
Leon sangat marah, mendengar Ayu yang mengetahui mengenai perencanaan yang diadakan oleh pemerintah setempat. Mencoba untuk mengendalikan emosinya agar tidak meluap, dan bisa menyebabkan citra yang dia bangun buruk di mata masyarakat. Suasana yang begitu tegang, tercipta karena konferensi pers dan para reporter ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara dua perusahaan itu.
Para reporter kembali mengerubungi Ayu, mereka penasaran mengenai apa yang dibicarakan oleh wanita itu. Mengarahkan alat perekam suara dan mulai memberikan serentetan pertanyaan. "Bisakah kami mengetahui apa yang anda maksud tadi, karena sedikit ada kejanggalan mengenai kasus yang belum tuntas ini?"
"Bukankah semuanya sudah jelas, jika pelaku plagiat yang sebenarnya sudah dihukum. Apa yang dibicarakan oleh tuan Leon merupakan kesalahpahaman dari dirinya sendiri. Bahkan pihak kami juga mengatakan jika pelakunya sudah ditemukan, dan dihukum lalu apa yang ingin kalian ketahui sekarang?" jelas Ayu yang mencoba untuk memberikan pemahaman kepada konferensi pers agar tidak memberat kan permasalahan dengan menyudutkan pihak yang dirugikan.
Leon tak bisa menahan emosinya, seperti dipermainkan oleh seorang wanita di hadapan publik. Dia tidak tahu, mengenai masalah pemerintah yang akan merilis rencana pembangunan di daerah setempat. Dia sedikit meragukan wanita itu yang bisa mengetahui sebelum dibicarakan. "Bagaimana kau tahu itu, Kau pasti berbohong 'kan?" tugasnya yang menetap Ayu dengan sarkas.
"Aku tidak berbohong, jadi bisa dipastikan bagaimana dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu, kau terlibat untuk menghancurkan perusahaan milik Farhan."
"Apa kau punya bukti? Jangan asal menuduh jika tak memiliki bukti apapun."
Farhan dan asisten Heri melihat interaksi dari dua orang itu, seperti ada yang mereka pikirkan untuk rancangan kedepannya. "Jadi, saya hanya mengundang kalian ingin mengatakan hal itu, jika Ayu tidak ada bersalah mengenai penawaran yang telah terbocorkan ataupun dia bukanlah hantu dalam perusahaan!"
Reporter mau tak mau harus mengundurkan diri, setelah konferensi pers telah diungkap dan masih ada kejanggalan yang belum merata terpecahkan. Tetapi asisten Heri sudah lebih dulu menahan mereka, agar tidak mengganggu dan menghalangi jalan dari atasannya dan juga sang sekretaris.
Leon menatap kepergian mereka dengan wajah yang memerah, akibat menahan rasa kesal. Jika wanita yang dianggapnya lemah ternyata sangatlah cerdik, bahkan mengetahui kapan pemerintah merilis pembangunan sekitar. "Sial, dia dua langkah di depanku. Ini tidak bisa dibiarkan!" gumamnya di dalam hati.
Ayu kembali ke departemen sekretaris, membuat rancangan ulang mengenai seri perhiasan yang akan di rilis. "Aku akan membuat desain yang tidak mudah untuk di plagiat, tapi aku juga membutuhkan saran dari Farhan. Setelah rancangannya selesai, aku akan menemuinya." Monolognya sembari fokus ke komputer yang ada di hadapannya, menggerakkan kursor dan juga menekan keyboard dengan pandangan lurus ke depan.
Pekerjaan membuat Ayu menjadi perfeksionis, ingin semua hasilnya berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan. Menginginkan hasil yang terbaik, dengan kualitas yang bagus. Entah berapa lama dia berkutat pada benda pipih di hadapannya, ingin menyelesaikan terlebih dahulu dan barulah beristirahat.
"Selesai," Ayu menggeliatkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke kursi sedikit mengurangi rasa lelah. Dia juga mengucap mata yang terasa kering akibat terlalu lama berada di depan komputer. "Akhirnya pekerjaanku selesai, tapi mataku yang dipertaruhkan." Keluhnya sembari meneteskan cairan di matanya untuk mengurangi rasa kering dan juga gatal.
__ADS_1
"Hah, ini baru nyaman." Ayu menghela nafas lega, mempunyai solusi dari permasalahannya. "Sebaiknya aku menghampiri Farhan dan mendiskusikan permasalahan ini, aku tidak ingin menundanya lagi." Dia segera beranjak dari kursi kerja, ingin menghampiri Farhan. Tapi kedua mata menangkap sosok pria yang datang menghampirinya.
"Eh, kau di sini? Baru saja aku ingin menemuimu." Ayu tersenyum pada atasannya.
"Memangnya kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan, mengenai masalah hasil rancangan yang baru saja aku selesaikan. Hanya ingin meminta pendapatmu," jelas Ayu.
"Lupakan masalah itu, aku ingin bertanya mengenai konferensi pers. Mengenai pemerintah yang akan merilis bangunan di daerah setempat, apa itu benar?" tanya Farhan yang penasaran.
"Iya itu memang benar, dan itu menguntungkan bagi kita."
"Kenapa Leon terlihat marah?"
"Karena dia tidak tahu rancangan pembangunan itu." Jelas Ayu, sedangkan Farhan membalasnya dengan manggut-manggut kan kepala, dia masih belum mengerti.
"Kirimkan saja kepadaku, nanti akan aku lihat. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu."
"Ya sudah, katakan saja!"
"Nanti malam aku ingin membawamu keluar, hanya berdua saja!" tekan Farhan yang tak ingin jika Ayu membawa orang lain, dan itu akan merusak rencana yang sudah dia persiapkan.
"Kemana?" spontan Ayu bertanya, rasa penasaran ingin mengetahui kemana pria itu membawanya. "Apa ini semacam kencan?" tanyanya yang menyipitkan kedua mata penuh selidik.
__ADS_1
"Ini kejutan, aku tak akan memberitahumu." Farhan segera pergi setelah memberikan paper bag imut untuk mantan calon tunangannya.
Ayu melihat punggung pria itu yang mulai menghilang dari pandangan, membuka bingkisan dan kartu ucapan, juga sebuah hadiah. Sebuah kertas kecil dengan tinta biru, mengingatkan dirinya untuk mengenakan gaun indah di acara nanti malam. "Kenapa mendadak dia terlihat manis?" gumamnya yang tersenyum, mengeluarkan gaun biru. "Wow, ini sangat indah dan juga mahal."
****
Farhan sangat terpukau dengan penampilan Ayu yang terlihat cantik, membuatnya tak bisa berhenti menatap. "Dia sangat cantik," pujinya di dalam hati.
"Mengapa kau diam? Apa aku terlihat aneh atau riasanku tebal?"
Dengan cepat Farhan menggelengkan kepala. "Tidak, kau sangat cantik malam ini dan aku menyukainya."
"Apa ini semacam rayuan?"
"Tidak, ayo!"
Farhan menggandeng tangan wanita cantik di sebelahnya, membawa menuju ke pantai yang sudah direncanakan sebelumnya. Sinar rembulan yang memantulkan cahaya di pantai, sangatlah indah, membuat mata siapa saja terpukau untuk menyaksikan.
Ayu melihat sebuah kapal pesiar yang tak jauh dari mereka, Farhan segera menggandeng tangannya membawa untuk masuk ke dalam. "Ikuti aku!"
Ayu masih belum mencerna, mengenai sikap dan perhatian Farhan yang memperlakukannya bagai seorang ratu. "Mengapa aku deg-degan?" batinnya sembari memegang dada, jantungnya berdegup kencang di saat pria tampan itu menggandeng tangannya.
Ya, Farhan sudah menyiapkan makan malam romantis di atas kapal pesiar. Dia membantu untuk menarik kursi dan mempersilahkan Ayu duduk. "Duduklah, bagaimana? Apa kau suka?" ucapnya dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
Ayu melihat sekelilingnya yang sangat indah, pantulan cahaya rembulan, dan angin malam menciptakan suasana yang romantis. Seketika dia mengingat pernyataan cinta yang di ucapkan oleh Farhan, di saat mereka terdampar dan diselamatkan oleh kakeknya. "Ini mengingatkanku, waktu kakek menjemput kami di saat terdampar di pulau kecil. Dia menyatakan perasaannya padaku," gumamnya di dalam hati.