Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 110 ~ Di Bar


__ADS_3

Ayu meneguk minuman yang telah dipesankan oleh sahabatnya yang bernama Riko, dan sesekali bersulang. Kepenatan saat bekerja terbayarkan setelah bertemu dengan sahabatnya, bersenda gurau seperti yang biasa mereka lakukan. 


"Apa kau masih berada di kediaman laki-laki itu?" Tanya Riko yang menatap mata wanita itu dengan seksama. 


"Siapa?" sahut Ayu yang tak mengerti. 


"Hah, aku melupakan nama pria yang dijodohkan denganmu."


"Namanya Farhan."


"Ya, Farhan. Bagaimana hubunganmu dengannya?" 


"Biasa saja," jawab Ayu yang memalingkan wajah ke samping. 


"Jangan berbohong, dilihat dari raut wajahmu itu, sepertinya kau menyukainya." Tebak Riko yang tersenyum menggoda. 


"Itu tidak benar," jawab Ayu yang kedua pipinya bersemu merah, menutupi dengan kedua tangan. 


"Benarkah? Tapi rona wajahmu terlihat," goda Riko di sela-sela tawanya. 


"Kau hanya salah menduga saja!" 


"Ya…ya, anggap aku percaya. Mau taruhan?" tantang Riko yang tersenyum smirk. 


Seketika Ayu mendongakkan kepala, merasa tertarik pada ucapan sahabatnya. "Bertaruh?" ulangnya seraya mengerutkan kening. 


Riko mengangguk dengan cepat, tersenyum saat mengetahui sang sahabat merasa tertantang. "Aku bertaruh, jika kau dan Farhan tidak akan membatalkan pertunangan setelah tiga bulan, malah sebaliknya." yakinnya. 


"Apa sekarang kau beralih profesi?" ledek Ayu yang tersenyum tipis. 


"Tidak, hanya memperhitungkan masa depanmu dengan pria itu."


"Ternyata kau memahami aku, yang kau katakan benar. Jika aku menyukai pria arogan itu." Ungkap Ayu dengan malu-malu. 


"Lihat saja nanti!" 


"Kau terlihat sombong dengan mengatakan hal itu. Pikirkan juga dirimu sendiri!" cibir Ayu dan meneguk minuman di dalam gelas. 


"Sepertinya kau ingin mengungkit masalahku," selidik Riko. 

__ADS_1


"Hem, bagaimana hubunganmu dengan Indah?" tanya Ayu antusias, kembali mengungkit cinta pertama sahabatnya. 


Riko diam termenung, mengingat kisah cintanya yang tidak berjalan mulus dengan Indah, seniornya di tempat kerja dulu. Keduanya berkenalan di lomba debat dan merasa saling nyambung, memutuskan untuk menjalin kasih. Namun hubungan keduanya tidak di restui oleh orang tua Riko. Dia sangat marah dan juga kesal dengan kedua orang tuanya, meminta penjelasan hingga terjadinya pertengkaran. 


Cinta yang tak di restui oleh orang tua, membuat tekadnya semakin bulat untuk kabur ke luar negeri, lalu bertemu dengan Ayu dan hubungan keduanya menjadi sahabat. 


"Hai, kenapa kau melamun?" Ayu melambaikan tangannya di hadapan wajah tampan Riko. "Kau baik-baik saja?" 


Riko menghela nafas berat, mengingat kisah cintanya yang tragis. "Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku."


"Jika kau merasa berat untuk menceritakannya, kau tidak perlu memaksakan diri." Lirih pelan Ayu yang bersimpati dengan keadaan sahabatnya.


"Hubunganku dan Indah seperti tarik ulur, kami putus nyambung putus nyambung beberapa tahun ini." Ungkap Riko sendu dengan tatapan nanarnya.


"Kau sangat mencintai wanita itu, aku berharap jika kau dan dia kembali dipersatukan," ucap Ayu dengan penuh harap. 


"Hem, aku tak bisa berharap banyak dengan hubungan seperti itu."


"Apa kau tahu di mana Intan berada saat ini?" 


Dengan cepat Riko mengangguk, raut wajah kesedihan karena tak bisa bersama. "Cinta pertamaku berada di daerah pegunungan sekarang, dan perasaan ini tidak akan berubah. Cukup sulit untuk melupakan cinta pertama." jelasnya. 


"Hah, aku menjelaskan dan kau melamun saja. Apa kau mendengar perkataan ku?" gerutu Riko yang berpura-pura kesal. 


"Ck, wajahmu tidak cocok seperti itu," cibir Ayu dan membuat keduanya tertawa. "Itu berarti kau masih mencintainya, sebaiknya kau mengejar cintamu."


"Kau menasehatiku dengan kata-kata yang bijak, tapi pergunakanlah kata-kata itu untuk dirimu sendiri. 


"Kau menyebalkan!"


"Tentu saja, jika tidak? Kita belum tentu mempunyai hubungan ikatan persahabatan."


"Kau terlalu banyak minum."


"Aku berkata jujur, walau aku banyak minum tapi kesadaranku masih stabil." Ucap Riko yang membanggakan dirinya. 


"Ayo bersulang," seru Ayu yang mengangkat gelasnya, dan diikuti oleh Riko, keduanya sangat puas dalam pertemuan di Bar. Kedua perbedaan di antara mereka, disatukan dalam ikatan persahabatan. 


"Apa aku boleh bergabung?" ucap seseorang selebriti yang tiba-tiba mengejutkan Ayu. Dia menatap wanita itu dan berkenalan, karena baru melihatnya. 

__ADS_1


"Apa dia kekasihmu?" tanya Jeslin yang tersenyum saat melirik Ayu. 


"Tidak, kami bersahabat sangat dekat. Kau di sini?" jawab Riko yang menatap selebriti itu. 


"Tentu saja, aku ingin menikmati hidup."


"Apa kalian ini saling mengenal lama?" sela Ayu yang penasaran pada wanita itu. 


"Tentu saja, aku dan Riko adalah teman. Ini sangatlah membosankan, sebaiknya kita menikmati hidup dengan berdansa. Bagaimana? Apa kalian setuju?" ide Jeslin. 


"Wah, sepertinya itu ide yang bagus." Sahut Riko dengan cepat dan bersemangat, dia menoleh pada sahabatnya untuk meminta bergabung. 


"Kenapa kau diam saja? Ayolah!"


"Tidak, kalian saja yang pergi, aku di sini saja." Tolak Ayu. 


"Baiklah." Keduanya mulai berjalan ke lantai dansa, menikmati alunan musik yang memekakkan telinga. Sedangkan Ayu hanya melihat dari kejauhan, seketika terlintas bayangan Farhan yang berdansa dengan Vanya. Hatinya terasa perih, menahan cemburu, segera dua kembali menepis ingatan itu. Gambaran yang selalu menari-nari dalam pikirannya, dan membuat hatinya merasa cemburu. 


Tiba-tiba Ayu merasakan ada yang tidak beres dengan lambungnya, terasa sangat sakit. Dengan langkah tergesa-gesa menuju toilet. Setelah beberapa lama, Ayu memutuskan untuk keluar dari sana. "Sebaiknya aku kembali, atau Riko akan mengkhawatirkan ku." 


Setelah balik dari toilet, dia melihat seorang pria gemuk tersenyum mengarah padanya yang tengah duduk di tempat duduknya. "Maaf, ini kursiku!" cetus Ayu dengan sarkas. 


"Aku hanya duduk saja, bagaimana jika kita berkenalan dan berbincang?" ujar pria gemuk yang bersemangat. 


"Tidak, terima kasih." Tolak Ayu. 


"Ayolah, tidak baik menolak tawaran orang lain." Bujuk pria gemuk itu, menatap wanita cantik di hadapannya dengan penuh hasrat. 


"Tidak!"


"Jangan bertingkah sombong di sini, aku tertarik denganmu." Pria gemuk itu menatap Ayu dari atas hingga bawah. 


"Jangan menatapku seperti itu!" Ayu mencoba untuk memperingati pria yang berani menggodanya. 


Bukannya takut, pria gemuk itu malah tertawa. "Jangan bersikap sok suci di tempat ini!"


"Aku bukan wanita yang kau pikirkan."


"Sayang sekali, jika aku tak ingin mendengar kata tidak. Ayo, duduklah di pangkuanku!" sarkas pria gemuk itu semakin nekat dengan menyentuh lengan Ayu. 

__ADS_1


Dia sudah memperingati pria itu, tapi tetap saja tidak didengarkan olehnya. Emosi Ayu mulai tersulutkan, melirik pria gemuk itu dengan sinis dan penuh kebencian. Tanpa menunggu waktu, Ayu langsung mengambil botol bir dan memukul kepala pria gemuk hingga berdarah. 


__ADS_2