
Ayu memberanikan diri untuk berjalan melewati orang-orang yang mulai menjauh bermaksud untuk memberikan jalan, tatapan semua orang yang menyorotnya dengan sangat serius. Melangkahkan kaki ke beberapa anak tangga untuk naik ke atas panggung. Suasana menjadi hening, mereka penasaran apa yang dilakukan oleh calon tunangan yang sebentar lagi terikat nama dengan Farhan.
Tatapan semua orang membuatnya sedikit gugup, ingin mengatakan keputusannya untuk mengakhiri pertunangan dengan hubungan yang menurutnya tidaklah sehat. Tidak ingin mempunyai pasangan yang masih dibayang-bayangi oleh masa lalu.
Menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, dia tak tahu apa yang akan terjadi. Karena hati mengalahkan pikirannya saat ini dan hendak memutuskan segalanya dan akan sampai kepada semua orang yang berada di tempat itu. Mengambil sebuah mikrofon dengan penuh keyakinan.
"Dimana Farhan? Kenapa Ayu hanya pergi sendiri saja?" gumam Hendrawan yang yang sangat penasaran, segera melangkahkan kakinya menyusul calon cucu menantu, ingin menghilangkan semua pertanyaan. "Bisa bicara sebentar?" ucanya yang menatap gadis muda itu.
Ayu menatap pria tua itu dengan kedua mata yang sendu. "Ada apa, Kek?"
Hendrawan menatap gadis itu dengan lembut dan penuh khawatir. "Kau darimana saja? Di mana Farhan? Bukankah aku meminta kalian untuk pergi bersama? Dan kenapa wajahmu sehabis menangis?" serentetan pertanyaan yang terus terlontar kearah Ayu, sambil celingukan mencari keberadaan sang cucu.
Ayu berusaha untuk menyembunyikan air mata yang ingin jatuh, namun dia tak bisa menahannya lebih lama lagi. Pandangan Hendrawan membuat air mata lolos dengan sempurna. "Dia tidak akan datang, Kek." Lirihny pelan.
"Apa maksudmu?" Hendrawan menautkan kedua alisnya karena penasaran, dia juga tak mengerti kenapa gadis itu menangis.
"Dia tidak akan datang." Ulang Ayu dengan lirih dan menundukkan kepala, kembali bulir bening yang menetes.
"Apa alasannya? Dan siapa yang membuatmu menangis? Katakan kepada Kake!"
"Aku harus menyelesaikannya, Kek. Tolong, maafkan aku!"
"Aku tidak mengerti!"
Semua orang menatap interaksi keduanya yang berada di panggung, Ayu menghela nafas dan akan mengatakan mengenai pertunangan. Memperhatikan semua orang yang telah hadir, sedangkan Hendrawan tak mengerti maksud dari calon cucu menantunya.
__ADS_1
Semua orang yang berada di hall menatap wanita bergaun indah berdiri di tengah panggung, mereka berbisik-bisik mengenai pertunangan yang sebentar lagi akan di adakan. "Kemana tuan Farhan? Kenapa dia tidak terlihat?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Apa yang akan dilakukan calon tunangan tuan Farhan?"
"Ck, kau ini banyak bicara. Sebaiknya kita dengarkan saja dulu mengenai apa yang akan disampaikan olehnya!"
"Hah,kau benar."
Begitulah perkataan yang keluar saat mereka memandang Ayu yang naik ke panggung hanya seorang diri. Sedangkan Hendrawan tak mengerti apapun, menautkan kedua alis mata karena sangat penasaran.
"Apa yang terjadi?" tanya Hendrawan sekali lagi.
Ayu tersenyum paksa menatap pria berambut perak itu, mendekatkan mikrofon untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting.
Dia menyeka air matanya, bisa disaksikan oleh semua orang. "Terima kasih untuk datang ke acara pertunangan ini, kesempatan kalian untuk menghadiri pertunanganku dengan Farhan. Aku akan menyampaikan hal ini dengan hati yang sangat berat, jika pertunangan ini dibatalkan." Ucap Ayu yang berusaha untuk tegar dengan situasi hening seketika. Cinta yang dia miliki kepada pria itu sangatlah besar, namun dia tak ingin menjadi wanita pengganti dan juga egois.
"Apa? Dibatalkan?" gumam Hendrawan yang sangat terkejut, dia tak bisa berkutik mengenai pernyataan dari gadis itu.
Seketika suasana menjadi riuh, banyak penggemar yang menyayangkan hal ini terjadi. Sementara Ayu tak sanggup mengekspresikan dirinya, hanya air mata menjadi saksi. Segera berlari dari ruangan itu dan menghindari semua orang juga beberapa pertanyaan para reporter.
Dan di saat yang sama, seorang pria tampan hendak menyusul dengan senyuman khas berubah seketika. Mengepalkan kedua tangan dengan erat, rahang yang mengeras, saat mendengarkan pembatalan pertunangan yang baru saja diumumkan oleh Ayu.
Hatinya menjadi sakit, pernyataan yang membuat luka begitu besar tak bisa dipercayai, kemarahan yang akan meluap sebentar lagi.
__ADS_1
Langkah Ayu terhenti saat melihat kedatangan Farhan yang menatapnya dengan penuh kemarahan. Namun dia tak peduli saat hati menjadi sangat sakit.
Para reporter mulai mengerubungi mereka bagai gula yang dikelilingi semut, beberapa pertanyaan mengarah keduanya untuk klarifikasi berita terkini. Tapi Farhan tidak menggubris serentetan pertanyaan, karena perhatiannya tertuju kepada wanita yang membatalkan pertunangan mereka secara sepihak. "Jika sekali lagi kalian melontarkan pertanyaan? Kalian akan menerima konsekuensinya!" tekannya yang mengancam semua awak media.
Para reporter sangat terkejut dengan ancaman yang dipenuhi rasa amarah, terpaksa mengendalikan niat mereka untuk mewawancarai narasumber.
"Maaf Tuan, kami hanya ingin mewawancarai anda!" ucap salah satu reporter yang berani mengarahkan alat perekam suara ke arahnya.
Suasana semakin memanas, menjadi sorotan semua yang hadir dalam acara itu. Farhan menyusuri pandangannya ke semua orang dan melirik alat perekam suara di hadapannya. Dia segera merampas alat itu, dan melemparnya ke lantai. "Kosongkan tempat ini, sekarang juga!" tekannya penuh kemarahan.
Semua orang hanya diam terpaku, dan hanya beberapa orang saja yang pergi. "Apa kalian tidak dengar?" lantang Farhan membuat para tamu pergi meninggalkan tempat itu.
Vanya tersenyum senang dengan situasi yang menguntungkannya, memeluk sahabatnya dengan sangat erat karena mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Farhan.
Setelah semua orang pergi, Farhan berjalan menghampiri Ayu yang juga menatapnya. Menariknya sedikit menjauh dan minta penjelasan, karena dia tidak tahu apa yang terjadi. Dua pasang manik mata bertemu dan memandang sedikit lama, mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di benak masing-masing.
"Kenapa kau melakukan ini?" ucap Farhan yang sangat marah, tidak memberikan celah kepada wanita itu untuk kabur.
"Jawabannya ada di dirimu sendiri!" jawab Ayu tegas.
Farhan sangat geram karena tidak menemukan jawaban, memukul dinding dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah. Ayu tak gentar dan masih menatap pria yang berjarak sangat dekat padanya. "Kenapa kau memutuskan pertunangan ini secara sepihak? Apa kau merasa hebat dengan melakukan hal ini? Kau membuat hatiku sakit!" pekiknya yang marah-marah.
"Lalu, bagaimana dengan rasa sakit di hatiku?" balas Ayu berteriak, melototkan kedua matanya dengan tajam. Kecewa dengan sikap pria itu yang lebih mementingkan cinta masa lalunya. Karena sangat jelas, jika Farhan masih mencari Kira.
Farhan mengangguk pelan dan menyeret tangan Ayu menuju ruang istirahat tanpa menghiraukan ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku! Sakit!" ucap Ayu yang meringis kesakitan, cengkraman yang sangat kuat di pergelangan tangannya. Berusaha untuk melepaskan tangannya, namun pria itu tak memberinya kesempatan.