
Semua orang sangat shock dengan teriakan Laras yang histeris, segera berlari menyusul dan melihat apa yang terjadi. Terlihat noda darah yang keluar dari mulut kakek Hendrawan, semua orang tampak panik dan melirik Ayu.
Wina mendorong tubuh Ayu dengan kasar, untung saja di sambut oleh Farhan. "Kau wanita pembawa sial, apa yang kau lakukan pada ayah mertuaku, hah?" bentak nya dan menarik tangan wanita muda itu dengan kasar, mencengkram lengan hingga meninggalkan bekas memerah. "Kau melenyapkan ayah mertuaku!" pekiknya histeris, menuduh wanita yang hanya berusaha menyembuhkan pria tua yang tengah terbaring lemah.
Ayu kehabisan kata-kata, Wina selalu menuduhnya dan tidak memberikannya ruang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Bukankah kau tadi penuh keyakinan, aku sudah melarangmu karena tak punya sertifikat."
Farhan segera memeriksa kakeknya, semua orang memasang wajah panik, takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Laras sangat emosional dan menghampiri Ayu, menari rambut yang terurai panjang dengan kuat. "Kau ingin membunuh kakekku?" dia semakin mengencangkan genggaman tangan menarik rambut indah itu.
"Lepaskan dia!" tegas Farhan yang menghentikan aksi Laras, dia tak ingin jika suasana semakin kacau.
Wina dan Laras memang tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan Farhan, mematuhi perintah walau mereka ingin melampiaskan kekesalan. "Tak lama dia keluar dari ruangan ini, kakek muntah darah. Dia hanya ingin membunuh saja, aku sangat yakin itu."
Ayu tak menggubris dan lebih memprioritaskan kesehatan kakek Hendrawan, dia ingin memeriksa tapi salah satu tangan di cekal Wina. "Biarkan aku memeriksa kakek!"
"Tidak akan aku biarkan kau memeriksa ayah mertuaku."
"Dia membutuhkan keahlian ku sekarang, beri aku jalan dan lepaskan tanganku!"
"Apa kalian selalu saja bertengkar?" lantang Farhan yang menoleh sekilas, karena dirinya sangat mencemaskan keadaan aang kakek.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikannya," sela Ayu yang berusaha melepaskan diri.
"Tidak!" tolak Wina yang mendorong tubuh Ayu, tapi tidak berhasil karena dirinyalah yang hampir terjatuh. "Hei, kau. Dasar wanita kurang tata krama."
Ayu berhasil terlepas dari para wanita yang tidak menyukainya, menoleh ke samping dan menatapnya beberapa detik saja. "Apa aku boleh?"
Belum sempat Ayu menyelesaikan perkataannya, Farhan lebih dulu menyela nya dan menganggukkan kepala pelan. "Aku percaya padamu lakukan untuk kesembuhan kakek." Dia percaya jika wanita itu tidak mempunyai niat yang buruk, mungkin sedikit ada kesalahan yang membuat kesalahpahaman terjadi.
__ADS_1
Ayu segera mengeluarkan beberapa media yang akan digunakan untuk akupuntur, memeriksa apa yang sebenarnya terjadi kepada kakek. Tapi hal itu tidak perlu dikhawatirkan, bisa saja hanyalah efek samping dalam pengobatan tradisional.
"Mengapa kau mengizinkan dia untuk menyentuh kakekmu? Seharusnya wanita itu diusir dari sini, karena sudah mengacaukan semuanya." lagi dan lagi Wina protes kepada putranya, tetapi tidak pernah digubris ataupun dipedulikan oleh Farhan. Hal itu semakin membuatnya membenci Ayu yang notaben hanya wanita miskin dari kampung, yang berhasil mendapatkan hati putranya.
"Apa ini Kak, seharusnya kau tidak membiarkan wanita itu untuk memeriksa kakek sebaiknya kita telepon dokter dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi."
Farhan sangat percaya akan kemampuan yang dimiliki oleh sekretarisnya, tidak menghentikan wanita itu karena dia hanya ingin keselamatan dari kakeknya. "Aku sudah memanggil dokter, sebentar lagi dia akan menuju kemari. Percayakan semua ini kepada Ayu aku sangat yakin kepadanya.
"Aku tidak bisa mempercayai wanita itu sampai kapanpun, pasti dia mempunyai niat terselubung dan menyakiti ayah mertuaku."
"Apa yang Mama tahu mengenai kebenaran? Dan jangan lupakan, bagaimana Mama menghianatiku dengan bergabung dengan pria tua itu." Jawab Farhan dengan tegas karena dia tidak ingin jika ibunya melupakan kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya.
Wina tahu jika dirinya bersalah tetapi tidak ingin memperlihatkan dan tetap bersikap angkuh. "Apa begini sikapmu kepada Mama? Semenjak wanita itu hadir kau menjadi anak pembangkang dan juga durhaka."
Suasana yang tampak mencekam, tiba-tiba berubah saat mendengar suara Ayu yang seakan membuat mereka bisa menghirup nafas segar. "Aku sudah selesai memeriksa kakek, tidak ada yang terjadi kepadanya ataupun penyakit lain. kondisi kakek masih baik-baik saja dan bahkan peningkatannya jauh lebih baik." Lapornya yang tersenyum cerah karena kekhawatiran membuatnya hampir kehilangan akal.
Wina dan Laras saling melirik satu sama lain, mereka tidak tahu, apakah hasil pemeriksaan itu benar atau hanya omong kosong saja.
"Itu wajar terjadi, malahan ini kabar yang sangat bagus, kondisi kakek sekarang maju cukup pesat dan jauh lebih baik."
Mendengar hal itu histeris dari Laras dan juga Wina juga terhenti, tetapi tidak ingin mengakui kehebatan dan keahlian yang dimiliki oleh wanita kampung. Tak lama dokter masuk dengan terburu-buru, memeriksa keadaan kakek Hendrawan yang ternyata membawa kabar baik.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kondisi kakek jauh lebih baik dari sebelumnya," ujar dokter itu.
"Apa kau serius, Dokter? Coba periksa sekali lagi, dan mengapa ayah mertuaku memuntahkan darah."
"Tidak ada yang perlu dicek lagi, semua sudah jelas. Keadaan kakek membaik dan kalian tidak perlu khawatir," jelas dokter yang gembira jika pasiennya telah melewati masa sulit.
__ADS_1
Farhan sangat senang dengan perkembangan kakeknya dan menawarkan diri untuk mengantarkan mantan calon tunangannya keluar ruangan. Tiba-tiba terdengar suara dari ponsel milik Ayu yang berdering, dan dia segera mengangkatnya setelah tahu siapa yang menelepon.
"Iya, Halo."
"Kau di mana?"
"Di rumah sakit, ada apa?"
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau akan datang ke pesta ulang tahunku?"
"Tentu, aku akan datang ke pestamu."
"Baiklah, aku senang mendengarnya."
"Hem."
Farhan mendengar samar obrolan itu, mengenai Gabriel yang memastikan apakah Ayu akan datang atau tidak. wajahnya tetap tenang namun tidak di hatinya yang merasa terbakar api cemburu. Dia tidak memperlihatkannya di hadapan wanita yang dicintainya, berusaha menahan emosi.
Ayu segera memasukkan ponselnya ke dalam tas yang selalu dia bawa, menoleh ke arah pria yang masih mengikuti langkahnya. "Kau kenapa?"
"Mengantarkanmu, memangnya ada apa?" tanya balik Farhan yang memasang wajah polos.
"Aku bisa sendiri, kau jaga saja Kakek. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku!"
"Sudah ada yang menjaga kakek di sana, aku ingin mengantarkanmu!" keukeuh Farhan.
"Ya sudah, terserah kau saja."
__ADS_1
Farhan mengikuti kemana Ayu berjalan mencuri pandang dan melihat situasi, ada hal yang ingin dia tanyakan tapi membuatnya sedikit ragu. "Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Gabriel?"