
Dia melirik wajah tampan dari pria di sebelahnya, sementara yang di tatap hanya diam seperti patung. Farhan memiringkan wajah membuat Ayu sedikit gugup, ternyata dia hanya ingin berbisik. "Kau wanita tangguh dan juga cerdas," pujinya.
"Apa sekarang kau baru menyadarinya?" balas Ayu yang juga berbisik.
"Tidak juga, aku melihat tindakan mu yang sangat luar biasa itu lewat Cctv, dan aku terkesan!" ucap Farhan manggut-manggut.
"Heh, kenapa kau mengklaim ku sebagai calon istri di hadapan semua orang?" tanya Ayu yang menginginkan penjelasan.
Pletak
Farhan menyentil kening wanita yang tampak menggemaskan di sampingnya. "Hais…kau selalu saja begini," keluh Ayu yang cemberut.
"Aku melakukan agar otakmu cepat berpikir."
"Hah, terserah kau saja." Ayu menghela nafas dengan berat. "Apa maksudnya ini?" bisik Ayu melirik pria di sebelahnya yang sedang mencondongkan tubuh ke arahnya.
"Memangnya kenapa?" sahut Farhan dengan raut wajah polosnya, dia mengetahui maksud dari ucapan Ayu mengenai kedatangannya di saat masalah hampir teratasi.
"Tidak juga, kau datang bak pahlawan kemalaman, datang di saat situasi mulai terkendali." Cibir Ayu yang membuat Farhan terkekeh.
"Aku hanya ingin melihatmu menyelesaikan masalah dan aku sungguh mengakui kecerdasanmu."
"Kau sangat perhatian sekali dan terima kasih," sahut Ayu yang tersenyum cerah, seketika berubah menjadi tersenyum masam.
Mereka asik berbisik dan melupakan orang sekitar, hubungan yang semakin dekat membuat semua orang berpendapat sebagai pasangan serasi. Jangan tanya raut wajah yang ditunjukkan Laras dan Maudi, di dalam hati keduanya kesal serta merutuki Ayu yang berdampingan dengan Farhan.
"Ck, mereka berbisik-bisik seakan dunia milik sendiri." Batin Maudi dengan tatapan tak suka.
"Ini sangat menyebalkan!" umpat Laras mendelik kesal. Sementara Reporter yang sedang melakukan siaran langsung tersenyum malu melihat keromantisan keduanya terlihat sangat dekat. Lain halnya dengan asisten Heri yang mengelus dada. "Bagiku suasana ini sangat ambigu, entah bagaimana aku menjalankan hari-hari setelah melihat ini," gumamnya yang sedari tadi hanya berdiri diam di belakang atasannya.
"Sebaiknya kita berhenti berbisik-bisik seperti ini," ucap Ayu yang memperingatkan bosnya.
"Memangnya kenapa?" ujar Farhan yang masih nyaman dengan posisinya itu.
"Semua orang sedang menatap kita dan melakukan siaran langsung," jelas Ayu. Seketika Farhan menoleh dan melihat semua orang sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Heri!" panggil Farhan dengan lantang.
"Iya, Tuan." Sahut asisten Heri dengan cepat.
"Lakukan sekarang!" titahnya tanpa bantahan.
"Baik." Asisten Heri mengeluarkan ponselnya, menunjukkannya di hadapan semua orang.
"Putarkan video itu!" titah Farhan yang meminta pekerja siaran memutar video, menunjukkan bukti lain.
Di dalam rekaman video, terlihat Maudi sedang memaksa Ayu untuk mundur dan ingin mendorongnya ke dalam Danau, tapi tidak berhasil dengan kemampuan target yang melebihi dirinya. Rencana yang disusun dengan sangat rapi malah berbalik padanya.
Semua orang kembali terkejut dengan terbongkar satu persatu rencana licik Maudi di hadapan semua orang, entah alasan apa dia akan mengelak mempertahankan namanya yang jatuh.
"Wah…wah, tak ku sangka bukti kejahatan mu terbongkar dengan semua bukti yang ada, sekarang kau tidak bisa mengelak lagi!" cetus Ayu lantang.
"Tidak…ini tidak benar, itu semua palsu. Akulah korbannya disini!" pekik Maudi yang berkeringat, tidak mempunyai harapan untuk membela diri.
"Apa matamu buta? Bahkan semua bukti yang ada kau masih menyangkalnya, heh." Cibir Ayu tersenyum mengejek.
"Tetap saja, video itu hanya editan saja."
"Astaga…bagaimana ini? Bahkan bukti lainnya ada pada kak Farhan," gumam Laras di dalam hati, mengingat jika dia juga terlibat dalam menuduh calon tunangannya.
"Aku tidak menyangkal."
"Benarkah?" ucap Ayu yang tersenyum penuh arti.
"Ya, karena disini kaulah yang berbohong. Karena aku__"
"Biar permasalahan berada di ujung, bagaimana jika aku menyerahkan bukti kejahatan mu kepada polisi?" lantang Ayu yang menyela perkataan dari Maudi.
Mendengar hal itu, semakin membuat Maudi gelisah dan berkeringat. Tidak bisa membayangkan dirinya tidur di sel penjara yang dingin menusuk tulang. "Tidak, aku tidak ingin di penjara. Wanita itu tidak bisa di kalahkan dengan mudah, apa yang harus aku lakukan?" batinnya seraya menarik rambutnya mencari jalan keluar dari permasalahannya, hingga tersenyum devil. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan."
Ayu, Laras, dan asisten Heri mengerutkan kening mencari maksud dari ucapan mantan ketua sekretaris. Sedangkan Farhan berdiam diri seraya melihat kejadian secara langsung, dia ingin melihat kemampuan Ayu dan akan memasang badan jika terjadi sesuatu kepada wanita itu.
__ADS_1
Tatapan Maudi terus memperhatikan Ayu, dia sangat kecewa dengan nasibnya tak menentu dan murka dengan kegagalan dalam rencana. Namun, tak membuatnya berputus asa, menemukan jalan satu-satunya. Mengeluarkan benda tajam dari saku, sebuah sebilah pisau lipat. "Kali ini kau tidak akan lolos," batinnya sembari menggenggam erat ganggang pisau lipat.
Maudi berlari ke arah Ayu hendak menikamnya dari arah samping, dengan cepat Farhan memeluk sang target untuk melindunginya. Tatapan tajam penuh kemarahan menatap sang pelaku, salah satu tangannya mencengkram tangan Maudi yang hampir saja membunuh Ayu di hadapan semua orang.
"Berpikirlah sebelum kau bertindak," ucap Farhan dingin seraya menghempaskan tangan Maudi dengan kasar, melirik asisten nya untuk menangani Laras.
Sontak hal itu membuat semua orang yang sedang melihat siaran langsung terkejut, dan sangat marah dengan aksinya melakukan tindak kriminal secara terang-terang.
"Dasar wanita iblis, apa dia kerasukan? Melakukan percobaan membunuh Ayu di depan awak media, luar biasa!" komentar salah satu warga yang menonton televisi.
"Benar, ingin rasanya aku menendang wajahnya."
Farhan tidak tahan dengan kejadian di luar kendali, melepaskan pelukannya seraya menatap sepasang manik mata indah. "Apa kau tidak apa-apa?" cemasny dan kembali memeluk erat.
"Aku baik, terima kasih sudah melindungiku." Jawab Ayu yang tersenyum lembut. "Jantungku berdebar dengan kencang," batinnya yang terhenyuh.
Farhan kembali melihat asisten nya yang telah membekuk Maudi, meliriknya pertanda sebuah kode yang di pahami oleh asisten Heri, membalasnya dengan mengangguk pelan, berjalan ke depan, menatap para reporter dingin. "Sudah cukup kalian mendapatkan informasi ini, sekarang pergilah!" usirnya.
"Tapi, kami hanya ingin mewawancarai saja."
"Aku tidak ingin bantahan."
Setelah para reporter pergi, Farhan menoleh karah Maudi yang di tahan oleh security. Menatap penuh kemarahan karena hampir melukai calon tunangannya. Satu tamparan keras mendarat di pipi maudi, membuat sudut bibirnya berdarah. "Kau sangat keterlaluan, mengusik Ayu sama saja kau mencari masalah denganku."
"Karena aku sangat membencinya!" teriak Maudi di sela-sela tawanya, dan berubah sedih seketika. "Karena wanita itu, masa depanku hancur." pekiknya.
"Ck, bawa dia pergi dari sini." Titah Farhan yang sudah muak dengan drama mantan ketua sekretarisnya. Security membawa menyeret Maudi dengan kasar, tak mengindahkan perkataan wanita gila itu.
Setelah kepergian Maudi, Farhan kembali memeluk Ayu untuk ketiga kalinya. Sedangkan asisten Heri mendengus kesal. "Hah, untung saja kesabaranku berlapis."
Tak lama, seseorang datang dengan tergesa-gesa, dia sangat mencemaskan Ayu saat Maudi hendak menikam. Tapi, langkah kakinya terhenti saat melihat Farhan yang memeluk sang pujaan hatinya. "Sepertinya aku datang terlambat," gumam Gabriel kecewa.
Ayu melepaskan pelukan Farhan. "Terima kasih telah menolongku!" ucapnya dengan tulus.
"Jangan mengatakan kalimat itu lagi," lirih Farhan yang membalas senyum Ayu walau terlihat kaku.
__ADS_1