Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 242 ~ Jengkel


__ADS_3

Vanya terus memaksa kakaknya untuk membantu dirinya, berusaha keras agar pria dihadapannya menyetujui permintaan. Menggunakan cara jitu, yaitu menangis dan juga dapat meruntuhkan benteng pertahanan yang dibangun kokoh oleh Biru. Dia terus merajuk seperti seorang anak kecil yang belum dibelikan mainan, berusaha dengan apa yang dia miliki. Dia tahu, jika pria di hadapannya sedikit keras, Tidak ada yang tidak mungkin tercapai oleh dirinya. "Ayolah, Kak. Bantu aku!" 


"Tidak, itu tidak baik untukku. Cukup besar resiko yang kita ambil, dan mempertahankan segalanya tidaklah mudah. Kamu tahu kan, bagaimana Farhan yang begitu keras kepala. Aku bahkan tidak ingin berurusan dengannya!" tolak biru yang melepaskan tangan adiknya mencengkram lengan, dia memutuskan untuk duduk menjauh dari adiknya yang sangat ambisius.


Vanya mendengus kesal, karena permintaannya ditolak mentah-mentah oleh kakaknya sendiri. "Apa untungnya aku mempunyai kakak sepertimu, yang bahkan tidak bisa membantu adiknya dalam situasi genting ini." Katanya dengan wajah yang muram, membuat Biru sedikit tidak tega apalagi melihat air mata yang keluar dari atas yang adik. 


"Astaga…dia menjebakku dengan air matanya, salah satu kelemahan yang tidak bisa aku hindari." Batin Biru yang frustasi, dia mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal, kembali mendekati adiknya dan membujuk gadis kecil yang selalu bermain dengannya. "Maafkan aku, hanya saja permintaanmu kali ini tidak bisa aku kabulkan, sebaiknya kamu lupakan Farhan dan jangan terlalu obsesi kepada pria itu."


"Aku tidak obsesi, tapi aku mencintainya, kakak tidak akan tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Jangan sok mengajarkan kepadaku, jika Kakak masih menyayangiku, segera lakukan apa yang ingin aku capai."


"Baiklah, berhenti menangis. Aku kan mengabulkan perkataanmu."


"Sungguh?" kedua manik mata terpancar begitu cerah dan berbinar mendengar jawaban sang kakak yang akan membantunya, dengan cepat dia menghapus air mata dan memeluk pria di sebelahnya dengan erat.


Setelah kepergian dari Biru, Vanya segera menelpon Jenni, dia sudah tidak sabar ingin menjalankan rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa. 


"Halo."


"Iya Vanya, ada apa menghubungiku?" 


"Aku punya rencana bagus untuk membunuh musuh kita Ayu."


"Apa kau gila? Kita bisa masuk penjara, dan aku tidak ingin mendekam di sel yang dingin itu. Aku tidak ingin terlibat!" 


"Hei, apa yang kau maksud? Mengapa kita mempunyai musuh yang sama dan harus dilenyapkan, tentu saja tidak yang cantik."


"Aku tidak mau mengerti."


"Aku ingin kamu mengajak pianis yang terkenal, Yuna. Hanya untuk bertemu denganku, dan sisanya akan aku tangani sendiri, yang jelas kita akan membunuh dan melenyapkan nyawa dari Ayu."

__ADS_1


"Hem, baiklah. Aku setuju, asalkan tidak aku yang mendekam di penjara."


"Kau tenang saja, jika permasalahan hanya itu yang penting kamu mengatur jadwal dan janjiku dengan Yuna."


"Katakan bagaimana caranya aku sangat penasaran."


"Tidak seru juga mengatakannya sekarang, tunggulah permainannya baru saja kita mulai."


Vanya segera memutuskan sambungan telepon, dia tersenyum licik mengingat dirinya sudah mempunyai rencana yang akan membunuh lewat orang lain, membuat mengotori tangannya sendiri.


****


Pada keesokan harinya, seorang pria tampan yang lengkap dengan setelan jas tengah mengemudi mobil mewah miliknya, datang ke apartemen dan ingin menjemput sang pujaan hati. Senyum terlihat dengan jelas, bahkan orang-orang yang melihat hal itu akan bergidik ngeri. Ya, karena senyum yang dia miliki tampak menyeramkan, raut wajah datar dan senyum seperti yang dipaksa. 


Tak lama mobilnya berhenti, dan segera turun berjalan menuju apartemen. Dia menghela nafas panjang, masih cukup jika menghampiri wanita yang bisa membuatnya berdebar-debar. Tapi sebelum itu dia merapikan jasnya, entah sudah berapa kali dia memeriksa penampilannya di pagi ini, karena ingin mengajak Ayu untuk pergi berangkat bekerja bersamanya. Setelah semuanya selesai, Farhan ingin menekan bel dan mengetuk pintu tetapi pintu itu tiba-tiba terbuka dan terlihat seorang wanita yang sudah berpakaian formal tersenyum hangat dan melihat wanita cantik di pagi hari.


"Selamat pagi. " Ucap Farhan yang menyunggingkan senyuman.


"Maaf, aku datang hanya untuk mengajakmu berangkat bersama ke kantor bersama." 


"Kebetulan sekali, ayo!" Ayu menarik tangan Farhan dan berjalan menuju mobil mereka segera masuk ke dalam mobil. 


Du sepanjang perjalanan, Farhan terus saja mencari-cari perhatian untuk tetap bisa berkomunikasi dengan Ayu yang notabennya sebagai sekretaris, entah berapa lama dan berapa pertanyaan yang telah dijawab. Tak lama mereka sampai di gedung yang menjulang tinggi, ke atas mereka segera turun setelah memarkirkan mobil. "Kita sudah sampai."


Ayu menatap sekeliling dan benar adanya. "Baiklah, terima kasih atas tumpangannya." Setelah mengucapkan hal itu, dia segera berlalu pergi menuju departemen sekretaris, tempat di mana dia bekerja, berkutat pada laporan berkas dan juga data.


Di siang hari, Ayu tiba-tiba mendapatkan telepon dari sahabatnya Alvaro. Entah mengapa pria itu meneleponnya di saat jam makan siang. dia itu Ingin bertemu dengannya di sebuah cafe Dan tak jauh dari tempatnya bekerja.


"Ada apa kamu mengundangku ke tempat ini?" 

__ADS_1


"Kenapa kau selalu saja terburu-buru? Biarkan aku menikmati wajah cantikmu itu," goda Alvaro yang tersenyum.


Ayu mulai jengkel dengan sikap Alvaro. "Lupakan itu, ada apa kau mengundangku ke sini?"


"Apakah lupa? Kaulah yang memintaku untuk mencari informasi dari Kira. Aku sudah menemukan informasinya dan ingin mengatakannya langsung kepadamu." Alvaro mendekatkan wajahnya ke arah sang sahabat dan sedikit berbisik.


"Baiklah, katakan saja intinya. Aku sudah tidak sabar," tutur Ayu yang sangat tertarik dengan pembahasan mereka.


"Aku menemukan bahwa profesor yang mengadopsi Kira telah meninggal setahun yang lalu, dan wanita itu tidak memiliki catatan rawat inap sebelumnya. Kau pasti bisa menyimpulkannya, aku harus pergi dan sebaiknya kau kembali ke kantor?" ungkap Alvaro serius.


Ayu menganggukkan kepalanya, dan dia sangat senang mendengar ucapan mengenai identitas Kira yang sudah dipastikan jika wanita itu benar-benar penipu. Namun sayang, Farhan tidak bisa melihat kenyataan yang ada, dan masih mempercayai jika itu adalah gadis kecil yang pernah menyelamatkannya. "aku sudah mengerti," batinnya yang tersenyum puas, dia merasa lega saat wanita yang sebagai musuhnya bukanlah Kira yang asli, dan hal itu bisa membantunya di masa depan.


Dikantor, Ayu ingin kembali bekerja. Tapi suara seseorang yang memanggil namanya menghentikan langkah kaki, siapa lagi jika bukan Farhan. "Ada apa?" 


"Aku ingin kamu membawakanku kopi!"


"Baiklah." 


Ayu segera membuatkan kopi sesuai permintaan bosnya, menyeduhnya dan menyajikannya ke ruangan Ceo. "Minumlah, aku permisi dulu."


"Eit, siapa yang memberimu izin untuk pergi?" Farhan melirik sekretarisnya sambil menyeruput kopi.


Ayu segera menoleh sembari menghela nafas. "Apa lagi?" 


Farhan berjalan menghampiri sekretarisnya. "Aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersamaku," ajaknya yang antusias. 


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Malam ini aku sudah membuat janji dengan Gabriel, aku pergi dulu!" 


Seketika wajah Farhan berubah, dia sangat marah jika Wanita itu telah membuat rencana dengan Gabriel.


__ADS_2