
Melihat sang manajer butik yang meminta maaf dengan menundukkan kepala, Vanya seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Manajer butik berbalik badan sambil menatap Vanya dengan sangat serius.
"Sebaiknya Nona tidak mengambil gaun itu, carilah gaun lainnya yang sekiranya cocok di tubuh anda."
"Aku tidak akan menyerahkannya, gaun yang di tangan wanita kampung itu harus menjadi milikku," ketus Vanya yang melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Ini sangat sulit di percaya dengan akal yang sehat, kenapa manajer itu meminta maaf dengan menundukkan kepala?" batinnya yang melongo. Sedangkan beberapa karyawan yang menyinggung Ayu berkeringat dingin, karena pekerjaan merekalah yang menjadi taruhan.
Teman dari Vanya menggertakkan gigi karena tidak menerima perlakuan dari manajer butik yang meminta maaf kepada seorang wanita kampung. "Kenapa kau malah meminta maaf dan tunduk kepada gadis kampung itu daripada menyerahkan gaun itu kepada Vanya." Ucap Jenni yang meninggikan suara.
"karena Nona Ayu yang mengambil gaun itu lebih dulu."
"Vanya adalah cucu dari Yudistira yang paling disayangi, menyinggung perasaannya itu berarti kau juga menyinggung keluarganya," cetus Jenni yang membela Vanya.
Sang manajer butik tidak menjawab, dia mengabaikan semua perkataan dari orang yang ada di hadapannya. Manajer butik tidak ingin bermasalah dengan kepala butik yang melindungi Ayu. Jika mereka menyinggung perasaan Ayu, studio mereka yang melewati lima tahap sebelum mendapatkan kerja sama dengan Ayu akan menghadapi kerugian yang tidak terhitung.
"Semoga saja nona Ayu tidak tersinggung atau butik ini akan mengalami kerugian yang sangat besar," gumam manajer butik yang berharap lebih. "Bahkan saya rela memberikan gaun seharga seratus juta kepada nona Ayu secara gratis," ucap manajer butik dengan enteng.
Vanya yang mendengar hal itu, tidak bisa duduk diam. Selama itu sesuatu yang dia minati, tidak ada yang tidak bisa dia dapatkan, perasaannya sangat dongkol kepada manajer yang lebih membela Ayu, bahkan sampai rela memberikan gaun secara gratis.
"Aku membayarnya tiga kali lipat!" keukeuh Vanya yang masih mempertahankan minatnya dengan gaun itu.
"Tidak, gaun itu sudah menjadi milik nona Ayu," Tolak sang manajer butik.
"Empat kali lipat!" Vanya menyodorkan empat jarinya di hadapan manager itu.
__ADS_1
"Tidak."
"Aku akan membelinya lima kali lipat, kau mendapatkan keuntungan yang sangat besar."
"Maaf, Nona. Sekarang, gaun itu milik nona Ayu."
Melihat perkataan dari Vanya yang tidak masuk akal, Ayu memutuskan untuk berhenti terlibat dengan mereka. Dia melihat jam yang ada di layar ponsel miliknya, melihat sebentar lagi akan ada janji dengan Zio, seorang aktor terkenal.
"Sebaiknya aku pergi atau aku bisa terlambat," gumamnya yang menghampiri manajer butik. "Tidak perlu gratis, saya akan mengirim seseorang untuk mengantarkan cek besok."
"Anda tidak perlu membayarnya Nona, anggap sebagai permintaan maaf karena telah membuat anda tersinggung karena ulah para karyawan ku itu," sahut manajer butik.
"Aku tetap akan membayarnya dan juga memaafkan karyawan mu itu," ujarnya yang menatap beberapa karyawan yang sempat membuatnya kesal.
"Tidak masalah."
"Apa kau meminta Farhan untuk melindungimu? Secara kau hanyalah seorang gadis kampung dan hanya Farhan yang melindungimu," Vanya meninggikan suara karena sangat marah. Tapi di tidak tahu bahwa sebenarnya orang itu adalah penanggung jawab butik yang tadi dia hubungi, bukanlah Farhan.
Manajer butik melihat kebencian yang sangat dalam di mata Vanya dan mulai mengerti dengan apa yang terjadi antara kedua wanita itu. "Aku sangat yakin jika hubungan yang luar biasa antara nona Ayu dengan tuan Farhan, apalagi melihat sikap nona Vanya yang pantang menyerah dan keras kepala," gumamnya di dalam hati sembari melihat kedua wanita itu secara bergantian.
Farhan berkarakter seperti dewa yang sangat luar biasa, tidak ada yang berani menyinggung dengan pria yang sangat arogan itu atau bermain-main dengannya, itu bisa berakibat buruk. "Sebaiknya aku harus berhati-hati, aku tidak ingin berurusan dengan tuan Farhan," Batinnya.
"Sebaiknya kalian keluar dari butik ini. Penjaga...penjaga, cepat usir kedua orang ini karena telah berbuat kerusuhan," ucapnya sembari menunjuk Vanya dan temannya.Tak lama para penjaga datang dan mengusir dua orang yang membuat keributan. Vanya terus memberontak, sementara Ayu melambaikan tangannya ke arah Vanya. Dia tersenyum tipis, ini kesekian kalinya Vanya gagal. "Sebaiknya aku pergi dari sini." Ayu berlalu pergi meninggalkan butik dengan langkah yang tergesa-gesa.
****
__ADS_1
Ayu telah bersiap-siap dengan gaun yang dibelinya, sangat cocok dengannya, memakai polesan tipis di wajahnya, dan juga parfum seperti biasanya.
Tak lama Ayu menginjakkan kaki di Bar yang paling mewah di kota A, hanya mereka yang kaya dan bisa membayar mahal untuk memasuki tempat itu. Ayu melangkahkan kakinya untuk masuk ke Bar, begitu banyak orang yang sedang asik sendiri. Dia celingukan mencari Zio di kerumunan banyak orang, hingga tak lama menemukan pria itu saat dia melambaikan tangan. Ayu tersenyum lega saat menemukan keberadaan Zio, berjalan mendekat ke arah pria itu. Zio tersenyum dan menyambut kedatangan Ayu, dengan ramah dia menyodorkan kursi untuk wanita yang menjadi tamu spesialnya saat ini.
"Silahkan duduk!"
"Terima kasih," sahut Ayu yang tersenyum dengan sekilas.
"Aku sangat senang jika kau menepati janji," celetuk Zio yang duduk di sebelah Ayu.
"Tentu saja."
"Aku ingin meminta hadiah kepadamu."
"Hadiah?"
"Aku ingin kau menyanyikan satu lagu untukku, dan anggap ini sebagai hadiah darimu."
"Ta-tapi__" Ucap Ayu yang sedikit gugup.
"Ayolah, ini hari ulang tahunku. Tolong jangan kecewakan aku!" pinta Zio yang menatap Ayu dengan puppy eyes miliknya.
"Hah, baiklah." Ayu menyanggupi permintaan dari pemilik acara itu, berjalan ke atas panggung dan mengambil mikrofon. Ayu mengambil nafas dengan dalam dan mengeluarkan secara perlahan, berusaha untuk menghilangkan Kegugupannya. Dengan penuh percaya diri, Ayu menyanyikan lagu Prancis yang berjudul Enfance 80 dengan penuh penghayatan yang sangat luar biasa. Para tamu menghentikan aktivitas mereka dan mengalihkan perhatian ke depan panggung, mereka sangat menyukai lagu yang dibawakan oleh Ayu yang sangat menyentuh, pembawaan pas serta sangat merdu hingga sampai menggema di lantai dua yang sedang ada pertemuan bisnis.
Pada saat itu, Farhan berada di ruang VIP di lantai dua untuk mengadakan pertemuan bisnis, tak sengaja melihat bahwa Ayu menyanyi dengan suara yang sangat merdu. Dia sangat terpesona mendengar suara dan juga penghayatan yang sangat luar biasa, tapi tatapan kagumnya berubah menjadi jelek saat melihat Zio yang juga berada disana seraya menyemangati Ayu.
__ADS_1