Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 227 ~ Kau cemburu?


__ADS_3

Semua orang terkejut dengan teriakan wanita yang sangat histeris, mengatakan jika dia akan membunuh dirinya sendiri atas gagalnya percintaannya. Waktu seakan berhenti beberapa saat, di saat Kira benar-benar menusuk dirinya sendiri secara langsung. Mereka tak menduga jika hal ini benar-benar terjadi, berpikir jika itu hanyalah akting dan perkataan omong kosong. 


Terlihat wanita itu yang sudah tergeletak di lantai, dengan kain yang sudah bersimba darah. Semua orang tampak panik dan menjadi kisruh, mereka berdesakan dan berbondong-bondong dalam hal itu.


Kira melemah, menatap tajam ke arah Ayu yang sudah merebut Farhan darinya. Sebuah tatapan yang menjadi kosong, dengan air mata menetes dengan sendirinya. 


"Mengapa dia menatapku begitu? Kira bunuh diri bukan karena aku," pikir Ayu yang menarik napas dalam dan mengeluarkannya, tak ingin ada orang yang tahu jika dirinya juga terkejut dengan aksi bunuh diri seorang wanita yang gagal mendapatkan cinta. "Satu hal yang aku yakini, dia pasti menyimpan dendam yang lebih besar nantinya." Batinnya yang manggut-manggut kepala sembari menyentuh bekas luka di bahunya. "Eh, mengapa bekas luka di tubuhku tidak seperti yang tersisa? Apa bentuknya bisa berubah-ubah? " monolognya yang merasa ada hal aneh, bekas luka yang dia dapatkan lebih dari sepuluh tahun. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab, cukup sulit untuk mencari jawabannya. 


Kira tak sadarkan diri, dengan tubuh yang masih keluar darah segar. Tidak ada yang berani menolong wanita itu, karena sifat yang dimilikinya sangatlah buruk, apalagi terbongkarnya kedok yang selama ini menjadi tujuannya. Namun, Farhan masih memiliki hati nurani dan membawa wanita itu ke rumah sakit. 


"Apa ini? Dia mengatakan cinta padaku, tapi masih memikirkan wanita itu. Kata-katanya sangat meyakinkan, tapi di sini dia malah berbanding terbalik." Gerutu Ayu yang segera pergi meninggalkan tempat itu, menyeret tangan Alvaro dan menyentaknya hingga keluar dari kerumunan.


"Auh…auh, mengapa kau menarikku?" keluh Alvaro.


"Kita pergi, tidak ada urusan disini lagi." Jawab Ayu yang terus menarik tangan sahabatnya.


"Kau cemburu? Aku akui, jika aku menjadi dirimu mungkin akan memukul wajah Farhan itu. Hah, kau mencintai pria yang salah." Ejek Alvaro yang mendapat jitakan kepala dari Ayu.


"Hah, kau semakin membuat aku emosi. Setidaknya hiburlah aku!" 


"Mudah saja, tinggalkan saja pria seperti Farhan itu. Cintamu sangatlah berharga, aku hanya tak ingin kau sedih. Itu saja!"


Ayu menghentikan langkahnya, membuat pria di belakang tak sengaja menabrak. Dia sedikit mendongakkan kepala, wajah masam yang terlihat kusut. "Apa kau ingin dicium?" geramnya.


"Ide bagus, beri aku ciuman di kedua pipiku!" sahut Alvaro yang menutup kedua matanya dengan penuh keyakinan, kapan lagi bisa merasakan bibir bosnya yang menempel di pipi.


Ayu tersenyum smirk, membogem wajah Alvaro tidak terlalu keras, tapi masih terasa. "Itu ciuman dariku!" tuturnya yang tertawa, mood nya kembali berubah dengan cepat.


Pupus sudah harapannya, bukan ciuman yang mendarat tetapi pukulan yang tidak meninggalkan bekas. "Hah, wajahku menjadi kaku karena ulahmu." Ucapnya sembari memegang sebelah pipinya, mencoba menggerak-gerakkan dan terasa seperti terkena bius. "Apa kau puas sekarang? Pipiku menjadi sasaran kemarahanmu."

__ADS_1


"Itu bukan pertama kalinya kamu mendapatkan reward dariku," sahut Ayu dengan enteng.


"Jika kau bukan bosku? Sudah lama aku ingin mendorongmu ke jurang."


Ayu terdiam beberapa saat, berpikir mengenai masalah ini. "Ada yang mengganjal di hatiku, dan kita harus mendiskusikannya."


"Di sini?"


"Aku tak ingin menunda waktu lagi."


"Baiklah, katakan saja!"


"Aku sudah menyadari jika wanita itu bukanlah Kira asli, tapi tak mengerti darimana dia mengetahui semua cerita Kira dan juga Farhan. Apa kau tidak merasa aneh?"


"Hem, kau benar. Jika Kira palsu mengetahui segalanya, berarti dia orang yang dekat atau orang yang menyuruhnya juga dekat. Itu hanya memori dari masa lalu Farhan dan gadis penyelamatnya dulu."


"Jika dia berpura-pura menjadi Kira, lalu dimana yang asli?" tuturnya sembari melihat kondisi sekitar.


"Kau ini, setidaknya bantu aku berpikir!"


"Itu hanya akan menjadi bebanku saja," sahut Alvaro enteng. "Jangan menduga-duga sebelum mendapatkan bukti yang kuat, kau pasti tahu betul bagaimana aku berusaha untuk mencari identitas asli Kira yang sebenarnya. Mengingat nama itu, apa si palsu itu akan terselamatkan? Jika begitu, dia akan kembali mempersulit mu."


"Dari yang aku lihat, dia tidak akan mati dengan mudah. Itu tak membunuhnya!" lirih Ayu, terlintas di otaknya melihat Farhan yang membawa wanita itu ke rumah sakit untuk pertolongan pertama.


"Sangat disayangkan! Eh, mengapa kau tidak menggunakan metode lain?"


"Metode mengenai apa?" ujar Ayu yang mengerutkan keningnya karena tak mengerti dan juga sangat penasaran.


"Dasar konyol, bahwa Farhan kehilangan proyek karena harga penawaran sudah di bocorkan."

__ADS_1


"Kau tenang saja, aku tidak akan kehilangan proyek itu hanya masalah penawaran yang gagal. Aku sudah punya metode lain dan kembali merebutnya, itu sudah aku pikirkan."


"Bagaimana mungkin, cukup sulit jika harga penawaran gagal akan mendapatkan proyek."


"Kau seperti baru mengenalku saja, lihat saja nanti!"


"Hem, baiklah. Paling tidak aku bisa merasakan uangmu, dengan begitu aku juga bisa membeli beberapa komponen penting untuk meretas."


"Yap, tentu saja dengan bantuan darimu." 


"Kita sudah membicarakannya, aku masih ada urusan yang harus diurus. Aku pergi dulu, kau tidak masalah dengan itu?" Alvaro tak ingin pergi bersama Ayu yang akan menjadi target kekesalan, lebih baik dia menghindar dengan cara kabur menggunakan teknik alasan.


"Apa kau sedang menghindariku?" selidik Ayu menyipitkan kedua matanya menyelidik.


"Ti-tidak, hanya ada perlu. Sampai jumpa lagi!" pekik Alvaro yang sudah kabur dengan mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan singa betina.


"Hei, kau! Kembalilah!" balas Ayu berteriak.


Gabriel datang menemui Ayu yang seorang diri, tersenyum san segera menghampiri wanita itu. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu!" 


Ayu segera menoleh dan sedikit bingung kedatangan dari Gabriel yang juga sahabatnya. "Katakan saja, jangan gugup begitu."


"Aku hanya mengingatkanmu untuk menghadiri penghargaan itu, dan aku juga turut bersimpati mengenai apa yang menimpamu. Semua orang menyalahkanmu atas bocornya harga penawaran," jelas Gabriel yang berusaha bersimpati.


"Jangan pikirkan itu, biarkan saja mereka berbicara sepuas hati, yang terpenting semua bukti tidak mengarah padaku."


"Hem, kau hebat bisa membolak-balikkan keadaan."


"Terima kasih."

__ADS_1


Kedekatan dari dua orang membuat seorang wanita mengepalkan tangan, sangat tidak menyukai jika Ayu bersama dengan mantan tunangannya. Segera menghampiri dan melabrak sang rival, juga menghinanya. "Berani sekali kau masih mendekati tunanganku?" bentak Yuna, sang pianis terkenal. 


__ADS_2