa Farhan mempunyai pekerjaan penting di kantor?"
"Sedari tadi aku menunggu kedatangan tuan Farhan, tapi sampai sekarang tak melihatnya di kantor."
"Benarkah?"
"Tidak ada untungnya aku berbohong, nona."
"Ya sudah, aku hanya ingin menanyakan itu. Terima kasih!"
"Sama-sama, nona."
Lagi dan lagi Ayu menghela nafas panjang sembari memutuskan sambungan telepon, pikirannya terus saja di penuhi Farhan yang tak tahu ada di mana. "Bahkan dia juga tidak ada di kantor, lalu kemana dia pergi?" gumamnya yang sangat penasaran.
Kembali fokus pada ponselnya, menghubungi seseorang yang sangat terpercaya menyampaikan informasi. Mencari nomor kontak seorang hacker, ingin mengetahui kemana pria itu pergi.
"Halo."
__ADS_1
"Ada yang bisa aku bantu, nona?"
"Itulah sebabnya aku meneleponmu."
"Kau tega sekali padaku, menelepon hanya saat membutuhkanku saja. Sungguh terlalu!"
"Hah, kau ini! Aku membutuhkan jasa dan keahlianmu dalam meretas."
"Katakan saja!"
"Aku ingin kau melacak keberadaan Farhan!"
"Melacaknya? Apa sekarang kau mulai mencurigai nya?"
"Kau terlalu cepat menyimpulkan tanpa berniat mengetahui lanjutannya."
"Aku hanya bercanda, kenapa kau menganggapnya serius."
"Kau bercanda di saat yang tidak tepat, aku sekarang tidak ingin mendengar lelucon mu."
"Apa dayaku sekarang!"
"Aku ingin kau segera melacaknya, dan seperti biasa aku akan mentransfer ke rekeningmu."
"Kau sangat mengerti aku, baiklah! Beri aku waktu tiga sampai lima menit untuk melacaknya."
"Astaga…itu sangat lama! Apa kau ingin aku lumutan menunggunya di sini!"
"Ck, jangan banyak bicara!"
"Aku tengah bekerja sambil menemanimu yang sangat bosan disana."
"Ya sudah, terserah kau saja."
Lima menit kemudian, Ayu masih menunggu jawaban dari rasa penasarannya. Dia sangat panik dan berpikir yang tidak-tidak mengenai keselamatan Farhan. Ponsel yang masih menyentuh telinga dan mendengarkan pria di seberang sana berbicara panjang lebar. "Ini sudah lewat dari menitnya!" ketusnya yang sangat panik.
"Aku sedang berusaha, kau tidak perlu khawatir."
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, perasaannya tidak tenang."
"Akan aku usahakan."
Ayu yang panik juga dirasakan sang hacker dan melakukan pekerjaan sesuai porsinya. Beberapa menit kemudian, dia menemukan lokasi Farhan dna segera mengatakannya lewat telepon yang masih tersambung.
"Aku sudah menemukannya!"
"Ya, katakan dimana dia berada!"
"Farhan ada di rumah sakit yang tak jauh dari kantor HR Grup."
__ADS_1
"APA? Ru-rumah sakit?"
"Benar, dia ada di sana."
"Baiklah terima kasih atas jasamu."
"Sama-sama, jangan lupa bayaran ku."
"Tentu."
Ayu memutuskan sambungan telepon dan mentransfer sejumlah uang untuk membayar jasa sang hacker, segera menghampiri sang manager yang tak berada jauh darinya. "Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang juga!"
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Farhan ada di sana, aku tidak tahu apa pun selain itu."
"Baiklah."
Ayu yang terlihat panik juga membuat managernya ikutan panik, mereka segera bergegas untuk mencegat taksi. Tak butuh waktu yang lama, hingga taksi berhenti di hadapan mereka, keduanya masuk kedalam dan memberikan alamat kepada sang supir.
"Berapa lama menuju ke rumah sakit itu, Paman?"
"Sekitar lima belas sampai dua puluh menit dari sini, kenapa Neng?"
"Bisakan kecepatan taksinya di tambah lebih cepat? Aku harus sampai ke sana."
"Akan saya usahakan."
Ayu terdiam dan mengalihkan pandangannya, melihat suasana jalanan dari luar jendela mobil. Berusaha untuk menenangkan pikiran yang sangat cemas, hati yang berdegup lebih cepat semakin membuat suasana hatinya tak bisa terkendali dengan sempurna.
****
Sementara di rumah sakit, Farhan duduk di kursi samping pasien, menatap wajah wanita yang berbaring di atas brankar. Pikirannya kembali bernostalgia mengenai hubungannya dengan gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupnya, masa lalu seakan hadir kembali di saat hubungannya bersama Ayu sangat dekat.
"Siapa wanita ini sebenarnya? Bahkan tanda lahir dia dan Kira juga sama. Apa mereka juga orang yang sama?" batinnya yang terus memikirkan hubungan wanita yang tengah terbaring lemah dengan dewi penolongnya.
Lamunannya buyar sat melihat kedua mata yang terpejam itu terbuka dengan perlahan, menyusuri pandangan di dalam ruangan itu. "Aku dimana?"
"Kau berada di rumah sakit."
Wanita itu menoleh ke asal suara dan memeluk pria tampan di sebelahnya dengan erat, sangat terharu dengan pertemuan mereka. Sedangkan Farhan hanya terdiam dan melepaskan pelukan itu. "Akhirnya aku menemukanmu, Farhan."
"Hem," sahut Farhan dingin.
"Kenapa kau sangat dingin pada ku? Aku Kira! Apa kau sudah melupakan aku?" ucap wanita itu dengan mata yang sendu.
"Aku tidak bisa mempercayainya!"
Wanita itu meneteskan air mata dan menangis, dengan cepat dia menyeka bulir bening. "Aku Kira! Pertemuan pertama kita saat di culik dan aku menolongmu. Apa kau tidak mengingatnya? Bahkan, setiap perkataanmu aku masih mengingatnya dengan sangat jelas."
__ADS_1
Dia menceritakan masa kecil yang pernah mereka lalui bersama. Banyak bukti yang diberikan, namun Farhan masih ragu.