Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 219 ~ Kecerdikan Ayu


__ADS_3

Farhan menikmati momen itu, dia tahu jika Ayu hanya memanasi Kira agar mengalami sakit hati akut, sungguh drama sempurna di saat sarapan hampir habis. Mengambil kesempatan dengan mencium pucuk kepala, tersenyum seraya manggut-manggut kan kepala. 


Ayu menoleh dan melotot matanya pada pria di sebelah, dia tahu jika Farhan hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun hal itu yak membuat si pria takut, malah semakin berani memperlihatkan keromantisan mereka. "Ayo makanlah!" ucapnya seraya menyuapi sang sekretaris yang terpaksa menerima suapan dari mantan calon tunangannya. 


"Astaga…sepertinya Farhan kesurupan." Batin Ayu yang meringis, melihat kelakuan pria di sebelahnya. Lain halnya dengan Kira, semakin menyulut emosi melihat kedekatan dua orang, padahal dia sudah bekerja keras untuk menciptakan permasalahan keduanya. "Jangan berlebihan!" bisiknya di telinga pria itu.


"Untuk menjiwai peran dan aktingmu dalam serial drama," sahut Farhan santai, dengan sengaja mendekat hingga tak ada celah di antara mereka.


Ayu terdiam tak berkutik, karena ucapan dari pria itu benar adanya. Memainkan peran di saat Kira ada, memanasi wanita yang menjadi penghalang mereka untuk bersatu. "Lanjutkan keromantisan ini di kamar saja, di sini masih ada nyamuk,  maksudku orang lain." Ayu berbisik manja, melirik Kira yang sedari tadi menahan amarah. Dia tersenyum puas, melihat wajah sang rival memerah menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.


Kira sangat kesal, menggebrak meja makan menjadikannya pusat perhatian. Ayu dan Farhan hanya mengerjapkan mata, memasang wajah pongah seraya mengerjapkan mata. 


"Kau!" umpat nya kesal, menghampiri Ayu untuk memberi pelajaran. 


"Ada apa?" sahut Ayu santai, bahkan semakin membuat sang rival kian emosi. Sengaja menyandarkan kepala di dada bidang menggugah iman. 


"Kau!"


"Ya, lanjutkan!" sahut Ayu santai. 


"Aku ingin makan!" ujar Kira yang terpaksa menahan emosinya, tak ingin mencemarkan nama baiknya di hadapan Farhan. 


"Tidak ada yang tersisa, Farhan hanya masak untuk dua piring saja. Kalau kau mau, makan saja roti dengan selai." Ujar Ayu yang menahan tawanya. 


"Farhan, apa tidak ada yang tersisa untukku?" rengek Kira.


"Maaf, aku tidak tahu kau akan datang kesini." Jawab Farhan memelas.


"Sial, wanita udik itu menang. Lihat saja nanti, aku akan membuatnya menyesal telah mengerjaiku!" umpat Kira di dalam hati, meraih roti dan selai yang tak berada jauh darinya. 

__ADS_1


"Rasakan itu," batin Ayu tersenyum kemenangan, mengangkat kedua bahunya ke atas saat Kira hampir melihat tawanya. 


Selesai makan, Ayu dan Farhan berlalu pergi menuju mobil yang terparkir di luar. Mereka telah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan bekerja. 


"Sepertinya mereka mau ke kantor, aku harus ikut." Gumam Kira yang menguntit. 


Farhan membukakan pintu, tapi tiba-tiba Kira datang dan ingin masuk terlebih dulu. "Aku mau duduk di depan, di sampingmu!" ucapnya tersenyum mengerlingkan mata kearah pria tampan.


"Kau datang paling akhir, jadi ambil bagianmu di belakang." Celetuk Ayu protes, tak terima dengan wanita itu yang bersikap seenaknya. 


"Apa kau pikir aku peduli? Tidak."


"Biarkan Ayu di sebelahku, dan kau duduklah di belakang." Bela Farhan yang menyetujui perkataan mantan calon tunangannya.


"Ya, aku mengerti. Hanya saja, aku tak bisa duduk di belakang. Aku mabuk di perjalanan dan harus duduk di depan," Kira memasang wajah memelasnya, membuat Ayu melemparkan tatapan jenuh. 


"Kalian mabuk di perjalanan?" tanya Farhan yang di anggukkan kepala oleh dua wanita. 


"Benar, aku tidak terbiasa duduk di belakang. Itu bisa membuat perutku mual dan muntah, apa kau ingin mobil mahal ini tersembur larva?" jelas Ayu yang juga memelas. 


Kira meremas ujung pakaiannya, kesal dengan wanita yang selalu melangkah lebih dulu darinya. 


"Lagi pula, Farhan ingin membicarakan masalah kantor denganku. Cukup menyulitkan jika aku duduk di belakang, kau tidak punya pilihan lain, terima atau tidak? Jika tidak, aku bisa memesankan taksi untukmu," lanjut Ayu yang semakin bergerilya membuat rivalnya kalah. 


"Farhan," panggil Kira dengan wajah yang cemberut, dia tidak setuju dengan dua pilihan yang diberikan Ayu padanya.


Farhan tak menggubris, lebih tertarik melirik arloji mahalnya, mengingat waktu untuk acara pertemuan para pemilik perusahaan. "Masih ada waktu, kau ingin ikut atau tinggal disini?" tanyanya melirik Kira yang tersenyum kecut. 


"Aku memilih untuk ikut."

__ADS_1


"Hem." Farhan membantu Ayu untuk masuk ke dalam mobil. 


Kira kembali tersenyum, juga menginginkan hal yang sama. "Bantu aku juga," celetuknya. 


"Aku tak punya banyak waktu, cepat masuk atau kau aku tinggal." Ancam Farhan yang berlari ke sisi mobil dan masuk, hal itu semakin membuat Kira kesal dan masuk dengan menutup pintu secara kasar.


"Hei, hati-hati! Mobil ini sangat mahal, rakyat jelata seperti kita tidak akan mampu membayarnya," ujar Ayu tanpa menoleh, dan menahan tawanya. 


"Ck, wanita itu membuatku marah. Aku akan membalasnya dua kali lipat," gumam Kira di dalam hati. 


Ayu yang tersenyum itu menjadi rasa terkejut, saat tiba-tiba Farhan mendekat hingga jarak wajah mereka sangatlah dekat. Lirikan mata yang saling beradu, menuntun perasaan mereka yang telah layu.


"Ini longgar, aku akan mengencangkan sabuk pengamanmu," tutur Farhan yang membuat kecanggungan antara mereka. 


Terbesit di pikiran Ayu saat ini, dengan sengaja dia membiarkan Farhan mengencangkan sabuk pengamannya dan memberikan Kira ruang untuk merasakan hati berdenyut. "Sudah selesai."


Farhan ingin kembali ke posisi semula, tapi ditahan oleh kedua tangan Ayu yang membingkai wajah. Dia sengaja mencium pipi pria itu sebagai bentuk terima kasih. "Itu hadiahnya." Ujarnya yang tersenyum.


Farhan kembali keposisi duduknya semula, memegang dada yang seakan bergemuruh. Dia sangat senang dan menyentuh bekas ciuman Ayu, dan tidak membiarkan terhapus. "Dia terlihat agresif hari ini," batinnya yang sangat menyukai tindakan itu.


"Ehem, kita akan terlambat dengan drama ini." Kira sengaja berdehem keras, mengacaukan keromantisan dua orang yang duduk di depan. Dia melipat kedua tangan di depan dadanya, sangat kesal karena harinya begitu buruk dan sangat-sangat buruk. 


"Hah, untung saja kau mengingatkannya. Jika tidak, kita akan terlambat." Sahut Ayu seakan tak bersalah. 


Setelah tiba di tempat pertemuan, Ayu melihat begitu banyaknya orang yang ikut berpartisipasi. Celingukan mencari target yang juga hadir di sana, namun tak menemukan satu orang pun dari perusahaan Sky Grup. "Kemana mereka?" gumamnya yang terus celingukan, berharap bisa bertemu. 


Ayu melirik arloji yang melingkar di tangan, melihat waktu yang sangat dempet. "Ada sepuluh menit lagi untuk rapat di mulai, kemana orang-orang dari perusahaan Sky Grup?"


 

__ADS_1


__ADS_2