Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 41 ~ Penyelidikan


__ADS_3

Ayu tidak bisa diam dan menerima perlakuan dari ketua sekretaris yang selalu saja mengganggunya. Maudi dan Maya membalikkan badan secara terpaksa. "Ada apa?" Tukas Maudi ketus.


Tak lama Farhan masuk ke dalam ruangan itu karena ada hal yang ingin diambil, tapi saat masuk dia terpukau dengan tegasnya seorang wanita yang akan dijodohkan dengannya.


"Tuan Farhan di sini?" Ucap Maya dengan mata berbinar seraya tersenyum membuat yang lainnya menyorot Farhan.


"Kenapa kalian belum bubar?"


"Wanita itu menghalangi kami," ucap Maudi yang melirik Ayu dengan sinis.


"Kenapa kau menahan mereka?" Tanya Farhan yang menatap Ayu.


"Kebetulan kau ada di sini, aku ingin membongkar kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi kepadaku." Ayu tersenyum tipis melirik Maudi, karena sebentar lagi dia akan melawan ketua sekretaris yang selalu menyusahkannya.


"Jangan melirik ku begitu," cetus Maudi yang melipat kedua tangan di depan dadanya dengan sombong.


"Baiklah, aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan segalanya!" celetuk Farhan tanpa ekspresi.


"Mengenai desain tadi, ada yang mencoba menjebakku di sini. Aku meminta keadilan darimu mengenai kejadian ini," tutur Ayu.


"Lalu? Apa hubungannya denganku?" Lantang Maya yang tak tahu menahu.


"Kau boleh pergi, aku hanya ingin menginterogasi ketua sekretaris saja." Ucap Ayu yang mempersilahkan Maya untuk pergi meninggalkan ruangan konferensi rapat, karena wanita itu tidak ada sangkut pautnya.


Mereka melihat kepergian Angel yang berjalan keluar ruangan hingga menghilang dari balik pintu.


"Jangan mengada-ngada, kau sendirilah yang bertindak ceroboh. Kenapa kau malah menahanku?" Sambung Maudi yang tak terima dengan tuduhan itu.


"Benarkah? Bagaimana jika aku katakan bahwa desain itu kaulah yang mengambilnya," tantang Ayu yang menatap Maudi dengan tajam.


"Inilah akhirnya ketua sekretaris," gumam Ayu di dalam hatinya.


"Jangan menuduhku tanpa bukti, kau sendirilah yang teledor. Jika aku menjadi dirimu, sudah aku pastikan desain itu tidak akan hilang seperti ini." Ketus Maudi yang merasa paling benar.

__ADS_1


"Hah, jika ada orang lain yang menfitnahmu, apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan orang itu bertindak seenaknya dan menghukumnya!" jawab Maudi santai.


"Yap, itulah yang aku coba katakan," celetuk Ayu dengan penuh percaya diri yang membuat Maudi memiringkan kepala karena tidak mengerti ucapan dari Ayu.


"Astaga…dia mengatakan dengan penuh percaya diri, ini di luar jangkauanku!" Batin Maudi yang melihat kepercayaan diri dari Ayu yang sangat tinggi. Dia tampak merasa bersalah tapi segera menutupinya agar tidak ketahuan oleh Farhan ataupun Ayu, apalagi pandangan Ayu selalu saja mengarah ke arahnya.


"Sebaiknya aku pergi, masih banyak pekerjaan yang belum selesai," ujar Maudi yang ingin pergi meninggalkan ruangan itu, dia merasa terpojokkan oleh Ayu.


"Berhenti di sana, kau mau kemana ketua sekretaris terhormat?" Ucap Ayu yang meninggikan suaranya, dan menghampiri Maudi dengan senyum smirk menghiasi wajah cantiknya.


"Kenapa kau menghentikan aku? Minggirlah, dasar kurang ajar!" cetus Maudi yang menggeserkan tubuh Ayu dengan kasar.


"Jangan terlalu terburu-buru," ucap Ayu yang tersenyum dan menoleh ke arah Farhan. "Ada yang menjebakku dan pelakunya ada di sini."


"Menjebakmu?" Seloroh Farhan yang menautkan kedua alisnya.


"Mati aku, apa dia mulai mencurigaiku?" Batin Maudi yang menelan saliva dengan susah payah.


"Jangan menuduhku sembarangan, kau bisa dituntut atas pencemaran nama baik!" tekan Maudi yang protes.


"Tentu saja aku mempunyai bukti yang memberatkanmu," sahut Ayu dengan cepat membuat Maudi berkeringat.


"Aku yakin jika dia hanya pembual saja untuk menjebakku mengakui kesalahan," batin Maudi.


Ayu menepuk tangannya sebanyak dua kali, hingga seseorang masuk ke dalam ruangan itu. "Masuklah, aku ingin kau menyelidiki kasus ini!" perintahnya yang menatap seorang pria yang baru saja masuk. Farhan melihat Ayu yang sangat tenang dan menginstruksikan seseorang untuk menyelidiki membuatnya patah hati.


"Kenapa dia tidak meminta bantuanku mengenai penyelidikan ini? Aku seperti tidak berharga di depannya," gumam Farhan.


"Baik Nona, saya akan menyelidiki hal itu. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan," ucap pria itu dengan hormat.


"Baik, lakukanlah."

__ADS_1


"Aku juga akan menyelidiki buktinya." Farhan sedikit kecewa karena Ayu tidak mengatakan apapun kepadanya dan berinisiatif untuk menyelidiki kasus itu.


"Apa kesalahan ku kepadamu? Kau salah dalam menuduhku?!" Tekan Maudi yang meninggikan suaranya, tatapan menusuk dilontarkan ke arah rivalnya. Dengan cepat dia menyangkal tuduhan Ayu untuk menghilangkan bukti.


"Aku mengatakan sesuai dengan bukti yang ada," balas Ayu yang juga meninggikan suaranya.


Sementara Farhan tampak berpikir mengenai tuduhan yang diberikan Ayu kepada Maudi, dia memijat pelipis sembari memikirkan beberapa alasan ketua sekretaris melakukannya. "Aku tidak tahu apa alasan dari ketua sekretaris, apalagi dia bukanlah orang yang akan dengan mudah merugikan perusahaan, tidak ada untungnya dia melakukan hal ini. Apa yang dia coba raih? Aku rasa ketua sekretaris tidak akan berbuat nekat jika alasannya adalah kerugian perusahaan," batin Farhan yang memikirkan kejadian di hadapannya.


"Jangan banyak bicara, mana bukti yang kau tuduhkan kepada ku!" ucap Maudi yang sudah tidak sabar dan berharap bukti itu tidak di temukan oleh siapapun.


"Wah, ternyata kau sudah tidak sabar lagi ya. Tunggu setelah penyelidikan ini selesai."


"Ck, aku tidak punya waktu hanya untuk meledek mu. Lepas, aku ingin keluar dari sini!" Pekik Maudi.


"Tidak." Ayu semakin mencengkram lengan ketua sekretaris dengan sangat erat membuat sang empunya meringis.


"Kau sangat kasar sekali."


"Aku tidak peduli, jangan berpikir jika aku diam bukan berarti aku membiarkanmu, salah besar."


"Tuan Farhan, tolong jauhkan aku dengan wanita gila ini!" pinta Maudi dengan tatapan memohon.


"Diam, aku ingin menyelidiki kejadian melalui monitor desain. Itu cara efektif untuk menangkap pelakunya," usul Ayu.


"Sangat murahan, untuk apa aku melakukan hal itu." Elak Maudi yang tak ingin mengakui kesalahan nya.


"Jangan menghasutku dengan kata-kata bodoh yang keluar dari mulutmu itu, aku ingin kau membayar lunas dengan apa yang kau inginkan," Tukas Ayu dengan lirikan mata yang sangat tajam.


"Itu tidak berhasil, karena layar monitor saat itu rusak. Bagaimana kau membuktikan jika itu aku bersalah?" Ucap Maudi yang menantang Ayu yang mencoba untuk menyingkirkannya.


"Wow, kau sangat cepat sekali mengatakannya. Mengetahui setiap sudut ruangan yang sedang rusak, sangat luar biasa," puji Ayu dengan tersenyum mengejek.


Setelah mendengarkan penjelasannya, Farhan tak tinggal dia dan memanggil tim investigasi untuk menyelidiki bukti dan memperbaiki alat monitor yang rusak. Maudi tak dapat mengelak ataupun membela diri saat bos besarnya menelpon seseorang untuk menyelidiki kasusnya.

__ADS_1


"Cepat atau lambat, keangkuhan dan kesombongan mu segera berakhir. Bersiaplah untuk kalah ketua sekretaris," batin Ayu yang tersenyum puas.


__ADS_2