Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 125 ~ Menikahlah denganku


__ADS_3

Ayu sangat curiga dengan suara yang tak sengaja dia dengar dengan sayup, membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan ponsel di dalam sakunya. Menghubungi seseorang yang memerintah beberapa pengawal. 


Asisten Heri yang tengah bercengkrama dengan bosnya, terhenti saat mendengar suara dering ponsel di dalam kantong celana. Dia mengeluarkan ponsel itu melihat nama orang yang menghubunginya, sedangkan Farhan menatap gelagat dari tangan kanannya yang sedikit gelisah. 


"Ada apa?" tanyanya yang mengerutkan kening. 


"Sekretaris Ayu yang meneleponku, bagaimana ini?"


"Eh, bukankah kau menyuruhnya untuk beristirahat?" 


"Itu benar, Tuan. Hanya saja ini di liar kendaliku," jelas asisten Heri. 


"Ya sudah, kau angkat saja telepon itu. Siap tahu dia membutuhkan bantuanmu."


"Baiklah, asal bos jangan bersuara atau rencana ini akan gagal."


"Apa kau ini sama denganku?" seloroh Farhan yang menatap asisten bodohnya dengan jengah. 


Asisten Heri tersenyum kaku, menggaruk tengkuk kepala yang tidak gatal. Memberikan isyarat jika sudah mengangkat telepon. 


"Halo."


"Kenapa kau mengangkat teleponku sangat lama?" 


"Maaf, aku tidak mendengarnya."


"Baiklah-baiklah, apa Farhan sudah sadar?" 


Asisten Heri menatap bosnya yang sangat antusias mendengarkan percakapan di telepon, membuatnya sangat risih hingga menjauhkan ponsel. "Apa yang Tuan lakukan?" bisiknya pelan. 


"Ck, kau ini sangat pelit. Aku hanya ingin mendengarnya, sebaiknya kau hidupkan loudspeaker saja. Cepat, ini perintah!" tegas Farhan yang memanfaatkan jabatannya. 


"Kau sangat menyebalkan, tuan." Batin asisten Heri yang sebal kepada bosnya. 


"Bagus!"


Asisten Heri melakukan perintah tuannya, kembali mendekatkan ponsel dan membalas perkataan Ayu yang sedari tadi menanyakan apa yang terjadi. 


"Halo, apa kau masih di sana?"

__ADS_1


"Ya, aku masih ada di sini."


"Kau kenapa? Sangat mencurigakan."


"Itu hanya perasaanmu saja."


"Hem, mungkin saja. Aku dengar sayup jika ada suara seperti berbincang di dalam sana, apa Farhan sudah sadar?"


"Keadaan tuan masih belum sadarkan diri, suara? Mungkin itu suara ponselku."


"Oh, jadi begitu. Aku mengira jika Farhan telah siuman."


"Kenapa kau menelponku?" 


"Hampir saja aku melupakannya, sebenarnya aku berada di luar ruangan dan ingin menjenguk Farhan karena aku sangat khawatir dengannya."


"Baiklah, aku segera kesana."


Asisten Heri mengakhiri sambungan telepon, menatap bosnya yang bahagia. Terlihat dengan jelas dua sudut bibir ke atas, menandakan orang yang dibicarakan sangat senang mendengarkan semua ucapan kepedulian dari Ayu. "Bagaimana menurutmu, Tuan?"


"Biarkan dia masuk dan beri perintah pada pengawal itu, jika Ayu dibebaskan untuk masuk." Ucapnya yang masih mempertahankan senyum di wajahnya. 


Setelah sambungan telepon ditutup, salah satu pengawal menghampiri Ayu dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam. Sedangkan Farhan kembali berbaring layaknya pasien yang belum sadarkan diri. "Kau keluarlah!" usirnya menatap sang asisten. 


"Tapi kenapa, Tuan?" asisten Heri mengerutkan kening, menatap bosnya dengan raut wajah polos. 


Bugh


Lagi dan lagi Farhan kembali melemparkan bantal tepat mengenai kepala sang asisten. "Aku mengerti sekarang!" jawab tangan kanannya yang masih mendengar dengan loading otak kecepatan rata-rata. 


"Bagus, akhirnya kau mengerti. Keluar sekarang dan jangan biarkan orang lain masuk terutama kau."


"Baik, Tuan." Melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari ruangan, sementara para pengawal mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam. Ayu menghentikan langkah dan mencekal asisten Heri untuk menanyakan kabar Farhan. 


"Bagaimana keadaannya?" lirihnya pelan dengan mata yang sudah sembab akibat menangis. 


"Masih belum sadarkan diri."


"Tapi aku mendengar sayup orang berbincang di ruangan itu." 

__ADS_1


"Itu hanya perasaanmu saja, masuklah! Aku pergi dulu!" asisten Heri mencari alasan dan segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu sebelum Ayu mencurigainya. 


"Hem, baiklah." 


 Ayu masuk ke ruangan dengan hati-hati, menatap pria yang masih pucat berbaring di atas tempat tidur. Menatap wajah Farhan dengan sangat peduli, kekhawatiran membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. 


"Hah, aku mengira jika kau sudah sadar." Lirih pelannya seraya menarik kursi, melihat sekilas wajah tampan itu dan tertidur karena dia sangat mengantuk. 


Farhan membuka matanya dengan perlahan, menatap wanita di sebelahnya yang sudah tertidur. Membelai rambut Ayu dengan sangat lembut dan berdiri beranjak dari tempat tidur, menggendong tubuh mungil itu menuju sofa. Dia membaringkannya dengan penuh hati-hati dan tak lupa untuk menyelimutinya. Mengecup kening calon tunangannya dan tersenyum tipis. "Ternyata kau sangat peduli padaku, terima kasih." Monolog Farhan yang mencium bibir Ayu, segera kembali ke atas tempat tidur. 


Keesokan harinya, Ayu meregangkan otot-ototnya sekaligus menguap. Sangat terkejut dengan selimut yang menutupi tubuhnya, dan berpindah tempat. "Itu artinya Farhan sudah sadar," gumamnya sangat antusias, dan menghampiri pria itu. Namun senyum di wajahnya redup saat Farhan masih belum sadarkan diri, dia menahan sesuatu yang ingin di keluarkan karena tak bisa membendungnya lagi. Air mata yang mulai menetes hingga mengenai lengan Farhan, membuat pria itu sedih. 


"Farhan, kenapa kau belum sadar juga. Bukalah kedua matamu, ku mohon! Aku sangat mencemaskan dirimu dan bersedia melakukan apapun agar kau bisa sadar." Ucap Ayu yang sangat sedih, terus menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa pria yang terbaring pucat di atas tempat tidur rumah sakit. 


"Menikahlah denganku!" jawab Farhan yang perlahan membuka matanya, membelai lembut rambut wanita itu. 


Seketika Ayu menghentikan tangisannya, mendongakkan kepala melihat kondisi Farhan, berharap jika itu bukan ilusi. "Ka-kau sudah sadar?" ucapnya dengan gugup sembari menghapus air matanya. 


"Kau terlihat jelek jika sedang menangis." Goda Farhan yang tersenyum, berhasil membuat wanita itu menangis karenanya. 


"Jadi kau mengerjaiku? Aku sedikit curiga dengan suara sayup dari dalam ruangan ini, dan ternyata kau sudah sadar?" kesal Ayu yang membentak pria itu. 


"Aku tidak bermaksud untuk mengerjai mu, tapi aku menyukai ekspresi sedih itu dan membuat aku terkesan." Ledek Farhan yang melihat mata sembab dari sekretarisnya yang membuat rasa empatinya meningkat. 


"Hah, kebohonganmu sekarang terungkap."


"Lupakan itu, kau mengatakan akan melakukan apapun jika aku sadar, dan aku ingin menagih perkataanmu."


"Perkataan yang mana?" ucap Ayu berpura-pura tidak tahu. 


"Menikahlah denganku!" ulang Farhan sekali lagi, suara yang lembut dengan tatapan penuh cinta untuk Ayu sekaligus meyakini jika wanita itu adalah Kira. 


"Aku sangat curiga kepada Kenan, bahwa dia adalah pelaku peledakan." Ayu mengalihkan pembicaraan membuat Farhan mendelik kesal. 


"Hah, mungkin saja kurang romantis. Aku akan mencobanya nanti," batin Farhan tak berputus asa. "Kau benar."


"Kau sangat mencurigai jika Kenan lah pelakunya, apa kau berpura-pura pingsan untuk membuka kedoknya?" Tanya Ayu yang hanya di anggukkan kepala oleh Farhan. 


      

__ADS_1


__ADS_2