Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 104 ~ Sekretaris sekaligus calon istriku


__ADS_3

Farhan dan Ayu sama-sama memasuki pintu utama acara perayaan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Semua orang menyorot mereka dan keadaan menjadi sangat heboh dengan pasangan yang terlihat serasi. 


"Ya tuhan, aku sangat iri dengan pasangan itu. Mereka sangat serasi, yang satu tampan dan satunya lagi cantik." Ucap salah satu tamu yang sangat mengagumi Farhan dan Ayu. 


"Hem, kau benar. Mereka terlihat berkilau!" sahut orang di sebelahnyasebelahnya, mengagumi dua orang yang berjalan dengan anggun penuh kharisma.


Farhan mengenakan jas berwarna silver membuatnya terlihat sangat tampan dan berkharisma, sementara Ayu memakai gaun dengan warna senada, beberapa pita dan aksesoris yang menunjang penampilan. Tak lupa rambut yang dicepol memperlihatkan leher jenjang yang putih mulus membuat para kaum wanita sangat iri. 


"Harusnya kau menggerai rambutmu," bisik Farhan yang memperhatikan para pria yang menatap Ayu dengan berfantasi liar. 


"Memangnya ada apa?" tanya Ayu dengan berbisik, tidak memahami maksud dari pria di sebelahnya. 


"Apa kau tidak lihat? Tatapan para pria itu, ingin rasanya aku mencongkel kedua bola matanya," kesal Farhan yang melirik para pria yang berani menatap Ayu. 


"Tenanglah, itu hanya perasaanmu saja dan jangan berlebihan!" 


"Aku mencoba memperingatimu, tapi kau seakan tak percaya." Gerutu Farhan yang sedikit jengkel. 


"Ya sudah, lupakan itu! Fokuslah dengan acara ini," ucap Ayu menenangkan. 


"Hem," sahut Farhan singkat. 


Kedatangan keduanya bagai magnet, menarik semua perhatian orang lain. Bahkan para reporter ingin mewawancarai mereka dengan penuh semangat, segera menghampiri berusaha mendapatkan informasi terbaru. Farhan dan Ayu menjadi risih saat para reporter mulai mengelilingi keduanya, dengan mengajukan beberapa pertanyaan. 


Untung saja asisten Heri bertindak cepat, mengamankan atasan sekaligus sekretaris dari beberapa pertanyaan dari para reporter. "Sebaiknya kalian tidak mengangganggu acara ini, kembalilah ke tempat kalian!" tekannya seraya menghadang para reporter itu untuk tidak mengikuti tuannya. 


"Tolong, jangan halangi kami untuk mendapatkan informasi dari tuan Farhan dan nona Ayu."


"Tidak bisa! Jika kalian masih ingin disini maka ikuti peraturan yang ada atau kalian bisa keluar dari tempat ini!" ancam asisten Heri dengan tatapan tajam. 


Sedangkan Ayu dan Farhan menjauh dari para reporter yang hanya ingin mengusik mereka, dia menatap bosnya. "Bagaimana kau mendapatkan bukti kejahatan Tiara?" 

__ADS_1


"Itu sangat mudah, karena kekasih wanita itu juga ikut terlibat dalam persekongkolan ini." Sahut Farhan dengan enteng.


"Aku tidak mengerti," seloroh Ayu yang mengerutkan kening, sementara Farhan tersenyum saat melihat wajah sekretaris yang tampak menggemaskan. 


"Kekasih dari wanita yang menuduhmu plagiat juga bekerja sebagai desain di perusahaan, wanita itu dengan liciknya memperhatikan desain kekasihnya dan melakukan plagiat. Dengan kejamnya dia menuduh sang kekasihlah yang plagiat, aku mendapatkan rekaman Cctv dengan sangat mudah." Jelas Farhan yang membusungkan dada. 


"Ternyata wanita itu licik juga, kekasihnya sendiri di kambing hitamkan." Komentar Ayu menghela nafas berat. 


"Hem, itulah dia."


"Aku terkesan dengan pernyataanmu itu, kau luar biasa!" ucap Ayu yang sangat kagum dengan pria di sebelahnya, berbisik mencondongkan tubuhnya ke samping. 


"Akhirnya kau menyadari hal ini," goda Farhan yang juga berbisik, tak ingin jika orang lain mendengar obrolannya dengan calon tunangannya. 


"Kau ini!" Ayu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. 


"Bagaimana menurutmu dengan surat perjanjian itu?" tanya Farhan yang sangat penasaran. 


"Aku bertanya, tapi kau malah memberiku teka-teki." Protes Farhan.


"Mau bagaimana lagi? Kau begitu penasaran dengan perjanjian ku dengan kakek."


"Oh ayolah, setidaknya bersikaplah serius. Aku sangat penasaran dengan perjanjian tiga bulan itu, apakah kau ingin melanjutkannya?" desak Farhan yang sangat antusias dan bersemangat. 


"Kau bisa memikirkan jawabannya sendiri." Ayu tersenyum, menyukai wajah kesal Farhan yang berhasil digoda. 


"Apa itu bisa di jadikan patokan?"


Sementara di sisi lain, Vanya melihat Farhan dan Ayu yang terlihat sangat dekat. Mengepalkan kedua tangannya, seketika hatinya hancur melihat hubungan dua orang yang menjadi objeknya terlihat sangat serasi. "Ck, sepertinya wanita kampung itu membuat celah agar dekat dengan Farhan." Batinnya yang menahan amarah. 


Kedua sahabatnya saling melirik dan menatap objek yang sama, mereka tersenyum saat mengetahui Vanya sedang menahan amarah dan rasa cemburu. 

__ADS_1


"Mereka terlihat sangat serasi, lihat saja pakaian yang dikenakan Farhan dan juga Ayu dengan warna yang senada," celetuk Jenni yang mengompori sahabatnya. 


"Bahkan keduanya terlihat bagai mutiara yang berkilau, menjadi sorotan semua orang. Wanita kampung yang sangat beruntung!" tambah Clara yang menambahkan minyak dalam bara api. 


"Bisakah kalian diam?" ketus Vanya yang menggebrak meja, menatap kedua temannya tajam. 


"Kami mengatakan segalanya, dan berkata jujur. Entah apa yang di miliki wanita kampung itu hingga bisa mendapatkan hati Farhan yang terkenal dengan sikap arogannya." Sambung Jenni yang tak menghiraukan ekspresi kemarahan Vanya. 


"Apa kalian meragukan sepak terjal ku? Aku sudah mempersiapkan segalanya, kalian lihat saja nanti!" kata Vanya dengan penuh keyakinan. 


"Wow, ternyata kau diam-diam telah menyusun rencana. Katakan bocoran dari rencanamu itu," ucap Clara yang terkesan dengan Vanya, sahabatnya. 


"Tentu saja, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Farhan." Vanya tersenyum smirk saat pionnya sebentar lagi mulai bergerak. "Aku akan membalas wanita kampung itu tanpa harus mengotori tanganku!" ucapnya yakin seraya menyunggingkan senyum menatap Ayu dari kejauhan. 


Kedua sahabat Vanya tersenyum puas, berhasil memercikkan api amarah dengan sedikit kata-kata. "Aku sangat yakin, jika kali ini wanita kampung itu akan kalah dari Vanya kita," celetuk Jenni yang meninggikan sahabatnya dengan cara menjelekkan Ayu. 


"Tentu saja, aku sangat yakin jika pertunjukan kali ini akan menarik daripada sebelumnya."


"Wow, ku akui jika kau sangat licik." Clara tersenyum puas seraya menatap Vanya. 


"Itulah aku."


Jam delapan malam, acara perayaan di mulai. Farhan berjalan ke atas panggung dan menatap seluruh tamu yang hadir di tempat itu. Mendekati podium dan mulai membacakan pidato, semua orang mulai menyorotnya. 


"Itulah sedikit pidatoku pada malam ini, aku juga mengucapkan terima kasih kepada sekretaris ku bernama Ayu. Berkat usaha dan kegigihannya, membuat perusahaan ku semakin berkembang. Sekretaris sekaligus calon istriku!" ucap Farhan membuat Ayu sangat terkejut. 


Semua orang mengalihkan pandangan menatap Ayu, mereka tersenyum dan bertepuk tangan. Pernyataan dari Farhan membuat dia terkejut sekaligus berbunga-bunga, menjelaskan hubungan mereka di hadapan semua orang. 


Farhan turun dari panggung menuju ke arah Ayu, tak lupa dengan senyum di wajahnya. Tatapan keduanya sangat intim, suasana terlihat romantis. "Mau berdansa denganku?" ucapnya seraya membungkukkan badan. 


Ayu mengangguk membuat Farhan tersenyum, mereka berdansa dan diikuti oleh para tamu lainnya. 

__ADS_1


 


__ADS_2