Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 47 ~ Ke Villa


__ADS_3

Ayu menoleh ke samping dan tersenyum kecil, dia mengetahui apa yang dipikirkan oleh Farhan. "Apa kau sedang memikirkan keahlian seni bela diri 'bukan?" 


"Kau benar," sahut Farhan yang penasaran. 


"Aku belajar taekwondo ketika aku masih kecil," jawab Ayu dengan enteng membuat Farhan melongo tak percaya. 


"Apa yang tidak bisa kau lakukan?" Tanya Farhan. 


"Rahasia." Jawab Ayu yang tersenyum.


"Ck, apa susahnya tinggal menjawab saja." Lirih Farhan dengan pelan sembari mendecih. 


"Kau mengatakan sesuatu?" Ujar Ayu yang fokus mengemudi. 


"Tidak."


Tak lama mobil berhenti di depan rumah sakit, mereka turun dari mobil, dan melangkahkan kaki masuk ke dalam. Dokter memeriksa luka yang ada di tangan kiri Farhan dengan hati-hati dan kembali membalut luka menggunakan perban. 


"Lukanya tidak parah, untung saja luka segera di atasi dengan sangat baik. Aku akan menuliskan resep obat dan kalian bisa menebusnya," tutur dokter yang menulis beberapa obat untuk pasiennya. 


"Terima kasih, Dok." Ayu tersenyum lega saat mendengar penuturan sang dokter. Ayu mengambil resep obat dan berpamitan untuk pergi dari ruangan itu. Mereka beranjak pergi meninggalkan rumah sakit setelah menebus obat, setelah selesai mereka kembali masuk ke dalam mobil. 


"Biarkan aku yang menyetir," tawar Farhan. 


"Tanganmu baru saja di perban, biarkan aku saja yang menyetir mobilnya," ujar Ayu. 


"Ini hanya luka kecil dan akan sembuh dalam beberapa hari," keukeuh Farhan yang tak ingin di bantah. Ayu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan pelan. 


"Terserah padamu saja."


Farhan tersenyum dan mengemudikan mobil dengan hati-hati. Suasana kian sunyi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Ayu membuka jendela mobil dan membiarkan angin menerpa wajahnya, udara yang dingin membuat pikirannya terasa tenang. Sesekali Farhan mencuri pandang, melihat Ayu yang menikmati suasana. Hingga Ayu menyadari jika jalanan yang mereka lewati bukanlah ke Mansion. "Tunggu dulu, kemana kau akan membawaku?" Tanya Ayu yang menatap Farhan dengan raut wajah serius. 

__ADS_1


"Ke Villa." Sahut Farhan yang singkat. 


"Jangan bercanda, aku sangat lelah dan ingin beristirahat."


"Kau tenang saja, Villa nya tidak jauh dari sini dan kamu bisa beristirahat."


"Ya...ya baiklah, terserah padamu saja. Aku sangat lelah sekali," keluh Ayu. 


Farhan menanggapinya dengan senyuman, dia tidak ingin pulang ke Mansion dengan kondisi tangan yang di perban. Wina pasti menanyakan mengenai luka itu dan menyalahkan Ayu atas semua yang terjadi kepadanya. Dan alasan kedua, dia bisa berduaan dengan Ayu, menghabiskan waktu bersama. "Ini kesempatanku," batin Farhan. 


Terlintas di benaknya untuk menanyakan kejadian tadi dan menanyakan pendapat kepada Ayu. "Bagaimana pendapatmu tentang ketua sekretaris yang dipecat?" Tanya Farhan dengan serius. 


"Aku merasa simpati padanya, dia melakukan hal itu karena keadaan. Jika saja aku tidak bekerja di perusahaan milikmu, dia tidak akan melakukan hal nekat. Dia menyukaimu, rasa yang ingin memiliki membuatnya gelap mata, mendorongnya melakukan tindakan kejahatan," jelas Ayu yang tidak dendam mengenai perbuatan Maudi. 


Apa yang diungkapkan oleh Ayu benar-benar berbeda dari apa yang dia pikirkan, Farhan mengira jika Ayu akan dendam kepada Maudi dan sangat gembira mengenai pemecatan ketua sekretaris. "Dia wanita yang berhati mulia," gumam Farhan di dalam hati. 


"Hem, aku terkesan dengan ucapanmu."


"Aku berencana untuk menaikkan jabatan untuk mu, bagaimana menurutmu?" Tanya Farhan yang menoleh dengan sekilas dan kembali fokus menyetir. Farhan melakukan itu saat mengetahui potensi yang dimiliki oleh wanita di sebelahnya, selain mempunyai skill yang bagus, di sisi lain dia ingin memberikan Ayu kesempatan untuk dekat dengannya. 


"Aku tidak ingin jabatan ketua sekretaris, lebih baik kau serahkan saja kepada orang yang lebih baik dariku," tolak Ayu yang memelankan suaranya. 


"Kau sangat berpotensi, aku harap kau menerimanya," bujuk Farhan. 


"Aku tidak bisa," sahut Ayu tanpa menoleh. 


"Apa alasannya?" 


"Bahwa setelah lebih dari dua bulan, aku akan memutuskan pertunangan ini dan pergi. Kita hanyalah orang asing dan tetap menjadi orang asing." Ucapan yang keluar dari mulut Ayu membuat raut wajah Farhan berubah tidak senang. 


"Kenapa dia mengatakan itu, seharusnya dia memberikan kesempatan dalam hubungan ini," batin Farhan yang kesal, hingga mengepalkan tangannya. Sontak Ayu terkejut saat tak sengaja melihat perban berubah merah akibat darah yang merembes. 

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Darahnya kembali keluar, hentikan mobilnya." Farhan mengerem mobil secara mendadak, membiarkan wanita di sebelahnya kembali mengobati luka di tangan kirinya. 


Tak butuh beberapa lama, luka itu sudah dibalut dengan perban baru yang di dapat dari rumah sakit saat pemeriksaan. "Biarkan aku saja yang mengemudikannya, kamu istirahat saja dan berikan aku petunjuk arah." Ujar Ayu yang mengambil alih kemudi. 


"Hem." Sesuai yang dikatakan Ayu, setelah memberikan petunjuk arah, dia memilih untuk tertidur di dalam mobil. 


Ayu melihat wajah teduh Farhan yang tertidur dan kembali fokus mengemudi, dia menghela nafas saat perjalanan menuju Villa sangatlah jauh. "Dasar penipu, lokasinya sangat jauh tapi dia mengatakan sangat dekat. Jika aku putar balik akan memakan waktu lama! Untung saja kesabaran ku berlapis seperti wafer, jika tidak? Sudah pasti aku mencekiknya." Ayu terus saja mengomel kesal saat mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh Farhan. 


Farhan menggeliatkan tubuhnya dengan gelisah, keringat yang mengucur deras di dahinya, dia bermimpi mengenai seorang gadis kecil yang menyelamatkannya ketika dikurung di sebuah ruangan gelap. "Kira kau dimana, aku merindukanmu. Kira…Kira!" racau Farhan yang membuat Ayu sangat penasaran. 


"Kenapa dia memanggil nama Kira? Siapa dia? Apa itu nama kekasihnya yang sudah mati? Mungkin saja dia terobsesi dengan itu, hingga tidak bisa melupakannya." Serentetan pertanyaan menyelimuti pikirannya, saat melihat Farhan bermimpi. 


Farhan terbangun dari mimpinya, dengan nafas yang tersengal-sengal membuat Ayu sedikit khawatir. 


"Apa kau tidak apa-apa?" 


"Aku tidak apa-apa. Apa kita sudah sampai?" Tanya Farhan dengan suara parau. 


"Sebentar lagi kita sudah sampai." 


Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah Villa. Ayu sangat senang, itu artinya dia bisa beristirahat dengan tenang. Meregangkan otot-otot nya yang kaku akibat mengemudi mobil terlalu lama. "Akhirnya sampai juga, apa ini lokasi yang benar?" Tanya Ayu yang memastikan. 


"Benar, ayo masuk. Tapi sebelum itu ambillah kuncinya dari saku celana samping ku," ucap Farhan yang sengaja menyuruh Ayu. 


"Aku? Kenapa tidak kau ambil saja!" 


"Tangan kiriku terluka, bagaimana cara ku mengambilnya?" Jawab Farhan. 


"Kau bisa menggunakan tangan kanan."


"Dasar bodoh, kuncinya ada di aku sebelah kiri. Jangan membantah kepada bosmu, cepat ambilkan!" titah Farhan membuat Ayu mendengus kesal, dia menuruti perkataan dari bosnya dengan malas. Sedangkan Farhan tersenyum senang, berhasil membuat Ayu semakin dekat dengannya. 

__ADS_1


   


__ADS_2