Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 25 ~ Kemana semua barangku?


__ADS_3

Maudi memanggil sekretaris baru dan menghampiri, dengan membawa berkas di tangannya. "Kebetulan kau ada disini," ucap Maudi dengan angkuh. 


"Ada apa?" Tanya Ayu yang menautkan kedua alisnya. 


"Ada sebuah proyek kerja sama selanjutnya yang harus kau selesaikan," jelas Maudi yang menyerah sebuah berkas dan menjelaskannya. Ayu menerima berkas itu dan membaca isi proyek kerja sama itu dengan sangat teliti, dan tersenyum sekilas. "Terima kasih," ucapannya yang berlalu pergi meninggalkan ketua sekretaris. 


Maudi juga meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal, karena sebelumnya dialah yang menangani proyek kerja sama itu. Tapi Farhan mengalihkan nya kepada sekretaris baru. "Semenjak kedatangan sekretaris baru itu, hidupku seperti tidak tenang. Harusnya aku yang diuntungkan untuk ini, bukan dia," gerutunya. Pada saat ini, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Maudi menghentikan langkah kakinya dan membaca pesan teks yang dikirimkan oleh Vanya, dia tersenyum smirk saat melihat pesan masuk di layar ponselnya yang meminta Maudi mengusir Ayu. 


Di sisi lain, seharian Ayu disibukkan dengan membaca informasi yang diberikan ketua sekretaris kepadanya dan dia hanya menindaklanjuti kemajuan dari proyek itu. 


"Semangat Ayu, selesaikan pekerjaanmu dengan sangat cepat," gumamnya yang menyemangati diri sendiri. 


Tak butuh waktu yang lama untuk Ayu menyelesaikan pekerjaan nya, menyandarkan punggungnya di kursi dengan meregangkan otot-otot yang terasa kaku. "Akhirnya pekerjaanku terselesaikan dengan baik, lebih baik aku pulang dan beristirahat," lirihnya pelan yang membereskan meja kerja dan mengambil tas kecil yang selalu di bawa. 


Ayu melangkah keluar dari kantor dan menunggu mobil jemputan dari keluarga Hendrawan. Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di hadapannya, dengan cepat Ayu masuk ke dalam mobil menuju Mansion.


Saat pulang kerja, Ayu melangkah menuju kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Tapi dia sedikit aneh saat masuk ke dalam kamar dengan nuansa yang berbeda, bahkan barang-barang yang dipajang tidak ada di kamar itu. 


"Kemana semua barang-barang milikku?" Gumam Ayu yang mencari beberapa baju yang dia bawa tidak ada di dalam lemari pakaian. Ayu mengepalkan kedua tangannya, keluar dari kamar dengan langkah yang tergesa-gesa. 


Dia berhenti saat melihat salah satu pelayan yang bekerja di Mansion. "Apa kau tahu di mana letak barang-barang yang ada di kamarku?" Tanyanya. 


"Barang-barang Nona ada di lantai satu," jawab pelayan itu. 


"Lantai satu? Tapi siapa yang memindahkan semua barang-barangku, apakah ini perintah dari kakek?" 


"Nona Laras yang melakukannya, saya pamit undur diri." Ayu menatap kepergian dari pelayan itu beberapa saat dan kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju lantai satu. Ayu berjalan mendekati Laras yang sedang melihat beberapa pakaiannya. 


"Oho, jadi kaulah pelakunya?"


Laras berbalik dan tersenyum tipis saat mendengar suara yang dia kenal, melipat kedua tangan di depan dadanya sambil menyeringai tipis. 


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Ayu dengan datar. 


"Kau orang baru dan ikuti peraturannya, bahkan kau tidak pernah membantu sama sekali, hanya bisa numpang tidur dan makan," cetus Laras yang menyindir.

__ADS_1


"Kau ini sangat lucu sekali, aku adalah tamu."


"Setidaknya bantulah pekerjaan pelayan, dasar penikmat gratisan!" ejek Laras sembari melihat beberapa barang yang dimiliki oleh Ayu adalah Costum-Made, dirancang khusus. 


"Semua barang-barang nya seperti dirancang khusus," batin Laras yang terus melihat hal itu, Ayu tersenyum miring. Memandang Laras seolah-olah dia adalah orang idiot, kehidupan sebelumnya mengajarkan dia untuk memahami semua sisi dari pengalaman hidup yang tidak mudah. Selalu ada rintangan yang menghalangi jalannya menuju kesuksesan. 


"Jangan menatap barang-barang milikku dengan mata kotormu itu, sekarang kembalikan semua ini seperti semula," Lantang Ayu dengan tatapan tajamnya. Ketika Laras mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. 


"Kau sangat cocok tinggal disini bersama dengan para pelayan lainnya."


"Kau tidak ada hak untuk memindahkan semua barang itu, cepat kembalikan sebelum batas kesabaran ku habis."


"Apa? Apa kau pikir jika aku takut kepadamu, hah? Kau hanyalah gadis kampung yang tidak layak menjadi pendamping kak Farhan," ucap Laras dengan lantang. 


Ketika Farhan pulang, dia mendengar suara keributan dan pertengkaran dari lantai satu dan menanyakannya kepada pelayan. "Apa yang terjadi?" 


"Nyonya Wina memerintahkan beberapa pelayan untuk memindahkan semua barang milik nona Ayu ke kamar pelayan, Tuan."


"Apa?" Farhan dengan cepat berjalan menuju ke kamar ibunya dan menanyakan hal itu. Tak butuh waktu yang lama untuk Farhan sampai di kamar Wina, masuk ke dalam dengan raut wajah yang tegas. 


"Jangan berbasa-basi, kenapa Mama memindahkan semua barang Ayu ke kamar pelayan?" 


"Itu lebih baik," sahutnya dengan enteng. 


"Jika kakek mengetahui hal ini, bagaimana?" Ancam Farhan membuat Wina terdiam, dia tidak memikirkan hal itu. "Cepat kembalikan semua barang miliknya di kamar tamu atau aku akan memberitahukan ini kepada kakek."


"Kau mengancam Mama?" ucap Wina yang tak percaya dengan pembelaan putranya kepada gadis kampung itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Farhan mengeluarkan ponselnya membuat Wina dengan terpaksa memerintahkan para pelayan untuk kembali meletakkan semua barang itu di kamar tamu. 


Farhan berlalu pergi menuju kamar pelayan, melerai pertengkaran antara Ayu dan juga Laras. "Hentikan ini!" lantangnya tanpa ekspresi membuat kedua wanita itu terdiam. 


"Semua barang-barang miliknya akan kembali di pindahkan ke kamar tamu, di tempat seharusnya. Sekarang kau pergilah dari sini," ucap Farhan yang menatap Ayu dan melirik Laras dan mengusirnya.


Laras pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol, karena Farhan selalu saja membela Ayu di setiap situasi. Sedangkan Ayu juga sangat kesal dan kembali ke kamar tamu tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Farhan. 


Di kamar tamu.. 

__ADS_1


Ayu membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur empuk itu, meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal. Baru saja dia ingin beristirahat, suara ponsel kembali mengganggunya, Ayu melihat layar ponsel dan mengangkat sambungan telepon. 


"Halo."


"Bagaimana dengan kabarmu?"


"Aku sangat baik, ada apa menelponku?" 


"Aku mendapatkan peran dalam sebuah drama baru dan ingin mengundangmu ke Bar untuk merayakan nya."


"Aku tidak bisa berjanji untuk itu."


"Ayolah, apa kau tega kepadaku?"


"Aku hanya bercanda, tentu saja aku setuju."


"Kau membuat aku khawatir saja, jangan lupa datang ya. Aku akan mengirimkan lokasi dan jadwalnya di pesan singkat."


"Baiklah." Ayu mematikan sambungan telepon dan tersenyum. 


"Siapa yang menelpon mu?" Ucap seseorang dari belakang membuat Ayu segera berbalik badan. 


"Bukan urusanmu," cetus Ayu yang tidak ingin mengatakannya. Ucapan darinya berhasil membuat Farhan mengeraskan rahang dengan tatapan elang miliknya, dia kesal karena Ayu tidak mengatakan siapa yang baru saja menghubunginya. 


"Ck, kau membuat aku kesal saja."


"Terserah padamu saja, kenapa kau ada di kamarku? Dasar tidak sopan, seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu."


"Aku ingin membawamu mengunjungi Kakek di akhir pekan," jawab Farhan. 


"Hem, baiklah." Ayu setuju untuk mengunjungi kakek Farhan di akhir pekan karena hal itu cukup masuk di akal. "Hanya itu saja?" celetuk Ayu. 


"Memangnya kenapa?" Farhan menyatukan kedua alisnya.


"Keluar dari kamar ini!" usir Ayu yang mendorong tubuh Farhan dan menutup pintu, dia sangat kelelahan dan tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Farhan. 

__ADS_1


__ADS_2