
Farhan menangis saat mendengar suara tangisan dari bayi-bayinya, ketiga anaknya selamat tapi tidak dengan Ayu yang tiba-tiba pingsan. "Dok, kenapa istri saya pingsan?" tanyanya yang begitu panik, dia tak tahu harus apa.
"Mundurlah sedikit, Tuan." Ucap dokter dan beberapa suster untuk mengambil tindakan, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien.
"Dok, pasien kehilangan banyak darah dan golongannya O."
"Hem, segera ambil stok darah!"
"Tidak ada stok untuk golongan darah O," ucap suster yang cemas, hal itu semakin membuat Farhan bertambah panik.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan istriku pergi. Aku dan ketiga anak kita membutuhkanmu, dan tidak akan aku biarkan kau pergi." Gumam Farhan yang segera beranjak dari ruangan itu, dia bahkan tak melihat anak-anaknya.
Farhan berlari keluar bangsal, segera meraih ponsel menghubungi keluarganya. Tapi niat itu diturunkan saat melihat kedatangan keluarganya di rumah sakit.
"Kenapa kau panik, bagaimana keadaan cucu dan juga cicitku?" tanya Tirta yang tersenyum sumringah, mengira jika semua baik-baik saja. Namun, dia melihat raut wajah Farhan yang tampak gelisah.
"Kenapa kau diam saja? Kakek bertanya!" sentak Leon yang khawatir dengan kondisi adiknya.
"Ayu kehilangan banyak darah, stok golongan darah O tidak ada. Kalian tenang saja, aku tidak akan hal buruk menimpanya." Jelas Farhan yang menguatkan keluarganya.
Belum sempat mereka menyahut perkataan dari Farhan, terlihat pintu ruangan terbuka. Beberapa suster mendorong brankar dan hendak memindahkan ke ruangan gawat darurat, hal itu membuat keluarga shock dan terkejut dengan kondisi Ayu yang malang.
"Kenapa istri saya di pindahkan, Dok?" tanya Farhan yang langsung menghentikan sang dokter.
"Kondisi pasien memburuk dan kami harus mengatasi ini dengan memindahkan ruang gawat darurat." Jelas sang dokter yang pergi setelah mengucapkan permisi.
Farhan terdiam beberapa detik, seakan dunianya runtuh atas perkataan dokter. Tidak bisa dibayangkan akan kehilangan sosok sang istri yang begitu dicintainya. "Aku tidak akan membiarkan hal ini," tekadnya yang menggelengkan kepala, dengan cepat dia mengejar brankar Ayu yang sudah berpindah ruangan.
"Anda tidak bisa masuk, tunggulah diluar!" ucap salah satu suster yang mencegah langkahnya.
"Saya suaminya, jangan mencoba untuk menjauhkanku dengan istriku." Ancam Farhan dengan tatapan tajamnya, dia sangat kesal ada orang yang menghentikannya.
"Mohon kerjasamanya, Tuan. Permisi," suster langsung menutup pintu, menyulut emosi Farhan yang ingin menemani istrinya. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, yaitu tangan kanannya asisten Heri.
__ADS_1
"Halo."
"Iya Tuan, ada apa?"
"Carikan golongan darah O, dan aku ingin secepatnya!"
"Baik Tuan, laksanakan."
Leon, Tirta, dan Hendrawan menghampiri Farhan. Mereka mendengar percakapan lewat telepon, menjadi khawatir dengan keselamatan Ayu dan juga tiga bayi kecil.
"Aku mendengar kau membutuhkan golongan darah O?" sela Leon yang mengingat jika golongan darah itu dimiliki oleh sekretaris pribadinya.
"Benar, Ayu kehilangan banyak darah dan membutuhkan golongan darah O. Saat ini, tidak ada stok di rumah sakit." Jelas Farhan yang mengusap wajahnya dengan kasar, dia segera menghubungi beberapa rumah sakit dan juga tidak memiliki stok darah O.
"Darah O? Kau tidak perlu cemas, kita akan mendapatkan golongan darah O dengan cepat." Sahut Leon yang tersenyum penuh keyakinan, sementara Farhan bisa bernafas dengan lega.
"Aku percaya padamu."
Leon menganggukkan kepala, segera menghubungi sekretarisnya. Dia terus mencoba untuk menghubungi sekretarisnya yang tidak ada jawaban. "Sial, kemana wanita itu?" geramnya yang tampak kesal di situasi saat ini.
"Sial, kau selalu saja membuatku kesal. Cepat datang ke rumah sakit yang telah aku kirimkan alamatnya, sekarang juga! Apa kau mendengarnya?"
"Apa tuan pemarah sepertimu bisa sakit?"
"Tutup mulutmu, cepat datang! Ini masalah hidup dan mati."
"Wah, jika tuan mengatakan hal itu, maka baiklah. Aku akan sampai secepat kilat, aku mencintaimu."
Leon tak menggubris perkataan dari sekretarisnya, segera mengatakan kabar baik kepada Farhan. "Kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi pendonornya akan segera sampai kesini."
"Syukurlah."
Tak berapa lama, terlihat seorang wanita dengan penampilan yang begitu kusut menghampiri mereka dan segera mengecek darahnya. Farhan berhutang budi kepada Leon yang sudah menyelamatkan nyawa istrinya, bahkan semangatnya kembali lagi saat sang dokter mengatakan semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan Ayu." Tutur Farhan dengan tulus, dia bisa bernafas lega saat semua baik-baik saja yang terpenting kondisi istri dan ketiga bayinya selamat. Segera memeluk tubuh Leon dengan air mata kebahagiaan yang menetes, momen haru yang terekam oleh Tirta dan juha Hendrawan sebagai saksi membuat mereka ikut tersenyum.
"Tapi dimana cicit kami?" celetuk Hendrawan yang sudah tidak sabar melihat ketiga cucu kembar mereka.
"Lihat saja di kamar bayi."
"Ayo, kita lihat kembar tiga itu," ajak Tirta yang begitu bersemangat, merangkul Hendrawan dan tertawa bersama.
"Kalian pergi saja, aku akan menjaga Ayu disini."
"Apa kau yakin?"
"Hem, setelah Ayu sadar barulah kami melihatnya bersama-sama."
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi sebelum itu, apa jenis kelamin ketiga cicit kami?" tanya Tirta yang begitu bersemangat.
"Anak pertama dan kedua berjenis kelamin laki-laki dan terakhir perempuan." Ungkap Farhan yang melihat dengan sekilas sewaktu perjuangan sang istri yang begitu berat.
"Benarkah?" Leon sangat bersemangat saat mendengar ungkapan Farhan, apalagi keponakan terakhirnya perempuan.
"Iya, kalian duluan saja. Aku akan disini dan menemani Ayu, setelah siuman kami akan kesana."
"Baiklah."
Farhan melihat kepergian dari tiga pria itu dengan tersenyum, dan segera masuk ke dalam ruangan. Terlihat tubuh lemah yang ada di atas brankar, dia akan berterima kasih pada sekretaris Leon yang menjadi penyelamat istrinya. Dia berjalan menghampiri Ayu dengan tatapan penuh cinta dan juga sendu yang bercampur menjadi satu. Menggenggam tangan lentik dan menciumnya dengan sangat lembut. "Kau wanita yang kuat, bukalah matamu! Apa kau tidak ingin melihat anak-anak kita?" lirihnya pelan. "Aku tidak sanggup dengan pengorbananmu yang begitu besar untukku, melahirkan tiga orang anak begitu menyakitkan. Kau wanita terhebat, dan selamanya aku akan menghormatimu. Bukalah matamu demi aku…demi anak kita."
Seketika mata yang terpejam itu terbuka dengan perlahan, mengusap kedua pipi yang meneteskan air mata. "Kita pasti bisa melewati hari-hari sulit jika bersama, terima kasih kau selalu berada di sampingku."
"Sttt…jangan katakan apapun lagi, kau masih belum pulih sepenuhnya. Kau wanita terhebat dan ibu yang kuat."
Ayu tersenyum tulus. "Dimana anak-anak ku? Aku ingin melihat mereka, bawa mereka padaku." Desaknya yang sudah tidak sabar.
"Tenanglah, kita akan melihat mereka. Aku sudah mengatakan pada suster untuk penindahanmu ke ruangan rawat inap, aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu."