
Farhan melangkahkan kaki ke arah wanita itu mengira jika di ruangan kerja adalah Ayu, berjalan dengan perlahan menghampiri wanita yang tengah membelakangi nya. Dia tampak berpikir, apakah itu sekretaris nya atau bukan.
Perasaannya sangat tidak menentu dia tidak bisa tenang sebelum melihat wanita yang dicintainya. "Ayu, kau kah itu?" lirihnya dengan penuh penasaran, berjalan ke depan wanita itu dengan senyuman manis.
Perlahan senyuman yang menghiasi wajah tampan nya mulai mengikis, dan memudar saat wanita yang di hampiri nya bukanlah Ayu melainkan Kira. Wanita itu sangat senang, kedua mata yang berbinar cerah seperti matahari yang baru saja terbit, melihat pria tampan mengenakan setelan jas membuatnya begitu terpukau. "Farhan?"
"Hm, apa yang kau lakukan di meja kerja milik Ayu?" Farhan menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik, penasaran apa yang dilakukan oleh Kira.
"Bukan apa-apa, aku kebetulan lewat saja!"
Farhan sedikit curiga, mengapa wanita itu ada di tempat kerja milik sekretarisnya, pikiran negatif mengenai Kira segera dia tepis.
Dia sedikit kecewa karena tidak menemukan Ayu di tempat itu. "Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya sekali lagi.
"Apa kau lupa? Jika aku sudah bekerja di tempat ini untuk menggantikan posisi Ayu." jawab kira dengan sangat antusias, dan bersemangat.
"Aku tidak punya niatan untuk menggantikan Ayu dari wanita manapun, termasuk Kira." Batin Farhan menghela nafas dengan panjang, memijat pelipis yang tidak gatal seraya menatap wanita yang ada di hadapannya.
Dia lupa jika Kira sudah bekerja di departemen sekretaris. "Sebaiknya kau berhenti untuk bekerja lembur, dan pulanglah!" titah dengan nada penekanan.
"Aku hanya ingin bekerja, begitu banyak pekerjaan yang ditinggalkan oleh Ayu. Aku sudah mendengar banyak mengenai dirinya yang sangat kompeten dalam pekerjaan, ternyata pujian itu hanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada." Tukas Kira yang bermaksud menyindir rivalnya.
"Kau pulanglah!" ucap Farhan, tidak ingin diganggu ataupun diusik oleh wanita itu. pikiran dan hatinya sangat tidak tenang apalagi tidak melihat keberadaan sekretarisnya, bahkan mencoba untuk menghubungi ponsel Ayu, namun tidak ada koneksi yang terhubung.
"Dimana dia? Apa dia berada di apartemen Gabriel?" gumamnya seraya tampak berpikir.
Hal itu tak luput dari pandangan Kira yang seketika meremas ujung pakaiannya, karena rasa kesal jika Farhan masih mempunyai perasaan kepada rivalnya. "Ayu tidak ada di sini, tapi mengapa dia masih memikirkan kan wanita itu? Ini tidak bisa dibiarkan!" Batinnya.
Kira sangat pintar menyembunyikan kekesalannya, berpura-pura simpati. "Kenapa kau masih mencemaskan wanita itu? Bukankah aku masih ada disini!"
"Berhentilah bertanya, sebaiknya kau pulang saja tidak perlu melanjutkan pekerjaan itu!"
__ADS_1
"Aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu, bisakah kau menemaniku? Sebentar saja!" rangek Kira dengan nada manja, mengerlingkan kedua matanya dengan penuh harapan.
"Tidak, sebaiknya kau pergi saja!" Farhan yang mulai jengah.
"Begitu banyak pekerjaan yang ditinggalkan Ayu aku hanya ingin membantunya untuk menyelesaikan semua berkas yang menumpuk di atas meja." Kira terus berusaha dengan pendiriannya, bersikeras untuk melaksanakan pekerjaan itu. "Aku bersimpati dengan apa yang kau hadapi saat ini, tapi aku juga kesal kepada sekretaris mu." cibir nya yang berusaha untuk menjatuhkan sang rival.
"Jangan membantahku!"
Seketika Kira membeku, namun tak memadamkan api semangatnya untuk tetap bisa bersama dengan Farhan. "Baiklah, aku akan pulang. Tapi, kau harus mengantarku!" melakukan segala upaya dengan beberapa akting mumpuni, menjadi gadis lemah lembut dan penuh perasaan, berpura-pura menyedihkan untuk mendapatkan simpati dan perhatian.
Farhan tampak berpikir, karena dirinya sangat mencemaskan Ayu. Namun dia tidak bisa mengabaikan Kira yang berhasil mengalihkan perhatiannya. Menganggukkan kepala dengan memberikan bahasa isyarat, jika dia telah setuju, hal itu membuat wanita di hadapannya tersenyum cerah.
Dengan sigap, Kira menggandeng tangan pria tampan dan menariknya keluar dari tempat itu masuk ke dalam mobil mewah milik Farhan.
Tiba-tiba, suasana hening seketika, tidak ada yang memulai obrolan untuk memecahkan kebisuan dari keduanya.
"Ehem, kenapa kau diam saja? Apa kau masih mengingat alamat rumahku?" Kira menoleh menatap wajah yang tampan di sebelahnya yang tengah menyetir mobil.
"Hem."
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu, sedari tadi kau hanya melamun saja. Kau berpikir bahwa yang di dalam ruangan itu adalah Ayu, kau mulai mencintainya?"
"Jangan mengusik hal pribadi dan privasi ku!" tekan Farhan tak ingin membahasnya, membuat Kira menahan rasa gejolak di hati, sangat marah jika pria di sebelahnya menyebut nama sang rival.
Farhan memukul stir mobil, pikirannya seperti benang kusut. Bahkan mencoba untuk menghubungi mantan calon tunangannya, tetapi nihil. "Dimana Ayu sekarang? Dia selalu saja membuatku khawatir!" gumamnya di dalam hati.
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah petani yang sangat sederhana dan juga tumbuh, Kira segera turun dari mobil seraya menatap Farhan. "Mampirlah dulu, kau pasti sangat lelah!" tuturnya dengan penuh harapan, sangat antusias dan juga bersemangat.
Farhan segera menoleh. "Tidak! Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," bohonhnya yang tidak ingin mampir. Dia ingin bergegas untuk mencari keberadaan mantan calon tunangannya.
__ADS_1
Kira sangat kecewa, namun tidak memperlihatkan ekspresi yang sesungguhnya, menutupi raut wajah aslinya menggunakan topeng. "Ayolah, hanya sebentar saja." Bujuk nya.
"Tidak!" Farhan segera pergi dari tempat itu, tanpa memikirkan perasaan Kira yang sangat marah.
****
Farhan menuju kediaman milik Gabriel dengan perasaan yang sangat marah hampir meluap, tidak tahan karena sangat mencemaskan keberadaan Ayu. Dia menekan bel pintu dengan perasaan menggebu-gebu.
Tak lama pintu terbuka, seorang pria yang sangat dikenalnya yaitu sahabatnya masa kecilnya, Gabriel. Tanpa menunggu waktu lagi, satu pukulan mendarat di wajah pria malang itu. Salah satu sudut bibir pria itu mengeluarkan darah segar, membuat sang empunya sangat terkejut.
"Brengsek, apa yang kau lakukan?" Gabriel mengusap sudut bibirnya seraya menatap pria itu penuh keheranan.
"Dimana Ayu? Kau pasti menyembunyikannya." Farhan mengatur nafasnya, menatap Gabriel dengan sinis.
"Aku tidak mengerti!"
"Ck, jangan berpura-pura. Dimana Ayu?" tegas Farhan yang menerobos pria itu, dan segera masuk ke dalam tanpa meminta izin.
"Jangan bersikap kurang ajar!" sindir Gabriel.
Farhan tak peduli, berlari memeriksa semua tempat kediaman Gabriel dan berharap menemukan sekretarisnya. Namun tidak berhasil dalam menemukan keberadaan Ayu.
"Dimana kau menyembunyikan Ayu?" pekik Farhan yang berlari memukul wajah Gabriel.
"Sudah aku katakan, aku tidak tahu."
"Jangan berbohong!"
"Aku berkata benar."
Kedua pria itu terus bersiteru, saling melayangkan pukulan dan menyerang satu sama lain.
__ADS_1
Keesokan harinya, sang manajer mengetahui tentang tanah lonsor, dan sangat khawatir dengan kondisi Ayu yang belum kembali.