
Farhan membuka kedua matanya, melihat ke arah pintu yang tidak ada siapapun. "Untung saja dia mempercayai ini," gumamnya.
"Kau benar, bagaimana dengan masalah konferensi pers yang akan diadakan dua hari kedepan?" Ayu menatap pria tampan di hadapannya.
"Biarkan saja dia memanggil konferensi pers, aku ingin lihat bagaimana dia mengklarifikasi perusahaan." Farhan tak terlalu memusingkannya.
"Apa kau punya rencana?"
"Untuk saat ini tidak ada, kita ikuti saja permainan darinya. Tapi aku sangat yakin, jika pria licik itu akan menjatuhkan perusahaan." Terka Farhan.
"Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama." Ayu menyetujui perkataan Farhan, bekerja sama untuk mengungkap kedok penanggung jawab di Perancis. "Apa kau akan terus berpura-pura? Bahkan kau membayar dokter dengan diagnosis yang salah." Cibirnya dengan tatapan jengah.
"Itu yang dinamakan taktik, mengecoh musuh dan berjalan dua langkah ke depan," sombong Farhan, membuat Ayu geram dan memukul lengan pria itu dengan pelan.
"Ya…ya, terserah kau saja."
****
Dua hari kemudian, semua orang sangat menantikan kebenaran dari masalah ini. Kenan lah yang mengundang seluruh reporter untuk meliput klarifikasi, dan mendapatkan keuntungan. "Bagus, ini sesuai dengan rencanaku." Batin pria itu yang tersenyum samar, rencana untuk menghancurkan perusahaan milik Farhan. Dia mengatur segalanya dengan sangat baik, rencana yang disusun rapi. Dia sangat puas saat kedatangan reporter yang akan membantunya, dan mengira akan berhasil.
Pagi-pagi sekali Ayu sudah berada di tempat untuk melihat gerak-gerik musuh, memegang sebuah ponsel dan menghubungi seorang hacker.
"Halo."
"Bagaimana hasilnya?"
"Semua berjalan dengan sangat baik."
"Itu bagus."
"Tentu saja, aku sudah mengirimnya lewat surel mu."
__ADS_1
"Aku akan memeriksanya terlebih dulu."
Ayu membuka sebuah bukti laporan yang dikirimkan oleh hacker kepercayaan nya, tersenyum saat menemukan celah. Kembali mendekatkan ponsel ke telinga, sangat puas dengan pekerjaan sang hacker.
"Terima kasih, aku akan mentransfernya segera."
"Sama-sama, hubungi aku jika kau memerlukan jasaku."
"Itu pasti." Ayu memutuskan sambungan telepon dan kembali memantau keadaan dengan sedikit jarak.
Konferensi pers dimulai, Kenan penuh percaya diri berdiri dengan tegak di hadapan semua orang. Para reporter mulai mengerubungi nya untuk melontarkan beberapa pertanyaan mengenai kejadian yang terjadi di perusahaan HR Grup. Kenan memimpin acara dan satu persatu reporter berebut ingin memberikan pertanyaan padanya.
"Bagaimana pendapat anda mengenai bahan yang terdapat zat radioaktif?" tanya salah satu reporter yang mengulurkan perekam suara ke arah pria itu.
"Aku juga tidak memahami yang itu, satu hal yang pasti jika ada seseorang yang tidak menyukai perusahaan yang dikelola oleh tuan Farhan." Jelas Kenan.
"Apa anda mencurigai seseorang dan menemukan dalang di balik kejadian ini?"
"Tentu saja, aku menyelidiki hal ini. Seseorang yang ingin membalas dendam pada mereka."
"Apakah penyebab hal ini berkaitan dengan masalah bahan baku perhiasan?"
"Ya, itu memang benar. Pelaku yang sama ingin membalaskan dendam pada perusahaan milik tuan Farhan."
"Siapa orang itu?" tanya salah satu reporter mewakili pertanyaan yang lain, sangat antusias dan bersemangat.
"Dia bekerja sebagai administrator, dengan motif balas dendam." Jelas Kenan dengan penuh percaya diri, mengkambing hitamkan orang lain atas perbuatannya sendiri. Ucapan Kenan membuat reporter mempercayainya, satu per satu reporter melempar pertanyaan demi mengungkit kejadian. "Apa tujuan anda yang memanggil kami?"
"Pertanyaan yang bagus, ini usahaku untuk mengklarifikasi dan memperjelaskan segala kekeliruan kalian mengenai perusahaan yang mulai anjlok." Seru Kenan yang bersemangat membalas serentetan pertanyaan dengan lugas. Saat ini, dia berpura-pura menjadi orang baik untuk mempengaruhi orang lain dengan ucapannya. "Sebentar lagi perusahaan HR Grup akan tinggal nama, dan balas dendam ini selesai. Aku sudah tidak sabar mendapatkan imbalan yang setimpal." Batinnya tersenyum puas.
Para reporter sangat terkejut, padahal mereka sangat ingin mengetahui kejadian ledakan di gudang. Namun, terlintas di pikiran kembali menanyakan permasalahan dan mewawancarai Kenan. "Lalu, bagaimana dengan ledakan di gudang? Apa anda tidak ingin membahasnya?"
__ADS_1
"Untuk saat ini aku hanya ingin mengklarifikasi masalah perusahaan saja, walaupun aku sudah menyelidiki dan menemukan pelakunya. Tetap saja, itu sangat bersinggungan dengan konsepku." Jelas Kenan menatap para reporter, tak ingin jika dia keceplosan dan membongkar kedoknya sendiri.
Sementara di sisi lain, Ayu terus melihat bagaimana Kenan berakting. "Pria itu sangat pintar berakting, aku rasa dia akan menjadi pemenang sebagai raja berpura-pura. Ck, akan aku lihat bagaimana dia mengklarifikasi perusahaan, dasar licik!" gumamnya dengan tatapan jengah, tak berniat untuk menghentikan pria itu.
"Baiklah, apa administrator bekerja sendiri? Atau di perintah?" tanya reporter yang mendekatkan perekam suara ke arah Kenan.
Kenan yang ingin menjawab tak sengaja berkontak mata dengan Ayu, tersenyum sangat tipis hingga tak terlihat oleh orang sekitar. "Target berada di sini, akan ku buat wanita sok pintar itu terkena masalah." Batinnya dan kembali fokus para wawancara. "Aku tidak yakin jika administrator bekerja sendiri, melainkan orang suruhan."
"Apa yang anda maksud? Jika dia hanya orang suruhan, lalu siapa dalang sebenarnya?"
Seketika Kenan mengubah raut wajahnya sedih agar mendapatkan simpati dari semua orang. "Sebenarnya perusahaan ingin menghemat bahan baku dan mengambil jalan pintas sampai terjadi masalah keracunan."
"Menghemat? Bukankah anda tadi berpihak kepada perusahaan?" para reporter menjadi bingung dengan penilaian Kenan yang berubah dengan cepat seperti bunglon.
"Benar, mengambil keuntungan besar dengan modal yang tak seberapa, menghemat bahan baku tidak sesuai standar." Terang Kenan yang mulai menembak sasarannya.
Ayu sangat terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Kenan, menyeret nama perusahaan yang semakin terpuruk. "Dia persis seperti bunglon, mengangkat tinggi dan menjatuhkan hingga ke lubang," geramnya.
"Bahkan ledakan itu juga sudah diatur dengan sedemikian rupa oleh perusahaan untuk melenyapkan barang bukti."
Semua orang terkejut dan mulai heboh, menatap Kenan yang malah menjatuhkan perusahaan. Suara yang sangat lantang menuduh perusahaanlah yang bertanggung jawab mengenai kejadian yang terjadi.
"Jadi ini hanya permainan perusahaan agar terhindar dari kesalahan?"
"Itu yang dinamakan permainan taktik dengan cara yang licik."
Sedangkan Ayu sudah sangat geram menahan amarah pada pria itu. "Akhirnya dia membuka topengnya, tidak lama lagi kau akan aku skak mat." Gumamnya berusaha tenang bagai air.
"Apa itu artinya tuan Farhan dan sekretaris nya dalang di balik kejadian ini?"
Kenan tersenyum tipis, menunjuk Ayu yang berada sedikit jauh dari tempat itu. "Dialah pelakunya!"
__ADS_1
Dengan tenang Ayu berjalan menghampiri kerumunan dan berdiri di hadapan pria tampan nan licik. "Oho, akhirnya kau membuka topengmu." sindirnya seraya bertepuk tangan, dan tersenyum penuh arti.