
Sang manager skakmat kira dengan mulut pedasnya, karena dia sudah muak wajah lugu yang sedari tadi dipasang oleh wanita itu. Tidak peduli dengan perasaan sang target, sedikit meluapkan kekesalan di hatinya. "Jangan seperti anak kecil yang manja, tidak ada yang memintamu untuk ikut dalam pencarian ini." sambungnya dengan sarkas, menatap wanita itu dingin.
Kira terdiam dia menahan amarah mendengar perkataan dari sang manajer yang sangat kurang ajar kepadanya, namun tak ingin membuat citranya menjadi buruk dihadapan Farhan hanya dengan emosi sesaat. "Wanita ini selalu saja membuatku aku kesal sebelas duabelas dengan atasannya yang sangat menyebalkan itu." Batinnya yang mengepalkan kedua tangan sangat erat, dengan cepat dia mengembalikan ekspresi seperti biasa dan tersenyum. "Aku mengatakan kenyataannya dan tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Farhan."
"Sebaiknya kau diam saja karena kau selalu saja membual!"
Farhan hanya berdiam diri dengan pikiran yang melayang-layang membayangkan kenangan yang pernah dia dan sekretarisnya hadapi, senyum saat memandang syal yang sekarang berada di tangannya mencium aroma yang masih tertinggal. "Ayu pasti berada di sekitaran sini dan aku sangat yakin itu! Bertahanlah sebentar, aku akan menyelamatkanmu." Gumamnya yang segera berlari membuat semua orang memandangnya.
Melihat dari semangat pria yang setelan jas, membuat para tim pencarian dan juga penyelamatan tak lupa dengan penduduk desa yang segera bergegas pergi menyusuri tempat itu. Farhan mencari begitu bersemangat senyum di wajahnya membayangkan jika sebentar lagi mereka akan bertemu. "Aku pasti menemukanmu, bertahanlah!" gumamnya.
Pencarian yang memakan waktu beberapa menit terhenti saat sudah menyusuri di sekeliling tempat ditemukannya syal milik Ayu, Farhan segera menghampiri para penduduk desa sebagai harapan terakhirnya. "Ada yang ingin saya tanyakan kepada kalian," ucapnya yang mendapatkan secercah harapan.
"Iya, apa yang ingin Tuan ketahui." Sahut salah satu penduduk desa.
"Hanya kalian harapanku satu-satunya, aku ingin mengetahui semua tempat yang sudah kita jelajahi, tapi hasilnya tetap sama. Apakah ada tempat yang kita lewati?"
Penduduk desa tak menjawab, berpikir mengenai tempat yang belum mereka telusuri. Hingga salah satu dari mereka mengatakan sesuatu yang pastinya membuat Farhan sedikit puas. "Ada, Tuan. Sepertinya kita melewati sebuah Goa."
"Goa? Dimana tempatnya?" desak Farhan yang sangat antusias juga bersemangat.
"Goa berada tepat di bawah pohon yang kita temukan syal milik nona Ayu."
__ADS_1
"Baguslah, sepertinya kita mempunyai celah untuk menemukan keberadaan nona Ayu."
Farhan melihat ke bawah jurang, menyenter ke bawah. Ada goa yang tertutupi oleh tanaman rambat dan membuat tempat itu tidak terekspos oleh mereka, warna hijau tanaman sekilas tampak sama. "Aku sangat-sangat yakin, Ayu berada di dalam Goa itu. Semoga saja dugaanku benar," gumamnya seraya melepaskan jas kebesaran, meninggalkan kemeja putih yang sedikit kotor.
"Jangan katakan jika Tuan akan turun ke bawah," ucap asisten Heri yang menatap atasannya penuh penyelidik, menyipitkan kedua matanya dan bertanya layaknya seorang polisi.
"Itu benar, aku sangat yakin Ayu berada di sana."
"Jangan nekat, Tuan. Di bawah hanya ada jurang, dan untuk sampai ke mulut goa membutuhkan perhitungan yang pas. Cukup berbahaya untuk sampai kesana, bagaimana jika nona Ayu tak ada di sana?" celetuk asisten Heri.
"Jangan mematahkan harapanku, feelingku mengatakan jika sekretarisku berada di dalam goa yang terlihat gelap. Bagaimana jika phobianya kambuh dan tidak ada yang menolong? Jangan menghalangiku!" jelas Farhan yang tetap pada pendiriannya.
"Ta-tapi…Tuan."
Asisten Heri menghela nafas, karena keras kepala yang dimiliki sang atasan mengharuskannya untuk mendukung pria itu walau tanpa persetujuan. Terpaksa bungkam dan mematuhi perkataan dari junjungannya sebagai bos di kantor tempatnya bekerja. "Mereka sangat serasi dan saling mencintai, kapan mereka akan bersatu? Kenapa selalu saja banyak rintangan yang membuat pertunangan itu terputus, terutama di boneka mampang itu." Batinnya.
"Baiklah, Tuan. Aku akan mendoakan keselamatanmu juga nona Ayu."
"Hem."
Beberapa orang mulai bersiap-siap dengan menyiapkan alat dan pengaman seadanya, semua bersiap dengan pekerjaan yang diperintahkan. Farhan melilitkan tali pengaman dan tak lupa pula tali tambahan, pelindung kepala, dan juga senter sebagai penerang.
__ADS_1
Turun dengan secara perlahan, menuruni jurang dan memeriksa sisi Goa yang berada dibawahnya. Dibutuhkan penerangan yang cukup untuk menyorot tempat gelap disertai tanaman rambat yang sekilas tidak bisa dibedakan dimana letak mulut Goa. "Tempat ini terlihat sama, tapi di mana mulut Goa?" monolognya seraya tampak berpikir, kembali menyorot untuk memudahkannya menemukan Ayu.
Asisten Heri dan sang manajer sangat mencemaskan keberadaan dua orang yang sangat mereka junjung, berharap jika Farhan kembali bersama dengan Ayu. Sedangkan Kira merasa cemburu dan juga iri secara bersamaan. Mengetahui hal ini, membuatnya sangat tidak tenang, takut jika dua orang itu bersama dan membuat keduanya jatuh cinta.
"Seakan wanita itu mempunyai magnet untuk menarik lawan bahkan Farhan juga lebih mementingkan wanita sialan itu." Batin Kira.
Farhan tetap fokus dan melihat dengan jeli, tidak mencemaskan dirinya yang mengalami sedikit kesulitan menemukan mulut Goa. senyum di wajahnya terlihat begitu dia sampai ke dalam Goa tempat gelap itu dan memperhatikan sekitar. Dia berlari menyusuri tempat itu, dan berteriak memanggil nama sekretarisnya. "Ayu…Ayu, kau dimana? Aku datang untuk menolongmu!"
Seketika Ayu mendongakkan kepala, mendengar suara orang yang terdengar samar di telinga. Namun, rasa ketakutan yang menyelimuti pikiran membuatnya tidak bisa melakukan apapun, pikirannya terasa kosong namun ponselnya masih berada di tangan dan memutar lagu kesukaannya dan mengubah volume menjadi maksimal. "Tolong aku…aku sangat takut!" lirihnya sangat pelan bahkan tak terdengar.
Farhan menghentikan langkah kaki saat mendengar alunan lagu yang terdengar tak jauh berada darinya. "Lagu itu sepertinya sangat aku kenal, oh astaga…itu pasti Ayu. Aku harus segera menyusulnya.
Bola matanya berhasil menangkap seseorang yang tengah memeluk kaki dengan kepala yang di tekuk ke bawah, terlihat dengan jelas saat dia menyorotnya menggunakan senter di kepala. Berjalan dengan perlahan dengan air mata yang menetes tanpa disadari, memahami Bagaimana kesulitan orang itu yang tak lain adalah Ayu.
"Ayu!"
Sang pemilik nama mendongakkan kepala, wajah yang pucat pasi, tubuh gemetaran, dan lidah seakan kelu. Betapa takutnya Ayu dan tak bisa membayangkan berada di tempat yang sangat gelap.
Tanpa menunggu waktu lagi, Farhan segera berlari dan memeluk Ayu dengan sangat erat mencium aroma tubuh yang sangat dia rindukan, dengan cepat mengikatkan sebuah tali. "Sekarang kau telah aman, aku akan membawamu ke atas."
Dia menyentak tali sebagai isyarat agar orang-orang menarik mereka untuk naik ke atas.
__ADS_1
Akhirnya mereka berhasil sampai ke atas, tatapan mata yang saling bertemu seakan menyiratkan sesuatu. Ayu tak bisa mengatakan apapun lagi, dua bola mata indahnya tiba-tiba berwarna merah dan mengeluarkan linangan air mata saat menatap pria di hadapannya.