Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 57 ~ Lambe turah asisten Heri


__ADS_3

Farhan membantu Ayu untuk duduk. "Kau jangan terlalu banyak bergerak," ucap Farhan yang tak menghiraukan ucapan Ayu.


"Kenapa aku bisa di sini?" Lirih Ayu yang memegangi kepala yang terasa berdenyut.


"Kau tiba-tiba saja pingsan dan membawamu kesini."


"Pingsan?" Ayu mengerutkan keningnya sambil menatap pria tampan di sebelahnya.


Farhan mengangguk pelan. "Itu benar, apalagi saat melihat noda darah di pakaian belakangmu!" Jujurnya dengan polos. Sontak hal itu membuat Ayu membelalakkan kedua mata, seakan jarum jam berhenti berdetak.


"Jangan katakan jika kau__" Ayu tidak melanjutkan perkataannya, karena itu sangat memalukan bagi seorang wanita sepertinya.


"Itu benar, dan aku juga memanggil dokter untuk memeriksamu." Sahut Farhan membenarkannya.


Ayu menoleh menatap pria tampan dengan jas putih yang sedang tersenyum ke arahnya, menepuk keningnya pelan saat mengetahui kebodohan dari bos sekaligus calon tunangannya itu. "Pria ini benar-benar membuat kesabaran ku habis, apa dia harus memanggil dokter karena masalah sepele ini! Dan apa ini? Wajahnya terlihat sangat polos, membuat aku ingin mencakar wajah tampannya hingga menjadi jelek." Umpat Ayu di dalam hati, menahan kemarahan akibat bos nya yang sangat bodoh.


"Hem, sebaiknya aku harus pergi. Suasana di sini membuatku merinding." Celetuk Reffan yang sangat mengerti dengan situasi yang ada di hadapannya, bahkan dia juga mengumpat Farhan dengan wajah polos dan sangat bodoh.


"Maju selangkah lagi, kau akan kehilangan pekerjaan mu." Ancam Farhan datar.


"Untuk apa aku di sini? Pekerjaan ku sudah selesai." Reffan mendengus kesal dengan temannya yang menggunakan kekuasaan.


"Periksa dia sekali lagi," Titah Farhan.


"Tidak, sebaiknya dokter pergi saja. Jangan hiraukan perkataan nya!" Tolak Ayu dengan cepat atau Farhan akan semakin membuatnya kesal.


"Biarkan dia memeriksa."


"Tidak!" Tolak Ayu dengan tatapan tajam ke arah Farhan.


"Hah, jangan berdebat! Dia tidak apa-apa, sebaiknya aku pergi." Reffan berjalan dengan tergesa-gesa dan tidak berniat untuk menoleh ke belakang, yang terpenting baginya adalah keluar dari situasi itu.


"Huf…syukurlah jika aku bisa terbebas di tempat itu." Gumam Reffan yang mengelus dada dengan lega.


Ayu melepaskan pandangan ke arah Farhan, menghela nafas berat dan tak ingin memperkeruh suasana. "Sebaiknya kau keluar, aku ingin tidur." Celetuk Ayu yang mengusir pria tampan itu.


"Berani sekali kau mengusirku!" Geram Farhan yang mengeraskan rahangnya, perlakuan yang menurutnya sangat tidak sopan. Ayu menatap Farhan tanpa rasa takut, menarik selimut dan tidur membelakanginya. Farhan Hanya bisa menarik nafas dalam, dan berlalu pergi sesuai perkataan Ayu yang membuatnya kesal.


"Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih kepadaku," gumam Farhan.

__ADS_1


"Jangan lupa tutup pintunya?!" Tukas Ayu yang menoleh beberapa detik. Farhan menghentikan langkah kakinya, mendelik kesal, menutup pintu kamar dan pergi dari tempat itu.


****


Di pagi hari yang indah, seorang wanita cantik mengerjapkan kedua matanya, Ayu bangun dari tidurnya dan mulai bersiap-siap untuk pergi bekerja. Farhan yang masih khawatir dengan keadaan Ayu dan ingin menghampirinya di dalam kamar. Terlihat dengan jelas Ayu telah bersiap, Farhan hanya menyaksikan kegiatan wanita itu yang sekarang telah rapi.


"Kau mau kemana?" Tanyanya yang penasaran.


"Aku ingin bekerja, tidak baik memanfaatkan posisimu untuk kepentingan pribadi ku," sahut Ayu yang menoleh beberapa detik.


"Kau bahkan belum pulih."


"Apa kau tidak dengar perkataan dari dokter?" Cetus Ayu yang tetap ingin bekerja.


"Dasar keras kepala."


Ayu berlalu pergi meninggalkan Farhan, dia tidak ingin memanfaatkan posisinya yang akan dijodohkan dengan bosnya. Masuk ke dalam mobil dan memerintahkan pak supir untuk membawanya ke gedung pencakar langit milik keluarga Hendrawan. Di sepanjang perjalanan, Ayu hanya terdiam hingga tak sadar jika sudah sampai.


"Kita sudah sampai, Nona."


"Eh, terima kasih, Paman." Ayu keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


Ketika dia datang ke perusahaan, dia mendengar asisten Heri di sampingnya bergosip. "Ada berita terbaru hari ini," ucap asisten Heri dengan bersemangat.


Ayu tetap melanjutkan pekerjaannya, karena penasaran pun mendengarnya gosip recehan dari asisten Heri.


"Mewawancarai selebriti terkenal, nama adalah Gabriel."


"Gabriel sang idola itu?" Sahut salah satu rekan kerja lainnya.


"Benar, saat diwawancarai ternyata dia pria sejati. Hanya mencintai satu orang wanita, di saat banyaknya wanita yang rela mengantri dan bahkan rela memberikan tubuhnya kepada Gabriel, tapi dia menolaknya, dan mengungkapkan jika dia mempunyai wanita yang paling dia cintai." Ungkap asisten Heri yang bersemangat.


"Siapa ya kira-kira wanita yang sangat beruntung itu?" Celetuk salah satu wanita yang sangat mengidolakan Gabriel.


"Wanita yang dicintai Gabriel sangatlah spesial!"


"Dan kalian tahu? Bahkan Gabriel selalu menunggu wanita itu." Celetuk asisten Heri.


"Pupus sudah harapanku untuk mendapatkan sang idola."

__ADS_1


Ayu hanya diam mendengarkan perkataan dari rekan kerjanya, dia sangat tahu jika wanita yang dicintai Gabriel adalah dirinya.


"Ehem." Deheman seseorang membuat mereka menoleh dan terkejut, bagaimana tidak? Jika yang datang adalah Farhan.


"Tuan!" asisten Heri dengan cepat berdiri seraya menunduk hormat.


"Apa kau di bayar hanya untuk bergosip?" Ucap Farhan dingin.


"Tidak, Tuan."


"Kembali bekerja." Titah Farhan yang meninggikan suara untuk menggertak sang asisten.


"Baik, Tuan."


Seketika kerumunan itu bubar akibat sang bos yang datang, mereka kembali bekerja atau kehilangan kehilangan pekerjaan jika melawan titah sang atasan. Farhan tersenyum tipis saat mendengar obrolan dari para karyawan dan gosip dari asisten bodohnya. Dia menjadi lebih tenang, saat mengetahui jika Gabriel menyukai seorang wanita dan akan menunggunya. Tapi Farhan tidak tahu, jika wanita itu adalah Ayu.


"Kau ikut ke ruangan ku." Titah Farhan yang melirik Ayu dengan sekilas.


"Baiklah." Ayu berjalan mengikuti atasannya dan masuk ke dalam ruangan CEO.


Di dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua. "Kenapa kau memanggilku?" Tanya Ayu yang mengerutkan keningnya.


"Bagaimana laporannya?"


"Laporannya berjalan dengan baik," ucap Ayu.


"Hem, itu bagus." Farhan berpikir sejenak dan kembali menatap Ayu dengan sangat antusias. "Sebaiknya kau jauhi Gabriel?!" Tekan Farhan.


"Menjauhinya? Memangnya kenapa?" Tukas Ayu yang menatap Farhan dengan tanda tanya di kepalanya.


"Kau dengar sendiri 'bukan? Jika pria itu sudah mempunyai seorang wanita yang dicintai, sebaiknya kau mundur!"


"Aku tidak peduli," ujar Ayu dengan jengah.


Farhan berjalan mendekat dan memegang kedua bahu Ayu, tatapan matanya yang dalam berusaha untuk meyakinkan wanita itu. Ayu menepis tangan Farhan dengan malas, dia tidak menyukai jika orang lain mengusik kehidupan pribadinya.


"Aku menasehatimu untuk kebaikan dirimu sendiri," Ujar Farhan.


"Kebaikan apa? Jangan mencampuri kehidupan pribadiku." Tekan Ayu dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Itu tidak akan berhasil, dia mencintai wanita lain dan akan menunggunya."


"Terserah, apapun itu. Kau urus saja dirimu sendiri, dan jangan hiraukan urusan pribadiku."


__ADS_2