
Ketika Vanya melihat bahwa Ayu memegang gaun yang sangat indah, seketika raut wajahnya tersenyum kecut saat dia menjadi cemburu. "Gaun itu sangat indah sekali, bagaimana jika aku yang memakainya? pasti sangat cocok," batinnya yang melihat tak begitu jauh.
"Aku ingin membeli gaun yang dikenakan oleh gadis itu," ucap Vanya menunjuk gaun yang berada di tangan Ayu.
"Tapi, Nona itu sudah membelinya," tutur karyawan butik yang sedikit menundukkan kepalanya, berusaha agar calon pembelinya untuk mencari gaun yang lain.
"Sayang sekali, tapi aku sangat menginginkan gaun itu, biarkan aku yang membelinya," keukeuh Vanya yang menatap karyawan butik dengan tajam, sedangkan yang di tatap sedikit ketakutan.
"Kenapa kau diam saja! Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan Vanya, cepatlah!" ucap lantang dari wanita yang datang bersama Vanya. Sekali lagi karyawan itu mendapatkan pelototan mata yang kembali membuatnya merinding dan dengan cepat menganggukkan kepala sembari bergegas menghampiri Ayu.
"Baik Nona," sahut Karyawan butik berjalan mendekat ke arah Ayu yang sedang melihat-lihat beberapa gaun.
"Maaf, Nona." Karyawan butik berdehem beberapa kali.
Ayu menoleh ke belakang saat mendengar suara, menautkan kedua alisnya sembari menatap karyawan butik yang menatapnya.
"Iya, ada apa?" Tanyanya penasaran.
"Bisakah anda melepaskan pakaian itu?"
"Apa? Untuk apa aku melepaskan gaun yang ingin aku beli?!" Cetus Ayu yang meninggikan suaranya, tak terima dengan perlakuan kurang ajar dari karyawan butik. Ayu berusaha untuk mengontrol emosinya saat mendengar ucapan yang kurang mengenakan di hati.
"Ada yang ingin membeli gaun itu, sebaiknya anda membeli gaun lain saja."
"Apa-apaan ini? Apa begini cara kalian melayani pembeli?" Protesnya yang tak terima.
__ADS_1
"Masih banyak gaun lainnya!" Alasan karyawan butik untuk meminta gaun yang ada di tangan Ayu.
"Terserah padaku saja, jika tak ingin aku berikan, apa yang akan kau lakukan?" Tantang Ayu yang menatap karyawan itu dengan sangat antusias.
"Sebaiknya kau melepaskan pakaian itu," ucap seseorang dari belakang membuat Ayu dan karyawan itu menoleh ke asal suara.
"Hah, hidupku sangat tidak mudah di sini. Selalu saja ada orang yang mengusikku, sangat menyebalkan!" gerutu Ayu di dalam hati sembari menatap wanita itu dengan tajam.
"Tidak akan, karena akulah yang pertama mengambilnya. Masih banyak gaun lainnya di sini, tapi aku tetap tidak akan melepaskannya."
"lepaskan gaun itu karena sangat tidak cocok di tubuh wanita sepertimu." Ulang wanita itu yang tak lain adalah Jenni berjalan mendekat sembari menyindir Ayu.
Ayu hanya menghela nafas dengan kasar, tidak menghiraukan ucapan dari Jenni yang datang bersama Vanya dan memilih untuk pergi sembari mengeluarkan black card dan menggeseknya.
"Aku akan membayarnya dua kali lipat yang dari harganya," ucap Vanya dengan lantang, berjalan mendekat dan berpikir jika dia ribuan kali lebih cantik memakai gaun indah itu dibandingkan gadis kampung, dan ketika saatnya tiba, Farhan melihatnya dengan gaun yang sangat indah melekat di tubuh dan mulai menyukainya.
"Drama apa yang akan diperbuatnya kali ini, sangat membosankan," gumam Ayu yang menatap jengah orang-orang di sana.
Vanya menatap Ayu dengan sinis, merasa bahwa dia akan mendapatkan gaun itu dengan sangat mudah. Sedangkan Ayu membalas tatapan dengan jengah, karena dia sangat malas untuk meladeni wanita angkuh di hadapannya.
"Apa kau yakin membelinya? Bahkan dengan harga dua kali lipat. Cek sebelum membeli atau kau akan tertipu mengenai keaslian dan tidak bisa membedakannya," sindir Ayu. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ayu membuat Vanya sangat marah dengan sindiran keras itu, dan di satu sisi dia juga malu karena apa yang dikatakan wanita di hadapannya benar adanya.
"Aku bisa membedakannya," kilah Vanya.
"Benarkah? Lalu kenapa kau memakai pakaian KW satu saat datang mengunjungi kakek. Apa itu tidak memalukan?" Ayu tersenyum miring sembari menatap wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan itu, serahkan gaun itu karena aku akan membayarnya dua kali lipat."
"sepertinya itu ide yang buruk, akulah yang pertama mendapatkan gaun ini dan tidak akan menyerahkannya kepadamu," jawab Ayu dengan enteng.
"Hari ini aku harus mendapatkan gaun itu." Tekad Vanya di dalam hati.
Jenni yang datang bersama Vanya mengulurkan tangan untuk merebut pakaian yang ada di tangan Ayu secara paksa. Dengan cepat Ayu mengeratkan tangannya di gaun agar tidak bisa dirampas oleh mereka, kekuatan cengkraman tangan Ayu lebih besar. Hingga tubuh Jenni hampir jatuh akibat dorongan Ayu yang tak ingin mengalah.
Pertikaian dari ketiga pembeli membuat beberapa karyawan sangat cemas, khawatir mengenai koleksi gaun yang bisa rusak akibat tarik-menarik. Salah satu karyawan menekan tombol untuk menghubungi manajer butik.
Vanya tersenyum saat melihat tindakan sigap dari karyawan toko, itu artinya dialah yang akan menjadi pemenang dan membuat Ayu terkena masalah.
"Aku sangat yakin jika gadis kampung itu akan di usir dari butik, itu akibatnya jika dia berani melawanku," Batinnya. Vanya sangat yakin bahwa Ayu akan di usir dan manajer butik tidak akan berani menyinggung perasaannya.
Gaun itu masih berada di tangannya, melangkah mundur beberapa langkah dan menatap tajam orang-orang yang membuatnya sangat muak. Ayu mengeluarkan ponselnya sembari mengirim pesan singkat ke penanggung jawab butik itu, karena perlakuan beberapa karyawan dan juga keributan akibat Vanya yang ingin merebut gaunnya. Selesai mengirimkan pesan teks, Ayu kembali memasang raut wajah tenang dan juga santai.
"Aku tidak akan mengulangi perkataanku, cepat serahkan gaun itu kepadaku." Bentak Vanya yang mengulurkan tangannya, dia sudah bertekad dan tidak akan melepaskan gaun yang sangat indah itu.
"Jangan membuang waktu kami, Nona."
"Bukankah kalianlah yang membuang waktuku?" Ayu membalikkan pernyataan itu dengan menatap karyawan butik dengan sangat tenang.
Dalam waktu sekitar sepuluh menit, manajer butik datang menghampiri kerumunan di tempatnya. Berjalan dengan sangat elegan, sembari menatap wajah karyawan nya satu persatu. Sang manajer berjalan ke menuju Ayu, bukan tatapan tajam yang dipasang, melainkan tatapan penyesalan mengenai tingkah laku para karyawan yang sangat tidak ramah kepada pembeli.
Dengan cepat menejer menundukkan kepalanya dengan hormat di hadapan Ayu, menyesali semua tindakan karyawan di luar pengawasannya. "Maafkan atas tindakan yang Nona dapatkan dari beberapa karyawan itu, aku akan mendisiplinkan mereka agar lebih ramah kepada pembeli dan jika perlu aku akan memecat semua karyawan itu," ucap sang manajer butik.
__ADS_1