Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 138 ~ Di toilet


__ADS_3

Farhan menatap sahabat kecilnya, tatapan yang tidak di ketahui oleh Vanya. Seketika suasana mencekam, apalagi mendengar nama Ayu yang berkencan bersama seorang pria di Bar. "Apa maksudmu?" raut wajah dingin dan tak bisa di lukiskan dengan kata-kata. 


Vanya merasa jika pria yang berada di hadapannya meresapi setiap ucapannya, kian membuatnya bersemangat untuk menjelekkan rivalnya. "Tidak lama lagi Farhan akan menjadi milikku." Batinnya tersenyum sangat tipis sekali, hingga tidak ada yang menyadarinya. "Aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa Ayu berkencan dengan pria tampan di Bar. Mereka terlihat sangat romantis dan juga terlihat manis, sungguh pasangan yang sangat serasi. Mereka sangat mesra sekali, dan cocok seperti pasangan kekasih." Jelasnya. 


Farhan menghela nafas panjang, memalingkan perhatiannya kepada hamster plush sepersekian detik. Sementara Vanya mengira, jika semua perkataannya cukup menggeser posisi Ayu di hati pria itu. "Apa kau sudah selesai membual?" ucapnya tanpa menoleh. 


Vanya tersentak kaget, karena ucapannya tidak mempengaruhi Farhan. "Aku tidak membual, aku mengatakan yang sebenarnya." Sanggahnya dengan penuh keyakinan, seolah-olah cerita tadi bukanlah dongeng belaka. 


"Tutup mulutmu atau aku akan menjahitnya!" ancam Farhan yang sangat geram pada sahabat kecilnya, dia tidak bisa mendengarkan satu katapun yang menjelekkan wanita dicintai, dan menganggap itu hanyalah omong kosong.


"Seharusnya kau percaya padaku!" 


"Tapi aku lebih percaya kepada wanita yang aku cintai, mau sekeras apapun kau menudingnya? Aku akan tetap mempercayai Ayu." Tegas Farhan yang berlalu pergi meninggalkan Vanya. 


Vanya menatap kepergian Farhan dengan sejuta kekecewaan, sangat sulit untuk menghancurkan hubungan dari pria yang dicintainya dengan penuh obsesi. Namun, kembali mengingat rencananya kerjasama dengan Raina. Mereka telah menyusun rencana untuk pelenyapan Ayu, dan tak lupa tersenyum devil. "Kau sangat mencintai Ayu 'bukan? Sebentar lagi dia akan mati. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku, karena kau hanya milikku seorang." 


Vanya sangat cemburu, hanya saja dia berpikir jika Raina sudah menjalankan rencananya sebagai seorang bidak. "Aku rasa dia sudah membunuh Ayu, menyingkirkannya tanpa mengotori tangan sendiri." Gumamnya di dalam hati, senyum jahat selalu terukir di wajahnya yang sangat licik. 


Farhan sangat cemas dengan keadaan Ayu yang sudah lama belum kembali dari toilet, hal ini semakin membuatnya melangkah dengan tergesa-gesa. Melirik jam tangan mahal dan segera menuju toilet, dia sangat takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mengingat banyaknya musuh. "Semoga saja Ayu baik-baik saja!" monolognya. Jarak antara pelelangan dan toilet cukup jauh, apalagi luas ruangan yang bisa menampung banyak orang. 


Di dalam toilet, pikirannya selalu dibayangi oleh Farhan, apalagi saat pria itu memberikannya hadiah. Bergelut dengan pikiran yang berkecamuk, tak bisa digambarkan. Selesai membuang hajat, dia berjalan menuju wastafel untuk mencuci kedua tangannya. 


Saat hendak memutar kan tubuh, dia sangat terkejut melihat seorang wanita yang tak asing tengah menatapnya tersenyum jahat. Perhatiannya sekarang menuju pada benda tajam yang ada di lehernya, sebuah pisau berjarak setengah sentimeter dari lehernya. 

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak atau leher mu akan terluka." Ancam Raina tertawa jahat. 


Ayu menghela nafas dengan jengah, tidak ada rasa takut sedikitpun di hatinya. "Hah, kau selalu saja ada di mana-mana, sama seperti Vanya." 


"Bukankah itu sangat bagus? Kebetulan yang sangat pas, sama seperti saat ini."


"Lalu? Apa aku terlihat peduli? Tidak!" jawab Ayu enteng dan sangat santai. 


"Ck, kau mengatakan itu seakan melupakan pisau tajam yang bisa melukai lehermu kapan saja." Raina semakin mendekatkan pisau ke leher, menakuti musuhnya agar tak berani meremehkannya. 


"Tidak ada gunanya membalaskan dendam, menyingkirlah! Karena aku tak ingin berurusan lagi dengan wanita sepertimu."


"Menyingkir? Aku tidak akan menyingkir dari sini sebelum membalaskan dendam padamu." Raina tertawa jahat, dendam yang menyelimuti hatinya membuatnya terlihat seperti seperti seorang psikopat.


"Kau wanita murahan! apa yang kau gunakan untuk memikat Raymond, bahkan mantan kekasihku itu tidak ingin menatap wajahku lagi!" bentak Raina yang mengepit erat leher musuhnya. 


Ayu berusaha bersikap tenang, karena merasa Raina menanggung beban penderitaan hingga rencana gila yang ingin membunuhnya. "Itu semua akibat ulahmu sendiri, aku hanya membuka sedikit kedokmu."


Raina semakin sakit hati mendengar perkataan musuhnya, terus mengancam Ayu dengan raut wajah sangat. "Andai saja kau tidak hadir, maka aku dan Raymond baik-baik saja, bahkan kehidupanku terjamin. Tapi sekarang__." Dia menarik nafas dalam dan menutup kedua matanya beberapa detik. "Sekarang kehidupanku hancur akibat perkataanmu, menjalani kesulitan hidup karena sepi job."


"Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai."


"Brengsek!" Raina menarik rambut Ayu dengan sangat keras, menghantamkan ke dinding. 

__ADS_1


Kesabaran Ayu sudah habis, sebelah tangannya mencekal agar pisau tidak menggores lehernya. Dan sebelahnya lagi digunakan untuk memegang kepala Raina, dengan gerakan yang sangat cepat, dia melangkah ke belakang musuhnya dan membalikkan keadaan. 


Raina tak bisa berkutik saat rambut panjangnya ditarik dengan sangat kuat, terlihat dari helaian rambut yang jatuh ke lantai. "Apa kau pikir aku diam saja?" ucapnya dingin, membalas tawanannya dan menjedorkan kepala mantan Raymond ke pintu. 


Raina memegangi kepalanya yang berdenyut, memanfaatkan pisau yang masih berada di genggamannya. "Kau akan mati di tanganku!" pekiknya yang ingin menikam target. 


Refleks Ayu sangatlah bagus, menghindar dengan cepat dan merebut pisau di tangan Raina dengan sangat mudah. "Kembalikan pisauku!" 


"Dan setelah itu kau menikamku? Ini tidak seimbang, sekarang kita sama." 


Rasa dendam dan amarah memuncak, terpaksa Raina menyerang menggunakan tangan kosong. Tapi, usahanya gagal karena Ayu bukanlah lawan sebanding. "Keluarlah!" pekiknya yang memerintah. Sedangkan Ayu menatap dua orang pria yang berjalan masuk ke dalam toilet. 


Dua orang pria berwajah seram juga berbadan kekar berdiri di belakang Raina. "Sekarang kau tidak bisa menghindari dari kematian!" ancamnya sarkas. "Bunuh wanita itu!" titahnya dengan tegas. 


Kedua pria berbadan kekar menghampiri Ayu dan mulai melakukan aksi untuk membunuh sesuai perintah. 


Dengan tenang Ayu menangkis serangan kedua pria itu. "Dasar tak tahu malu, dua orang pria melawan satu orang wanita," cibirnya yang membuat dua orang suruhan itu semakin emosi dan kembali menyerang. 


Mereka mengepung target dan tertawa jahat, keadaan lengah di manfaatkan oleh Ayu yang memukul kedua pria itu tepat di bagian utamanya, hingga kedua pria itu meringis kesakitan dan tergeletak di lantai. 


Raina sangat terkejut, karena dua orang pria itu telah tumbang dengan sangat mudah. Ayu mendekatinya dengan seringaian, menodongkan pisau ke lehernya. "A-apa yang kau lakukan?" gugupnya yang sangat ketakutan. Secercah harapan saat melihat cela dan ingin kabur, tapi terlambat saat Ayu menarik tangannya hingga terjerembab ke lantai. 


"Kau tidak akan bisa kabur!" Ayu terus melangkahkan  kakinya dan mengancam menggunakan pisau di tangan. Sedangkan Raina semakin mundur, dahi yang berkeringat menandakan ketakutan dan kegelisahan. 

__ADS_1


Farhan datang dan sangat terkejut saat melihat kejadian itu.


__ADS_2