
Ayu sangat geram dengan perkataan yang di lontarkan oleh wanita yang duduk di kursi kerjanya, mengetahui sifat asli tanpa menggunakan topeng lugu. "Akhirnya kau membuka topengmu," sindirnya dengan tatapan jengah.
"Dan aku tidak peduli apapun, karena sekarang kau tidak akan bekerja disini."
"Oh halo, aku belum mengundurkan diri dan masih bekerja, dan kursi yang kau dudukkan itu masih menjadi milikku." Tegas Ayu yang tak ingin mengalah.
"Aku melihatnya sendiri, jika kau sudah mengundurkan diri."
"Kau hanya mengetahui setengahnya saja, buktinya aku berada di hadapanmu. Lekas bangus dari kursi ku, jangan mengambil apa yang bukan menjadi hak mu."
"Oho, jadi sekarang kau mengatakan hak padaku. Sepertinya kau mengatakan itu di orang yang salah, tapi kau tenang saja. Aku akan mengatakan hak apa yang sedang kau bicarakan." Kira menatap Ayu dengan remeh dan merendahkan, sebagai seorang wanita yang menjadi cinta pertama bagi Farhan akan selalu membekas di hati.
Ayu tak mencoba untuk mencerna perkataan dari wanita di hadapannya yang sibuk membongkar tas kecil, memperlihatkan sebuah cermin ke arah wajahnya. "Kau lihat, itu hanya ada bayanganmu saja, sama seperti apa yang Farhan anggap padamu. Kau hanya wanita pelampiasan saja disaat aku tiada, tapi sekarang aku sudah kembali, dan kau tidak diperlukan."
"Bicaramu sangat melantur," Ayu merampas cermin persegi yang berukuran kecil di tangan Kira dan melemparnya ke lantai hingga terdapat banyak serpihan.
"Kau wanita yang tidak ada harga dirinya, bisa-bisanya mengharapkan Farhan kembali ke pelukanmu, dan kau masih berkhayal untuk bekerja di sini? Segera bangunlah dari tidurmu," eje Kira yang tersenyum miring.
"Kau tidak tahu apapun, Farhan sendirilah yang tidak ingin aku mengundurkan diri. Jadi, jangan sok dan membanggakan dirimu sendiri."
Kira sangat kesal dan meremas kedua tangannya, menatap tajam dan penuh kebencian terhadap rivalnya. Berniat membuat wanita itu tersindir, tapi dia sendirilah yang merasa sakit hati. Namun masih tak ingin beranjak dari kursi yang pernah ditempati oleh Ayu.
Ayu tersenyum dengan ekspresi dari Kira yang begitu mengena, hanya tersenyum tipis sembari menjentikkan jari di hadapan wanita itu. "Apa kau sudah paham sekarang? Kau bukan wanita bodoh yang tidak memahami perkataanku. Ya, Farhan sendirilah yang menolak aku mengundurkan diri, dan kau tidak bisa seenaknya menggantikanku.
"Itu tidak mungkin."
__ADS_1
"Terserah jika kau tidak percaya, kau boleh menanyakan ini secara langsung kepada Farhan. Oh ya, sekalian kau tanyakan alasan mengapa dia masih menahanku di perusahaan."
Kira palsu itu berpikir panjang, mencoba untuk mencerna perkataan dari musuhnya. "Dia mengatakan ini tanpa ragu, dan raut wajahnya juga tidak berbohong. Tapi, bagaimana mungkin ini terjadi?" gumamnya di dalam hati, mencari celah dengan mendeteksi kebohongan dari wajah. Sebuah cara kuno, tapi tidak menemukan apapun dan terlihat sia-sia. Karena tidak ada pilihan lain, dia ingin menghubungi Farhan untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi hal itu tidak terjadi saat melihat kedatangan pria yang tak lain adalah Farhan.
Dengan cepat, Kira menghampiri pria itu untuk menarik perhatian. "Kau datang juga kesini, ada sebuah kesalahpahaman yang harus kau selesaikan."
"Apa?" Farhan menoleh ke samping beberapa detik dan mengalihkan pandangannya ke arah Ayu yang berada di hadapannya.
"Lihat, wanita itu mengusirku dari sini. Padahal dia sudah mengundurkan diri, tapi masih ingin ribut dengan kursi kerja." Lapor Kira yang cemberut manja, ingin mendapatkan perhatian dengan bertingkah menggemaskan. Sedangkan Kira menyeringai disertai delikan, muak dengan sikap wanita yang selalu mencari-cari perhatian Farhan.
"Ayu masih tetap bekerja disini, akulah yang menolak permintaannya dan memaksa untuk bekerja."
Kira sangat tidak puas dan masih ingin menjatuhkan sang rival. "Kenapa kau tidak memberitahuku, lalu bagaimana solusi dari ini."
"Solusi?"
"Ayu akan tetap bekerja dengan persetujuanku, dan akan bekerja. Jangan mengganggunya, dan aku juga sudah mengatur ulang posisi untukmu di perusahaan."
"Apa? Mengapa kau mengatakan ini sekarang?"
"Sekarang semuanya sudah jelas, bahwa kursi ini milikku dan kau tidak berhak untuk merebutnya. Farhan sudah menjelaskannya, dan permasalahan ini selesai." Celetuk Ayu yang tak menggubris dua orang di dekatnya, segera duduk ke kursinya.
Farhan meminta orang lain menunjukkan ruangan Kira dan menatap Ayu dengan hati yang lembut. "Aku ingin bicara denganmu!"
"Tapi aku sibuk, bicarakan di lain waktu." Tegas Ayu yang melihat layar pipih di hadapannya, kembali memeriksa data dan menghitung omset sejak beberapa hari dia tinggalkan.
__ADS_1
Farhan menghela nafas dan segera beranjak dari sana, tak ingin mengganggu wanita yang tampak fokus.
Ayu tak peduli, karena perhatiannya tertuju kepada angka yang menjadi makanannya sehari-hari. "Mengapa ini bisa terjadi?" gumamnya yang terkejut saat melihat omset proyek yang berjalan sedang menurun cukup signifikan. "Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah pabrik perhiasan sudah steril dari racun dan namanya juga sudah bersih?"
Ayu mengutak-atik laptop di hadapannya, dan betapa terkejutnya saat melihat perusahaan perhiasan yang pernah melakukan plagiat kemarin telah membuat produk salinan. Dia ingat betul dengan desain yang dia ciptakan sendiri, tapi masih ada tangan jahil yang mencoba untuk merusak reputasi nya dan juga reputasi perusahaan.
Ayu mencoba untuk mencari berita selanjutnya, dan dia tidak menemukan apapun. "Aku masih ingat, ini perusahaan yang pernah melakukan tindakan olagiat karya ku. Tapi mereka cukup cerdik, dan aku juga tidak bisa menuntu mereka." Gumam Ayu yang menggigit kuku, masih melihat berita terbaru mengenai perhiasan dan penyebab omset menurun. Dia juga tidak bisa melakukan apapun, karena perusahaan itu belum mencapai standar plagiat, hingga tidak bisa membawanya ke meja hijau.
Di saat Ayu fokus, tiba-tiba Kira datang dan menggebrak meja membuatnya terlonjak kaget dan tak sengaja menoyor kepala rivalnya.
"Kau," geram Kira yang sangat jengkel.
"Apa? Kesalahan terjadi karena mu, datang dengan menggebrak meja." Sahut Ayu tanpa raut wajah bersalah dan tetap terlihat santai.
Kira menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, sangat berguna di situasi seperti ini. "Kenapa kau kembali?"
"Apa?"
"Maksudku, kenapa kau masih disini."
"Terserah aku, mau dimanapun aku berada tak pernah merugikan siapapun."
Kira dengan sengaja memperlihatkan lehernya yang mempunyai tanda kebiruan untuk membuat musuhnya menciut. "Kau lihat tanda ini? Aku yakin kau sangat memahami apa maksudku."
"Apa aku terlihat peduli dengan tanda itu?" cetus Ayu tak tertarik, namun di hatinya sangat penasaran.
__ADS_1
Kira tersenyum, seakan tanda kebiruan di lehernya merupakan bekas ciuman dari Farhan. Padahal itu bekas salah satu preman yang menjadi tamu nya saat melecehkannya, sedikit membantu untuk membuat Ayu untuk percaya dengan ucapannya. "Kau tahu, Farhan juga mengatakan ingin menikahiku." Tuturnya yang bersemangat.