
Farhan menatap tajam wanita yang berani menuduh Ayu, sekarang tibalah saatnya dia memainkan perannya. Tiara menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokannya, melihat tatapan tajam dari pria yang menghadang membuatnya ingin kabur dari sana. "Sial, pria ini malah menghadangku!" umpatnya kesal.
"Apa kau berpikir untuk lari? Itu tidak akan bisa, karena permainan baru saja dimulai," ucap Farhan tersenyum smirk.
"A-apa maksudmu mengatakan itu? Aku tidak mengerti," seloroh Tiara yang gugup.
"Akui kejahatanmu atau aku sendiri yang akan membongkarnya!" ancam Farhan.
"Ck, menyingkirlah!" ketus Tiara yang ingin menerobos, tapi Farhan memblokir jalannya.
Farhan melirik asistennya, memberikan isyarat dengan anggukan kepala dengan pelan. Untung saja asisten Heri memahami hal itu, dan mulai masuk dalam perannya. Farhan kembali mengalihkan perhatiannya menatap sang tersangka. "Kau menjiplak karya Ayu dan malah menuduhnya, ternyata kau mempunyai mata-mata di perusahaanku." Ungkapnya.
Asisten Heri memegang tangan seorang asisten yang membantu Tiara untuk membocorkan informasi lewat orang dalam. "Dan pria yang bersama asistenku adalah mata-mata perusahaan." Lantang Farhan yang berhasil mendapatkan mata-mata perusahaan lain.
Sontak Tiara sangat terkejut, berusaha untuk menutupi ekspresinya agar tidak terbaca orang lain. Tapi, Ayu tersenyum saat berhasil melihat raut wajah dari musuhnya. "Cepat kau katakan di hadapan semua orang," desak asisten Heri yang semakin mengunci pergerakan asisten Tiara.
"Ya, aku mata-mata udan bekerjasama dengan nona Tiara."
Wajah Tiara berubah menjadi pucat saat mendengarkan pernyataan berbalik padanya, sementara Gabriel dan Raymond tersenyum melihat aksi Farhan.
"Setidaknya dia sedikit berguna," batin Gabriel.
"Seperti yang dikatakan oleh Ayu, bahwa majalah ditunjukkan itu merupakan majalah palsu. Bahkan kalian tidak pernah melihat majalah itu sebelumnya, sumbernya tidak jelas dan terbukti jika majalah itu dibuat secara pribadi untuk menjatuhkan perusahaanku dan mencemarkan nama baik dari sekretaris ku." Ucap Farhan yang berhasil mendapatkan celah.
"Apa yang dikatakan tuan Farhan benar!" ucap salah satu orang yang berbisik.
"Akan aku ungkap semuanya tanpa terlewatkan. Heri, lakukan!" titah Farhan yang melirik asistennya, dengan cepat asisten Heri meminta security untuk mengamankan mata-mata, memperlihatkan layar di depan mengenai kebusukan Tiara.
"Kalian bisa melihatnya dengan jelas, semua karya yang diciptakan oleh wanita ini adalah plagiat. Tidak ada hasil jerih payahnya sendiri, kekuasaan dari ayahnya lah membuat wanita ini bertindak semaunya dengan menuduh perancang asli sebagai plagiat." Terang Farhan yang membongkar identitas wanita itu.
Semua orang terkejut dengan bukti yang membongkar kedok wanita itu, Tiara terbelalak kaget dan tak menyangka jika Farhan membuka topengnya di hadapan awak media dan semua orang. "Aku menyerang Ayu satu langkah, tapi pria ini malah membongkar kedokku. Apa yang harus aku lakukan?" batinnya yang mencari cara agar terhindar dari masalah itu.
__ADS_1
"Wah, tak aku sangka Farhan malah mencabut akarnya dengan sekali sentakan. Luar biasa, aku terkesan dengan caranya membelaku." Batin Ayu yang tersenyum seraya melirik Farhan.
Gabriel melihat hal itu, seketika perasaannya terluka. "Ck, jika aku menjadi Farhan pasti melakukan hal yang sama." Batinnya kesal.
Semua orang kembali berbisik-bisik dengan aksi sikap tak terpuji Tiara. "Nama yang bagus dengan akhlak kurang," bisik salah satu orang ke arah teman di sebelahnya.
"Kau benar, dia datang sangat angkuh dan sekarang malah terjebak dengan tuduhannya sendiri."
"Ayu sangat malang, tapi untung saja dia sangat cerdas menampik hal itu. Dan tuan Farhan melakukan hal yang benar!"
Tiara mendengar sayup bisikan yang membuat telinganya panas, tidak ada cara lain untuk menghindar ataupun mengelak. Seketika tubuhnya terjatuh dan diangkat oleh para satpam.
"Ck, wanita itu menghindar dengan cara pura-pura pingsan," gumam Ayu yang memahami langkah Tiara.
Karena semua bukti yang dituduhkan itu tidak benar, permasalahan terselesaikan dengan baik. Konferensi pers berjalan dengan lancar membuat semua orang bertepuk tangan, bangga dengan keteguhan Ayu dan pembelaan dari Farhan. Sungguh pasangan yang sangat serasi.
Orang-orang yang terkenal di berbagai banyak perusahaan hadir di acara itu mengajukan kerjasama dengan perusahaan Farhan, kenaikan yang cukup signifikan membuat proyek berjalan dengan sesuai dengan target Farhan.
"Saya juga tertarik!"
"Saya juga tertarik dengan hasil desain dari nona Ayu, sangat memuaskan."
Farhan dan Ayu saling menatap beberapa detik dan melempar senyuman. "Aku mengundang kalian semua untuk menghadiri acara perayaan nanti malam," ucapnya dengan suara tegas.
"Tentu saja!" sahut mereka kompak.
Farhan menghampiri Ayu dan mencondongkan tubuhnya. "Aku akan menjemputmu nanti!" ucapnya dengan pelan.
"Baiklah," sahut Ayu yang tersenyum bahagia. Terlihat keduanya sangat dekat membuat Vanya menatap dari kejauhan menghentakkan kedua kakinya kesal.
"Hubungan mereka sangat dekat," lirihnya yang sangat cemburu. Vanya memutuskan untuk pergi karena tak ingin berlama-lama melihat kemesraan yang terpampang jelas.
__ADS_1
****
Acara diadakan di hotel milik Raymond sesuai kesepakatan bersama. Saat itu dia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya, tiba-tiba menjadi terganggu saat mendengar teriakan di luar. "Ck, siapa yang menggangguku?" gumamnya kesal dan menghampiri asal suara keributan.
"Akhirnya kau keluar juga," ucap mantan kekasih yang tak lain adalah Raina.
"Heh, kau lagi. Kenapa kau ada di sini dan membuat keributan?" tanya Raymond yang menatap tajam.
"Aku sudah merenungi kesalahanku kepada Ayu, untuk itulah aku datang kesini." Jawab Raina.
"Akhirnya kau menyadari kesalahanmu itu."
"Kau benar, terlalu banyak salah pada Ayu dan ingin meminta maaf padanya!" ucap Raina dengan penuh penghayatan.
Raymond melihat raut wajah mantan kekasihnya yang sangat menyesal. "Sepertinya kau tulus mengatakan itu! Aku akan mengijinkan kau untuk meminta maaf." Ucapnya yang melihat mata penyesalan, yapi dia lupa jika Raina seorang aktris yang dapat merubah ekspresi dengan sangat mudah.
"Rencanaku berhasil, selanjutnya rencana ke dua," batin Raina tersenyum. "Terima kasih kau telah mempercayaiku, saat itu aku khilaf dan baru menyadarinya."
"Tidak masalah, yang terpenting sekarang kau menyadarinya." Ucap Raymond yang melembut.
"Hem, kau benar. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua atau diriku akan hidup dalam penyesalan yang mendalam," Raina menatap mantan kekasihnya dengan sendu, berharap kembali mendapatkan simpati.
"Jika tak ingin dibicarakan lagi, kau boleh pergi!" usir Raymond.
"Baiklah, terima kasih sudah meluangkan waktumu sebentar."
"Tidak masalah," Raymond memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat dengan sejenak.
Raina menatap punggung mantannya yang menghilang dari pandangan, tersenyum senang saat rencana kedua akan dijalankan. "Ternyata Raymond sangat mudah di tipu, aku akan memainkan permainan ini dengan wanita itu, pasti sangat seru!" gumamnya yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa menit sebelum acara dimulai, banyak orang sudah hadir di sana. Semua persiapan yang cukup matang membuat mereka sangat puas.
__ADS_1