Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 236 ~ Drama


__ADS_3

Farhan mengambil kesempatan didalam kesempitan, sebuah alasan hanya untuk menikmati ciuman selamat pagi. Ayu masih diam membisu, mengenai bibirnya yang baru saja di cium oleh bosnya. Seperti deburan ombak yang terdengar, sengatan listrik yang mengejutkan mereka, dada yang bergemuruh hebat membuat suasana terasa hening. 


Farhan kembali mengambil kesempatan dengan mengecup kening, menuangkan perasaannya di hari itu karena tak punya kesempatan bagus lagi. Mundur satu langkah dan memegang kedua pundak yang masih masih diam bagaikan patung. 


Ayu segera tersadar dan menyentuh bibirnya dengan lembut, tatapan yang mengarah kepada Farhan dan ingin meminta penjelasan. "Jadi kau hanya berpura-pura tanganmu terluka?" lirih pelannya dan masih memikirkan detik-detik bibir pria itu menyambar bibirnya yang indah.


"Itu kecupan selamat pagi, apa kau suka?"


"Entahlah, ini sangat mengejutkan aku."


"Mau bagaimana lagi? Jika aku meminta izin kau tidak akan mengizinkannya." Jawab Farhan dengan enteng tanpa raut wajah bersalah.


Ayu mengangguk paham, hendak meninggalkan dapur. Tapi, tangannya ditahan oleh Farhan dan terpaksa dia menghentikan langkahnya, segera menoleh menatap pria itu. "Ada apa?" 


Farhan menarik wanita itu dalam pelukannya, merasakan kehangatan di antara mereka. Ayu hanya terdiam tanpa melakukan perlawanan, menikmati dan merindukan momen itu. "Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk hidup bersama?" 


Ayu terdiam, memikirkan bagaimana pria itu yang masih membuatnya ragu akibat perhatian kepada Kira. Dia tak ingin, jika pria itu masih berhubungan dengan wanita yang mengaku-ngaku dari masa lalu, dan itu sangat sulit dia lakukan. 


"Apa aku masih punya kesempatan?" ulang Farhan sekali lagi, tak sabar ingin mendengar jawaban. Dia berusaha untuk bersabar dan menanyakan kesempatan baru, memulai komitmen di antara keduanya.


"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, kau selalu saja membuatku ragu."


"Apa maksudnya itu?" tanya Farhan menautkan kedua alisnya.


"Hanya ingin melihat sikap dan juga tindakanmu terlebih dulu," jawab Ayu membuat Farhan tak sabar.


"Jawablah sekarang!" 


"Aku sudah menjawabnya, sisanya aku serahkan kepadamu.


Suasana diam seketika, Ayu yang berjalan menuju meja makan, dan diikuti oleh Farhan yang membawa makanan. Dia menyajikannya dengan sangat baik, dimana mereka berdua makan bersama tapi masih mempertahankan keheningan. Lebih tertarik makanan di atas piring, di bandingkan untuk mengobrol.

__ADS_1


"Setelah ini bersiap-siaplah, kita berangkat ke kantor bersama-sama." Celetuk Farhan yang mencoba untuk mencairkan suasana.


"Hem, baiklah."


"Apa makanannya enak?" Farhan berharap wanita itu tidak menjauhinya, memberikan pertanyaan agar suasana masih terjaga. 


"Masakan mu selalu enak dan aku tidak meragukan nya." 


Farhan menyunggingkan senyuman di wajahnya, walau wanita itu masih saja mengulur waktu untuk berpikir. Setidaknya dia masih punya kesempatan untuk tetap dekat dan berada di samping mantan calon tunangannya. "Aku akan berusaha keras, agar kau percaya padaku." Batinnya. 


Setelah selesai sarapan, keduanya segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Memakai pakaian formal dan berangkat dalam satu mobil yang dibawa oleh sang supir. 


Di sepanjang perjalanan, Farhan tak sempat mengobrol akibat dirinya harus mengangkat telepon. Sementara Ayu lebih tertarik melihat suasana di luar jendela, memperhatikan bangunan-bangunan mewah yang menjulang tinggi. Kota yang sudah padat penduduk, lalu lintas yang tidak terlalu ramai memudahkan tujuan mereka untuk sampai ke lokasi yang dituju.


"Kita sudah sampai," celetuk sang supir yang mengerem mobilnya, tersenyum di saat menoleh pada dua orang yang duduk di kursi penumpang. 


Setelah tiba di perusahaan, Ayu segera menuju ke departemen sekretaris. Berpisah dengan dua jalur yang berbeda, hanya melirik tersenyum dan membuat mereka kembali ke ruang kerja masing-masing. Namun, langkahnya terhenti di saat sebuah pertanyaan di otaknya membayangkannya. 


"Hem," balas Farhan yang segera menoleh.


Ayu menghampiri bosnya dan mereka berjalan berdampingan. "Bagaimana dengan proyek plagiat itu?"


"Aku mempercayakan semuanya kepadamu, dan itu akan menjadi tanggung jawabmu!" tegas Farhan yang di anggukkan kepala oleh sekretaris di sebelahnya. "Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Farhan menghentikan langkah, segera menoleh ke arah wanita sebelahnya."


"Bagaimana kau mengurusi Kira?" tanyanya sedikit pelan, tak ingin jika pria itu tersinggung karena dirinya membawa nama rivalnya.


Farhan mengerti, dia tahu akan kegelisahan di hati Ayu yang masih meragukan dirinya. "Dia sudah banyak berbuat kesalahan, dan aku memecatnya dari perusahaanku." 


Ayu menghentikan langkah, jawaban yang dia ingin dengar sudah terjawab. "Baiklah, aku akan kembali ke departemen sekretaris."


"Hem, hati-hati." Ucap Farhan yang tersenyum.

__ADS_1


Sementara Kira memaksakan keadaannya untuk pergi ke perusahaan HR Group, dia ingin memprotes kepada Ayu mengapa wanita itu bersama dengan Farhan di saat dia membutuhkan pria itu. Berjalan pelan menuju tempat kerja sang rival, tak peduli dengan kondisinya yang belum pulih total.


"Apa masalahmu sebenarnya?" 


Ayu mendengar suara yang sangat dikenalnya, segera mendongakkan kepala dan sedikit terkejut dengan tindakan nekat dari Kira. "Kau di sini? Bukankah kau masih di rumah sakit?" ucapnya sembari melihat kondisi wanita itu dari atas sampai bawah.


"Itu benar, mengapa kamu mengatakan hal itu semalam. Apa yang terjadi diantara kalian?" tanyanya dengan menekan nada marah, tak suka jika wanita di hadapannya menggoda Farhan.


"Seperti yang kau dengar, menghabiskan malam bersama." Jawab Ayu yang berbisik, tersenyum puas saat melihat wajah menghitam dari Kira yang sangat marah. "Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum diusir!" 


"Tidak, urusan kita belum selesai." Ketus Kira yang melemparkan tatapan tajam juga sinis. 


"Asisten Heri!" panggil Ayu yang melihat pria itu berjalan tak jauh dari mereka, dengan cepat dihampiri oleh pria itu dengan semangat.


"Kau memanggilku?" sahutnya semangat, matanya tak sengaja melihat keberadaan Kira yang masih saja datang ke kantor. "Hei, bukankah tuan Farhan sudah memecatmu, pergilah dari sini sebelum aku mengusirmu!" tegasnya.


"Tidak, sebelum urusanku selesai dengan wanita itu." 


Farhan mendengar berita tersebut, dan segera menghampiri Ayu di departemen sekretaris. Betapa terkejutnya dia saat melihat Kira berada di sana dan memaksakan diri untuk datang ke kantor.


Kira tersenyum dan menghampiri Farhan. "Aku minta maaf mengenai kejadian itu, tolong maafkan aku!" tuturnya yang memelas.


"Seharusnya kau meminta maaf pada Ayu bukan padaku," ujar Farhan dingin tanpa ekspresi.


Hal itu di anggukkan kepala oleh Kira, siapa sangka jika dirinya langsung bertekuk lutut dan meminta sang rival untuk memaafkannya. "Aku minta maaf," lirihnya pelan membuat asisten Heri dan Ayu memandang tak percaya. 


"Inilah saatnya, kau akan tamat Ayu Kirana." Batin


Kira tersenyum devil, kemudian dia sengaja tertindak sebagai protagonis wanita yang tertindas. Posisi yang sudah diperkirakan, mendorong tubuhnya sendiri dan darah keluar dari dadanya. 


 

__ADS_1


__ADS_2