Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 59 ~ Kencan


__ADS_3

Merasa jarak yang cukup aman untuk mengangkat telepon, dia melirik Farhan yang sedang menatapnya dari kejauhan. Ayu melemparkan senyuman khas yang mengarah kepada pria tampan dengan jarak beberapa meter dan mengangkat telepon dengan malas. 


"Halo."


"Akhirnya kau mengangkat telepon dariku juga!"


"Tentu saja, atau kau akan meneleponku sepanjang hari."


"Wow, kau bahkan mengetahui sifatku. Itu membuatku terharu!"


"Hem, katakan ada apa kau meneleponku?"


"Oh sayang, sabarlah. Jangan tergesa-gesa begitu, kita nikmati obrolan santai ini."


"Ck, aku tidak punya waktu sebanyak itu."


"Ayolah Honey, bahkan jadwalku sangatlah padat, tapi aku rela membagi waktu berhargaku hanya untuk meneleponku. Aku merindukan suaramu?!"


"Sekarang kau sudah mendengarnya, apa aku boleh menutup telepon?"


"Kau sangat tidak asyik, sayang!"


"Jangan bertele-tele atau aku akan menutup teleponnya."


"Hah, baiklah! Tidak perlu mengancamku begitu, aku menelepon ingin membawamu berkencan."


"Berkencan?"


"Maksudku ingin membawamu keluar, kebetulan jadwalku kosong di akhir pekan."


"Hem, baiklah. Aku setuju!"


"Itu kabar yang sangat luar biasa, berdandanlah yang cantik, aku akan menjemputmu."

__ADS_1


"Ya…ya."


Ayu memutuskan sambungan telepon, dia berbalik dan kembali berjalan ke arah pria tampan yang sedari tadi menunggunya dengan perasaan tidak tenang. Ayu menarik kursi dan mendudukkan dirinya dan tersenyum, apa lagi mood nya kembali bersemangat saat  melihat makan yang terhidang diatas meja. 


"Maaf, membuatmu menunggu lama!" Ucap Ayu yang sedikit merasa bersalah. 


"Hem, kau sangat senang setelah mengangkat telepon!" Sahut Farhan dengan tatapan curiga. 


"Tentu saja, karena temanku menelpon." Ayu bersemangat untuk menjawab semakin membuat Farhan terbakar api cemburu. 


"Sudahlah, lebih baik kita memakan hidangan yang tersedia." Ayu tidak menghiraukan Farhan, perhatiannya selalu tertuju kepada makanan yang membuat nya hampir meneteskan air liur. Tanpa menunggu waktu, Ayu menyerbu makan diatas meja dan menikmatinya. Sedangkan Farhan hanya melihat tindakan dari wanita itu dan membuatnya lapar saat Ayu menikmati makanan. Akhirnya Farhan memecahkan egonya dan juga ikutan makan. 


****


Akhir pekan berikutnya.. 


Ayu terbangun di pagi hari, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi bersama Gabriel sesuai kesepakatan bersama. Kali ini Ayu mengenakan gaun diatas lutut dengan beberapa aksen untuk mempermanis tampilan gaun yang ia kenakan, tak lupa dengan polesan make up tipis dan juga parfum yang biasa dia kenakan. Ayu keluar dari Mansion tanpa mengabari siapapun, untung saja tidak ada halangan yang mengganggunya hari ini. Dia menaiki mobil dan memerintah pak supir untuk mengantarkannya ke alamat yang sudah di kirim oleh Gabriel yang menunggunya di sana. Tak lama, mobil berhenti di sebuah Cafe yang terkenal di kota itu. Ayu pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada sang supir yang telah mengantarnya. 


Dari kejauhan, tiga pasang mata menatap Gabriel yang tak jauh dari posisi mereka dan berniat untuk mengikuti mobil sport berwarna merah. "Sepertinya itu Gabriel!" Tukas Jenni, sahabat Vanya. 


"Kau benar, oh ya tuhan…ya tuhan, apa aku tengah bermimpi? Ayo, cubit lenganku!" Seru Jenni yang melihat Gabriel.


Vanya mencubit sahabatnya dengan keras, membuat sang empunya meringis. "Bagaimana? Apa kau masih bermimpi atau aku akan mencubitmu kedua kalinya." Seloroh Vanya yang jengah. 


"Ini nyata, itu adalah Gabriel, sang idola ku." Seru Jenni yang bersemangat dan antusias. "Ayo kita ikuti mereka!" Pinta Jenni dengan puppy eyes miliknya. 


"Tidak, apa kau lupa? Jika pagi ini kita akan berbelanja?!" Tolak Vanya yang menoleh.


"Aku penggemar terberat Gabriel dan tidak akan melewatkan kesempatan ini, kau pergi saja berbelanja sendiri." Jenni turun dari mobil dengan dongkol dan juga kesal kepada sahabatnya, sedangkan Clara lebih memilih keluar dari mobil dan mengikuti Jenni. 


Jenni dan Clara memutuskan untuk naik taksi dan mengikuti mobil sang idola sebelum kehilangan jejak, sementara Vanya kesal dengan kedua sahabatnya dan membatalkan perjanjian mereka yang ingin berbelanja dan pergi meninggalkan Vanya sendiri di dalam mobil. 


"Sebaiknya aku ke kedai kopi saja untuk membuat mood ku kembali." Vanya mendengus kesal dan  mengemudikan mobilnya menuju kedai kopi yang terkenal di kota itu. 

__ADS_1


Tak lama, mobil berhenti di sebuah Cafe yang terkenal di kota itu. Ayu pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada sang supir yang telah mengantarnya. Masuk ke dalam Cafe dan melihat seorang pria yang telah menunggunya sedari tadi, pria itu melambaikan tangannya untuk membuat Ayu bisa melihatnya. Ayu tersenyum dan menghampiri Gabriel, menarik kursi dan duduk untuk mengobrol. 


"Aku sudah memesan kopi untukmu, ayo minumlah!" Ucap Gabriel dengan lembut. Ayu mengambil kopi yang ada di cangkir dan tersenyum, meneguk kopi dengan elegan dan kembali menatap pria fashionable di depannya. 


"Kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu." Puji Gabriel yang tanpa berkedip. 


"Kau juga sangat tampan, tapi kenapa kau mengajakku kesini?" Ayu bertanya seraya mengerutkan keningnya karena penasaran. 


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."


"Benarkah? Katakan ada apa?" Ayu sangat memahami karakter Gabriel, dan membuatnya sangat penasaran. 


"Kau pasti tahu apa yang aku inginkan, tanpa mengatakannya secara langsung."


"Jangan berbelit-belit, katakan saja. Aku bukanlah dukun yang bisa membaca isi hatimu," cetus Ayu. 


"Kau tidak berubah, tapi aku menyukainya. Kau tahu, apa alasanku untuk ke kota ini?" Ujar Gabriel dengan tatapan teduh miliknya. 


"Tidak, memangnya kenapa?" Sahut Ayu polos. 


"Walaupun kau menolak seribu kali pun, aku akan tetap mengejarmu. Ayu, aku sangat mencintaimu, dan bahkan rela datang ke kota ini hanya untuk bertemu denganmu."


Sebelum berbicara, Ayu menyeruput kopi yang berada di dalam cangkir tak jauh dari jangkauannya. "Jangan berharap lebih padaku, jalani kehidupanmu dan carilah wanita yang lebih baik dariku." Nasehat Ayu, dengan cepat Gabriel menggelengkan kepala. 


"Tidak, di hatiku hanya ada namamu, bukanlah orang lain." 


"Jangan mengharapkan apapun dan memaksakan kehendak, aku hanya menganggapmu seorang teman bukannya kekasih."


"Setidaknya kita mencoba," bujuk Gabriel dengan mata teduhnya menatap Ayu. 


"Hubungan yang dipaksakan tidak akan berhasil, kau kubur saja perasaan mu itu."


"Tidak, Ayu! Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku selalu menunggumu, bahkan aku menolak para wanita itu karena dirimu. Aku juga tidak masalah, berapa kali pun kau menolakku tapi aku akan terus berusaha untuk membuat hatimu luluh dan menerimaku. Aku melakukan segala cara, untuk bisa di kota ini dan bertemu denganmu." Gabriel memegang kedua tangan Ayu, berusaha untuk membuat wanita itu terkesan dengan niatnya dan mulai membuka hati. 

__ADS_1


Ayu ingin menasehati Gabriel untuk membuang perasaan yang tidak akan dia balas, tapi melihat usaha dan kepastian dari Gabriel membuatnya terdiam, tanpa sepatah katapun. 


Ketika mereka yang sedang asyik berbicara, Jenni yang berada di Cafe dan melihat dengan jelas, jika Ayu dan Gabriel sedang berkencan. 


__ADS_2